You're Fiction

You're Fiction
Far Away -03 (END)



Esok harinya.


“Sunbae kenapa kemarin malam kau tidak datang? Orangtuaku sudah menyempatkan waktu untuk bertemu denganmu.” tanya Jisoo di dalam kelasnya setelah semua orang pulang. Wooshik datang ke kelasnya setelah diberitahu Ray untuk datang menemui Jisoo dan minta maaf pada gadis itu.


“Ponselku mati karena itu aku tidak bisa menghubungimu, maaf Joo-ya.” jelas Wooshik.


“Lalu sunbae kemana? Kalaupun ponselmu mati, sunbae masih bisa menghubungiku melalui telepon umum.” ujar Jisoo kecewa.


“Aku tidak bisa melakukannya…” Wooshik terdiam sejenak, Jisoo menatapnya, menuntut Wooshik untuk bicara jujur. “Aku sedang berkencan dengan perempuan lain, aku benar-benar membutuhkan uang itu.”


“Lalu apa artinya aku bagimu? Apa aku hanya sebatas kekasih biasa untuk statusmu, tidakkah sunbae berpikir bahwa aku akan terluka. Kalau sunbae butuh uang katakan padaku, aku mungkin bisa membantu. Kenapa sunbae selalu melukaiku, aku ini seperti perempuan bodoh yang membiarkan kekasihnya berkencan dengan perempuan lain, aku seperti orang gila yang mengizinkan hal itu.” kesal Jisoo sambil berkaca-kaca.


“Maafkan aku Joo-ya, ini terjadi begitu saja.”


“Cukup hentikan, kita akhiri saja, apa yang selama ini kukatakan tidak pernah sunbae dengarkan, dan sudah kukatakan untuk tidak berkencan dengan perempuan lain. Aku ternyata sangat lelah, dan aku baru menyadarinya saat aku telah mengecewakan orangtuaku kemarin.” Jisoo berbalik cepat beranjak keluar kelas. Tepat saat berbalik airmatanya menetes dan pandangannya jatuh pada sosok Ray yang berdiri di pintu mendengarkan tanpa sengaja.


~ ~ ~


Dua minggu lalu.


Meski Jisoo sudah mengatakan untuk putus, pada nyananya ia masih berhubungan dengan Wooshik. Kenyataan itu membuat Ray tak habis pikir dan kelelahan, bahkan hatinya sudah terbakar habis. Airmata Jisoo masih terlihat dalam pandangannya dan suara kecewa Jisoo masih teringat dibenaknya. Jika Jisoo sudah sangat terluka dan tahu akan terus tersakiti selama bersama Wooshik yang tidak juga mengerti akan perasaannya, lalu kenapa Jisoo selalu memberi kesempatan pada Wooshik. Kenapa Jisoo begitu mencintai Wooshik.


“Kau akan kemana?” tanya Ray saat melihat Jisoo melewati kelasnya dengan membawa bekal makanan.


“Mengantar bekal pada sunbae.” riang Jisoo. Dan Ray hanya bisa melihat punggung gadis yang masih disukainya itu menjauh untuk menghampiri pria lain.


Jisoo terpaku, tak bisa bergerak saat mendengarkan apa yang dikatakan Wooshik.


“Aku tidak bisa berkencan untuk saat ini karena Jisoo, aku tidak akan melepaskannya sampai genap 6 bulan. Uang dari perempuan itu cukup tinggi, aku harus bisa bertahan. Dan mungkin Jisoo akan memahaminya, dia perempuan yang baik.”


Bekal makanan Jisoo terjatuh, Wooshik terkejut dan lebih kaget lagi saat melihat Jisoo berada di belakangnya, dengan segera Wooshik mematikan ponselnya. Jisoo menatap Wooshik dengan airmata yang sudah mengenang di kelopak matanya, sekali berkedip maka airmata itu akan turun.


“Joo-ya…”


Sebelum Wooshik menghampiri Jisoo, Ray sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi, mengenggam erat tangan Jisoo seakan tidak akan pernah melepaskannya.


“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan, aku harus segera menemui sunbae. Dia pasti lapar karena belum makan. Kenapa aku menjatuhkan bekalnya!” tutur Jisoo berusaha bicara biasa, menyeka airmatanya dengan lengan lainnya yang bebas dari pegangan Ray.


Ray berhenti, terkejut dan kesal luarbiasa. Jisoo masih saja bersikap baik dan mengkhawatirkan Wooshik. Ray segera berbalik berhadapan dengan Jisoo, masih memegang erat tangan itu.


“Lepaskan aku Ray. Aku harus menemuinya.” Jisoo menghentakkan tangannya namun tak berhasil lepas dari pegangan Ray.


“Apa kau gila? Dia sudah melukaimu dan jelas-jelas hanya memanfaatkanmu!” seru Ray untuk pertamakalinya membuat Jisoo kaget dan tanpa sadar lebih terluka daripada mendengar niat buruk Wooshik tadi.


“Dia hanya membutuhkan uang itu untuk kuliah, apanya yang memanfaatkan. Dan aku sama sekali tidak gila!” bentak Jisoo menghempaskan tangan Ray kasar hingga terlepas darinya.


“Baiklah, lakukan apa pun yang kau inginkan. Teruslah berpura-pura kau tidak terluka dan menganggap semuanya baik-baik saja!” bentak Ray. Jisoo menunduk tak berani menatap Ray. “Aku tidak tahu kalau gadis di depanku ini adalah gadis yang sangat bodoh! Pergilah dan jangan pernah berbalik ke belakang, jangan pernah melihatku lagi!” meski Ray bicara begitu pada akhirnya dialah yang berbalik dan meninggalkan Jisoo.


~ ~ ~


Jisoo terus melihat punggung Ray yang berjalan menjauh darinya dan Wooshik. Pria itu baru saja mengutarakan perasaannya melalui sebuah lagu, dan Jisoo menyadarinya, ia tidaklah bodoh selama ini. Ia tahu bahwa Ray menyukainya sejak dulu, dan lagu Far Away yang dinyanyikan pria itu saat karaoke tadi telah menyadarkannya, bahwa Ray bukan hanya menyukainya, Ray mencintainya dengan tulus.


Lalu bagaimana dengan dirinya? Jisoo sangat bingung, apakah selama ini ia benar-benar menyukai Wooshik atau ternyata ia menyukai Ray? Yang pasti, Jisoo merasa enggan untuk kehilangan Wooshik, ingin bersama pria itu dan selalu mengaguminya yang begitu pintar dan ramah. Tapi, kenapa melihat Ray yang melangkah pergi meninggalkannya lebih menyakitkan daripada perselingkuhan Wooshik yang berulangkali.


“Joo-ya, ayo kita pergi!” pegangan Wooshik pada tangannya itu menariknya pelan. Menuntunnya untuk pergi.


Jisoo tidak langsung menurut, pegangan tangan Wooshik memang hangat dan nyaman, tapi Jisoo lebih merindukan genggaman tangan Ray padanya saat mereka pulang dari restoran dekat sungai Han dan saat Ray menariknya keras untuk pergi dari Wooshik setelah menjatuhkan bekal makanan. Kenapa bisa ia tidak sadar bahwa rasa nyaman, aman dan rindu itu lebih besar ia rasakan pada Ray.


“Joo-ya?” panggil Wooshik mencoba menyadarkannya dari lamunan.


Jisoo menatap Wooshik, lagi-lagi ada airmata di kelopak matanya yang siap meluncur turun membasahi pipi pucatnya saat ini.


~ ~ ~


Bermain petak umpet di taman puzzle membuat ketiga orang itu bingung, mereka perlu memeras otak sepenuhnya untuk menemukan jalan keluar. Wooshik mengeratkan jaketnya karena cuaca semakin dingin setelah malam beralih menggantikan petang beberapa saat lalu. Meski mereka sudah bermain hampir dua jam tetap saja mereka belum saling menemukan jalan keluar seakan puzzle itu juga menyamar menjadi labirin panjang yang entah terhubung ke pintu yang mana, seakan buntu.


Sedang Jisoo yang salah memakai baju mulai kedinginan, dia hanya mengenakan sweeter tipis, kini terpaksa berhenti dan berjongkok sejenak untuk berpikir meski jongkok malah membuat dingin makin terasa.


“Aku berharap seseorang menemukanku, ini membuatku lelah.”lirihnya, “Aku merindukanmu.” jujurnya.


“Benarkah kau merindukanku?” sebuah suara terdengar, sangat familiar di telinganya dan Jisoo langsung berdiri dari jongkoknya. Tanpa menatap pria itu Jisoo langsung memeluknya, membenamkan kepalanya di dada Ray.


“Aku tidak tahu kalau tubuhmu sehangat ini.” ungkap Jisoo memejamkan matanya perlahan dan tak lama ia merasakan tangan Ray yang mengelus lembut kepalanya.


“Aku juga merindukanmu, kenapa begitu lama menyadarinya, bahwa kau merindukanku dan bahkan mencintaiku.” keluh Ray.


Mata Jisoo terbuka, wajahnya memerah. Dia kemudian mendongakkan wajahnya menatap Ray. Manik mata Ray sedang menatapnya juga dengan lembut dan penuh kasih sayang, dan Jisoo kini tersenyum penuh bahagia. Bahkan ia lebih bahagia daripada saat ia dan Wooshik resmi menjadi sepasang kekasih.


Ray memeluk Jisoo penuh kelembutan seakan memberikan kehangatan pada gadis yang memang sempat kedinginan itu. Perlahan Ray mencium kening Jisoo. Ray lalu melepas ciuman di kening itu, Jisoo tersenyum cantik. Dia berjinjit untuk bisa lebih tinggi dari Ray dan dengan cepat mengecup kening Ray.


“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” ungkapnya untuk ratusan kalinya sejak ia memutuskan melepas genggaman Wooshik saat itu dan berlari menyusul Ray.


“Aku tahu.” Ray kembali memeluk gadisnya itu dan benar-benar tidak akan melepaskannya lagi, tidak akan membiarkan Jisoo berpaling pada Wooshik maupun pria lainnya.


Disisi lain, Wooshik tampak kebingungan dan lelah. Ia pun bersandar di pohon puzzle.


“Kemana pasangan itu pergi? Apa sekarang aku dihukum diantara puzzle ini dan harus berkencan dengan pohon?” keluhnya.


‘Sekarang aku mengerti perasaanmu’


~TAMAT~