
“Ah kalau bukan karena ibu kita akrab aku tidak mau menunggumu pulang, dan kenapa juga kau mengabaikanku dari tadi, jadi aku terpaksa meneriakimu di loker!” seru Yerin terus berceloteh tak mempedulikan mood Jun yang memburuk apalagi dengan hasil panahnya tadi.
“Yakk kenapa kau diam, aneh. Hei mengenai latihan tadi kau buruk sekali, angka 2 yang benar saja. Ini angka buruk pertamamu dari angka 3.” Ledek Yerin, Jun semakin kesal. “Hei bicaralah, aku seperti jalan dengan robot saja. Jangan sedih karena hasil tadi, ini baru latihan, masih ada tes lainnya, lagipula jaraknya bertahap.” Masih dihiraukan, Yerin yang berjalan lebih depan dibanding Jun, menepuk dada Jun dengan lengannya. Dan hasilnya.
“Kalau jalan, jalan saja sih!” suruh Jun sambil mendorong punggung Yerin hingga terhuyung ke depan, syukur Yerin bisa mempertahankan diri dan tidak terjatuh, tapi lengannya jadi sakit karena ikut terdorong.
“Yakk!” marah Yerin disambut langkah kaki Jun yang menjauhinya. “Dasar pria menyebalkan. Pria narsis yang jelek, tidak bisa bermain panah! Arogan dan suka cari perhatian!” hina Yerin spontan.
Tiba-tiba Jun melemparkan tasnya ke tanah cukup keras, Yerin syok dan langsung terdiam. Sepertinya dia membangunkan jiwa marah milik Jun, eotteokhae?
“Aku bisa bermain. Aku bisa bermain panah dengan bagus!” ujar Jun penuh penekanan, berbalik menatap Yerin yang was-was. “Aku akan buktikan kalau aku bisa bermain dengan baik, bahkan mengalahkan pria angel mu itu!” lanjutnya marah dan berjalan meninggalkan Yerin.
Ragu-ragu Yerin menghampiri Jun yang sedang berjalan sendirian menuju kelasnya sembari menjinjing tas Jun yang ditinggalkan kemarin malam. Berhenti tepat di depan Jun, Yerin menyodorkan tas itu.
“Kau meninggalkannya kemarin.” Ujar Yerin, Jun mengambilnya dan berjalan melewati Yerin, dia masih marah dan kesal pada Yerin apalagi saat mendengar hinaan kemarin, apa menurutnya tidak ada hal baik dalam diri Jun.
“Aku minta maaf!” seru Yerin menyusul dan kembali berada dijarak pandang Jun, menghadang pria tinggi itu. “Aku tahu kata-kataku sangat kasar kemarin, aku minta maaf. Aku tulus mengatakan ini, tapi lain kali kalau kau marah tidak perlu membanting sesuatu.” Imbuhnya dan buru-buru menambahi, “Tasnya bisa rusak.”
“Kau bisa menambahkan itu sebagai sifat burukku.” Dingin Jun membuat Yerin gondok.
“Yakk, aku kan sudah minta maaf.” Rengeknya pada Jun yang lagi-lagi pergi begitu saja. “Dia pemarah dan pendendam.” Sunggutnya frustasi.
Sejak saat itu Jun dan Yerin tidak banyak mengobrol, mereka juga tidak lagi pulang bersama dan setiap kali ibu Yerin bertanya, maka putrinya itu akan berbohong kalau kesibukan Jun bertambah hingga pria itu selalu pulang telat. Ibunya bisa tahu hal itu karena rumah Jun tepat di depan rumah mereka.
Mendadak Yerin semakin merasa bersalah dan tidak nyaman dengan situasinya sekarang. Bahkan saat latihan pun dia dan Jun seperti berada di tempat yang berbeda, Jun berubah.
2 tahun lalu.
Pria China itu kukuh untuk masuk klub panah meski tidak tahu menahu mengenai panahan dan bertekad untuk belajar banyak. Dia dengan percaya diri akan bisa menguasainya dalam beberapa bulan dan mencetak nilai bagus. Namun Jun tidak benar-benar melakukannya, dia lebih banyak bercanda dan tampak tak serius, seringkali dia bolos dan muncul begitu saja.
Sebenarnya senior sudah menegur, dan tidak menghasilkan sesuatu yang lebih baik, Jun tidak suka dikekang atau mengikuti peraturan, dia juga sibuk dengan kelas akting. Tapi setiap kali ada kemungkinan dikeluarkan atau memilih, maka Jun akan berubah rajin, dia memang pernah mencetak nilai yang bagus, 10. Dan tidak bertahan lama, angkanya masih di 7 paling besar dan 3 yang rendah. Jumlah yang keluar jalur jelas banyak.
Dibanding yang lain Yerin lah yang lebih banyak berkomentar padanya, memberikan petuah, nasihat atau apalah itu yang berujung dengan gombalan Jun.
Tak jarang Jun selalu memberikan belaian di rambut Yerin, menanyakan kabar dan makan, atau mengajak jalan-jalan setiap kali Yerin memarahinya. Dan Yerin akan bilang dalam gerak bibir ‘Lihat apa yang dia lakukan? Dimarahi pun percuma.’
Yerin terus saja membicarakan Gongchan dan memuji permainannya, tak ada habisnya hingga Jun dibuat kesal. Pria itu menghentikan langkah Yerin dengan berdiri sempurna di depan Yerin.
“Lalu aku bagaimana? Tidak ada hal keren atau pujian untukku kah?” tanya Jun. Yerin tampak berpikir dan nyengir, “Apa keahlian orang itu hanya dilihat dari memanah, kenapa kau begitu menyukainya. Kau tahu kan kalau aku menyukaimu, jadi jangan membahasnya terus.” Pinta Jun, Yerin malah terkekeh, ini kesekiankalinya Jun bilang suka padanya dan itu tidak berdampak apa pun. Bahkan Yerin mengira kalau selama ini Jun hanya bercanda.
“Jangan bercanda lagi!”
“Aku benar-benar menyukaimu.”
“Kalau kau menyukaiku kenapa kau selalu membantah yang ku katakan.”
“Karena aku tidak ingin kau melihatku menjadi oranglain, aku seperti ini adanya.”
“Tidak pernah bersungguh-sungguh terhadap apa pun.”
Dan saat itu dilalui dengan debat yang tidak berakhir. Meski begitu besoknya mereka akan bersikap biasa, berbeda dengan satu tahun yang akan datang, seperti saat ini.
Kelas Yerin belum dimulai tapi gadis itu sedang sibuk membawa setumpuk buku dari perpustakaan untuk materi pembelajarannya, dia mengambil jurusan Dokter Hewan dan bercita-cita membuka klinik sendiri, sedang panah adalah hobinya yang sangat digemari.
Tepat saat Yerin membawa setumpuk buku di tangannya dia melihat Gongchan tengah berjalan berlawanan dengannya. Tersenyum kecil Yerin merasa senang sekali bisa melihat Gongchan, tapi keributan beberapa orang di dalam klub magic mengalihkan perhatian. Mereka sibuk menyimpan barang-barang hingga tanpa sengaja menyenggol tumpukan paku dan palu di dalam kotak yang tersimpan di batas jendela. Kotak itu terjatuh.
Gongchan dengan sigap berlari mendorong Yerin menghindari kotak bersamaan dengan seseorang. Mereka bertiga berhasil menjauhkan diri dari kotak yang isinya berhamburan keluar. Meski tidak terkena benda berat Gongchan rupanya terluka, tangannya berdarah terkena aspal jalan dan terkilir saat menolong Yerin dari kotak dan tumpukan buku tebal. Yerin panik segera menghampiri Gongchan dan meringis sakit saat melihat darah di tangan Gongchan.
“Eotteokhae?” cemasnya, “Pasti sakit, sunbae harusnya kau tidak usah menolongku.” Wajahnya merengek hendak menangis.
“Aku tidak apa-apa, lukanya kecil kok.” Ujar Gongchan menenangkan. Tapi Yerin semakin resah, bagaimana dengan latihan memanah nanti, tangan yang terluka adalah tangan yang dipakai menarik anak panah.
“Maafkan aku sunbae!” lirihnya.
“Ayo kita ke UKS!” Jun berujar, sedari tadi dia hanya memperhatikan kecemasan Yerin yang kentara dan bagaimana rasanya didorong juga dianggap tidak ada saat ini. Padahal dia juga ikut andil menolong Yerin dan gadis itu lebih mengkhawatirkan Gongchan.
“Hm baiklah,” angguk Gongchan. Dengan ditemani Yerin dia pergi ke UKS dan Jun sekali lagi hanya memperhatikan. Dia hendak berjalan tapi kakinya tertahan, sakit sekali. Perlahan ia menoleh pada kakinya, sebuah paku ukuran sedang menancap, darahnya mengalir.
“Sial!” gerutu Jun mencabut paku dan melemparnya sembarangan, setelah itu pergi tepat saat anak-anak klub magic berhasil turun, saling menyalahkan.