You're Fiction

You're Fiction
Archery In Fingertip -6 (END)



“Kau sudah gila ya! Untuk apa berdiri disana, berencana bunuh diri! Sebenarnya dimana kau simpan otakmu itu, kau sudah berhasil mencetak angka 10 dan sekarang memutuskan bunuh diri!” seru Yerin cemas.


Terdiam entah harus menjawab bagaimana, Jun merasa dipermainkan. Sinbi lagi-lagi memberi tekanan pada dirinya, kenapa pula dia harus mendengarkan omong kosong perempuan itu.



Mengikuti dari belakang dengan hati-hati Yerin berusaha untuk tidak kehilangan atau membuat Jun marah. Dia bahkan sudah malu karena mengira Jun akan bunuh diri, barulah setelah dia tenang Jun bilang ia hanya ingin angin segar. Sempat ragu, akhirnya Yerin paham kalau Jun memang tidak mungkin bunuh diri sesulit apapun situasinya, toh saat latihan tadi Jun melakukannya dengan baik.


“Cepatlah bicara, risih sekali melihatmu membuntutiku!” suruh Jun tanpa menoleh pada Yerin. Seakan mendapat izin Yerin segera menghampirinya, berjalan sejajar.


“Mengenai perkataanku waktu itu dan sikapku padamu, aku minta maaf. Aku sering melukaimu, maafkan aku.” ungkap Yerin tulus, Jun terkekeh pelan.


“Setelah aku bagus bermain panah kau baru sadar.”


“Tidak, aku sudah menyadarinya sebelum itu, hanya tidak sempat bicara denganmu. Kau sibuk akhir-akhir ini.” terang Yerin membela diri. Jun tidak mempedulikan itu dan terus berjalan. Biarlah cukup seperti ini saja. “Kakimu sudah membaik?” tanya Yerin cemas. Jun mengangguk kecil. “Kau masih marah?” was-was Yerin, Jun menggeleng kecil. “Bicaralah!” sebal Yerin, Jun hanya menoleh padanya dan mengacak rambut Yerin lembut.



Beberapa hari selanjutnya, Jun kembali berlatih dan tidak mempedulikan anak panah maupun Sinbi, ia seakan menikmati kehidupan barunya untuk terus belajar memanah. Lagipula hasil waktu itu bukan murni keahliannya, melainkan bantuan dari anak panah ajaib yang membawanya ke masa lalu.


Berusaha menghapus kejadian yang terasa nyata itu Jun menyibukkan diri dengan berlatih. Ia bahkan melupakan sosok Yerin, bukan karena tidak menyukainya lagi, tapi dia enggan menerima kenyataan jika yang ia lakukan sia-sia, karena Yerin menyukai Gongchan.


Bicara tentang Gongchan, Jun merasa khawatir tanpa alasan pasti dan seringkali mengintip apa yang dilakukan seniornya itu. Gongchan benar-benar pria yang baik, ramah dan mudah memaafkan, ia juga menyemangati dan memberi senyuman tulus pada Jun agar berhasil.


Lambat laun perasaan kesalnya pada Gongchan menipis, entahlah, panggilan hyung yang sempat ia katakan waktu di masa lalu mengusiknya dan perlahan menganggap Gongchan sebagai kakak, ya itu terjadi diluar kendalinya, tanpa sadar.


Sehari sebelum pertandingan dimulai.


Merasa gugup Jun memutuskan jalan-jalan sebentar di luar, merilekskan tangan dan menjernihkan pikiran hingga sebuah suara mengejutkannya.


“Annyeong,” salam khas milik Sinbi terdengar, wajahnya tampak ceria dan gayanya cukup keren.


Dengan malas Jun menatapnya, tersenyum kecut. “Nado annyeong, aku tidak menyangka kau akan muncul ditempat umum.” ledek Jun masih kesal dengan kejadian di atap, dia bisa kehilangan nyawa jika saja Yerin tidak datang.


“Aku tahu dia akan datang, lagipula aku bukan pembunuh, seperti seseorang.” balas Sinbi meledek. Jun ingin sekali berteriak padanya kalau bukan dia pembunuh masa lalu itu, hanya wajah dan suaranya yang sama. “Ada yang ingin kusampaikan padamu, kabar baik dan buruk, mau yang mana dulu?” tawar Sinbi mengacuhkan keinginan Jun yang bisa dibacanya itu.


Menoleh ke kiri kanannya, Jun tidak melihat oranglain curiga akan sosok Sinbi, mereka fokus masing-masing. Setelah itu Jun melirik lampu jalan yang tidak menyala. Tanda kemunculan Sinbi selalu mendadak, kadangkala ada peringatan dan juga tidak.


“Kau masih tidak percaya aku datang dari masa lalu, aku akan menunjukkannya nanti.” ujar Sinbi bersungguh-sungguh. Jun berpikir sejenak.


“Kabar buruk.” jawab Jun


Mendengus sebal, Sinbi kembali berujar. “Saat kau menggunakan anak panahnya maka sesuatu yang setimpal akan terjadi. Anggap saja seperti kau memberi dan menerima, jadi kau akan memberi sesuatu yang berarti sebagai imbalan anak panahnya.” penuturan itu membuat Jun kembali berpikir, bukankah hal seperti ini harusnya dikatakan sejak awal. “Jika aku mengatakannya kau pasti tidak menggunakan anak panahku.” sahut Sinbi.


“Kabar baik.” ucap Jun menyela.


“Hyungmu, sedang menuju kesini!” senyum Sinbi menunjuk Gongchan yang cukup jauh dari pandangan Jun, tengah berjalan menuju tempat pertandingan.


“Jun-ah, kenapa kau lama sekali!” suara Yerin mengalihkan pandangan Jun dari Gongchan padanya. Dalam sekejap gadis itu sudah berada di sampingnya. “Apa Gongchan sunbae sudah datang?” tanya Yerin, Jun menunjuk yang dimaksud dan menyadari Sinbi yang sudah menghilang.


Tepat saat itu sebuah motor menabrak Gongchan.


“Sunbae!” teriak Yerin kaget dan panik. Mereka berdua bergegas berlari menuju Gongchan yang berlumuran darah terkena aspal. Tabrakannya cukup keras tepat di depan tubuh.


“Telepon 911!” semua orang sibuk mengerumuni, menelepon dan mencari bantuan seadanya. Yerin dan Jun berada dalam pandangan Gongchan yang masih setengah tersadar.


“Jun-ah, maaf aku tidak bisa menontonmu. Semangatlah!” dukung Gongchan sebelum pingsan. Tubuh Jun gemetar, kata-kata itu mampu menyentuh hati dan senyuman di bibir Gongchan yang berdarah itu mengingatkannya pada kejadian di masa lalu. Apa ini yang dimaksud Sinbi?



Dengan penuh percaya diri dan senyuman semangat dari Gongchan, Jun bersiap untuk bermain. Dia melakukan awalan yang baik dan dipuji banyak orang, Yerin yang menonton merasa senang dan bangga pada kemampuannya yang meningkat, juga lega karena Jun bisa mengendalikan dirinya ketika Gongchan sedang dirawat di rumah sakit. Awalnya Jun menyuruh Yerin menemani operasi Gongchan, tapi gadis itu memilih menyemangati dan mengikuti lomba. Ia tidak mau Gongchan merasa kecewa, karena pastinya sunbae mengharapkan mereka tetap ikut.


Dikesempatan kedua, Jun mengambil anak panahnya dan hendak membidik. Tapi sesuatu yang dejavu terasa menggelitik tangannya cukup menyakitkan, perasaan dan kejadian itu terulang lagi, Jun kini sudah berada di dalam hutan.


Terbius sesaat, waktu tampak berhenti.


Sosok penyihir berambut pirang berlari terpincang menghampiri Gongchan yang terpanah, berlutut sedih sembari menyentuh wajah Gongchan, terguncang. Tapi lebih dari itu, Jun lah yang lebih terguncang, penyihir yang ia panah itu adalah Jung Yerin.


“Yerin-ah!” panggil Jun terbata, jantungnya seakan dipompa keras, bukan karena berdebar melihat Yerin tapi merasa sesak. Cinta segitiga lagikah antara mereka baik itu di masa lalu, juga cinta sepihak lagikah yang dirasakan Jun di masa ini.


“Maaf, aku tidak bisa menepati janji.” sesal Gongchan dan menutup matanya.


“Andwae!” sedih dan histeris Yerin.


Kaki Jun melangkah pelan mendekati Yerin, tapi Sinbi sudah berada di depannya.


“Panah ini akan membunuhku cepat atau lambat, pergilah Sinbi!”


Jun menurunkan busurnya, merasakan pusing yang luarbiasa, tubuhnya lemas dan ia menangis. Hatinya terasa sangat sesak lebih dari sebelumnya, tangannya gemetar, ia merasa menyesal dan ketakutan.


Semua orang dibuat termangu akan tingkahnya, beberapa dari mereka mencoba menyadarkan Jun untuk kembali fokus dalam memanah.


Tangan hangat milik Yerin menyentuh bahu Jun pelan, “Ada apa? Kau baik-baik saja?” tanya Yerin memilih bersikap lembut, Jun mungkin sedang syok akan sesuatu, mungkin pula teringat Gongchan.


Mendengar suara itu membuat Jun semakin menangis, entahlah, airmatanya keluar begitu saja. Dia sudah membunuh Yerin di masa lalu.


“Gweanchana, semuanya baik-baik saja. Kalau kau ingin berhenti, juga tak apa-apa,” Yerin berusaha menenangkan, sebenarnya ia bingung dan merasa sedih melihat Jun menangis, apalagi wajah Jun terlihat menyedihkan, seakan sesuatu yang sangat berarti baginya sudah hilang.


“Ani, aku akan melanjutkannya.” ungkap Jun dalam beberapa detik kemudian, mengingat masa latihan, senyuman dan keceriaan Yerin juga dukungan Gongchan.


Dengan kaki yang lemas Jun berusaha berdiri tegak.


Sinbi dari bangku penonton memperhatikan. “Wah dia cukup kuat, rupanya,” ungkapnya sederhana.


Dengan menggunakan kekuatannya, Sinbi menukar anak panah ketiga yang disimpan di laci kamar Jun dengan yang disediakan panitia. Berharap Jun bisa melihat jelas masa lalunya, dan sesuatu yang bisa berkaitan dengan masa depan.



2 hari berlalu.


Baru saja Jun keluar dari tempat lesnya, Yerin berteriak memanggil sembari melambaikan tangannya ke arah Jun. Sempat tak percaya Yerin mengetahui keberadaannya, Jun menatap takjub. Bukankah ini sedikit aneh dan menggembirakan, jika Yerin tahu Jun ada disini itu tandanya Yerin tahu pertemuan pertama mereka.


“Aku akan ke sana menyebrang, tunggu sebentar!” teriak Yerin riang. Dia melihat kanan kirinya nekat menyebrang di tempat yang tidak ada tanda lampunya. Jun menggeleng pelan dan memberi isyarat dia yang akan menghampiri Yerin. Tapi gadis itu tidak mengerti dan mulai berjalan menyebrang, dalam waktu teramat singkat, Yerin tidak menyadari sebuah mobil yang melaju sangat dekat dengannya. Jun kaget, ucapan Sinbi sempat teringat olehnya, tanpa ragu Jun berlari ke arah Yerin.


Mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengenali tempat asing itu, Jun kini membuka mata sepenuhnya dan yakin ia berada di surga atau mungkin alam baka yang tidak ia ketahui. Mungkinkah ia masuk ke neraka mengingat pembunuhan yang ia lakukan di masa lalu? Tentu saja tidakkan, bukan dia pelakunya, itu perbuatan buyutnya.


“Annyeong,” sapa Sinbi menyadarkan alam sadar Jun bahwa dia tidak mati, dan sekarang sedang berada di rumah sakit dengan Yerin yang berada di sampingnya, khawatir sesuatu terjadi pada Jun.


“Jun-ah, kau bisa melihatku?” cemasnya.


Lega beribu lega, Jun menatap lekat Yerin.


“Yerin-ah,” panggil Jun lemah lembut, tersenyum kecil. Syukurlah Yerin baik-baik saja.


“Dasar bodoh, untuk apa kau melakukannya! Mencelakakan dirimu untukku!” sedih Yerin terlihat sekali matanya bengkak karena menangisi Jun, berdoa setiap saat agar Jun tersadar dan segera sembuh.


“Kau membuatnya khawatir dan sembab. Bukankah seharusnya kalian berdua menjengukku, tapi malah aku yang datang menjenguk.” canda Gongchan yang ternyata ada di samping lain Jun, masih mengenakan pakaian pasien. Mendengar itu membuat Jun semakin bersyukur, tersenyum teramat kecil seakan diarahkan pada dirinya sendiri.


“Maafkan aku, karena sudah membuat kalian khawatir. Juga bersikap seenaknya pada kalian, aku tahu kalau yang jadi peran ketiganya adalah aku. Kalian bisa …” sebelum Jun menyelesaikan perkataannya, Yerin menautkan jemari tangannya pada jemari Jun, membuat pria itu kaget dan melotot tak percaya.


“Jangan banyak bicara, kau harus istirahat!” Yerin menepuk tangan Jun yang berada di peganganya itu dan tersenyum tulus.


“Kalau begitu aku keluar dulu. Istirahatlah, jangan terlalu dipikirkan.” suruh Gongchan dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Ini mungkin ending yang paling aneh, tapi nyatanya memang terjadi. Jun mengalami mimpi yang mampir dalam kondisi komanya untuk dua hari. Kilasan-kilasan itu muncul dan terbentuk sempurna, masa lalu dimana dia dan penyihir berambut pirang kecil sedang bermain bersama. Saat mereka remaja keduanya kembali bertemu dan saling menyukai, tapi Jun tidak tahu jika Yerin seorang penyihir, hingga kejadian di hutan membuatnya tersadar bahwa membunuh bukanlah hal yang benar untuk desanya, juga betapa menyesalnya ia karena kehilangan Gongchan dan Yerin.


Sebenarnya Gongchan sudah tahu kalau Yerin seorang penyihir dan menyukai Jun, tapi karena rumor mengenai penyihir membuat desa terkena wabah penyakit berbahaya membuatnya urung mengatakan semua itu pada Jun. Dan soal janji yang dimaksud Gongchan, adalah janji untuk menghapus rumor juga menyatukannya dengan Jun.


Hanya satu yang tidak dimengerti Jun, alasan Yerin menusuk dirinya sendiri dengan anak panah.



“Kau mau apa? Apel atau jeruk?” tanya Yerin sembari menunjukkan buah yang dimaksud di tangan kiri dan kanannya. Jun menjawab dengan telunjuk tangan ke arah Yerin tanpa menunjuk salah satu dari buah itu.


“Aku menginginkanmu,” ucap Jun jelas membuat Yerin malu dan gugup, dengan segera dia menjitak Jun cukup keras sampai pria itu meringis kesakitan.


“Jangan bicara sembarangan!” suruhnya was-was oranglain mendengar. Ini masih proses pendekatan antara dia dan Jun, rasanya gugup jika Jun mulai menggombalinya.


“Yakk aku ini masih seorang pasien!” sewot Jun bercanda memegangi bekas jitakannya. Rahasia hati Yerin sedikitnya terungkap, dalam hati kecilnya yang tak disadari itu, Yerin menyimpan rasa suka pada Jun, dan baru menyadarinya saat Yerin melihat Jun yang menangis saat lomba. Merasa sangat sedih seakan hati dan kulitnya tersayat benda tajam, barulah Yerin mengakui perasaannya setelah mengetahui bahwa Jun adalah siswa yang pernah ia bela saat di tempat les, yang menarik di matanya dan setelah itu menghilang karena kesibukan Yerin yang bertambah dan kelas mereka yang berbeda.


Entah bagaimana Gongchan menyakinkan pilihan hati Yerin, yang pasti Jun merasa senang. Masih banyak waktu untuk menumbuhkan perasaan Yerin padanya.


Sementara itu.


Nyala api yang cukup besar sedang berkobar saat ini, Sinbi menatapnya, memastikan lalu melemparkan ketiga anak panah yang menjadi sejarah masa lalu Jun itu ke dalamnya. Tidak ada lagi yang perlu ia lakukan, semuanya akan baik-baik saja. Waktunya untuk mencari ceritanya sendiri.