You're Fiction

You're Fiction
Offense (END)




Offense [Perasaan Luka]


‘Apa Hanya Aku yang Menyimpan Luka?’


Setiap kali aku melihat diriku, aku merasa jijik, dan tak terasa tubuhku bergetar kesakitan. Kenangan itu tak kunjung terhapus, yang seringkali sangat kuinginkan hilang. Jika hidupku seperti dandelion, akan begitu menyenangkan, melepas dan menerbangkan kelopaknya bersama angin. Hidup tanpa merasa ketakutan.


Aku tahu, bukan hanya aku yang menyimpan sebuah luka, bukan hanya aku yang terluka, tapi kenapa rasanya seperti aku yang menorehkan luka itu.


~izone.chufiction~


“Kau, orang bodoh baru itu?” tanya Sanggyun bersama Donghan dan Eunki menghampiri meja Lee Yoojin, seorang siswa tampan yang baru-baru ini tengah terkenal karena skandal tak terduga. Ketiganya cukup mengakui keberanian Yoojin, meski begitu, mereka ingin memastikannya langsung.


“Kau bicara padaku?” tanya Yoojin mencibir, Donghan tersulut emosi.


“Kita bicara di luar!” suruh Sanggyun, Eunki mengisyaratkan cepat jika tak ingin diseret. Jujur saja, Yoojin tidak takut, tapi ia menurut hanya karena ingin saja.


Setibanya di sebuah sanggar paling pojok yang kotornya luarbiasa, dilengkapi dengan bangku-bangku tak terpakai mereka berhenti.


“Kau mau masuk klub kami?”


Memicingkan mata mengamati tempat tersebut, jelas saja, Yoojin mengerutkan kening enggan. Lagipula klub apa yang mereka maksud setelah mengatainya bodoh.


“Klub penantang, apa pun yang menantang akan kami kerjakan. Dan ini bukan tempat kami, sanggarnya ada di luar sekolah.” ungkap Eunki.


“Kurasa yang bodoh adalah kalian, aku menolak.” acuh Yoojin. Baru saja berbalik, Donghan mencengkram tangannya.


“Lalu kenapa kau mendekatinya?” tanya Donghan mewakili dua teman lainnya.


~izone.chufiction~


Dua siswi tersebut mengerling diam-diam kearah Kang Hyewon, yang jelas merasa tak nyaman setelah kejadian waktu itu. Jika saja ia punya kekuatan, paling tidak ia ingin menghilangkan dirinya sendiri saat ini, ia tak suka diperhatikan. Selama ini Hyewon mencoba menjadi siswa biasa, tidak menonjol, menyendiri dan ingin tenang, namun sejak kehadiran seorang pria dari kelas sebelahnya, Hyewon mulai kehilangan apa yang selama ini ia pertahankan tersebut.


“Bukankah mereka cocok, gadis itu cukup cantik.”


“Dia memang memiliki wajah cantik polos, tapi dia ini misterius. Kudengar dia sangat aneh, selalu menghindari orang.”


Tidak hanya satu dua kali Hyewon mendengar itu, dan ia sudah terbiasa, jika memang dengan begitu ia akan aman, ia tak masalah. Bedanya, nama pria itu kini disebut-sebut ketika membicarakannya. Apa yang harus ia lakukan?


“Halo,” Lee Yoojin muncul, menyapa sembari memiringkan wajahnya yang teramat dekat dengan wajah Hyewon, yang sentak kaget, mundur mendadak. Seketika itu juga ekspresi Hyewon kaku dan pucat. Yoojin tersenyum kecil menyesali sapaan yang mendadak. “Mian, aku mengagetkanmu. Kau sudah makan? Kita makan bersama?”


Setiap kali Yoojin bicara, Hyewon berpaling. Begitu pun saat Yoojin mendekat, maka Hyewon terus mundur. Kentara sekali gadis itu mencoba menghindari Yoojin, dan itu pun berlaku pada setiap pria. Inilah, rahasia Hyewon, tak suka berdekatan dengan pria. Mungkin …. Phobia pada pria.


~izone.chufiction~


Dengan tergesa-gesa Hyewon masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, tak hanya kunci biasa, ada dua gembok atas dan bawah, setelah itu tambahan slop, dan terakhir menutup tirai kecil di pintu tersebut. Bernapas lega, ia nyalakan lampu, melempar tas sekenanya dan duduk. Sekolah hari ini terasa melelahkan karena ia terus menghindari Yoojin.


Setengah menyeret langkah, Hyewon menuangkan air putih, meneguknya segar. Mendadak ia ingat pria itu, kejadian beberapa hari lalu.


Pelajaran olahraga baru saja selesai, guru sudah pergi ke kantor, dan para siswa bersiap istirahat juga berganti pakaian. Beberapa orang sudah berpencar, sampai kedatangan Lee Yoojin menghentikan mereka. Pria tampan dengan wajah tipikal pria manis dan menyegarkan itu berhenti di depan Hyewon yang kaget.


Semua mata takjub tak yakin. Hyewon yang terkenal tak punya teman, dan anti sosial kini didekati Yoojin. Memang tak aneh, mengingat Hyewon adalah gadis cantik, dan seringkali ada beberapa yang mengirim kado dan menyatakan suka padanya. Tapi sejauh ini Hyewon menjauhi mereka, bahkan dalam beberapa meter Hyewon sudah berbalik mengacuhkan mereka. Lalu bagaimana dengan Yoojin?


“Aku menyukaimu, ayo kita berkencan.” Ajak Yoojin. Dan jadilah, skandal tersebut menyebar riuh.


Sedang Hyewon, berbalik pergi, berlari cepat.


~izone.chufiction~


Sementara itu, di warnet. Yoojin tampak asyik bermain game, dan berulangkali berteriak menang. Sorakannya membuat sang teman dongkol, sudah tiga jam sejak mereka bermain, bukan mempermasalahkan kalahnya, tapi Kim Taedong merasa lelah. Ia memutuskan berhenti, dan Yoojin memberenggut enggan, merajuk 1 kali lagi.


“Sudah malam, aku mau pulang,” keluh Taedong.


“Baiklah,” walau enggan, Yoojin menyetujui.


Kini mereka berjalan bersama.


“Sebenarnya kau menyukainya atau tidak? Mendadak sekali kau tiba-tiba menyukai wanita, bahkan langsung mengajak kencan?” tanya Taedong, selama ini yang ia tahu Yoojin jarang membicarakan wanita. “Kau hanya mempermainkannya?”


“Tidak,”


“Tidak,”


“Yakk!!”


“Hanya penasaran,”


“Itu artinya kau mempermainkannya!” solot Taedong.


“Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya.” Yoojin tampak serius.


“Yakk, sebagai teman baikmu, kusarankan kau berhenti. Kang Hyewon, dia memang cantik, tapi dia sangat dingin. Wajahnya selalu begitu, dia bahkan tidak pernah bicara, aku jamin teman sekelasnya bahkan belum pernah mendengar suaranya. Lebih baik, dengan ketampananmu, kau mengajak kencan Kim Minju saja.”


“Aku inginnya Kang Hyewon,” canda Yoojin, tak lama teringat saat itu.


~izone.chufiction~


3 bulan lalu, Yoojin berdiri di depan rumah seseorang sembari membawa chicken. Setelah diketuk berapa kali, tak ada sahutan di dalam rumah, karena khawatir Yoojin memilih menunggu. Tak biasanya, sang pemilik rumah tidak menjawab.


“Jeogiyo, aku dari Chichken Ahn, ada bonus chicken untukmu karena hari ini ulangtahun kedai. Akan kusimpan di depan rumahmu, makanlah selagi panas.” teriak Yoojin, akhirnya memutuskan meninggalkan sekotak chicken di depan rumah.


Selagi sibuk memastikan chickennya aman, Yoojin menyadari tempat tinggal ini, ukurannya sangat kecil, menjorok ke bawah, hanya ada 1 jendela, tanamannya tak terurus banyak yang merambat, sungguh, bukan tempat ideal untuk ditinggali. Memikirkan siapa yang betah tinggal disini, Yoojin berjalan menaiki tanjakan, sampai hendak berbelok ia menabrak seseorang yang setengah berlari, mengenakan jaket abu, lengkap dengan tudung yang menutupi kepalanya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Yoojin, mengulurkan tangan membantunya berdiri. Mata mereka sempat bertemu, sebelum Kang Hyewon memutuskan pandangan, berdiri langsung dan buru-buru masuk rumah, mengacuhkan chicken. Yoojin syok, memperhatikan, wajahnya tampak tak asing. Ia pun mengikuti arah pergi Hyewon yang meninggalkan kotak chicken begitu saja. “Yakk, chichken, kau melupakan itu!”


~izone.chufiction~


Suara sebuah buku diletakkan di atas meja mampu mengalihkan perhatian siswa kelas tersebut pada Yoojin yang duduk di depan bangku Hyewon, tersenyum manis sambil menunjuk buku tersebut. Rupanya sejak kedatangannya, mampu membuat orang penasaran.


“Kudengar nilai matematikamu paling bagus di kelas, bisakah kau mengajariku? Sekeras apa pun, aku paling tidak bisa menghitung, kau mungkin punya rumus jitu.” ramah Yoojin, dia adalah satu-satunya pria yang bertahan akan sifat acuh Hyewon.


Alih-alih menatap Yoojin, Hyewon malah menatap nanar buku tersebut. Lee Yoojin, nama yang cantik, tapi ini malah membuatnya terasa sesak. Tak ada yang tahu, jika saat ini Hyewon tengah melawan traumanya, tubuhnya bergetar pelan.


Hyewon bangkit tepat saat Yoojin menyentuh tangannya dengan telunjuk, gerakan mendadak itu membuat kursi Hyewon berdecit. Hyewon mengangkat wajah dan menemukan banyak mata melihatnya. Tak tahan lagi, Hyewon pergi dari kelas.


“Sebenarnya ada apa dengannya, dia benar-benar tak suka pria?” obrolan demi obrolan terdengar, tanpa menyadari sosok Yoojin sudah tak ada.


Rupanya, Yoojin mengikuti Hyewon diam-diam, sejak gadis itu keluar gerbang sekolah. Saat dimana Hyewon terus melangkah dan menjauh dari beberapa pria di sekitarnya, sampai berhenti di sungai Han. Gadis itu terdiam cukup lama, mencari tempat paling sepi. Yoojin memperhatikan dari jauh, duduk di bangku. Meski bosan, Yoojin masih merasa penasaran, setahunya Hyewon tidak pernah bolos, sebenci itukah ia pada pria.


Diselingi dengan main game, Yoojin melihat pergerakan Hyewon. Melongo tak yakin, gadis itu melangkah masuk air. Dengan cepat Yoojin berlari menghampirinya.


~izone.chufiction~


Meski Hyewon mencoba menahannya, ia merasa kesakitan, dadanya perih dan bekas luka di perutnya semakin menyayat, seakan masih baru. Tangannya berkeringat, ia terbayang-bayang akan masa itu, meski suaranya sudah lelah berteriak, tak ada siapa pun yang menolong. Luka ini terlalu sulit untuk dikikis, butuh penghapus yang banyak demi menghilangkannya, dan Hyewon tak tahu bagaimana caranya.


Setiap kali melihat pria, tubuhnya menegang, kepalanya pusing, dan tanpa sadar matanya sudah perih dengan airmata. Ia menyimpan luka yang terlalu besar, sehingga sampai sekarang pun ia masih merasakannya.


“Eomma, apa yang harus kulakukan. Aku takut sekali, pria itu terus mendekatiku. Apa aku tidak akan sembuh?” setelah waktu berlalu, menangis dalam diam, Hyewon sadar hari sudah malam, dan itu menambah ketakutannya. Perlahan ia melihat air, di sana terasa menyejukkan.


“Kau sudah bangun? Syukurlah.” Lega Yoojin. Hyewon terkejut, masih dengan setengah sadar ia merangkak menjauhi Yoojin. “Tenanglah, aku tidak melakukan apa pun. Aku melihatmu tenggelam, dan menyelamatkanmu.” tutur Yoojin mencoba menenangkan, tapi Hyewon yang pucat pasi tampak bergetar hebat, mengedarkan pandangan menyadari tempat ini bukanlah rumahnya.


Memaksakan berdiri, Hyewon sempoyongan hampir jatuh, Yoojin hendak menolong namun urung saat mengingat luka itu.


“Dimana aku! Apa yang akan kau lakukan!” lirih Hyewon, suaranya menjelaskan seberapa besar rasa ketakutan itu. Mencari pintu keluar, dan tangannya sibuk mencari benda untuk dijadikan senjata. Wajah panik, ketakutan, putus asa dan kesedihan itu terlihat menyedihkan.


“Ini rumahku, kedai chicken yang selalu kau pesan. Tak apa, semuanya baik-baik saja, kau aman.” ungkap Yoojin dengan suara selembut mungkin, “Hyewon-ah, aku tidak akan menyentuhmu, sungguh. Dan aku minta maaf.” Pengakuan itu membuat Hyewon untuk pertamakalinya menatap mata Yoojin. “Aku tidak akan melakukannya jika tahu apa yang terjadi, tidak bisakah kau berhenti menyimpan lukamu?”


Tangan Hyewon perlahan menyentuh perutnya, di sana ada bekas luka sabetan pisau, mungkinkah?


“Maafkan aku, saat aku menyelamatkanmu dari air, aku melihatnya.” Yoojin mempertahankan jarak diantara mereka. Raut ekspresinya terlihat tulus.


Di detik selanjutnya, Hyewon terpuruk, menangis tersedu-sedu, menundukkan kepalanya, memeluk lutut. “Bukankah aku ini menjijikkan,” rintihnya.


Yoojin duduk bersila di depannya, membiarkan Hyewon menumpahkan tangisan dan kesedihannya. Rasa penasaran ini berujung pada luka besar seseorang, Yoojin menyesal karena mendekatinya begitu saja, tanpa tahu ketakutan macam apa yang diderita Hyewon. Lain kali, jika Hyewon siap, Yoojin akan mencoba mendekatinya dengan cara yang baik.


~TAMAT~