You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -12 (END)



‘Plak’, Nayoung menampar Wonwoo dengan keras hingga membekas di wajah, tapi dengan santainya Wonwoo menerima itu. Ia dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak bicara kasar atau dingin yang berujung menyakiti perasaan.


“Aku membencimu, kesetiaan, rasa cinta dan pengertianku dibalas dengan perselingkuhan darimu. Rasanya aku benar-benar ingin membunuhmu, tapi sekeras apa pun aku memikirkan itu aku justru semakin merindukanmu. Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku, apa kesalahanku padamu?” terang Nayoung saling bersitatap dengan Wonwoo, “Pernahkah kau menyukaiku meski hanya sekali, sehari maupun semenit?”


Wonwoo tidak langsung menjawab, es hatinya yang mencoba terbuka itu bergelut hebat antara mengacuhkan atau menanggapi, pada akhirnya,


“Maafkan aku, karena tidak bisa menyukaimu seperti kau menyukaiku selama tiga tahun. Aku hanya mengagumimu, juga ingin kau menemaniku.” jujur Wonwoo, Nayoung menahan rasa sakitnya. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, Wonwoo hanya butuh teman disaat orangtuanya bercerai dan menerima Nayoung sebagai kekasih sekedar mengusir kesepian dan melampiaskan kekecewaan. “Jeongmal mianhae.” sesal Wonwoo memberikan anggukan menyesal, tangannya bergetar dan hatinya merasa damai. Seperti inikah kejujuran, rasanya sesuatu yang menganjal dan menyesaki dadanya berkurang sedikit.


Kali ini yang berada di depan Nayoung adalah Mingyu, pria tinggi itu menunggu Nayoung bicara, tapi dia hanya berjalan mendekati Mingyu dan mengetukkan kepalanya ke dada Mingyu.


“Ini tangisan terakhirku karenanya, aku akan melupakannya. Maukah kau menyeka airmataku, tempatku bersandar?” tanya Nayoung yang sudah menangis tanpa menunggu anggukan Mingyu, perlahan Mingyu membelai kepala Nayoung menyalurkan kehangatan, perhatian dan kasih sayang padanya. Ini tidak begitu buruk, setidaknya Nayoung dan Wonwoo sudah putus baik-baik, juga Wonwoo sepertinya akan merubah sifatnya sedikit demi sedikit.


~ ~ ~


Terus mengekor di belakang Wonwoo akhirnya Sohye berhenti dan memanggil. Pria itu berbalik dan menunggu Sohye mendekatinya.


“Janjimu, apa sudah kau tepati?” tanya Sohye curiga.


“Hm, aku sudah minta maaf dan tidak mengatakan kata-kata kasar lagi padanya.” santai Wonwoo lugas.


“Syukurlah,” lega Sohye meski ia tidak begitu puas jika nyatanya Wonwoo minta maaf karena janji. Sohye mengancam akan melukai dirinya jika Wonwoo tidak berjanji akan minta maaf, ingin mencoba membuka pintu gelap yang bersarang dijiwanya itu.


“Apa kau kecewa?” tanya Wonwoo menatap manik mata Sohye, gadis yang rupanya bersikeras mengetuk dan berhasil memasuki ruang di hatinya. Balas menatap mata coklat tajam itu, pada akhirnya Sohye memahami satu hal.


“Jadi kau sudah mengakui kesalahanmu.” senang Sohye.


Wonwoo melanjutkan langkah membiarkan Sohye berpikir, tapi gadis itu dengan cepat sudah berada di sampingnya lagi.


“Itu artinya kau akan berubah kan? Jangan bicara kasar lagi juga jangan memasang wajah ketus, bersikap baiklah pada ibumu, juga pada Nayoung, aku tahu dia sangat menyukaimu, kau sangat jahat memperlakukannya dengan dingin selama tiga tahun, aku jadi ingin tahu apa saja yang kalian lalui selama itu, tidakkah tumbuh rasa suka di hatimu padanya? Dia sangat cantik, tinggi dan baik.” cerocos Sohye mengabaikan Wonwoo yang tidak menanggapi, “Ah iya kalau bisa bertemanlah dengan Mingyu, dia sangat baik dan ceria, juga pekerja keras, aku mengajarinya memanah loh dan dia begitu semangat setelah berhasil mendapat nilai sembilan, selain itu dia tidak sesombong dirimu.”


Ingatan Wonwoo akan masa-masa dia beraktivitas atas keinginan Mingyu kembali tepat saat Sohye menceritakan perubahan yang terjadi saat ia tersadar dari kecelakaan. Tanpa memikirkan apa pun lagi Wonwoo yang merasa ada kaitannya dengan Mingyu saat kecelakaan itu pun marah karena Mingyu menggunakan tubuhnya dan melakukan hal yang menakutkan baginya, bersikap baik. Karena takut tersakiti lagi, Wonwoo menutup dirinya dan tanpa izin Mingyu membuka diri melemahkan keyakinan Wonwoo.


Barulah setelah ia keluar dari penjara, Sohye membebalinya dengan banyak bujukan dan bukti. Betapa sayangnya Nyonya Lee hingga memberikan bekal banyak pada Wonwoo saat pulang larut untuk latihan, Tuan Jo yang menyemangati dengan sorakan dan tepukan hangat agar Wonwoo bisa ikut lomba dengan baik, Tuan Jeon yang memberikan semua harta dan melindungi Wonwoo dari hantaman keras saat kecelakaan, teman se kampus yang mendadak menyapa ramah dan tidak menatapnya sinis, juga Sohye yang terus memikirkan Wonwoo disaat ia bertekad melupakannya.


Karena bantuan Mingyu lah, Wonwoo bisa keluar dari kegelapan ketidakpercayaan dan rasa angkuhnya untuk bertahan sendiri.


Berhenti mendadak, Wonwoo mengagetkan Sohye yang mengikuti gerak mendadaknya itu, menatap Wonwoo seakan menunggunya bicara.


“Sohye-ya, mianhae.” pengakuan maaf dari Wonwoo lebih mengejutkan, “Kurasa aku juga harus mengatakannya padamu, karena itu maafkan aku.”


“Apa kau menyukaiku? Saat itu aku tidak tahu kalau kau mempunyai kekasih dan seperti apa perasaanmu padanya, kau lebih lama bersamanya, karena itu apa artinya aku bagimu? Pelampiasan keduakah?” tanya Sohye. Kenangannya saat bersama Wonwoo bukanlah hal sepele yang mudah dilupakan, tapi rasa sakitnya karena menjadi selingkuhan jelas bukan pula hal yang biasa.


“Aku menyukaimu, saat aku melihat matamu yang mencemaskanku, saat kau mengembalikan dompetku, saat kau memberanikan diri sekelompok denganku, saat kau terus bicara meski aku mengabaikan dan memarahimu, saat kau memotretku diam-diam, saat kau bilang menyukaiku, saat aku mengajakmu berkencan hingga saat kau menanyakan arti dirimu bagiku. Aku menyukainya, Kim Sohye.” penjelasan Wonwoo yang cukup panjang, yang baru didengar Sohye selama dua tahun ini mampu membuat Sohye terisak.


“Menyebalkan, kau ahli membuat seseorang menangis.”


Sedikit gemetar dan ragu-ragu Wonwoo menyeka airmata Sohye, dan tersenyum kecil saat Sohye masih cegukan. Ini menambah pengetahuan Wonwoo mengenai Sohye, bahwa gadis yang baru menangis dua kali di depannya itu akan cegukan setiap kali airmatanya keluar.


Wonwoo tersenyum, menyentuh dan mengangkat pelan dagu Sohye, sehingga gadis tersebut menatapnya langsung. Perlahan, Wonwoo mengecup singkat bibir Sohye, seketika cegukannya terhenti.


~ ~ ~


3 Tahun Kemudian.


Gadis itu terus saja menarik kekasihnya untuk berfoto bersama dengan dua teman barunya tanpa mempedulikan protes dan penolakannya. Hingga mereka sampai di depan Nayoung dan Mingyu yang sengaja datang untuk menghadiri wisuda Kim Sohye. Wonwoo jujur saja ia masih canggung dan tak terbiasa bersama Nayoung maupun Mingyu. Meski selama 3 tahun terakhir Mingyu selalu menganggunya dan memberi tawaran pertemanan, entahlah saat itu Wonwoo hanya menuruti dan bermain basket, badminton juga memanah dengan Mingyu. Tapi dengan Nayoung, ini adalah pertemuan pertama setelah mereka putus secara resmi.


Sohye tanpa ragu berdiri di tengah Wonwoo dan Nayoung yang tersenyum sangat cantik. Sohye berpose mengenakan seragam wisudanya. Nyonya Lee dan Tuan Jo memotret mereka dengan senang hati.


Setelah itu Mingyu sibuk menggoda dan menjahili Sohye, mereka menjadi teman baik setelah membicarakan masa-masa kebohongan Mingyu yang menjadi Wonwoo dan keinginan Sohye untuk merahasiakan apa yang terjadi di loker, yang dengan mudah bisa Mingyu tebak akhirnya saat ia kembali ke dalam tubuhnya, meninggalkan Wonwoo asli dengan Sohye.


Sedang Wonwoo hanya diam saat ia bersama Nayoung memperhatikan Mingyu menarik-narik baju wisuda Sohye yang mendapat pelototan dari Sohye, tapi diselingi tawa, terlihat begitu akrab. Wonwoo memperhatikan sedikit tak suka.


“Jangan khawatir aku sudah tidak menyukaimu, 3 tahun cukup untuk melihat seseorang yang lain dan membuka hati untuknya.” ungkap Nayoung menenangkan, melirik pada Mingyu. “Aku sadar kalau kau menyukai Sohye daripada aku, kau tidak mungkin membiarkan seorang perempuan mendekatimu jika kau tidak menyukainya, memarahinya karena khawatir dia meninggalkanmu saat dia bertemu ayahmu, juga memutuskanku karena merasa bersalah padanya. Selain itu dia lebih menyukaimu daripada aku, karena aku mungkin tidak akan berlari padamu saat kau kecelakaan, merawat dan mencegahmu memukul oranglain.” senyum Nayoung semakin dewasa, dia sudah belajar banyak hal dan mengetahui kalau ada seseorang yang lebih mencintai dan disisinya selama ini, menyayangkan karena dirinya tidak sadar akan cinta dari Mingyu untuknya.


“Hukumanku terasa ringan jika kau memaafkanku begitu saja.” ujar Wonwoo lega, sangat lega.


~ ~ ~


Dalam kebersamaan yang hanya berdua.


Sohye memeluk Wonwoo dengan manja, menatap kekasihnya itu lembut dan penuh sayang. Sedang Wonwoo merasa malu berusaha melepas pelukan Sohye dan mengingatkannya kalau mereka masih berada di kampus. Tak peduli Sohye malah makin mempererat pelukannya dan menggeleng kecil.


“Pokoknya kau harus meluangkan waktu satu hari dari jadwal kerjamu dan kencan denganku!” rengek Sohye, Wonwoo memang bekerja di perusahaan ayahnya sekarang, mempelajari manajemen bisnis dengan rajin selama tiga tahun dan mendapatkan perusahaannya kembali.


“Baiklah, minggu sekarang kita berkencan.” kalah Wonwoo, alih-alih melepaskan pelukan, Wonwoo kini memeluk balik Sohye dengan lembut membiarkan gadis itu tersenyum senang di hari wisudanya.


~ TAMAT ~