You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
S2 Twins Eps - 08



Author POV


"Rumah lu dimana?"tanya arsen saat udah beberapa menit fio enggak mau membuka percakapan.


"Turunin gua disini"balas fio untuk kesekian kalinya, Arsen mendegus kesal mendengar itu, padahal di sekeliling mereka enggak ada rumah, hanya pohon-pohon hingga diluar sana gelap.


"Lu itu cewek--dan lu enggak lihat di luar gela--"


"Apa peduli lu, gua juga enggak minta lu antarin gua pulang"sahut Fio cepat dengan nada juteknya.


"Gua peduli karena gua---"fio menatap Arsen yang enggak melanjutkan ucapannya.


"Karena lu udah buat gua peduli sama lu"anjut batin Arsen.


"Karena lu orang yang ngisi acara gua"fio mencibir mendengar itu.


"Rumah lu dimana, gua capeh nanya ter---"


"Jalan SMP 23"sahut fio cepat tanpa menatap kearah Arsen.


Arsen langsung melaju mobilnya menuju apa yang di bilang fio barusan.


"Keras kepala"batin Arsen saat tau sikap keras Fio saat ini.


Hanya butuh 15 menit akhirnya mereka sampai.


Fio langsung turun dan melihat ibunya berdiri di pintu paget menunggunya.


"Astagaa sayang, Bunda takut kamu kesasar di jam segini"ucap ibunya melangkah mendekati Fio, Fio melangkah mendekati ibunya memeluk sebentar.


"Fio enggak apa-apa Bun"balas Fio.


Arsen disana hanya menurunkan kaca mobilnya melihat fio yang tersenyum bersama ibunya.


"Teman kamu?--ajak mas--"


"Bukan, dia cuman mau antarin Fio"Sahut fio cepat tanpa menatap Arsen. Arsen disana kesal karena fio enggak mau memperkenalkan dirinya dengan ibunya.


Dan fio juga enggak berterimakasih saat mengantarnya sampai kerumah.


"Hus enggak boleh gitu--Nak ayo masuk sebentar Tante buatkan minum"Ibunya Fio mendekati mobil arsen, Arsen tersenyum tipis dan menggeleng.


"Terimakasih Tante--ini sudah malem, sebaiknya aku pulang dulu"Balas Arsen merhatiin fio disana yang sama sekali enggak mau melihatnya.


"Justru Tante yang berterimakasih sudah mengantar puteri tante dengan selamat, terimakasih banyak nak"ucap Tulus ibunya fio, fio hanya menatap sekilas kemereka dan menarik tangan ibunya.


"Ayo bunda masuk--Fio laper"Rengek Fio memeluk lengah Ibunya tanpa mengubis Arsen masih ada disitu.


"Ya sudah na s--"


"Saya arsen Tante"sahut arsen cepat dan tersenyum.


"Iya nak arsen pulangnya hati-hati--tante doain semoga selamat sampai dirumah, terimakasih banyak ya nak arsen"ucap tulus Ibunya Fio membuat arsen mengangguk dan menyalakan mesin mobilnya menghilang dari halaman rumah fio.


"Enggak boleh gitu sayang sama orang yang sudah mengantar kamu"omel Ibunya membuat fio hanya mengangguk.


"Calon pacar kamu?"goda ibunya membuat Fio menggeleng keras.


"Jangan sampai bun, Fio enggak mau cowok kayak dia, dia nyebelin banget--type idaman fio kan harus baik dan penyayang--bukan kayak dia"Balas fio menggebu-gebuh membuat ibunya terkekeh.


"Ko bunda ketawa sih, benaran loh yang fio bilang"lanjut fio menutup pintu.


"Enggak sayang---tapi kan seenggaknya harus berterimakasih dulu, karena tanpa dia ngantarin kamu enggak sampai dirumah sayang--apalagi sudah jam segini"Fio mengambil piring dan duduk di meja makan. Satu piringnya fio memberikannya ke ibu.


"Bunda sudah makan tadi, bunda cuman nemanin kamu makan aja, nih bunda udah masak banyak sayur kesukaan kamu"Fio tersenyum menatap menu makanan di atas meja itu.


"Terimakasih Bun"ucap Tulus Fio, Ibunya mengangguk dan tersenyum.


….


Hari ini kegiatan sekolah sudah mulai aktif karena masa liburan sudah selesai.


Pagi ini siswa-siswi sibuk untuk menyiapkan diri mereka untuk berangkat kesekolah.


"Momi Arlen udah telat!"teriak Arlen saat menuruni anak tangga membawa sepasang sepatunya yang belum di pakai.


Saat tangga terakhir arlen duduk dan memakai sepatunya.


Tiara melihat putrinya panik langsung mengambil Roti dan susu yang sudah ia sediakan sejak tadi di atas meja makan. Tiara melangkah ke mendekati putrinya yang sibuk mengikat tali sepatunya.


Tiara menggeleng melihat oemandangan itu, Kebiasaan putrinya saat memakai sepatu hanya ditempat itu, tempat favorut di tangga terakhir.


"Aaa momi suapin"Ucap Tiara berjongkok depan putrinya.


Arlen menerima suapan itu, sambil mengunya arlen juga mengikat tali sepatunya.


Tiara terus menyuapi Arlen yang sibuk mengikat sepatu terakhirnya.


Kesibukan setiap pagi yang Tiara dapatkan.


"Sweety--Dasi aku dimana?"teriak suaminya diatas, membuat Tiara mendegus sebal, suaminya juga enggak mau kalah dengan anak-anaknya di pagi hari.


"Aku udah siapin di atas kasur alex"teriak balik Tiara.


"Udah mom"ucap arlen saat selesai mengikat sepatunya langsung beranjak dari duduknya.


Tiara pun ikut beranjak dan memberikan Susu coklat Hangat untuk puterinya.


Bagi tiara Hanya puteranya lah yang aman setiap pagi, puteranya sama sekali enggak mencari barang yang hilang atau meminta bantuannya di pagi hari, puteranya selalu adem ayam.


Alex melihat pemandangan itu tersenyum, istrinya sangat menghawatirkan anaknya kalau belum sarapan pagi.


Alex menuruni anak tangga, melihat mereka sambil tersenyum.


Cup


"Terimakasih Mom"ucap arlen saat sudah menghabiskan segelas susu yang di berikan mommynya.


Selesai minum arlen memberikan gelas kosong ke Tiara, tiara tersenyum dan mengusap lembut rambut Puterinya.


"Kaka mana mom?"tanya arlen saat melihat ruang ini tidak ada kakanya.


"Udah berangkat sayang, 5 menit yang lalu"balas Tiara tersenyum menatap suaminya di atas yang menuruni anak tangga. 


Setiap pagi suaminya juga sibuk untuk kerja.


"Ah kaka selalu nyebelin, enggak pernah bangunin arlen"gumam arlen kesal, Tiara tersneyum mengusap kepala arlen.


"Aku berangkat ya"arlen langsung mencium punggung tangan Tiara dan pipi Tiara.


Arlen langsung berlari baru berapa langkah ada yang memanggilnya.


"Princess"panggil Alex yang sudah beraad di tangga terakhir.


"Eh lupa, Ada Daddy ya! Kirain Dad udah berangkat kerja"ucap Arlen langsung balik menuju Dadynya Tiara melihat itu tersenyum, kedua tangannya masih memegang piring kosong dan gelas kosong.


Alex tersenyum melihat tingkah putrinya yang sama persis seperti istrinya.


"Princess mau berangkat dulu Dad--bye"pamit Arlen dengan satu kecupan di pipi Alex.


Cup


Arlen mencium pipi Alex dan melambaikan tangannya di Tiara sama alex.


"Bye bye Mom dad"teriaknya langsung lari keluar rumah.


Mobilnya yang terparkir depan pintu langsung naik dan menyalakan mesin mobilnya meningggalkan kediaman halaman rumahnya.


"Km juga harus sarapan sayang- mau aku suapin?"ucap alex yang sudah di samping Istrinya, memeluk posesif pinggang istrinya yang berdaster itu.


Ara tersenyum manis dan mengangguk melangkah menuju meja makan.


"Tentu saja, makanan adalah kesukaan aku alex, tanpa menyuruh pun aku akan memakannya"ucap Tiara senang saat duduk di meja makan.


"Kamu pasti capeh ngurusin puteri kita setiap pagi"Alex menatap lembut kearah istrinya, Fio menggeleng dan tersenyum memberikan beberapa menu diatas piring suaminya.


"Ikut ke kantor ya"pinta Alex membuat Tiara menggeleng.


"Ngapain?"tanya Tiara sambil makan.


"Nemanin aku aja"Tiara mengerutkan keningnnya mendengar balasan singkat itu.


"Enggak ada penolakan sweett"lanjut alex santai dan tersenyum senang saat Ara menganggukan kepalanya.


"Masih aja sama"Gumam Tiara membuat Alex terkekeh.


"Tapi sayang kan!"Goda Alex membuat tiara langsung mengangguk. Tawa alex semakin memenuhi isi ruangan itu. Tiara hanya diam menatap suaminya tertawa padahal enggak ada yang lucu.


….


Di sekolah….


"Eh pak jangan dulu di tutup"Teriak Arlen yang melihat pak satpan penjaga sekolah ingin menutup pintu gerbang.


Satpam yang mendengar teriakan itu kaget dan menoleh asal suara tadi.


"Aduh neng buat kaget saja, gimana kalau bapak punya penyakit jantung. Bahayakan"omel satpam itu membuat arlen terkekeh.


"Enggak bakalan pak, kalau pak buka gerbangnya lagi ya"Balas arlen cengesan menatap satpam itu.


Pak satpam masih dengan raut wajah mikir menatap arlen. Arlen memasang wajah polosnya sambil mengangguk.


"Orang baik di sayang Allah loh pak, cuman aku aja nih, keburu telat pak"rayu Arlen lagi sambil tersenyum manis, mengangjat kedua tangannya memohon ke satpam.


Pak satpan tersenyum dan membuka gerbang.


"Aahh terimakasih pak, semoga lancar kerjanya pak"teriak Arlen saat udah masuk ke dalam dan mencari parkiran untuk mobilnya.


Setelah parkir Arlen langsung berlari menuju kelasnya, karena lumayan kelasnya berada di lantai 2.


"Huufff gua kira udah ada guru"gumam Arlen saat udah depan kelas. Arlen mengatur nafasnya dan melangkah santai masuk kedalam kelas.


"Arleeeennn"teriak seorang cewek yang dalam kelas saat melihat arlen. Arlen tersenyum dan melangkah mendekati cewek itu.


Arlen mengambil duduk di samping cewek itu.


"Lu mah kerjaannya telat mulu"omel orang itu membuat Arlen terkekeh dan mengangkat dua jarinya.


"Lu sih engak bangunin gua Rere"omel arlen balik ke cewek itu.


Pletak


"Eh emang serumah gitu sama lu"balas cewek yang bernama rere sambil menjitak kepala Arlen, Arlen hahya terkekeh mengusap jidatnya.


"Kaka lu gua lihat enggak pernah terlambat kayak lu deh"ejek rere membuat arlen mendegus sebal menatap rere.


"Ah kaka gua itu, dia juga nyebelin enggak bangunin gua"kesel Ara. Rere mengangguk.


"Kebo kayak lu di banguni enggak bakalan bangun, gua jadi kakak lu juga ogah bangunin lu"sahut Rere mendapatkan hadiah kecupan dari arlen.


"Masih berharap jadi kakak ipar gua? Lu kan udah tau kalau kakak gua itu g--"Arlen diam saat suara teriakan teman kelasnya. 


Semua teman-temannya berlari masuk dan duduk di tempat mereka.


"Woy guru datang"


….


Kelasnya arsen...


"Eh semalem lu kemana minjam mobil gua?"tanya Rio ke Arsen, mereka sekarang duduk di kelas menunggu guru.


"Ngejar Beruang"balas Arsen singkat membuat Aldo dan rio kaget.


"Hah? Beruang?"kaget Aldo mendekati Arsen.


"Emang ada beruang?"tanya Rio balik membuat Arsen mengangguk.


"Buktinya semalem gua ngejar"balas Arsen santai, menahan senyumnya.


"Masa sih, ah lu para enggakk ngajak-ngajak gua"kesel Aldo masih percaya akan ucaoan arsen.


"Ngapain?"tanya arsen menatap Aldo.


"Ya nangkap beruang lah"balas Aldo cepat, Arsen berusaha menahan tawanya saat ini.


"Ooohh"balas arsen.


"Eh ngomong-ngomong benaran guru mtk hari ini enggak masuk?"tanya Rio.


"Katanya sih gitu, barusan ketua kelas ngasih tau kalau pak mato enggak masuk karena istrinya lagi lahiran"jelas aldo, Rio mengangguk.


Arsen hanya diam. Dan beranjak dari duduknya melangkah keluar dari kelas.


"Eh mau kemana lu?"teriak Aldo saat melihat arsen keluar.


"Kantin"balas arsen singkat langsung pergi.


Aldo dan Rio mendengar itu langsung menyusul Arsen.


Kantin…..


Suasana kantin Lumayan sepih karena masih proses belajar. Hanya kelas mereka yang berada di luar kelas dan beberapa kelas lainnya. Namun kebanyakan kelas yang sedang belajaar.


Arsen langsung duduk di tempat biasa mereka bertiga duduk. Aldo yang memesan makanan buat mereka tiga.


"Iya setelah ini Fio langsung pulang"samar-samar arsen mendengar suara itu.


Saat menengok kearah samping yang jauh dua meja darinya mendapati Fio yang duduk bersama temannya.


"Wah jangan bilang tertarik sama gebetan gua"hebo aldo melihat tatapan arsen menuju ke arah fio.


"Ck bisa diam enggak sih"sahut Rio sambil makan makanannya.


"Jam berapa? Gua bisanya jam 7, oh oke jam 7 gua langsung ke situ--3lagu aja ya--gua enggak bisa malem-malem soalnya kasihan nyokap gua dirumah"Arsen masih mendengar jelas obrolan fio saat ini.


Arsen beranjak dari duduknya, rio sama aldo baru mau bertanya namun sudah terlanjur arsen melangkah mendekati meja itu.


Aldo dan Rio melogo melihat tindakan Arsen saat ini.


"Biarin dia"Rio menahan tangan Aldo saat aldo mau mengikuti arsen.


"Gua mau bicara sama lu"ucap Arsen datar saat di samping fio. Sahabat fio juga ikut mendongak menatap arsen dengan tatapan kaget.


Fio mendengar suara itu mendongak melihat Arsen dengan tatapan dingin dan juteknya.


Teman Fio yang duduk di sampingnya hanya diam menyaksikan mereka.


"Gua mau empat mata aja sama lu"ucap dingin Arsen.


"Yaaaakkk sialan lu"teriak Fio saat arsen menarik tangannya keluar dari kantin, semua yang duduk dikantin hanya melogo dan lainnya merekam itu.


"Enggak usah narik-narik juga kali"teriak Fio saat Arsen menarik pergelangan tangannya, Fio berusaha menarik tangannya namun sia-sia


Temannya Lala hanya diam melihat temannya di tarik seperti itu, bukannya tidak mau membantu sahabatnya. tapi melihat tatapan dingin arsen membuatnya mengurungkan niat untuk membantu Sahabatnya.


"Gua minta maaf soal semalem"ucap Arsen to the point.


Dan melepaskan pegangganya di tangan fio saat mereka sudah di taman belakang sekolah. Fio menatap bingung kearah arsen, seharusnya fio yang meminta maaf dan berterima kasih masalah semalem.


Tapi gengsi yang membuat fio mengubur niatnya itu.


"gua maafin, udah kan"balas fio jutek langsung mau beranjak dari tempatnya, ingin melangkah oergi, namun tangan arsen terus mencekal pergelangan tangannya.


"Gua enggak suka lu ninggalin saat gua lagi ngomong"geram Arsen menahan pergelangan tangan fio dengan kuat membuat fio kesakitan.


"Apa? Lu mau ngomong apa lagi? Lu minta maaf dan gua udah bilang maafin lu, udah selesai kan!"balas Fio sedikit marah dan terlihat sangat kesal.


Entahlah kalau dia bertemu dengan Arsen selalu di kabut sama emosinya. Membuat dirinya terus kesal.


"Baiklah gua bakalan dengarin lu, cepat apa yang lu mau omongin algi, tapi lepasin tangan lu"lanjut fio duduk begitu aja di rumput.


"Lu benci sama gua?"tanya arsen dingin, fio menatap arsen jengah, pertanyaan konyol membuat fio ingin sekali menonjok wajahnya.


"Mendingan lu tanya sama diri lu sendiri"balas Fio tanpa melihat arsen yang sudah duduk disampingnya.


"Apa karena gua kecup pipi lu itu jadi lu benci sama gua? Itu cuman kecupan buka--"


"Cuman? Iya lu anggap itu cuman tapi gua enggak--lu brengsek dan enggak ada sopan santunya nyium cewek yang baru lu kenal--apa emang iya lu lakuin itu kesemua cewek--gua enggak heran si cowok kayak lu itu--"fio menghentikan ucapannya karena sadar sama ucapannya terlalu jauh menghina Arsen.


"Tau apa lu tentang gua--perhatian banget lu tentang gua seakan apa yang lu ngomong semuanya benar"Balas arsen dingin, Arsen yang mendengar itu tersenyum sinis.


Apa hanya masalah ini fio menatapnya penuh kebencian. Itu hanya gosip.


"Cuman itu?"tanya arsen senyum sinis ke arah fio, fio langsung menatap arsen dengan penuh emosi.


"Apa lu bilang!-- cuman itu?-- lu sadar enggak sih sama kesalahan lu di gua selamat"balas fio kesal.


"Gua rasa cukup pembicaraan kita"lanjut fio langsung beranjak dari duduknua namun Arsen menahan Bahunya.


"Lepasin"ucap fio menahan emosinya menatap tajam kearah arsen.


Dia enggak bakalan masuk ke tiga kalinya di perangkap Ketosnya.


Apa kata orang yang melihatnya, apakah di semurahan itu, di cium cowok yang tidak tau asal usulnya dan tidak tau namanya siapa.


"Gua minta maaf soal itu"ucap Arsen pelan dan menatap fio lembut, bukan lagi tatapan dingin yang dia berikan selama ini.


"Gua maafin tapi setelah ini jangan gangguin gua lagi, dan jangan pernah muncul di hadapan gua"balas  fio dan melepaskan tangan Arsen di pundaknya dan pergi dari hadapan Arsen.


"Bukan gua benci sama lu, tapi gua benci sama keadaan, gua benci sama fans lu, hanya kejadian mos kemarin gua di di bully sama fans lu, gua benci sama keadaan kenapa pertemukan gua sama lu, hidup gua udah cukup berat tapi lu malah nambah barang di pundak gua"batin Fio tak terasa air matanya menetes.


Flashback On..


Braaakk


Plaaak


"Berani banget lu permaluin gua di depan mereka, lu kira lu siapa hah?"teriak Vina saat melabrak kamar mandi saat melihat fio masuk.


"Gua sama sekali enggak permaluin lu, gua hanya belain diri gua"balas fio memegang pipinya yang tiba-tiba di tampar.


"Lepasin gua sialan, enggak usah main kroyokan--"lanjut fio berusaha melepaskan tangannya yang di pegang dua orang cewek, yang merupakan teman Vina. Wakil ketua osis.


Plaaak


"Ini belum seberapa, berani gua lihat lu dekatin Arsen lagi, Lu bakalan terima hal yang lebih, Arsen cuman milik gua"Ancam Vina ke Fio, fio merasa pipinya sangat panas. Padahal dirinya baru saja mendapatkan hukuman membersihkan semua toilet ini, tapi sekarang dirinya malah mendapatkan bullyan ini lagi.


"Cabut Guys"kedua teman Vina langsung mendorong Fio, hingga membuat fio jatuh di lantai yang basah itu.


Fio menatap sinis kearah mereka yang sudah keluar, seandainya enggak ada yang memegang kedua tangannya, Fio pasti membalas tamparan Vina tadi, hanya saja mereka bertiga melawannya.


"Hikz hikz--gua salah apa didunia ini--kenapa hidup gua selalu kayak gini--"Fio terisak memeluk kedua lututnya.


"Fioo--"buru-buru fio mengusap air matanya sebelum mendongak menatao seseorang yang memanggilnya.


"Siapa?"tanya fio saat melihat cowok itu di tengah pintu.


Cowok itu melangkah membantu Fio berdiri.


"Gua aldo--maafin ketos ya-dia gitu baik orang"Fio langsung menipis tangannya saat tau orang itu dekat sama ketos.


"Thanks--"Fio langsung melangkah keluar meninggalkan orang itu.


Flashback Off..


Semenjak kejadian itu, fio sangat berharap dan enggak mau berurusan lagi sama Ketos.


Semampu dan sebisanya untuk menghindari ketosnya, dan fio berusaha membuat kebencian palsu ke ketosnya.


"Ya gua benci, gua benci sama diri gua sendiri karena bohong"lanjut fio mengusap kasar air matanya.


Arsen menatap punggung fio semakin menjauh.


Membuang nafas kasar dan berbaring di rumput menatap ke arah langit yang cerah itu.


"Sebenci itu kah"batin arsen menatap kosong langit-langit yang di tutupi daun pohon itu.


"hal pertama yg gua alamin"lanjut arsen, selama ini yang arsen dapat adalah pujian dan kagum dari orang-orang, namun kali ini ia mendapatkan kebencian dari seseorang hanya karena kecupan singkat waktu itu.


Bukankah itu berlebihan. Hanya kecupan membuat seseorang sangat membencinya.


….


Pulang sekolah…..


Semua siswa berlomba untuk cepat sampai ke rumah merek, namun enggak sama dengan wanita yang cantik ini,  Fio yang masih duduk di bangkunya sendiri, sedangkan sahabatnya sudah pamitan pulang 5 menit yang lalu.


"Kaka"teriak Arlen saat melihat Arsen


Arsen yang jalan bersama sahabatnya memberhentikan langka mereka dan menengok ke belakang Arlen berlari mendekati mereka, disusul shaabatnya arlen di belakang.


"Kaka tadi pagi kenapa enggak bangunin arlen"kesel arlen memukul pelan bahu arsen.


"Lupa"balas singkat Arsen melanjutkan langkahnya disusul yang lain.


"Gua duluan ya"pamit Arsen langsung menarik tangan Arlen.


"Eh eh, Rere gua duluan ya"teriak Arlen melambaikan tangannya ke sahabatnya.


Rere tersenyum dan membalas lambai tangan sahabatnya.


Aldo dan Rio serta rere tersenyum melihat mereka, mereka seperti sepasangan kekasi awal masuk SMP hingga sekarang Arsen selalu menjaga adiknya.


"Km jalan duluan kaka ikuti kamu dari belakang"jelas arsen menyuruh mobil adiknya paling depan.


"Siap ka"hormat arlen tersenyum menyalakan mesin mobilnya.


Arsen mengacak poni Arlen sebelum arlen masuk kedalam mobil.


Arlen langsung masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya keluar dari parkiran di ikuti kakanya dari belakang.


Namun belum keluar dari gerbang Arsen berhenti karena matanya tertuju ke arah cewek yg baru keluar dari lobby sekolah.


"Arlen"teriak arsen, arlen langsung berhentikan mobilnya mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil dan menengok ke arah kakanya di belakang.


"Apa?"teriak tanya Arlen.


"Rio lu bisa anterian adik gua! lu ikutin sampai di rumah, gua ada urusan"balas Arsen ke sahabatnya Rio masih belum balik namun sudah berada di mobilnya.


"Enggak usah Arlen bisa sendiri baliknnya"teriak Arlen mendengar pembicaraan Kakanya.


"Enggak ada penolakan, rio lu ikutin dia sampe rumah ya"ucap arsen di angguki Rio.


Mereka bertiga pun keluar dari halaman, namun Arlen ke arah Kiri jalan menuju rumahnya diikuti Rio dari belakang.


Sedangkan arsen ke arah kanan dan memberhentikan mobilnya.


Arsen terus Melihat kaca spion motornya, bayang seorang cewek yang jalan sendirian.


Siapa lagi kalau bukan fio.


Fio berjalan tanpa perhatikan sekitarnya, dia terus menatap kosong kedepan menuju halte bus.


Setelah menjelang beberapa menit fio akhirnya naiki ke bus, dan Arsen mengikuti bus yang di tumpangi fio itu.


Entahlah kini arsen menjadi seorang penguntit.


Arsen menghembus nafas legahnya saat melihat Fio turun dari Bus itu, tapi membuat arsen bingung karena lokasi yang fio turun sekarang bukan rumah malainkan tempat lain.


Arsen memarkirkan mobilnya saat Melihat Fio masuk kedalam Caffe itu.


Setelah parkir Arsen menyebrang jalan dan melangkah masuk kedalam Caffe.


Arsen melihat sekelilingnya mencari Fio, tapi fio sama sekali enggak ketemu Fio disana.


"Fio ini lu antarin di meja delapan"Arsen langsung melempar pandangannya kearah suara itu.


Disana fio sudah mengganti bajunya yang sama dengan pelayan caffe ini.


Arsen mencari tempat duduk dan duduk merhatiin Fio.


"Kerja? Dia kerja disini?"batin Arsen bertanya-tanya.


Menebak apa yang di lakukan fio saat ini, kalaupun Fio kerja tapi untuk apa?.


"Ini buku menunya"Arsen mendongak menatap sekilas pelayan itu.


"Kopi sama nasi goreng aja--nasi gorengnya dua ditambah Teh hangat satu--oya gua mau pelayan bernama fio yang melayani gua"Pesan arsen langsung, Pelayan itu  sedikit kaget namun mengangguk melangkah pergi.


Arsen masih merhatiin Fio yang melayani membawa membawa minuman ke meja yang sedikit jauh darinya.


Arsen melihat pelayan tadi memanggil Fio, Arsen langsung menatap kearah lain saat fio menatap kearahnya.


Untuk Saat ini Arsen menggunakan kaos polos putih, seragamnya sudah ia tinggalkan dimobil.


"Ini pesanannya Tuan"Ucap fio seperti melayani orang lain. Fio tau kalau itu araen tapi Fio berusaha untuk tidak mengenal Arsen.


Arsen mendongak menatap lekat wajah Fio. Fio sibuk menaruh pesanan itu di meja.


"Dialagi--Untuk apa dia kesini? Oh mungkin ada temannya"batin Fio saat menyadari pesanan arsen lebih dari satu orang.


"Selamat di nikmati--kalau ada yang dibutuhkan silahkan panggil pelayan disini"Ucap sopan fio menunduk dan melangkah menjauh. Namun tangan itu kembali menahannya.


"Ada yang masih di perlukan?"Tanya fio berusaha menahan kekesalannya.


"Duduk dan makan"Balas Arsen masih mencekal tangan Fio.


"Fio di panggil Bos--"Fio menghembus nafas legahnya saat mendengar panggilan itu.


"Saya permisi"Fio melepaskan tangan Arsen dan langsung pergi.


"Shit"umpat arsen karena perasaan khawatir itu menghantuinnya. Melihat fio yang belum makan.


Pulang sekplah fio langsung ke Caffe ini bagaiaman fio sempat makan.


Arsen beranjak dari duduknya dan langsung mendekati sebuah ruangan, arsen menatap fio yang melayani orang yang baru datang.


"Dimana ruangan Bos!"tanya arsen saat menarik salah satu pelayan.


"Mari saya antar"Arsen mengikuti pelayan itu menuju sebuah ruangan.


Arsen langsung melangkah masuk kedalam ruangan itu.


"Ada ap---Arsen"Arsen juga kaget melihat orang di depannya ini.


"Om enggak nyangka lihat kamu kesini, ada apa?"Arsen langsung duduk dan menatap sekelilingnya. Ardy, teman rekan Ayahnya di kantor. Ternyata memiliki Caffe ini juga.


"Gua cuman mau salah satu karyawan disini nemanin gua makan, itu aja"Ucap arsen dengan suara datarnya. Orang yang bernama ardy itu langsung mengangguk.


"Tentu bisa, siapa namanya?"tanya Ardy.


"Fiorenza--sekarang ya--gua keluar dulu, laper"Arsen langsung melangkah keluar.


"Ikut gua"arsen menarik tangan fio saat mendapati Fio di dwpan pintu.


"Lepasin, lu siapa sih"Fio berusaha menarik tangannya.


"Ekh Fio kebutulah kamu sudah disini, temain Dia untuk makan siang, enggak usah mikirin pekerjaan kamu"Arsen langsung menarik lembut tangan fio, fio menurut dan memberikan namoan itu ke temannya.


Fio duduk di hadapan Arsen dengan oerasaan kesal.


"Berhenti gangguin gua---"Suara lirih itu membuat Araen diam.


"Gua cuman mau lu duduk makan"Fio langsung mendongak menatap Arsen dan nasi goreng di depannya bergantian.


"Kalau lu enggak makan, lu enggak akan kerja sebelum habisin nasi goreng itu"Fio menatap jengah bercampur kesal.


Fio langsung makan tanpa bertanya lagi, Arsen menatap bingung kearah Fio.


"Please! Jangan cengeng di depan dia"batin fio berusaha menguatkan dirinya untuk enggak menangis di depan arsen.


Cara arsen memang terdengar kasar saat menyuruhnya makan, Tapi itu membuat Fio sedikit bahagia karena masih ada yang merhatikan pola makannya selain ibunya.


Barusan ibunya tlpon menanyakan makan siangnnya namun fio menjawab bahwa dirinya sudah makan, dan itu bohong. Sampai saat ini fio belum menyentuh makanan.


Dan baru sekarang fio makan.


Arsen masih merhatikan Fio, Gadis di depannya ini terlalu tertutup hingga membuat arsen terus dan ingin menggali kehidupan fio.


Arsen sangat penasaran dengan kehidupan fio saat ini.


"Gua rasa tertarik sama ni cewek"batin Arsen.


♥♥♥♥♥


Part 8 Finaly🎉🎉🎉🎉🎉


Semoga kalian suka😊😊😊


Vote + Coment ya...


See You...