
Edginess (Kegelisahan)
‘Kegelisahanku, Tak Ingin Kau Terluka’
Apa yang salah dengan menjadi miskin? Tak seorang pun yang ingin dilahirkan sebagai orang miskin, dan bernasib malang sepertiku, karena aku percaya setiap manusia itu istimewa dan berharga. Begitu pula dengan ayahku, yang sangat berarti bagiku, meski orang-orang menyuruhku pergi darinya. Di usiaku yang terbilang masih muda, mereka pikir kehadirannya hanya akan memperlambat masa depanku? Kurasa, itu tidak benar.
Ayahku, selalu ada untukku selama 20 tahun, lalu apa 2 tahun yang kulalui untuk merawatnya sebanding dengan itu semua?
~izone.chufiction~
“Kau penari yang hebat, sungguh, Chaeyeon-ah, sayang sekali jika trainee nya tidak kau ambil.” gerutu Heo Yunjin, teman sekelas Chaeyeon yang selama ini selalu mendukung impian Chaeyeon sebagai penyanyi. Sayang sekali, sudah 2 tahun lalu gadis berambut ikal panjang itu memutuskan berhenti, sehingga mau tak mau Yunjin merecokinya terus, menawarkan pilihan dan terakhir, saking kesalnya, Yunjin bilang jika lebih baik menitipkan ayahnya ke panti jompo.
Untuk usulan itu, jelas Chaeyeon marah. Dan hampir seminggu mereka tidak saling bicara, sampai Yunjin minta maaf dan mencoba meluruskan kesalahpahaman tersebut.
“Benarkan Kaeun-ah, kapan lagi kau bisa di audisi di jalan?” keluh Yunjin terpaksa diam setelah disenggol oleh Kaeun. Mereka bertiga kini tengah berjalan pulang.
“Hm,” diawali deheman, Chaeyeon menunggu Kaeun bicara, biasanya gadis tinggi dengan rambut sebahu itu bisa memberikan saran yang baik. “Aku tidak menyalahkan keputusanmu, tapi jika perlu, coba kau pertimbangkan lagi. Akan ada jalan keluarnya jika kau mau mencari jawaban, jangan tergesa-gesa, pikirkan apa pun yang menurutmu baik.” tak ada sahutan dari Chaeyeon, Kaeun paham, jika memutuskan adalah hal yang sulit, mungkin ia dan Yunjin harus memberi waktu bagi Chaeyeon untuk menyendiri.
~izone.chufiction~
Membuka pintu tua di salah satu rumah di gang kecil itu, Chaeyeon segera masuk dan melepas sepatu. “Appa, aku pulang,” serunya mengganti alas kaki dengan sandal.
Rumah tersebut tak memiliki banyak ruang, jadi mudah bagi Chaeyeon untuk melihat ayahnya yang tengah duduk selonjor mengenakan selimut di depan televisi yang menyala. Meski begitu sang ayah tidaklah menonton, dia tertidur dengan kepala yang terantuk, bersandar seadanya di tembok.
Chaeyeon menghampiri, tersenyum kecil sebelum mematikan televisi. Beranjak mendekati ayahnya yang sudah berusia 54 tahun, berlutut santai di depan Chun Hojin yang memiliki banyak rambut ubanan di kepalanya. Memperhatikan dari atas kepala, wajah yang penuh gurat lelah dan keriput, pandangan Chaeyeon terhenti pada kaki. Selimut yang digunakan hanya sampai paha, sisanya tak ada. Sejak 2 tahun lalu, karena sebuah kecelakaan, kakinya diamputasi.
“Appa, aku tak mungkin meninggalkanmu, tak ada siapa pun selain kita. Sejak ibu meninggal, hanya kau yang kumiliki.” ungkap Chaeyeon lirih. Menepuk pahanya perlahan dan bangkit, mengambil bantal untuk digunakan ayahnya dengan hati-hati dan lemah lembut.
~izone.chufiction~
Melamun di kelas setelah pelajaran selesai dan bel berbunyi, Chaeyeon menerawang ke arah langit, sampai Yunjin mengetuk meja untuk menyadarkannya.
“Kau tidak makan?” tanya Yunjin, berdiri bersama Kaeun.
“Tidak, kalian saja.” tolak Chaeyeon.
Yunjin dan Kaeun bersitatap sekilas, seakan paham, dan tak terduga mereka mengeluarkan banyak makanan di belakang punggung bersama 4 kotak bekal. Chaeyeon terperangah. Matanya menyiratkan keharuan. Meski terkadang mereka sering bertengkar, Chaeyeon tahu keduanya begitu menyayanginya, bentuk perhatian mereka ini adalah bukti, jika mereka akan siap membantu kapan pun.
“Apa kau menangis?” ledek Yunjin yang sudah menyeret kursi ke dekat Chaeyeon. Membukakan salah satu bekal yang dibuatnya.
“Yakk, makan buatanku saja, masakannya tidak enak,” canda Kaeun.
“Yakk!” cembik Yunjin pura-pura marah. Syukurlah, Chaeyeon masih punya teman, dan yang penting, perutnya memang lapar, dia hanya harus berhemat, jika membeli makanan di kantin maka biaya obat ayahnya akan berkurang.
~izone.chufiction~
Pribadinya tidak begitu ceria, juga tidak dingin, tapi untuk beberapa hari ini Chaeyeon tampak tak semangat. Dia sangat ingin menjadi trainee dan meraih impiannya menjadi penyanyi, tapi tidak untuk sekarang, untuk saat ini, ia masih harus merawat ayahnya. Namun disisi lain, Chaeyeon takut, jika nanti itu adalah ‘keterlambatan’, disaat banyaknya remaja belasan tahun yang sudah berhasil debut.
Seperti Jang Wonyoung yang saat ini tengah duduk bersama manajernya di kafe tempat kerja Chaeyeon. Kehadiran mereka demi acara reality show, dan tentu saja mengundang banyak orang untuk melihat, tak jarang beberapa ingin berfoto dengan penyanyi berusia 16 tahun tersebut.
~izone.chufiction~
“Aku pu …” seruan tersebut terputus dengan suara seseorang terjatuh di kamar mandi, Chaeyeon bergegas masuk terlebih pintunya yang memang tengah terbuka. Ayahnya tergeletak jatuh dan susah payah mencoba bangkit dengan sebuah sikat gigi di tangannya. “Appa, baik-baik saja?” cemas Chaeyeon dengan wajah pucat. Mengerling sikat gigi dengan wajah sebal dan marah, “Bukankah sudah kubilang biar aku yang ambilkan, tunggu sampai aku pulang.” keluhnya, bukan karena tak suka tapi lebih karena Chaeyeon merasa sangat khawatir.
“Tidak apa-apa, appa harus bisa melakukan sesuatu sendiri. Appa harus belajar mandiri. Kau, istirahatlah, tidak usah cemas.”
“Mana bisa appa bicara seperti itu. Aku berhak merasa cemas, karena itu, jangan lakukan ini padaku!” Chaeyeon menatap sendu ayahnya, menahan airmata. Ia hanya merasa lelah, karena seringkali ia pernah berpikir jika … jika saja ia bisa meninggalkan ayahnya.
~izone.chufiction~
Keadaan cukup hening, kelas yang sudah bubar sejak tadi semakin tak bersuara setelah Chaeyeon memutuskan mengakhiri cita-citanya dan berpikir untuk masuk kuliah seperti biasa, bekerja paruh waktu dan mendapat pekerjaan. Baginya akan sulit mendapatkan waktu untuk merawat sang ayah jika menjadi idol. Lagipula, tak semua impian itu harus dipenuhi, dan masih banyak hal lain yang bisa Chaeyeon lakukan.
“Meski pun aku tidak setuju, tapi jika kau sudah memutuskan, aku hanya bisa mendukungmu. Apa pun yang terjadi, jangan ragu untuk minta bantuanku, aku akan selalu di sampingmu.” senyum Yunjin menyemangati.
Dan yang dilakukan Kaeun hanya menepuk pundak Chaeyeon dengan hangat, lalu mengajak mereka makan tteokboki bersama.
Setibanya di rumah, pulang lebih awal untuk meluangkan waktu bersama ayah, Chaeyeon membeli samgyetang dan sundae kesukaan ayahnya. Namun keadaan rumah tampak kosong, Chun Hojin tak ada dimana pun. Mengigiti kuku jarinya panik, Chaeyeon keluar terburu, bertanya pada tetangga dan orang sekitar. Bibi laundry di gang lain bilang, ia melihat ayahnya pergi sejak tadi pagi tak lama setelah Chaeyeon berangkat sekolah menggunakan tongkat, tapi tak menjawab hendak kemana selain mencari angin.
Seakan hidupnya hampir kehabisan napas, Chaeyeon terus mencari di setiap gang, sudut rumah, dan matanya sudah berkaca-kaca sedih. Kemana ayahnya pergi dengan kondisi seperti itu. Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?
Dilanda rasa tak karuan, Chaeyeon berhenti di tempat salah satu gang yang cukup jauh dari rumah dan mendadak kakinya lemas. Hatinya mencelos nyeri kala melihat ayahnya tengah memulung minuman plastik, kardus dan lainnya.
“Appa!” teriak Chaeyeon meledak, menghampiri dengan kesedihan yang tiada tara. Hojin terkejut tak menyangka Chaeyeon menemukannya. “Apa yang sedang kau lakukan? Aku mencarimu kemana-mana,” Chaeyeon masih menahan dirinya, melirik karung yang penuh dengan hasil sampah yang dikumpulkan.
“Chaeyeon-ah …”
“Kenapa kau tega melakukan ini padaku!” seru Chaeyeon, melempar karung tersebut juga botol minuman yang akan diambil oleh Hojin di tongkatnya. “Aku tidak pernah menyuruhmu mencari uang, aku masih bisa mencarinya. Aku tak butuh uang darimu, jadi hentikan dan …”
“Appa tak ingin merenggut masa depanmu.” sela Hojin. Chaeyeon terdiam, dan tanpa sadar mulai terisak perlahan, selalu rasa sakit yang teramat perih yang ia rasakan setiap kali melihat ayahnya. “Selama ini kau sudah mengorbankan waktumu untuk appa,”
“Aku anakmu, karena itu …”
“Seorang ayah tidak bisa menuntut balas budi. Jika ayah yang menghabiskan waktu dan mencari uang untuk anak, itu adalah kewajiban dan hal yang menyenangkan, tapi jika anaknya yang harus menanggung penderitaan demi orangtua, maka status sebagai ayah menjadi memalukan. Appa tahu selama ini kau menyimpan segalanya sendirian, dan tak ingin melukaiku, tapi kau bisa berhenti Chaeyeon-ah. Appa masih punya tangan, dan tentunya kehidupan, appa akan selalu bersamamu, dan mendukung apa pun yang kau inginkan. Jadi, jangan menyakiti dirimu lagi, jangan merasa perlu berbuat segalanya untuk appa, melihatmu tersenyum dan sukses adalah kebahagiaanku. Seorang ayah hanya ingin anaknya bahagia.” penuturan lemah lembut tersebut menggelitik nurani Chaeyeon untuk semakin bersedih, juga lega. Karena akhirnya ia bisa menumpahkan airmata yang selama ini selalu ia tahan.
~izone.chufiction~
Dengan senyum ramah terpatri di wajah manisnya, Chaeyeon melayani pelanggan, bergerak gesit membuat ini dan itu, sampai sebuah tepukan hangat dari Sunghyeok menghentikan pergerakannya. Chaeyeon melihat pria tersebut mengerling jam tangannya, seakan mengingatkan. Dengan candaan memberi hormat Chaeyeon paham, melepas celemek yang melingkar di pinggangnya dan izin pamit. Jika setelah ini biasanya ia akan ke tempat kerja lainnya, maka sekarang Chaeyeon pergi ke tempat latihan, setelah berbincang dan mengobrol dari hati ke hati bersama ayahnya, Chaeyeon mendapat keberanian dan semangat untuk mencoba menjadi trainee.
Sementara itu, ayahnya, dengan keterbatasan fisik yang ia punya, ia mencari pekerjaan dan kesibukan lain yang bisa dilakukan, tentu bukan memulung sampah, karena Chaeyeon menentang keras hal tersebut.
Untunglah sang ayah selalu bisa melakukan apa pun. Dia kini membuat aksesoris, dan figura yang menggunakan keterampilan tangan. Hari-hari mereka tidak sepi, terkadang Chaeyeon pulang dan menghabiskan waktu bersama sang ayah, jalan-jalan menggunakan kursi roda dan makan makanan enak. Juga, terkadang, Yunjin dan Kaeun berkunjung meramaikan suasana, atau menemani Hojin membuat pesanan.
“Paman, aku selalu penasaran dengan satu hal,” ungkap Yunjin hati-hati, disela makan. Kaeun dan Chaeyeon menatapnya ingin tahu, sedang Hojin tampak biasa, seakan sudah menebak apa yang ingin ditanyakan itu. “Kenapa marga kalian berbeda?”
Jika dulu ekspresi Chaeyeon menunjukkan keengganan dan kesedihan mengenai itu, maka hari ini ia menanggapinya dengan senyuman, sedang Hojin malah memberikan ikan yang diletakkan di nasi Yunjin.
“Makanlah yang banyak, kau tampak kurus akhir-akhir ini.” sodor Hojin pengertian, sedang Kaeun, lanjut makan dengan lahap, membiarkan Yunjin bengong sendirian. Chaeyeon sadar, jika selama ini ia tak banyak berbagi kisah dengan keduanya, dan berjanji kelak ia akan menjawab pertanyaan itu, menghapus kegelisahan tak pasti yang selama ini selalu menghantuinya. Jika ia tak pantas menjadi seorang anak bagi ayahnya.
~ TAMAT ~