You're Fiction

You're Fiction
Our Mistake -02 (END)



Jika seorang anak antusias gembira menyambut orangtuanya datang untuk menengok maka Leedo tak seperti itu, ia lebih seperti, ‘kenapa datang?’ ‘aku tidak ingin kalian datang’. Seperti itulah ekspresinya sekarang kala orang tuanya tiba.


Ayahnya dulu ingin jadi dokter tapi tak bisa karena terhalang biaya, dan kini bekerja sebagai karyawan perusahaan biasa, sedang ibunya, adalah kepala tim di agensi penerbit. Pendapatan ibunya lebih besar dari sang ayah, sehingga yang sering bersikap seperti kepala keluarga adalah ibu. Akibatnya ayah menekankan pada Leedo untuk sukses sebagai pria, dan jangan mau kalah dari wanita, sedang ibu, menekankan ia harus bisa menghasilkan uang banyak.


Raut muka Leedo kusam, tertekan dan ingin meledak, terlebih kuliahnya tak berjalan dengan lancar. Banyak rumor buruk tentangnya mengenai suap masuk fakultas, keahliannya yang buruk. Sungguh Leedo tak tahan lagi, hingga berakhir dengan pengusiran. Leedo marah untuk pertamakalinya pada mereka.


Yang dibutuhkannya sekarang adalah Haseul, namun teleponnya tak kunjung diangkat. Beralih menelepon Hwang Hyunjin, sahabatnya sejak SMP, orang kedua yang selalu ia hubungi setelah Haseul.


“Oh Leedo, kukira kau sudah lupa padaku! Sudah lama tak meneleponku.” seru Hyunjin menyapa, “Apa Seoul membuatmu melupakan sahabat terbaikmu ini!” cemberutnya protes.


“Hyunjin-ah, aku …” nada putus asa Leedo membuat Hyunjin terdiam dan bertanya cemas.


“Orangtuaku datang, hanya untuk menunjukkan pertengkaran di depanku. Menunjukkan status tinggi dan rendah mereka.” sedih Leedo, tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar, beban dan rasa sesak akan penderitaannya selama bertahun-tahun ini meluap. “Kurasa, aku tak bisa bertahan lagi.”


Sejak kejadian sebulan lalu itu, Leedo tak sungguh-sungguh kuliah. Dia berubah menjadi menyebalkan, mengabaikan tugas dan hanya bermain-main, bahkan menolak panggilan Haseul maupun Hyunjin, Leedo sedang dalam masa terpuruk. Menyadari sekeras apa pun ia berusaha menjadi dokter itu bukanlah kehidupannya, ia hanya akan menyakiti anak-anak nanti. Ia pikir akan mudah jika jadi dokter anak, tapi resikonya adalah penyesalan seumur hidup jika pada akhirnya ia melakukan kesalahan pada mereka, Leedo menyerah.


Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu di warnet, bermain game, kembali larut dalam permainan yang ada, dan dalam sekejap sudah dapat menguasainya. Ia ingin berontak.



Leedo baru saja bangun dan hendak minum air putih di dalam kulkas yang sudah terbuka tepat bersamaan dengan bunyi bel pintu. Dengan malas Leedo beranjak membukanya dan mendapati Haseul berada di sana, di depannya.


“Kau ini tak seperti biasanya membiarkan rumah acak-acakan.” omel Haseul setelah 30 menit membersihkan flat Leedo yang berantakan. Dimana-mana ada bungkus cemilan, baju berserakan, bahkan setumpukan piring kotor, ditambah debu.


Sedang yang diomeli mengamati Haseul, seakan-akan tengah bermimpi.


“Bantu aku jangan diam saja, kau belum sarapan kan?” suruh Haseul sembari menyedot debu yang ia arahkan pada bawah sofa, tempat Leedo duduk.


Bukannya menjawab, Leedo malah menarik Haseul ke pangkuannya, wajah gadisnya itu kaget, ia sampai refleks meletakkan tangannya di dada Leedo untuk menyeimbangkan diri. Mata mereka saling bersitatap.


“Aku merindukanmu, sepuluh bulan ini aku sangat merindukanmu.” pernyataan itu terdengar menyedihkan, meski ditimpali dengan senyuman, namun mata Leedo tampak sedih. “Sudah lama aku ingin berlari ke arahmu, dan mengakhiri ini, tapi jika aku melakukannya, aku takut tak ingin pulang.” Leedo menautkan jari jemarinya pada jemari Haseul, melepasnya dan menarik lembut tangan Haseul untuk menyentuh rambutnya. “Aku rindu sentuhanmu, yang mengelusku sambil mengatakan aku yang terbaik, bahwa aku sudah melakukan yang terbaik.”


Haseul tersenyum, dan menggerakan tangannya sendiri mengelus rambut Leedo, “Kau sudah berusaha, kau melakukannya dengan baik. Kim Leedo adalah yang terbaik!” semangat Haseul.


Detik selanjutnya adalah pergerakan jemari Leedo yang menelusup ke leher Haseul yang sontak kaget, prianya itu mendekatkan diri pada Haseul. Sebelum bibir mereka sempat bertemu Haseul mendadak berpaling.


“Ah, lihat itu ada banyak sampah di kolong meja, aku harus membersihkannya.” Haseul beranjak bangkit, Leedo tak menahannya. Dalam diam ia kembali memperhatikan Haseul yang sibuk mengumpulkan sampah



Leedo sudah membulatkan tekadnya untuk keluar dari Seoul University, dari fakultas kedokteran dan mendatangi orangtuanya. Dan dalam sekejap saja rumah menjadi dipenuhi kemarahan. Ayah dan ibunya marah besar, mengancam tidak akan mengakuinya sebagai anak dan diakhiri saling menyalahkan. Leedo memilih keluar dari rumah, membiarkan keduanya bertengkar.


Tak menentu, arah tujuan yang Leedo ambil hanya sekadar jalan-jalan, berjanji tak akan menyia-nyiakan waktunya lagi untuk menikmati masa mudanya, setelah itu mencari apa yang ia sukai, belajar hal lain, dan bekerja di bidang yang ia minati.


Sekarang pikirannya mulai tenang.


Diakhir pekan tersebut Leedo berhenti di daerah rumah Haseul, berhenti tak sengaja di lapangan basket saat mendengar suara Hyunjin. Pria itu tengah bersama seorang gadis berambut pendek lurus sebahu. Awalnya, Leedo ingin mengagetkan dan menggodanya karena bersama wanita, tapi …


“Jangan melakukan itu, dia membutuhkanmu.” pinta Hyunjin.


“Benarkah, jika aku adalah orang ketiga diantara kalian?” Tanya Leedo menunjukkan dirinya. Kali ini Hyunjin dan Haseul yang terkejut. Ada luka dari tatapan Leedo yang terlihat miris. Harusnya ia tidak membohongi dirinya selama ini.


Saat SMA, Leedo tahu Hyunjin menyukai Haseul di awal sekolah, namun saat naik kelas 2 tiba-tiba saja Haseul mengirim surat pada Leedo, dan tak sengaja melihat Leedo yang dibentak dan dipukuli ayahnya, sejak itu Haseul menyemangatinya. Perlahan, Leedo menyukai Haseul, dan mereka pun berpacaran.


Namun siapa yang mengira jika, Leedo sempat melihat Haseul dan Hyunjin berpegangan tangan ketika mereka bertiga berkaraoke bersama. Dibalik pantulan layar yang tak jelas Leedo memergoki mereka dan berpura-pura tak tahu. Ia menyangkal soal surat cinta Haseul satu tahun lalu adalah sebuah kesalahan, di tempatkan di loker yang salah.


Leedo pikir dengan lebih menyayangi, memberi perhatian dan waktu bertahun-tahun bersama, Haseul akan menyukainya. Tapi yang dilihatnya sekarang adalah betapa bodohnya dirinya, ia bahkan tak bisa marah pada Haseul maupun Hyunjin.


“Leedo-ya,” lirih Haseul.


“Kita bicara besok, aku pergi.” pamit Leedo berbalik.


Leedo tahu, Haseul selalu menjaga jarak darinya, dan Hyunjin selalu mengutamakannya.



Keduanya hanya saling berhadapan, dengan Haseul yang menyodorkan kotak hadiah dari Leedo.


“Kurasa aku harus mengembalikan ini,”


“Tidak perlu, kau bisa menggunakannya.”


“Tapi …”


“Jika kau kembalikan aku hanya akan membuangnya, dan kau juga harus membuang yang lain.”


“Leedo-ya, maafkan ...”


“Aku tak mau mendengarnya, aku akan semakin marah. Kau terlalu lama menyimpan kata itu, berbohong dan bersikap tulus padaku, meski dalam hati kau ingin segera pergi dariku,”


“Itu tidak benar,”


“Aku ingin marah padamu, tapi aku tidak bisa melakukannya. Haseul-ah, kau menorehkan luka yang sama dalamnya seperti orangtuaku,” Leedo meneteskan airmata, meski dalam ekspresi wajah setenang mungkin. Sedang Haseul tampak terpukul, menangis perlahan.


“Kenapa kau melakukannya?” Leedo mendekat, mengambil kotak kado dan membukanya, sebuah mantel cantik dengan renda putih yang manis di sekitar tangan, perlahan ia menaruh mantel itu di pundak Haseul, “Jika saja kau mengatakannya sejak dulu, aku tak akan sesakit ini,” bisiknya.


Setelah itu Leedo mundur, dan Haseul hanya menunduk terisak.


“Kau cocok mengenakannya,” puji Leedo tersenyum miris, Haseul semakin menyesal, “Rambut pendekmu juga cantik.” lanjut Leedo, Haseul tersedu.


“Pergilah!” ucap dingin Leedo, meski begitu dirinya lah yang berbalik. Haseul merasakan sesak teramat perih di hatinya. Ia telah melukai pria yang begitu menyayanginya, yang selalu merengkuhnya dalam kehangatan dan rasa perhatian. Apa yang harus ia lakukan, 5 tahun ini ia sudah menjadi wanita jahat.


Haseul mengangkat wajah teramat pelan, ia ingin melihat Leedo. Dalam pandangannya yang buram karena airmata, Haseul melihat pria itu berbalik dan melangkah cepat mendekatinya. Sebuah kecupan mendarat di bibirnya, Haseul terdiam tanpa sadar memejamkan matanya dengan pipi yang basah karena airmata.


“Saat kita bertemu nanti, kita adalah orang asing. Kau tidak mengenalku, begitu pun denganku.” ucapan itu adalah terakhir kalinya mereka bertemu. Leedo berusaha keras untuk tak bertemu dengannya, karena ia takut hatinya tak ingin pulang saat itu terjadi.


~TAMAT~