You're Fiction

You're Fiction
Naughty Girl (END)




‘Aku Yakin Ini Bukan Salahku?’


Orang bilang, daun tak jatuh jauh dari pohonnya, begitu pun dengan seorang anak. Aku tak berbeda jauh dari kedua orangtuaku. Wajahku punya kesamaan dengan ayah, mataku bahkan mirip ibu, selain itu, sifat cerewetku adalah turunan dari ayah, dan mudah beradaptasi kudapatkan dari ibu. Tapi dari itu semua, adalah otakku. Banyak orang bilang kalau aku ini bodoh, dan kupikir itu bukan kesalahanku.


Ayahku dulu bahkan tidak pernah masuk ranking 100 besar, dan ibuku, dia tipikal yang lambat dalam menanggapi pelajaran, sudah sejak lama ibu menyerah dalam pelajaran, dan memilih mengikuti les membuat roti. Jadi, jika nilaiku jelek, bukankah aku tidak salah?


~izone.chufiction~


Siapa pun saat ini yang berkunjung ke toko roti ‘Choi-Hope’ pasti akan melirik aneh pada sang pemiliknya yang tengah menahan emosi, sembari pandangan tertuju lekat pada Choi Yena, putrinya.


“Eomma, ada pelanggan. Marahnya nanti di rumah saja ya,” rajuk Yena tersenyum lebar, dan itu berhasil. Bagaimana pun nyonya Jeon tak bisa mengusir pelanggan demi memusatkan waktu untuk memarahi anaknya ini. Sudah kesekiankalinya Yena memberikan hasil ulangan dengan nilai merah, kertas yang dicoret dengan penuh tanda salah, juga angka dibawah 30-an.


Jika Yena pikir kemarahan ibunya akan mereda maka itu salah besar. Setibanya di rumah Yena terpaksa memasang telinga mendengar omelan panjang nan lebar tersebut.


“Kau sebenarnya ingin apa sih! Masa nilai bahasa koreamu separah itu! kemarin matematika, sosial dan sekarang! Yakk Choi Yena! Kenapa kau sebodoh itu!” diakhir seruan, Yena memanyunkan bibirnya, cemberut. “Kau sekolah belajar tidak sih! Ibu membayar sekolahmu bukan untuk melihat angka buruk itu!”


“Aku juga belajar, tapi bagaimana lagi daya tahan ingatanku tidak bagus.”


“Siapa yang menyuruhmu bicara eoh!” sentak sang ibu.


“Eomma!” rengek Yena tak suka. “Kenapa sih eomma selalu memarahiku, ini salah eomma dan appa, kenapa menurunkan kebodohan padaku! Memangnya aku mau kertasku dicoret-coret, diberi nilai serendah itu! aku menyerah, aku tidak mau sekolah!” dan akhirnya, Yena mendapat pukulan dari ibunya di pundak dan punggung. Yena segera menghindar meski tak bisa sepenuhnya menjauh. “Eomma, appo!” Yena menghempaskan cengkraman ibunya dan berlari keluar rumah.


~izone.chufiction~


Sebenarnya Yena ingin pulang, sedari tadi perutnya keroncongan, salahnya tidak sempat makan yang banyak sebelum kabur. Lagipula kenapa sih orangtuanya rewel sekali soal nilai disaat masa lalu mereka ketika sekolah juga sama parahnya. Jika sudah melibatkan hal itu, maka Yena dilema. Ia akan mendengarkan keluh kesah mereka yang menyesal tidak sekolah dengan baik, juga diakhiri perasaan Yena yang seakan sudah durhaka.


Apa pentingnya sekolah sih? Jika semua mata pelajaran itu tak ada yang menarik baginya. Yang ia sukai adalah tempat ini, sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya, tak jarang sering dikunjungi banyak orang, sekedar jalan-jalan bersama, berkencan dan olahraga. Dan yang paling Yena senangi adalah, seorang wanita berambut panjang hitam, mengenakan kacamata hitam, pakaian rock n’ roll dengan gitarnya, mengiringi seorang pria menyanyi di taman itu. Yena sangat suka gitar, jika saja ia tak dipaksa masuk sekolah dengan sistem pelajarannya yang ketat, maka ia akan memilih masuk sekolah seni.


“Ah, dia sangat keren!” puji Yena takjub. Permainannya selalu menarik.


~izone.chufiction~


Setiap malam, Yena menyempatkan diri datang ke taman hanya untuk melihat kedua orang itu tampil. Jika kebanyakan orang memuji dan mengagumi sang vokalis yang memiliki paras tampan dengan postur tinggi bak model itu, maka lain halnya dengan Yena, yang tak pernah luput memperhatikan sang gitaris.


Sampai tak terasa, lagu selesai, sebuah uluran topi mengarah padanya. Yena segera merogoh saku, meraba-raba mencari koin uang, dan sekilas, dari wajahnya saja Park Solomon, vokalis tersebut menebak jika Yena tak punya uang. Tak ragu, topi beralih pada penonton lain.


“Ah, tunggu sebentar, aku akan mengambil uang di rumah. Kalian jangan pergi dulu ya.”


“Kenapa kami harus menunggu? Kami tidak memaksa,” jawab Solomon,


“Tidak, bukan begitu. Penampilan kalian terlalu keren jika tidak ada hadiah.”


“Uang bukan hadiah, dan bisakah kau melepaskan tanganmu.” arah pandang Yena jatuh pada tangannya yang sudah lancang memegangi lengan Solomon, tersenyum kecil sembari menarik tangannya itu Yena mengangguk, meski ia merasa menyesal. Menikmati penampilan secara cuma-cuma.


~izone.chufiction~


Sudah mempersiapkan diri dengan beberapa lembar uang, Yena tidak akan melewatkan uluran topi itu lagi. Datang lebih awal karena sang ibu yang hampir saja mengurungnya di kamar demi remedial, akhirnya Yena berhasil keluar. Ia sudah tak tahan berkutat dengan buku-buku tebal, menghabiskan waktu lebih dari 10 jam membaca buku, mengerjakan tugas dan lainnya, toh nilainya tetap saja jelek. Memang ya kalau turunan itu sulit dimengerti.


Mengemut eskrim lollipop, Yena duduk selonjoran di bangku taman, memijit kakinya asal sembari terus menoleh ke arah tempat keduanya manggung. Tak lama mereka pun datang, melonjak riang, Yena segera menghampiri. Berdiri paling depan di kerumunan yang segera terbentuk. Kali ini Yena mengeraikan rambut panjangnya, yang biasa ia ikat tinggi agar tidak menganggu belajar.


Jari jemari Yena ikut bergerak mengikuti gitaris, setelahnya ia menoleh memperhatikan wanita itu. Entah kenapa mendadak Yena tertarik ingin melihat wajah dibalik kacamata hitam tersebut, pasti dia punya wajah yang cantik. Tubuhnya tampak besar dan tinggi, untuk seukuran wanita, pasti dia sangat kuat.


Penampilan tak sempat selesai, karena sebuat teriakan keras dari seorang pria paruh baya, entah nama siapa yang dipanggil, tapi keduanya panik, berhenti dan segera berlari.


“Yakk! Kemana kalian akan pergi! Aku bahkan sudah bawa uang banyak!” teriak Yena tak terima, refleks ia mengikuti arah lari mereka. Sialnya, mereka malah berpencar, tak peduli, Yena memilih mengejar gitaris. Diantara banyaknya orang, bisa dipastikan Yena sudah menabrak beberapa orang demi bisa menyusulnya.


“Wuah, dia wanita yang hebat! Larinya cepat sekali!” seiring dengan kakinya berlari, Yena tahu pria paruh baya tadi juga ada di belakang, tak menyerah.


“Yakk! Mana bisa kalian meninggalkan penonton begitu saja! Aku mengorbankan waktu belajarku demi melihat kalian!” seru Yena frustasi. Ditambah ia tak tahu daerah mana ini.


Yena menoleh ke belakang, tak ada tanda-tanda pria paruh baya tadi berhasil menyusul, jadi bagaimana? Dia sendirian? Tak lama, sebuah bayangan terlihat, Yena sumringah. Tepat Yena berteriak memanggil ‘ahjussi’, tangannya ditarik seseorang, dan mulutnya dibungkam.


~izone.chufiction~


“Siapa dia? Apa yang terjadi? Apa aku diculik?” mata Yena melotot, panik, namun tak bisa bersuara, selain syok, ia harus berhati-hati, bisa saja salah bertindak membuatnya terluka.


“Apa dia sudah pergi?” suara pria, terdengar jelas di telinganya, Yena merinding, tubuhnya bergetar, jujur saja, posisi mereka kini teramat dekat. Pria itu seakan memeluk Yena dari belakang. “Kau baik-baik saja?” terselip sebuah nada cemas, Yena tak bisa berpikir, ia menahan napas. Perlahan tangan pria itu turun dari aktivitasnya membungkam mulut Yena. “Kenapa kau nekat sekali mengejar kami!”


Tunggu, mengejar? Kami? Itu berarti. Mulutnya mengangga kaget, tak percaya, hingga ia menyadari. Punggungnya bersandar pada tubuh seseorang, dan tak ada sesuatu di area dada? Bukankah?


“Aaah!” Yena menjerit histeris, menjauh dari pria di belakangnya. Kini mereka saling berhadapan. “Kau, kau!” Yena menunjuknya, “Seorang pria!”


Selama ini, tak ada yang tahu jika gitaris tersebut adalah pria. Dan kini, dia membuka wig panjangnya, melepas kacamata. Melongo, Yena merasakan kakinya lemas. Apa ia benar-benar bodoh sampai tertipu berbulan-bulan lamanya.


“Maafkan aku, kau pasti sangat terkejut. Namaku Seo Jihoon, kau penggemarku? Kulihat kau selalu memperhatikanku disaat yang lain lebih suka Solomon.”


Yena seakan-akan berada di dunia lain, jiwanya melayang. Dia hanya melirik gitar yang dipegang Jihoon sebelum menyadarkan pikirannya.


~izone.chufiction~


“Ah jadi begitu, kupikir hanya aku anak dipaksa belajar.” angguk Yena setelah tenang beberapa menit lalu. Duduk berdua bersama Jihoon tak lupa dengan eskrim favoritnya. Entah bagaimana, Jihoon mentraktir itu, seakan-akan sudah biasa dan tahu akan kebiasaan Yena.


“Dan kupikir menyamar adalah cara yang ampuh, sayangnya, aku sudah tidak bisa menyamar.” Yena terkikik mengingat itu, Jihoon nyengir. “Tapi kenapa kau mengejar kami?”


“Aku berhutang pada kalian, sebelumnya aku tidak membayar, jadi malam ini aku harus membayar dua kali lipat.”


“Segitunya? Padahal kami hanya ingin menyanyi saja.” setelah berujar begitu, Jihoon terlihat lesu. Pasti sepulangnya dari rumah ia tidak akan bisa menyanyi lagi, dan dimarahi. Haruskah ia jual gitarnya?


“Kau pria yang tampan,” celetuk Yena tiba-tiba saja, Jihoon bingung mendadak mendapat pujian, “Kau tidak perlu menyamar lagi, saat tampil nanti, pasti Solomon kalah darimu.” hibur Yena. Dan itu fakta yang benar, Seo Jihoon punya wajah yang tampan seperti aktor, senyumnya manis, dan dengan tubuh setinggi itu, jelas Jihoon akan menjadi pria yang dilirik banyak wanita.


“Kau bisa menyanyi?” tanya Jihoon, Yena mengangguk antusias. Dan pada akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan bernyanyi bersama. Diiringi obrolan ringan mengenai satu sama lain, hingga …


~izone.chufiction~


“Ckck, mereka sepertinya tidak pulang sejak semalam. Lihatlah mulut mereka yang biru karena kedinginan.” iba Solomon asal, kala Yena membuka matanya perlahan. Samar-samar wajah Solomon yang buram mulai terlihat jelas. Yena terlonjak kaget, tak ingat dengan seseorang yang tadi tidur bersamanya, yang saling bersandar di kepala masing-masing. Jihoon terhenyak karena gerakan Yena, dengan kepala terantuk masih setengah sadar, Jihoon melakukan peregangan kecil.


“Kalian sudah bangun, syukurlah.” lega Solomon sinis.


Yena tahu posisinya sekarang, dia begadang bersama pria asing, dan tidur sambil duduk di bangku. Pasti keadaanya sekarang sangat kacau, lalu, bagaimana bisa ia pulang dalam keadaan seperti ini.


“Kau seperti gadis nakal! Harusnya kau mengabariku.” Eoh, apa maksudnya itu. Yena membelalak tak yakin dengan perkataan Solomon, berani mengatainya. Seakan paham, Solomon melanjutkan, “Aku tidak bicara padamu, tapi padanya. Dia selama ini menjadi wanitaku, ah, maksudku partner wanitaku, dan sekarang tidak pulang semalaman setelah membuatku di telepon ratusan kali oleh ayahnya.”


“Mian,” sesal Jihoon nyengir. Yena meliriknya, dan perasaan aneh menelusup dalam hatinya. Wajah sehabis tidur dan senyuman Jihoon membuatnya berdebar, ini pertamakalinya dia melihat jelas wajah gitaris favoritnya itu, apalagi dalam keadaan langit yang cerah.


Setelah 30 menit.


Ketiganya selesai sarapan, dengan traktiran Yena, mereka bisa makan kenyang. Dan barulah memutuskan pergi, dimana, terkadang Yena berpikir alasan apa yang akan ia berikan pada orangtuanya disela makan, sama halnya dengan yang dipikirkan Jihoon.


Yena dan kedua pria itu sudah saling memunggungi, sampai, panggilan dari Jihoon menghentikan langkah Yena. Pria itu dengan setengah berlari mendekati dan berhenti tak jauh dari Yena yang jelas kaget, dengan jantungnya yang kembali berdegup aneh.


“Kau janji ya, harus datang saat kami tampil, aku akan datang sebagai Seo Jihoon. Aku tidak akan menyerah, dan kau juga tidak boleh menyerah. Suatu saat orangtua kita pasti mengerti.” Senyum Jihoon menyemangati.


Senyum khas Yena tersungging manis di wajahnya. Mengangguk. Diam-diam mereka bersyukur, orangtua mereka masihlah menyayangi mereka, dan … mereka menghargai pertemuan ini, berharap akan kembali bertemu.


~TAMAT~