You're Fiction

You're Fiction
Confession -01




‘Kau menghilang setiap kali aku memanggilmu’


Part 1 : Kemunculannya


“Ah eotteokhae, eotteokhae, layarnya tidak menyala, bagaimana ini. Layarnya diam terus, padahal tadi baik-baik saja. Aish bagaimana dengan deadline ku.” histeris Hwang Sinbi meratapi layar laptopnya yang gelap dan tidak menyala meski ia berusaha me-restart, mematikan sejenak dan menyalakannya lagi. Percuma saja ia tidak menemukan apa yang salah, bahkan kabelnya terlihat ok, begitu pun dengan stop kontaknya.


Terus membolak-balikkan laptop ke samping kiri, samping kanan, menangkupnya ke atas, ke bawah dan menatap intens, Sinbi menjerit frustasi. Laptopnya tak kunjung menyala padahal ia sudah mengetik selama tiga jam untuk menulis novel. Ia bahkan ragu karyanya tersebut sudah disimpan atau belum. Gawat, deadline lombanya tinggal 3 hari lagi.


Hwang Sinbi, adalah mahasiswa semester empat yang bercita-cita menjadi penulis novel genre history dan non-romance. Itu karena dia sangat lemah dalam urusan cinta dan menganggap kata-kata romantis terlalu mengandung kiasan, intinya klise.


Dengan semangat yang harus selalu dibina olehnya, Sinbi memutuskan ikut lomba cipta novel dengan tema kolosal dan membahas kerajaan dalam masa kepemimpinan Raja Sukjong bersama selirnya Jang Ok Jung.


Tapi beberapa menit lalu laptopnya tiba-tiba mati dan membuatnya pusing bukan kepalang, guling sana sini dan berakhir dengan desahan panjang sebelum ia memikirkan solusinya. Tak lama, dengan gerak cepat ia berdiri menjauh dari meja belajar yang disulap seperti meja kerja, penuh buku tebal tentang sejarah dan foto-foto lawas kerajaan juga pakaian tradisional, ada juga sketsa singkat para pemain yang ada dalam novelnya dibuat seperti kerangka, mudah dipahami dan membuatnya terbantu.


Ia lekas menarik jaket, hendak pergi menemui temannya yang bekerja dalam urusan elektronik, Yook Sungjae. Pria enerjik yang kepalang aktif, segala sesuatunya ia koleksi tak peduli jika itu adalah baskom bekas tak terpakai, yang penting warnanya menarik dan lucu baginya. Tapi tak ada salahnya mencoba dulu, semoga saja Sungjae bisa membenarkan laptopnya tanpa menganggu file yang ada.


Tanpa berdandan lagi, Sinbi membuka kunci kost kecilnya dan memutar handle pintu dalam setengah tertahan, saat tak sengaja ia melihat sebuah cahaya. Menolehkan kepala ke arah cahaya itu muncul, Sinbi melongo tak percaya ketika laptopnya menyala begitu saja, menunjukkan windows dan menampilkan layar password.


“Wuahhh daebak! Ah syukurlah!” teriaknya mirip jeritan kebahagiaan yang langsung saja diprotes tetangga sebelah karena berisik. Sembari membekam mulut Sinbi mulai bersiap mengetikan password untuk membuka laptop.


Tak terbuka, meski passwordnya sudah selesai ditulis laptop itu tak bergeming dan menunjukkan keterangan kalau password yang ditulis salah. Merana, Sinbi lebih syok karena ia melupakan password, tapi juga merasa aneh karena ia tidak mengganti passwordnya selama dua tahun terakhir.


“Wae geurae, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini sih!” parau Sinbi makin bingung, dan ia pun berusaha keras menuliskan kembali password, mengulanginya beberapa kali, lalu beralih mencari password lain. Tetap tak ada yang terbuka.


“Aaah! Menyebalkan!” kesalnya menekan keyboard menyerah, sampai matanya melirik sesuatu sekilas. Judul novelnya yang sedang ia buat, November Blood. Sedikit ragu akhirnya ia mengetikkan kata itu dan berhasil.


“Assa!” soraknya senang, tapi wajahnya yang memiliki kemiripan dengan solois Jessica Jung disertai hidung mancung cantik itu segera berubah muram dan terkejut. Ia melihat sebuah video yang langsung tersuguhkan di layar laptopnya, seorang pria sedang berlari mengejar seorang wanita -berambut panjang lurus sebahu, model rambut bob zaman dulu- di depannya. Tak juga digubris juga dia nekat menyusul melintasi jalan raya sampai sebuah mobil gran max besar melaju cepat menabraknya. Dramatis dan menyeramkan, tubuhnya terpental jauh setelah melayang ke udara sekitar 2 meter lalu terhempas mengenai aspal jalan, terdengar sangat keras. Menjerit syok diselingi rasa takut Sinbi menutup bibirnya yang bergetar. Pria itu mengeluarkan banyak darah, kepalanya terluka dan matanya mengerjap antara terbuka dan ingin terpejam menahan rasa sakit, meski begitu ia tengah memandangi seseorang, yang Sinbi yakini adalah wanita yang sempat dikejarnya.


Terlihat seperti nyata Sinbi lebih takut akan fakta laptopnya yang tiba-tiba menunjukkan video tabrakan itu, tanpa pernah ia simpan file nya sama sekali. Ketakutan Sinbi menjauhkan jemarinya dari atas keyboard, mundur dari posisinya menjaga jarak dari laptop yang masih mempertontonkan pria itu, yang masih tersadar dan bergumam lirih tanpa Sinbi mengerti. Tangannya terarah ke depan dan menggapai sesuatu.


Apa ini mimpi? Tadi itu ia sedang mengetik serius lalu kenapa?


Makin mundur dan mundur, tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu yang dingin dan terasa aneh, lengket. Tegang tak berani melirik ke belakang, Sinbi menjerit keras saat sesuatu itu memegangi kakinya.


Terjatuh panik Sinbi menutupi matanya dan meronta, menendang-nendang tak beraturan berharap pegangannya lepas, dan itu lumayan mudah. Pegangannya melemah dan terhenti. Perlahan, Sinbi membuka matanya dan membelalak kaget. Pria berlumuran darah tengah berbaring tak berdaya di depannya, menggapai dan bergumam lirih seakan ingin bicara. Sadar, ada yang aneh, Sinbi mengerling laptopnya yang terhenti pada sosok pria korban tabrakan itu, mendapati hal gila. Pria di dalam laptop sama dengan pria yang tiba-tiba ada di kostnya dalam keadaan terluka parah.



Mengigiti kuku jari jempol tangannya dengan gemetar dan mata tidak fokus Sinbi memperhatikan pria itu berbaring di ranjang rumah sakit setelah di operasi. Sebenarnya banyak sekali hal yang harus ia urus sebelum operasi dan itu membuatnya sangat pusing, dia tidak tahu siapa pria ini, dan bahkan ia tidak punya kartu pengenal apa pun. Selain itu biaya administrasinya semakin membuat kepala Sinbi pusing, tapi mau bagaimana lagi dia harus menyelamatkannya karena terlambat sedikit saja dokter bilang ia akan meninggal, apalagi setelah kehilangan banyak darah.


Tapi ada yang lebih membuatnya pusing, ketika orang bertanya ia di tabrak dimana dan kenapa tidak ada pihak 911 yang tahu, juga tak ada beritanya di televisi. Konyol bukan jika Sinbi menjawab ia kecelakaan di dalam video di laptopnya dan muncul di kamar kecilnya di lantai dua.


Sebenarnya siapa kau dan kenapa bisa muncul, ah, gila sekali. Ini mimpi kan?


Selama sisa waktunya yang tiga hari itu, Sinbi menggunakan waktu luangnya dengan sebaik mungkin. Menggunakan laptop Sungjae setelah memaksanya bertukar, lebih tepatnya menitipkan laptop anehnya dan meminjam milik Sungjae. Ia lalu mengetik di bangsal rumah sakit dimana pria aneh itu berada. Sedikit tidak leluasa karena ruangannya berbagi dengan pasien lain, Sinbi berusaha keras tidak menghasilkan suara berisik dari ketikannya dan itu tidak terlalu berhasil, mereka masih mengerlingnya tak suka.


“Wuaaah!” jerit Sinbi hampir mengalami serangan jantung karena seseorang menepuk pundaknya dari arah samping tanpa terduga. Semua orang langsung saja marah padanya, menyuruh dia lebih menghargai privasi pasien lain. Memberi anggukan mengerti dan minta maaf Sinbi begitu malu. Dia terlalu fokus mengetik sampai tak sadar pria itu sudah siuman.


“Maaf aku mengagetkanmu,” sesal pria itu dengan potongan rambut yang rapi dan tebal, poni lebat jatuh menutupi keningnya, yang Sinbi perkirakan itu adalah potongan rambut model 97, intinya tahun 90-an.


“Ah tak apa, apa kau sudah merasa mendingan? Aku tidak tahu jika pasien tabrak lari separah dirimu bisa langsung berdiri.” tanya Sinbi diakhiri ungkapan tak percaya. Pria yang tinggi ini tampak terlihat sehat.


“Memangnya apa yang terjadi padaku?” tanyanya bingung, sedang Sinbi, lebih bingung lagi harus menjawab apa. Mendadak ia menyesal menukarkan laptop, setidaknya ia bisa memperlihatkan video kecelakaan itu padanya.


Terdampar dalam ketidaktahuan tanpa adanya identitas, Sinbi membawa pria bernama Lee Jungshin itu ke kostnya dengan penuh keengganan. Mempersilakan ia masuk ke dalamnya, lalu menutup pintu was-was, ia begitu malu jika ada tetangga yang melihatnya, terakhir kali ia membawa Jungshin dengan lukanya itu pun ia harus menyuruh Sungjae datang dan pergi diam-diam.


“Ruangannya kecil sekali, ini 6x6 meter ya?” tebak Jungshin tepat. “Kamar mandinya 2x2 meter?”


“Aku menyewa tempat ini agar dekat dengan kampus, duduklah.” terang Sinbi sambil menawarkan kursi putarnya. Jungshin mengerling kursi itu dan berbalik menatap Sinbi.


“Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini, aku bahkan tidak ingat kenapa aku bisa kecelakaan dan tidak mengenalmu. Kau bilang aku berada dalam video yang ada dalam laptopmu, dipikirkan sekeras apa pun itu tidak masuk akal.”


“Maja, benarkan tidak masuk akal? Tapi itu memang benar, sayang sekali videonya sudah tidak ada.” desah Sinbi.


“Jadi aku tidak punya tujuan sama sekali, dan tinggal di sini bersamamu. Pasti kau sangat tidak nyaman.” sesal Jungshin merasa bersalah.


“Tentu saja,” ups, Sinbi segera menepuk mulutnya untuk lebih menjaga ucapan, “Tak apa sampai kau ingat semuanya. Besok kita bisa ke kantor polisi untuk mencari data tentangmu, kali saja ada yang mencari orang hilang.” hibur Sinbi tersenyum simpul.


Jungshin mengangguk seadanya, setelah itu memperhatikan ruangan kecil tersebut lalu berhenti di laptop Sinbi yang sudah kembali. Tampak berpikir dan kemudian, “Kamsahamnida, karena sudah menyelamatkanku,” tulusnya dengan mata yang menatap hangat mata coklat terang milik Sinbi.


Mendadak sebuah kelebatan melintas dibenaknya, Jungshin merasa sedikit pusing dan mengerutkan keningnya refleks, menggelengkan kepala pelan dengan tangan menyentuh kepalanya yang berdenyut. Tadi itu dalam mata Sinbi ia melihat sebuah kejadian dalam sepersekian detik, ia berdiri di halte bus dalam keadaan hujan lebat.


“Kau baik-baik saja?” cemas Sinbi mencoba membaca raut wajah Jungshin yang terlihat kesakitan dan kemudian berubah serius seakan tengah memikirkan sesuatu, menyambungkan satu puzzle yang baru ia lihat. “Jangan terlalu dipaksakan, kau bisa mengingatnya pelan-pelan.” suruh Sinbi gusar. Bagaimana jika dia terluka parah.