
Isakan Sohye tidak berhenti, meski tidak ada airmata cegukannya masih bisa dilihat, dadanya naik turun menahan tangisan, itu sudah dia lakukan sejak diobati dokter. Tangannya tidak terluka parah, meski begitu dokter memutuskan memberinya suntikan anestesi juga perban serta obat untuk mencegah infeksi. Ruangan sudah lebih hening, hanya ada Mingyu, Nayoung, 1 perawat pria dan perempuan juga 1 polisi, tentu Wonwoo yang berada di depan pandangan Sohye, memperhatikan setiap gerakan dokter yang sedang mengobati gadis keras kepala itu.
Bermalam di kantor polisi, Wonwoo belum juga tidur tak peduli dengan tawaran makan dari pihak polisi juga tatapan sinis dari 2 orang yang sama-sama di penjara singkat dengannya itu.
Entah kenapa Wonwoo terus memikirkan Sohye, dan mendadak merasa khawatir juga bersalah padanya. Gadis itu tanpa takut menceritakan saat-saat Wonwoo berubah drastis dari sifat gelapnya menjadi cerah, dan berlari mengetahui keberadaannya di rumah sakit, selain itu Sohye mencegahnya untuk memukul Mingyu tanpa peduli dengan luka di tangannya. Perlahan Wonwoo memegangi hatinya, tadi itu detakan disana terasa sangat keras, menyenangkan juga membuat malu. Saat Sohye memeluknya erat, menangis mengkhawatirkan tangannya juga terisak menahan rasa sakit di tangan sambil terus memandanginya dirinya, seakan Sohye tak ingin Wonwoo jauh dari pandangannya.
Bersandar di jeruji besi Wonwoo memejamkan matanya, ekspresi Sohye saat tersenyum, tertawa kecil, memarahi, membalas ucapan dinginnya, gugup dan menangis membayangi pandangan dalam gelapnya itu. Wonwoo juga teringat kejadian saat di ruangan loker, saat itu ia merasa bingung dan kaget karena secara tiba-tiba berada di sana bersama Sohye. Bahkan detak jantungnya waktu itu juga tidak stabil, berdetak tak karuan menyadari Sohye berada di depannya dalam jarak yang begitu dekat, terlebih ketika Sohye mengecupnya.
Tersenyum miris dalam pejaman matanya itu membuat Wonwoo ditatap gila oleh 2 teman selnya. Jelas acuh, Wonwoo memilih menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya membiarkan perasaan itu mengalir dalam hatinya yang mendadak terasa hangat.
~ ~ ~
Bersandar di punggung ranjang Mingyu menarik selimutnya hingga ke dada membiarkan Nayoung menuangkan air putih dan memberikannya pada Mingyu. Terpeta jelas wajah iba dan cemas Nayoung melihat kondisi pria itu.
“Pasti menyakitkan,”
“Jangan mengasihaniku, lagipula aku akan membalasnya nanti.” dendam Mingyu yang sekedar berujar.
“Jangan!” serius Nayoung, Mingyu tersenyum kecil.
“Aku hanya bercanda, lagipula tadi itu tidak adil, aku ini pasien dan tubuhku masih kaku, kalau tidak, mungkin dia sekarang yang akan duduk di ranjang rumah sakit.” tutur Mingyu.
Tak lama dalam keheningan, perlahan Mingyu mengenggam tangan Nayoung. “Semuanya akan baik-baik saja, aku sudah menebak ini akan terjadi, entah kenapa rasanya aku tidak bisa diam saja, aku ingin membantunya.” tulus Mingyu. Benar, dia sudah menceritakan semuanya pada Nayoung, tentang dirinya yang bangun dalam tubuh Wonwoo dan mencoba hidup seperti pria itu, sayangnya ia tidak bisa hingga mengacaukan kehidupan es Wonwoo, juga membingungkan Nayoung dan Sohye.
Awalnya Nayoung memarahinya karena tidak langsung mengaku sebagai Mingyu, juga kesal karena ia sempat ingin memukul Mingyu yang minta maaf dengan berpura-pura sebagai Wonwoo, tapi akhirnya Nayoung memahaminya. Pasti situasi itu membuat Mingyu kesulitan, terkadang Nayoung begitu terpukau dengan kebaikan Mingyu, seperti saat ini.
“Jadi kau ingin membantu orang yang sudah melukai sahabatmu.” kecewa Nayoung tidak benar-benar serius, bagaimana pun ia mengingat masa saat bersama Wonwoo dalam kegembiraan dan beberapa alasan ia tersenyum karena Wonwoo, sedingin dan seacuh apa pun mantannya itu.
“Tapi kurasa sebelum itu aku benar-benar ingin memukul wajahnya.” cerca Mingyu.
“Jangan bercanda!”
“Aku serius, dia itu sangat menyebalkan!”
~ ~ ~
Wonwoo keluar, Sohye segera menghampirinya.
“Syukurlah kau …”
Pria itu secara mendadak memegang kepala mantan kekasihnya itu, dan mendorong Sohye ke dalam pelukannya. Diperlakukan selembut dan sehangat itu membuat Sohye terdiam.
“Kau yang bodoh! Kenapa kau harus datang kesini.” ejek Wonwoo yang menyembunyikan kelegaannya karena Sohye datang menjemput.
“Apa kau baru sadar kalau aku ini bodoh, saking bodohnya aku terus saja memikirkan pria jahat yang sudah membohongi dan mencampakkanku!” kesal Sohye yang sama leganya, ia berharap Wonwoo akan berubah.
Tiba saatnya, ketika sebuah alasan tidak diperlukan.
Karena paksaan Sohye akhirnya Wonwoo masuk ke dalam rumah ibunya dan menemui sosok Mingyu dan Nayoung yang tengah mengobrol bersama Nyonya Lee dan Tuan Jo. Sohye menarik tangan dan mendudukkan Wonwoo di sofa bergabung dengan yang lain.
Mingyu mencibir ke arah Wonwoo yang dibalas dengan pandangan dingin, sedang Nayoung mengabaikannya masih sakit hati apalagi Wonwoo asli belum minta maaf padanya, lagipula Wonwoo menyuruh mereka tidak saling menyapa seakan tidak pernah kenal. Terdiam dalam pikirannya, Wonwoo melirik Nayoung, pasti gadis itu juga sama terlukanya seperti Sohye. Setelah keluar dari kantor polisi Sohye terus merecokinya dengan keluhan juga kekesalannya, mengatakan dengan berani kalau Wonwoo gila, psiko, playboy dan lain-lain hingga Wonwoo sebal dan meninggalkannya, tapi Sohye segera menyusul dan merangkul tangannya, mengancam akan melukai Wonwoo seperti luka di tangannya yang masih diperban itu.
Tersenyum satu sama lain, Nyonya Lee merasa lega atas bantuan Mingyu yang menawarkan jasa pengacara dari ayahnya untuk mengurus dan menyelesaikan masalah wasiat juga perusahaan Tuan Jeon. Barulah saat mereka berada di luar rumah, Wonwoo dan Mingyu saling berhadapan.
“Sebenarnya aku ingin memukulmu.” aku Mingyu yang memang gatal ingin memberi pelajaran pada Wonwoo, “Wajahku jadi memar karenamu, selain itu aku ingin membalas sakit hati sahabatku karenamu!” kecam Mingyu penuh penekanan seakan itu mampu membuat Wonwoo menciut ketakutan.
“Lakukan saja!” suara Wonwoo mampu membius Mingyu, beda sekali rasanya saat mendengar dia yang bicara menggunakan suara Wonwoo dengan pemilik aslinya, ini lebih berkarisma, gila, Wonwoo juga bisa memikat pria.
“Setelah itu biarkan aku bicara dengannya.” imbuh Wonwoo melirik Nayoung yang sedang menunggu ditemani Sohye, melihat Mingyu yang begitu perhatian dan menempel terus pada Nayoung membuat Wonwoo yakin jika Mingyu mempunyai perasaan lebih pada Nayoung dan tak ingin gadis itu terluka lagi terutama olehnya.
“Aku tidak yakin kau akan bicara baik.” ragu Mingyu tidak mengizinkan. “Orang tidak berubah secepat itu.”
“Kalau begitu aku akan menemuinya dengan cara kasar, mudah sekali untuk menemukannya karena dia sekampus denganku.” ancam Wonwoo, Mingyu benar-benar kalah, pria ini tidak bisa dianggap remeh. “Aku sudah janji pada seseorang, karena itu aku harus menepatinya.” kukuh Wonwoo.
~ ~ ~