You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
S2 Twins eps 18 - udah revisi



Author POV


"Mamah---Vano berangkat kesekolah dulu"pamit seorang cowok yang sudah mengenakan seragam sekolah barunya.


"Vano--nih minum dulu--"Balas ibunya yang membawa air putih segelas dan ada sebuah kapsul di tangannya.


Vano mengambil dan langsung meminumnya.


"Belajar dirumah aja ya--kan sama aja bukunya"bujuk ibunya untuk kesekian kalinya.


"Mah--Vano baik-baik aja--Obatnya juga Vano udah bawa di tas--Vano janji enggak akan repotin Mama lagi"Vano langsung memeluk ibunya. Vano tau kalau ibunya mengkhawatirkan dirinya.


Saat mendnegar penjelasan dokter kemarin, sakit itu datang tiba-tiba membuat kedua orang tuanya siaga menjaganya.


Hingga menghentikan semua aktifitas sekolahnya.


"Vano berangkat ya, Vano janji enggak kenapa-kenapa disekolah baru"Vano mengambil tangan ibunya dan mengecupnya.


"Assalamualaikum"Vano langsung melangkah.


"Biarkan pak Joko yang mengan--"


"Mah Vano baik-baik aja"Vano berbalik dan tersenyum meyakinkan ibunya.


Ibunya tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, ibu percaya sama kamu--hati-hati nyetirnya--walaikumsalam"Vano mengangguk dan masuk kedalam mobilnya.


Mengendarai mobil hanya butuh beberapa menit dan vano kini sudah berada di depan rumah seseorang.


Seorang cowok yang berseragam rapi kini berdiri di depan pintu sebuah rumah, rumah yang mengingatkannya tentang masa lalunya.


Dengan Ragu dirinya mengetuk pintu itu.


"Sia---Vano--Astagaaa Tante enggak salah lihat kan?"Seorang wanita paruh baya itu langsung memeluk Vano, Vano tersenyum dan membalas pelukan wanita paruh baya itu.


"Ayoo masuk, sarapan dulu ya"Vano tersenyum dan melangkah masuk.


"Ailen udah berangkat?"Wanita itu tersenyum dan menggeleng.


"Ai belum berangkat--sini duduk Nak--biar tante panggil Ailen turun"Vano mengangguk dan melihat wanita itu pergi menaiki anak tangga memanggil fio.


Ya di rumah fio.


Tok


Tok


"Iyaa Bun sebentar"Teriak Fio dari dalam kamarnya. Fio menatap pantulan bayangannya di cermin. Setelah merasa rapi dirinya melangkah keluar sambil membawa tasnya.


"Ayoo Sarapan"Ajak ibunya, Fio mengangguk langsung menuruni anak tangga.


"Bunda masak apa?"


"Ada deh, kejutan buat kamu"Balas ibunya, fio terkekeh dan terus melangkah menuju meja makan.


"Vano--"


"Lu ngapain disini?"tanya fio ke Vano yang duduk disana yang dengan seragam sekolah yang sama dengannya.


"Anterin lu ke sekolah"balas Vano santai tersenyum menatap fio.


"Ailen jangan kaya gitu sama Vano, walau bagaimanapun dia teman km dulu"ucap bunda fio, Fio langsung melangkah menjauh dari meja makan.


"Ailen berangkat ya bun"pamit Fio mencium punggung tangan ibunya. Mengabaikan keberadaan Vano disana.


"Assalamualaikum" fio langsung berjalan keluar tanpa nungguin Vano.


"Walaikumsalam--sarapannya gimana?"balas ibunya bingung melihat putrinya sudah pergi.


Vano pun ikut pamit, dan menyusul fio


"Ailen motor gua udah kelewat"ucap Vano mencekal pergelangan tangan fio yg hampir keluar dari halaman rumahnya.


"Gua mau naik bus"balas fio dingin dan melepaskan tangan Vano dengan Kasar. Vano kaget melihat penolakan yang begitu jelas.


"Sabar--dia kayak gitu karena Ailen masih marah karena gua pergi tanpa pamit"Batin Vano berusaha kuat untuk membujuk Fio kembali ke sisinya lagi.


Tin


Tin


Satu mobil spot dari arah sana dan berhenti di depan fio.


"Arsen"Gumam Fio melihat arsen saat menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Naik" Arsen singkat menatap Fio dan Vano yang berdiri di belakang fio.


"Cowok yang sama"Batin arsen saat menyadari Vano yang kemarin di supermarket.


Fio mau-tak mau harus naik biar bisa terhindar dari Vano. Fio hanya enggak mau berurusan sama Vano untuk saat ini.


Pergi tanpa pamit dan tiba-tiba datang menghampirinya lagi.


"Lu ikut sama gua"Vano menahan tangan fio sebelum masuk kedalam mobil Arsen.


Arsen langsung turun dari mobilnya, menatap tajam ke Arah Vano yang masih setia memegang pergelangan tangan fio.


Arsen melangkah ke arah fio menarik tangan Vano dari pergelangan tangan Fio hingga terlepas. Tanpa mengucap kan satu katapun,Arsen kembali menatap fio.


"Masuk Ailen"ucap Arsen tegas, Fio menghembus nafas beratnya sebelum masuk kedalam mobil Arsen.


Vano melogo melihat fio menuruti apa yg cowok depannya katakan.


"Lu siapa hah?"tanya Vano ke Arsen setengah teriak.


"Lu yang siapa? Gua..."arsen sengaja tidak melanjutkan kata-katanya, Vano masih setia menunggu lanjutan ucapan Arsen.


"Gua Tunangannya"lanjut Arsen dengan menekan kata tunangan namun matanya menatap tajam ke Arah Vano.


"Jadi Jangan pernah lu Gangguin dan menyentuh sedikit kulitnya saja. lu berurusan sama gua, hari ini gua maafin lu tapi esok lu bakalan berhadapan sama gua"ancam Arsen dengan suara dinginnya.


"Gua gk takut sama lu"tantang Vano menatap tajam kearah Arsen dan kembali menatap lembut kearah Fio yang hanya duduk diam.


Arsen semakin kesal saat menyadari tatapan cowok itu ke fio.


"Oya? gua bakalan buktiin ucapan gua nanti"balas Arsen dingin dan langsung masuk kedalam mobilnya.


Arsen pun melaju mobilnya pergi.


"Mulai sekarang kemanapun lu pergi harus sama gua"ucap Arsen dengan nada datarnya. Arsen memegang erat setir mobil itu, amarah ingin meledak ssaat ini juga.


Fio langsung menatap ke Arah Arsen yg sibuk nyetir


"Terserah lu"pasrah Fio kembali menatap keluar jendela.


"Dia yg waktu itu meluk lu kan"tanya Arsen membuat fio diam sejenak dan menjawab dengan gumam.


"Hmm"gumam Fio.


Sebenarnya fio males membahas hal kayak gini. Seseorang yang menghilang dari hidupnya dan kini kembali lagi.


"Siapa dia?"tanya Arsen lagi membuat fio menarik nafas panjangnya.


"Vano"balas fio polos menatap ke Arah Arsen.


"Bukan itu, maksud gua.  siapa dia sampai meluk dan tau alamat rumah lu?"geram Arsen karena dengan polosnya fio menyebut nama cowok itu di depannya.


Kalau bukan ke adaan nyetir mungkin fio akan habis di tangan arsen.


"Teman lama"balas singkat fio masih enggak mau menatap wajah arsen yang terlihat menyeramkan.


"Mantan pacar lu maksudnya?"koreksi Arsen, namun Arsen semakin di buat geram saat fio dengan santai membalas ucapannya.


"Bisa jadi"balas Fio dengan santai karena jujur dirinya sangat males dan ogahan membahas masalah ini. Karena dirinya juga enggak tau kenapa cowok itu kembali lagi setelah sekian lama.


"YAAAAAKKKKK"Fio kaget mendengar suara teriakan Arsen yang sangat kencang hingga membuatnya kaget.


"Arsen lu buat gua kaget"tampang fio sangat polos hingga membuat Arsen ingin membunuhnya saat ini juga.


"Kaget? Lu yang buat gua kaget Ailen"Teriak Arsen yang sengat emosi hingga menambah kecepatan mobilnya.


"Arsen pelan-pelan, gua bisa mat--"


"MATI AJA LU"Sahut Arsen cepat membuat fio melotot tak percaya.


"Gua salah apa?"batin Fio.


"Sial!--gua benaran cemburu"Batin Arsen.


Dan tidak ada percakapan lagi di antara mereka hingga sampai sekolah..


☆☆


DiSekolah….


"Lu enggak lihat David?"Untuk kesekian kalinya Arlen menanyakan keberadaan David ke semua teman di sekolahnya.


Arlen duduk lesuh di bangku kosong.


"Kamu kemana Dav, sejak kemarin kamu enggak ngabari aku, aku kerumah sakit kamu udah enggak ada, diaparteman juga kamu enggak ada"Gumam Arlen menatap walpaper ponselnya yang menampilan seorang cowok yang tersenyum manis menatap Camera.


"Apa dia marah sama gua karena nolak ciumannya kemarin?"batin Arlen.


"Pasti ini rencana kak Arsen, apa gua tanya ka arsen aja? Tapi kalau dia curiga gimana?"Arlen menghentakan kedua kakinya dan mengacak rambutnya frustasi.


Drrggghh


Drrggghh


From Love


"Aku libur seminggu di tokyo nia, kembaran aku juga lagi sakit, jadi aku enggak bisa masuk sekolah, Maafin aku telat ngasih tau ini ke kamu. Love U and miss u"


Arlen bernafas legah membaca isi pesan dari david. Untung saja dirinya bum menanyakan hal ini ke kakaknya, bisa-bisa dirinya akan mendapatkan masalah kembali.


To Love


"Aku nunggu kamu Dav, Cepat kembali, mias u to and love you to"


Send….


"Kenapa kamu selalu enggak ngasih kabar kalau pergi, apa kepergian tanpa kabar merupakan salah satu pekerjaan kamu Dav? Aku takut kamu ngilang untuk kedua kalinya"Batin arlen. Arlen hanya takut untuk kedua kalinya David pergi tanpa pamit, Arlen takut david kembali meninggalkannya.


Arlen beranjak dan melangkah kembali ke kelasnya, karena jam belajar akan segerah dimulai.


°♡♡°


Dilain tempat…


"Arsen gua bilang turunin gua disini"


"Kenapa? Lu takut cowok lain lihat lu jalan sama gua?"Sahut Arsen cepat membuat fio jengah dan kesal menatap arsen.


"Gua enggak mau dibully hanya karena datang bareng lu, berhentikan mobilnya"arsen langsung menggeleng.


"Enggak akan, lu turun bareng gua di parkiran sekolah"ucapan finaly arsen dan melajukan mobilnya masuk kedalam gerbang.


"YAAAKKK lu memang ker--"


"Gua pacar lu--lu harus ingat itu, selama jadi pacar gua! Lu enggak boleh dekatan sama cowok manapun, jaga jarak satu meter sama cowok lain, selain gua tanpa ada jarak enggak masalah"Fio langsung turun meninggalkan Arsen dengan perasaan kesal.


Fio menutup wajahnya menggunakan tas ranselnya. Namun fio mengingatkan sesuatu.


Fio berbalik dan menatap Arsen disana.


"Lu enggak make seragam--lu enggak sekolah?"tanya fio sambil menurunkan tas yang menutupi kepalanya tadi.


"Gua udah terlalu cerdas buat belajar, jadi guru-guru disini ngelarang gua masuk sekolah"Balas Arsen melangkah mendekati Fio dengan senyum.


"Lu di skors? Kenapa? Oh lu berantem kan?wajah lu masih memar gitu! Sama siapa?"Arsen hanya tersenyum mendemgar semua pertanyaan itu.


"Lu khawatir sama gua?"Fio langsung menatap kesal kearah arsen. Padahal niatnya baik mannyakan itu.


"Yaudah terserah lu, gua mau ke kelas"Arsen langsung mencekal tangan fio.


"Tapi tenang aja, karena lu pacar gua jadi lu masih ketemuan sama gua hari ini, seharian full---gua yang baik hati bakalan nemanin lu seharian di sekolah--ayoo"Arsen langsung menarik tangan fio.


"Lu apa-apa an sih, Gua iyain jadi pacar lu bukan berarti di sekolah semua orang tau--please! Jangan buat semuanya makin rumit--lu juga di skors, gimana kalau guru-guru lihag lu ke sekolah Arsen"Arsen menghentikan langkahnya dan berhdapan sama fio.


"Enggak usah khawatir sama gua, dan Dimananya yang gua buat rumit? Bully? Atau apa?"Fio diam dan menggeleng.


"Yaudah ikut kalau enggak ada jawaban"Balas Arsen kembali menarik tangan fio.


"Gua bisa jalan sendiri"ucap fio menarik tangannya dari genggaman Arsen.


"Nurut atau gua Cium lu disini?"ancam Arsen fio yg berusaha melepaskan gandengan Arsen kini tidak lagi. Membiarkan arsen menggenggam tangannya.


"Cih--gua enggak akan terpikat sama kelakuan palsu lu--lu kayak gini cuman buat gua jatuh cinta, setelah itu lu bakalan ninggalin gua"batin fio.


Arsen terus menggandeng tangan fio menuju kantin.


"Ngapain kesini?"tanya fio bingung saat mereka memasuki kantin dan banyak tatapan pengunjung ke mereka berdua yang masih bergandengan.


"Duduk"ucap Arsen memaksa fio duduk di kursi dan pergi memesan makan.


Bukannya itu ketos? Gua dengar kemarin ada yang bilang di skors sama kepsek karena berantem sama David.


Bukannya di skors ya? ko bisa ke sekolah.


Makin ganteng ya make baju santai gitu.


Iya gantengnya plus plus.


Fio menatap arsen yg menuju ke penjual makanan., Dan kembali membawa makanan sepiring dan air meneral segelas, fio bisa menebaknya kalau itu air hangat karena masih ada uap nya.


"Makan -- Gua tau lu belum sarapan"ucap Arsen meletakkan nampan berisi makan dan minuman di depan fio.


"Udah makan aja dulu, 5 menit lagi bel masuk"ucap arsen lagi kini sudah duduj dan menatap lekat wajah fio dan makanan itu.


Fio langsung makan makan di depannya. Jujur saja dari semalem fio belum menyentuh makanan. Hanya karena memikirkan orang itu.


"Sepenting apa cowok tadi dibandingin gua hm?"Fio kaget yang hampir saja kesedak sama makanannya sendiri. Fio mengambil air dan meminumnya.


"Jangan dulu itu Masih pan--"


"Aww fiiiuuuu"keluh fio merasakan bibir dan lidahnya terbakar. Wajah fio merah padam karena malu juga.


Arsen langsung duduk di dekat fio dan memberikan air meneral botol yang di meja sejak tadi.


"astagaa ailen gua bilang ini masih panas juga"lanjut arsen masih sedikit panik dan tanpa sadar mengelap bibir fio dengan tisu. Semua siswa berbisik dan menatap mereka.


"Gua harus lapor Vina masalah ini"gumam seseorang langsung pergi keluar dari kantin.


Fio langsung mendorong Arsen menjauh.


"Gantengan gua juga kan"Lanjut arsen yang masih menatap lekat wajah fio, fio salah tingkah saat melihat arsen seperti itu.


"Hmm ya"balas Fio yang ingin mengakhiri percakapan ini.


"Ceritain ke gua, siapa cowok itu?"Fio pura-pura menyibukan dirinya dengan makanan.


Arsen menatap fio penuh tatapan curiganya.


"Enggak mau cerita? Sepenting itu?"batin Arsen.


"Kenapa? Lu lihat gua kayak gitu?"gugup fio saat mendapatkan tatapan Arsen yang insten.


Arsen tersenyum dan menggeleng, tangannya langsung mrngacak lembut rambut fio.


"Good girl, lu laper ternyata"Fio langsung menatap piringnya yang sudah kosong. Fio kaget sendiri melihat piring kosong itu.


Drrgggg


Drrrggg


Getaran ponsel fio di atas meja.


Dengan cepat Arsen langsung mengambilnya duluan sebelum sang pemilik ponsel mengambilnya.


From Rere :


Ailen lu dimana? Gua udah di kelas.


Dengan enggak sopan Arsen membaca isi pesan itu.


"Gk sopan lu baca privasi orang"ucap Fio berusaha mengambil ponselnya kembali, namun Arsen menjauh dari jangkauannya.


"Kembaliin ponsel gua"lanjut fio kesal, Arsen menggeleng dan sibuk melihat isi ponsel fio.


"Enggak, rere nyariin lu, katanya dia udah di kelas"balas Santai Arsen masih serius dengan ponsel fio.


Fio membuang nafas panjang menatap Arsen.


"Buat apa lu lakuin sejauh ini, waktu lu sia-sia hanya buat gua suka sama lu--karena sampai kapanpun gua enggak akan terpengaruh sama tindakan palsu lu"Batin Fio.


Arsen memberikan kembali ponsel ke fio setelah enggak ada yg mencurigakan baginya.


Arsen Menaruh ponsel kembali di meja dengan santai tersenyum kearah fio. Fio jengah menatap Arsen saat ini.


Fio yang ingin memgambil ponselnya, namun gagal lagi.


Drrrggg


Drrrggg


Fio tak kala cepat Dari Arsen, kini arsen mengambil ponselnya lagi.


"Dasar tangan pencuri, Cepat banget sih"batin Fio


Fio mengaduk minuman sambil merhatikan Arsen yang dengan kerutan di Dahi melihat ponselnya.


Entahlah siapa yang smsnya.


Arsen membuka isi pesan itu.


From 0857xxxxx:


"Selamat anda lolos review kerjanya, pekenalkan saya Randi prayogo sebagai menagernya, saya harap besok sore datanglah ke Cafe untuk membicarakan masalah kontraknya. Atas perhatiannya terimakasih"


Itulah isi pesan yg Arsen lihat.


Fio menatap bingung kearah arsen saat Arsen menatap tajam dan datar kearahnya.


"Ap--"


"Ada apa sama tempat kerja lu sebelumnya? Kenapa berhenti?"Fio galagapan mendnegar itu.


"Gua ke kela--"


"Jangan menghindari pembicaraan Ailen"Arsen mencekal tangan Fio memaksa fio duduk kembali.


"Jujur sama gua ailen!"Suara tegas arsen membuat fio menghembus nafas beratnya.


"Gua resign-udah gua mau ke kela--"


"AILEN"bentak Arsen sambil memukul meja itu membuat semua orang kaget.


"Jawab jujur sama gua"Gertak Arsen yang sudah erat menggenggam pergelangan tangan Fio.


"GUA DI PECAT--semua itu gara-gara lu--PUAS LU"teriak fio membuat arsen diam dan langsung melepaskan genggamannya.


Dengan kesempatan fio langsung pergi, tangannya mengusap air mata yang kembali jatuh untuk kesekian kalinya.


Arsen mengambil ponsel Fio yang di atas meja dan langsung mengejar Fio.


"Shit! Kemana dia?"Arsen meninju di udara dengan perasaan kesal karena enggak ketemu Fio.


Arsen melangkah menjauh dari taman saat mengingat sesuatu.


"ARSEN? itu kamu!"Arsen langsung melangkah cepat menjauh dari kepsek yang tadi menegurnya.


"Kak arsen"Kaget seseorang saat melihat arsen masuk.


"Lu bisa bantuin gua enggak?"Tanya Arsen langsung. Orang itu langsung mengangguk.


"Panggil fio di IPA2, lu bilang aja di panggil bundanya di uks"Orang itu kaget.


"Tapi ka--"


"Cepatan"Bentak arsen membuat cewek yang tugasnya menjaga itu langsung pergi.


Arsen langsung berdiri di depan pintu UKS menunggu fio.


Arsen terus menatap jalan itu.


Puk


"Shit!"umpatnya saat jidatnya kepentok pintu uks, Arsen terlalu buru-buru saat melihat cewek yang jaga uks tadi.


Dan mungkin di belakangnya ada fio. Arsen panik dan memilih duduk di kursi dengan gaya Coolnya.


"Mana dia?"tanya Arsen saat melihat cewek itu.


"Maaf kak, Fionya enggak ada di kelas"Arsen langsung melangkah keluar dari UKS.


"Enggak ada?"gumam Arsen langsung melangkah menaiki anak tangga,Arsen ingin meyakinkan sendiri.


"Arsen lu kenapa bisa ada disini? Bukannya lu di skors?"Rio udah meluk Arsen membuat arsen dan tatapn aldo jijik.


"Woe gua masih normal, minggir lu"Arsen langsung meninggalkan kedua sahabatnya.


Arsen melangkah pelan saat dekat dengan kelas fio.


"S**l benaran enggak ada"Arsrn berbalik langsung pergi.


"Lu berdua bantuin gua nyari Fio di sekolah ini, dia ngilang"Rio sama aldo langsung berpencar tanpa bertanya.


°♡♡°


"Kalian siapa? Sialan buka ikatan ini, gua enggak kenal sama lu-lu pada"Fio menatap tajam kearah dua orang yang menatap takut kearahnya, kedua tangannya sudah di ikat.


"Lu berdua boleh keluar, nih jatah lu berdua, jaga di depan jangan sampe ada yang masuk"fio dibuat kaget melihat orang itu, orang itu enggak pakai seragam.


"Mau apa lagi lu? Belum puas hancurin semua nya. Pekerjaan gua hilang semua gara-gara lu, lu yang buat hidup gua hancur, lu iblis--lu--"


Plaaakkk


"Itu belum seberapa bi**h, seharusnya lu yang minta maaf di gua karena semua karena lu, semua gara-gara lu, gua di keluarin dari sekolah ini"Fio yang tadi menunduk menahan sakit tamparan itu langsung mendongak menatap cewek itu.


"Di keluarin?"batin fio.


Fio kaget mendengar itu, fio enggak nyangka sampai dikeluarin.


"Gua enggak tau kalau lu di kel---"


"Hahahaha lu enggak tau? BI**H SIALAN"cewek itu langsung menjambak rambut Fio hingga membuat fio kesakitan.


"Awwkwhh"keluh fio merasakan perih di kulit kepalanya.


"Gara-gara lu masuk di sekolah ini, semuanya kacau, lu pembawa sial dalam sekolah ini"teriak cewek itu yang masih menjambak rambut fio ke belakang.


"Lu beraninya main kroyokan, kalau berani jangan gini, pengecut lu s*alan"Teriak fio namun dirinya juga enggak bisa lepas dari ikatan di kedua tangannya itu.


Plaakk


Plaaakk


Dua kali tamparan keras di pipi kiri fio hingga darah segar keluar dari sudut bibir fio.


"Itu karena lu udah rusakin semua masa depan gua, lu juga udah rebut Arsen dari gua, lu juga buat gua pindah dari sekola--"


"BUKAN DIA--"cewek itu langsung berbalik, begitu kagetnya melihat seseorang yang melangkah mendekati mereka.


Fio mendongak ikut melihat asal suara itu, tatapan datar saat melihat orang itu.


"Gua yang buat lu keluar dari sekolah ini, jadi seharusnya lu datang dan marahin gua, Bukan dia Vina"Cewek itu semakin ketakutan dan dengan cepat menarik sesuatu mendekati fio.


"Kalau lu dekat gua bakalan bunuh dia, lu tau sendiri gua udah lama suka sama lu, tapi lu hikz lu jahat sama gua Arsen"Teriak Vina semakin mendekatkan pecahan kaca itu di leher fio.


Fio hanya diam dan menatap arsen di depannya.


"Lepasin dia Vina, yang seharusnya lu bunuh itu gua, bukan dia"Arsen masih berusaha melangkah pelan mendekati mereka.


Arsen mnatap lekat wajah fio dengan penuh tanda tanya besar dalam pikirannya.


Dimana fio menatapnya datar dan disana fio sama sekali gak tau apa yang di lakukan Vina buatnya.


Fio hanya duduk diam. Darah yang sedikit keluar dari sudut bibirnya dan juga bagian lehernya yang kena pecahan kaca di tangan Vina.


Di tambah pipi lebam bekas tamparan. Arsen semakin emosi melihat wajah Fio yang lebam itu.


"AAAA lepasin guaa--s*alan gua bunuh lu jal**g"Teriak Vina saat dua orang yang sudah menahan kedua tangannya.


Arsen berlari langsung memeluk Fio dan melepaskan ikatan di tangan Fio.


Plaaakk


Arsen kaget menerima tamparan keras dari fio. Arsen menatap heran kearah Fio.


"Jauhin gua--anggap kita enggak saling kenal"Ucap fio dingin dan melangkah pergi, namun Arsen dengan cepat mencekal tangannya.


"Lu berani Nampar Gua?"Suara dingin arsen semakin membuat fio muak.


"Mau gua tambah---"


"Lu baik-baik aja kan? Kita harus kerumah sakit"suara Arsen tiba-tiba melembut dan menarik tangan Fio. Fio menarik paksa tangannya dari genggaman Arsen.


"JAUHIN GUA---JAUHIN GUAAAA HIKZ HIKZ"suara tangis pecah fio, Arsen diam mendengar itu.


"Please! Jauhin gua---Lu buat gua tersiksa Arsen--tujuan lu apa sebenarnya--lu masih belum puas lihat gua kayak gini?--apa mau gua ma---"


"AILEN STOP---kita kerumah sakit"Fio menggeleng dan melangkah menjauhi arsen. Fio mengusap kasar air matanya.


"Ailen please kita kerumah sakit"Suara lembut arsen dan terus melangkah mendekati fio.


"Ai---"Fio langsung berlari memeluk orang itu.


"Vano"gumam Fio pelan memeluk orang itu.


Kedua tangan arsen terkepal melihat itu, kenapa cowok itu bisa ada disiini.


"Ai bangun--ai--"Arsen panik melihat fio jatuh, dengan langkah lebar Arsen mendekati mereka sebelum di gendong sama cowok itu.


"She is mine"Arsen langsung merebut fio dari gendongan vano dan menggendong Fio dan melangkah keluar dari ruang itu.


"****"umpat Vano kesal melihat mereka pergi.


♥♥♥♥♥♥♥♥


Yeeeeyyy


Part 18 Finaly🎉🎉🎉🎉🎉


Semoga suka ya sama part ini..


Aku relain Ngetik padahal Kepala lagi pusing😊😊


Maaf semalem gk jadi update😆😆ntar sore atau magrib gitu aku update lagi😍


Vote + Coment Ya...


See You....😊😊