You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -01




‘Sepanjang waktu aku mencintaimu, tapi nyatanya aku tidak bisa menembus jarak dan tempat di hatimu’


Malam hari diantara riak awan berbayang langit hitam, disertai gerakan tak terlihat dari angin yang membelai dedaunan, saat itu, di salah satu rumah berlantai dua yang memiliki arsitektur unik mirip dengan rumah pohon besar yang berpijak di atas tanah coklat, di kamar atapnya dengan platfon kaca yang cukup besar seorang perempuan tengah berbaring sembari melihat pemandangan atap bumi ditanggal bersejarahnya itu.


Tertempel sebuah benda persegi panjang di telinganya, tersenyum menanggapi candaan di sebrang jaringan. Ia kini mengacungkan dan melebarkan telapak tangan di atas wajah bulatnya itu seakan ingin melihat sesuatu yang nan jauh dari jangkauannya. Matanya menyipit untuk meneropong.


“Sayang sekali tak ada bintang,” keluhnya menyayangkan. “Sampai kapan kau akan menelepon? Ini sudah hampir tiga jam.” tegurnya pada Kim Mingyu, sahabat kecil yang sekarang berada di asrama. Pria yang sebaya dengannya itu adalah seorang atlet basket, tentu saja mengambil sekolah khusus atlet.


“Sampai jam menunjukkan jam 12 malam.” simpel Mingyu dengan suara serak miliknya, “Aku akan menemanimu, dan menjadi orang pertama yang mengucapkan ulangtahun padamu.” tukasnya, gadis itu hanya tersenyum kecil.


Im Nayoung tahu kalau Mingyu sangat menyayanginya bahkan lebih dari kasih sayang kakak kandungnya, karena itu Nayoung sudah terbiasa dengan perhatian dan munculnya Mingyu secara tiba-tiba, seperti 3 jam lalu saat teleponnya berdering, saat itu Nayoung sedang menunggu pesan seseorang hingga telepon Mingyu mengejutkannya.


Selama itu mereka mulai mengobrol banyak hal, tentang kuliah Nayoung, sekolah Mingyu, peristiwa yang terjadi di keluarga dan lainnya, bahkan Nayoung juga tidak sungkan menceritakan kisah cintanya. Mingyu, dia akan bercanda ini itu, bicara ceplas ceplos dan menasehati panjang lebar untuk tidak terlalu larut dalam cinta.


“Tidak boleh, apa kau lupa lagi kalau aku sudah punya pacar.” tolak Nayoung, mendadak terlonjak duduk, “Ah setengah jam lagi menuju jam 12, bagaimana kalau dia meneleponku?” pekik Nayoung yang pastinya membuat Mingyu kaget. “Kututup dulu ya,!” semangat Nayoung, Mingyu sempat protes tapi ia menurut dan memutuskan sambungan.


Setengah jam sudah berputar, jarum jam tepat di angka 12 malam dan Nayoung masih memelototi ponselnya di meja belajar berharap ada telepon. Kecewa, layar ponselnya yang semula menunjukkan angka 00;00 menjadi 00;01, dan bertambah seterusnya hingga satu jam berlalu. Nayoung mulai berpikir, mungkinkah pacarnya lupa hari ulangtahunnya? Sengaja menjahili dan memberinya surprise? Tertidur? Tak berniat memberi ucapan selamat melalui kata-kata? Atau memang sama sekali tak berniat melakukannya? Dan yang paling parah, mungkin dia mengacuhkan tanggal spesialnya Nayoung?


Menggeleng cepat, Nayoung segera membenahi duduknya “Tak apa aku akan menunggu,” putusnya, dan ia mengikat rambut panjang ikal sepinggangnya itu, “Mungkin dia ingin memberiku kejutan,” pikirnya, “Kalaupun lupa, ia mungkin akan terbangun dan ingat lalu meneleponku, terlambat juga tidak apa-apa.” Hiburnya mencoba optimis. “Aku tidak boleh tertidur, bagaimana jika dia menelepon saat aku tidur.” gumamnya, terus berpikir positif dan berharap prianya itu menelepon.


~ ~ ~


Esok harinya, saat kuliah.


Kelas pertama Nayoung sudah selesai 10 menit lalu, dan saat ini ia sedang mencari seseorang. Dalam jarak 4 meter ia melihatnya, Nayoung bergegas menghampiri pria dengan tinggi 180 cm itu, dan dalam hitungan detik saja ia sudah berada di depan Jeon Wonwoo, kekasihnya sejak 3 tahun lalu.


“Akhirnya aku bertemu denganmu,” senang Nayoung tersenyum manis, dan Wonwoo hanya memasang wajah datarnya yang khas, tegas terkesan bad boy namun dingin dan membuat setiap orang penasaran akan sosoknya.


“Hai,” ucapnya sederhana, Nayoung jelas kecewa, tapi sifat positif yang berdarah daging di dalam dirinya itu membuat Nayoung sudah terbiasa dengan keacuhan Wonwoo.


“Apa kau sudah makan? Kelas selanjutmu masih lamakan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua.” ajak Nayoung merangkul tangan Wonwoo, berseri.


Yang dirangkul mengangguk kecil. Sepasang kaki dari keduanya memulai melangkah menikmati cuaca kampus yang terasa hangat dan lembut. Nayoung selalu bahagia setiap kali ia bersama Wonwoo, perasaannya berbunga meski tidak mendapat sambutan ria dari Wonwoo, tapi berjalan bersama dan bisa melihat wajah tampan yang membuat semua perempuan tertarik itu membuat Nayoung senang.


Setelah beberapa lamanya.


“Wonwoo-ya, apa kau melupakan sesuatu?” tanya Nayoung berharap disalah satu ruang ingatan dalam diri Wonwoo merasakan hal itu.


Percuma, hitungan sepuluh jemari Nayoung selesai dan Wonwoo masih berpikir. “Ulangtahunku, kemarin.” ucap Nayoung mengalah.


“Ah, iya ulangtahunmu. Aku melupakannya lagi,” ujar Wonwoo untuk ketiga kalinya, seakan ucapan itu hanya basa-basi biasa yang tidak berpengaruh pada sang gadis. Nayoung menghela kecewa, secuil pun tidakkah Wonwoo merasa bersalah padanya. “Maafkan aku, aku menghabiskan waktu semalaman dengan belajar. Kau pasti kecewa, aku benar-benar lupa,” sesalnya. “Aku akan membuat alarm mulai saat ini, peringatan tanggal ulangtahunmu.” hibur Wonwoo mengambil ponsel dan menuliskan peringatan di tanggal kemarin.


Nayoung melihatnya, memastikan. Setelah Wonwoo selesai dan menyimpan ponselnya kembali ke saku, Nayoung mengulurkan tangan pada Wonwoo. “Lalu hadiahku mana?”


Tersenyum kecil, Wonwoo menjawab. “Kau ingin apa? Aku akan mengabulkannya.” Nayoung bersyukur ia mencintai dan menjadi kekasih Wonwoo, yang sangat lembut jika sedang tersenyum.


“Kencan, aku ingin kita kencan seharian.” kukuh Nayoung tak bisa diganggu gugat.


“Artinya kau mengajakku membolos kuliah?” tebak Wonwoo dijawab anggukan antusias dari Nayoung, mereka memang jarang berkencan meski sudah bersama selama 3 tahun, waktu yang cukup lama bukan?


Dulu. Mereka satu sekolah saat SMA, dan di tahun ketiga, Nayoung yang sejak menjadi siswa baru sudah menyukai Wonwoo, seseorang yang terkenal dikalangan para siswi karena tampan, tinggi, dingin, keren dan membuat penasaran. Membuat banyak kesempatan dan berpura-pura menciptakan takdir yang tak terduga akhirnya Nayoung bisa menyatakan perasaannya pada Wonwoo. Hingga sampai sekarang mereka pun menjalin kasih.


~ ~ ~


Mengenakan dress warna peach polos dan sepatu putih ber-heels 2cm, Nayoung menikmati kencannya dengan ceria, sesekali ia menunjuk tempat menarik di Yeouido Park, dan Wonwoo untuk hari ini ia bersikap cukup ramah, menuruti apa yang diinginkan Nayoung.


“Aku ingin kita berfoto, bukankah latarnya sangat sayang jika dilewatkan tanpa foto?” pinta Nayoung berharap Wonwoo setuju untuk hari ini, karena biasanya dia cukup sulit diajak berfoto.


“Bilang saja kau ingin berfoto denganku,” ujar Wonwoo lalu mengangguk kecil, Nayoung sumringah dan dengan cepat mengambil posisi yang pas untuk berfoto, meminta bantuan oranglain untuk memotret sebelum Wonwoo berubah pikiran.


Terus tersenyum, Nayoung memegangi dan melihat hasil fotonya diponsel. “Bagus sekali.” decaknya takjub.


“Rupanya ini benar kau, sunbae.” ujar seseorang menghentikan langkah keduanya, Nayoung berpaling dari ponselnya ke arah orang itu. Seorang perempuan yang lebih pendek darinya, kurang lebih 160 cm, mempunyai wajah imut dengan rambut sama panjangnya dengan Nayoung, bedanya ia berponi tail tipis yang menambah keimutannya.


Sempat ragu kalau gadis yang terlihat lebih muda darinya itu bicara pada Wonwoo, Nayoung melirik sekitarnya dan beralih melihat Wonwoo. Pria di sampingnya itu tidak menunjukkan keterkejutan, membalas tatapan tajam dan kemarahan dari pandangan gadis tersebut. Sepertinya mereka memang saling kenal.


“Jadi,” ia menjeda ucapannya sejenak, “Siapa dia?” tanya gadis itu jelas menanyakan Nayoung.


“Dia pacarku,” santai Wonwoo, sekilas Nayoung merasa senang karena sudah diakui, tapi melihat ekspresi wajah Wonwoo mendadak Nayoung merasa ada yang janggal. Ekspresi itu menunjukkan ketidak berperasaan dan menantang acuh.


~ ~ ~