
Author POV
Esokan harinya...
"Good morning"sapa arsen yang baru duduk di meja makan. untuk sarapan sebelum berangkat kesekolah.
"Morning"balas adik dan kedua orang tuanya.
"Tumben telat bangun?"lanjut Arlen heran menatap kakanya. Arsen diam dna menatap adiknya sebentar.
Arsen hanya memastikan apa adiknya baik-baik aja setelah kejadian kemarin di kantin sekolah.
"semalam tidur jam berapa kak? Kenapa mata sampe hitam gitu?"lanjut kaget arlen saat meihat wajah kakanya terlihat seperti Seekor panda.
Arsen tanpa peduli mengambil roti dan selat coklat kacangnya. arsen menatap adiknya sebentar dan tidak menjawab pertanyaan adiknya.
"Km ngapain semalem baru bangun?"tanya Daddy lagi ikut menatap heran kearah putraya yang gk biasanya. lingkaran di bawa mata itu terlihat sangat jelas.
"Gpp Dad hanya baca buku aja sampe lupa waktu"jaelas arsen singkat sambil menatap Mommynya, disana mommnya hanya tersenyum.
"Baca buku apa baca buku?"goda Mommynya membuat Alex dan Arlen langsung penasaran dan menatap arsen, arsen menerima tatapan itu berusaha santai.
Arsen menatap ibunya agar tidak membicarakan hal semalem.
"Arlen apa kamu sepemikiran sama Dady?"tanya Daddynya membuat Arsen kaget dan bersikap cool seolah gk tau apa-apa.
"Arlen juga curiga Dad, Mom pasti tau sesuatu kan?"tebak arlen, Arsen angsung meihat mommynya, Ara disana tersenyum dan mengangguk.
padahal arsen berharap mommy menggeleng.
"Kaka lagi suka sama cewek ya"tebak Arlen lagi langsung membuat Arsen kaget.
Uhuk
Uhuk
Arsen yang keadaan mengunya roti langsung kesedek roti itu sendiri. arsen menatap horor ke arah adiknya.
"Ciiieee Dady kaka lagi kasmaran--kakak benaran jatuh cinta sama seseorang"teriak Arlen Heboh, arsen menatap kedua orang tuanya yang hanya tersenyum menatapnya.
"Akhirnya kaka gua bentar lagi taken--buruan nikah kak"teriak arlen lagi yang mulai heboh sendiri.
"Ck diam km Arlen"arsen menatapnya galak keadiknya. arlen hanya mengejek kakaknya.
"Siapa cewek itu?"tanya alex, daddynya. Arsen langsung gugup dan salting sendiri menatap dadynya.
"Ah gk Dad, arlen kan cuman nebak aja--arlen ngawur saat ngomong"jawab arsen memberikan tatapan kesal kearah adiknya.
"Iya siapa ka? atau jangan-jangan cewek yang pernah nolak kaka di sekolah itu ya!"sahut arlen membuat Arsen semakin galak menatap adiknya.
"Iya dad aldo pernah cerita ke Arlen, katanya kaka di tolak sama cewek hahaah"adu arlen tertawa bahagia melihat kakanya yang terlihat kesal.
"Apa hahahaha"tawa Alex dan Arlen membuat Ara menggeleng. Enggak heran kalau keduanya itu selalu mengejek putranya yang kalah dalam asmaranya.
"Daddy, Arlen awas kamu"geram Arsen menatap adiknya.
"Eh sorry siapa cewek yang nolak kamu yg cakep ini, sepertinya pesona kamu sudah luntur, engak kayak dady kamu dulu. yang pesonanya dimana-mana"goda Alex ke putranya sabil melirik istrinya disana.
Tiara hanya menggeleng melihat suaminya. udah biasa Tiara dengan kelakuan suaminya yang ajaib itu.
Arsen memakan roti dengan sebel melihat daddy dan adik yag ketawa bahagia.
Ibunya hanya tersenyum, ini merupakan sarapan yg beda, kamarin-kemarin makan dalam diam sekarang maah hebo haya karena putranya yang muai jatuh cinta sama seseorang. padahal selama ini gk ada satupun yang membuat putranya tertarik sama cewek.
"Dad jadi penasaran siapa cewek itu, mungkin dia salah satu dari sikap mommy kamu. kalian tau! mommy kaian dulu susah banget di dekatin, juteknya massya Allah banget deh"cerocos Alex membuat kedua anaknya lansung tertarik. Ara tersenyum bangga saat kedua anaknya melihat kearahnya dengan tatapan penasaran.
"dan kalian enggak tau, kalau daddy kalian dulu playboynya minta ampun, makanya mom enggak mau dekat sama daddy kalian, dekat dikit aja, Fans Dady kalian bakalan ngamuk sama mommy"balas Tiara membuat Alex tersenyum bangga.
"Daddy bangga jadi palyboy? iiihhh Arlen jadi kesal kan"sahut Arlen membuat senyum alex pudar. alex baru tau kalau putrinya ini memang gk suka sama cowok yang namanya playboy.
"kan dulu sayang, beruntung daddy dapatin mommy kalian"balas Alex terkekeh. arlen mengangguk.
"Aku udah selesai"Ucap arsen beranjak dari duduknya.
"Arlen nebeng kak, males bawa mobil"arlen ikut beranjak dari duduknya. Arsen langsung menggeleng menatap adiknya.
"Kenapa?"tanya Arlen enggak ngerti.
"Ayoo--kita berangkat ya mom--Dad"Merekapun pamitan untuk berangkat kesekolah.
Cup
Arlen mencium pipi Alex dan Tiara dan punggung tangan mereka seperti kegiatan pagi mereka sebelum berangkat kesekolah dan pergi kemana saja.
Cup
arlen mencium pipi kakanya tiba-tiba, Arsen melototi adiknya saat mendapatkan kecupan itu, Arsen paling gk suka.
Arlen hanya tersenyum polos mengangkat dua jarinya di haapan kakanya.
"Kaka jangan sedih ya, kalau kaka gak dapet gadis itu, Arlen siap ko bantuin kaka nyari cewek lain, bila perlu buka situs pencarian jodoh"goda Arlen tertawa lepas sebeum menjauh dari meja makan itu, kalau gak, arlen bakaan mendapatkan tatapan tajam dari kakanya.
Alex dan ara ikut tertawa mendengar itu.
"Assalamualaikum"arlen langsung lari keluar rumah lebih dulu. Menunggu putranya di luar.
"Siapa gadis itu?"tanya alex menatap lekat putranya.
"arsen berangkat mom udah telat"arsen berusaha menghindari pertanyaan dadynya, ibunya tersenyum melihat tingkah putranya.
Arsen mencium pipi dan punggung tangan ibunya.
"Kamu ini berusaha menghindar hmm"tanya alex lagi saat arsen mencium punggung tangan nya.
"Assalamualaikum"salam arsen saat sudah mengambil tasnya di kursi yang ia duduki tadi. Menutupi kedua kupingnya agar tidak mendengar ucapan ayahnya.
"Daddy akan cari tau sendiri"teriak Alex saat putranya berjalan keluar, Alex hanya mengancam saja, supaya putranya bisa cerita sendiri kepadanya.
Arsen berbalik dan menatap datar kearah dadynya.
"jangan menyentuhnya Dad, dan jangan mengganggunya, daddy akan berurusan sama aku"kata Arsen menatap tajam Dadynya.
Dady dan mominya hanya terkekeh mendengar ancaman itu.
"Lihat putra kamu, tatapannya bisa membunuh siapa saja"ucap Tiara membuat aex terkekeh da mengangguk.
"Itu kelebihannya, Agar semua orang enggak macam-macam sama dia"balas Alex tersenyum bangga.
"Di seperti versi kamu yang dulu"sahut Tiara yang lagi membereskan meja mereka baru selesai sarapan.
"Ya karena Aku dadynya, gimana sih kamu sweety"membatu istrinya membersikan meja makan itu, walaupun alex setelah ini berangkat ke kantor.
"iiii engak usah, biar aku aja yang beresin, km duduk aja. ntar kemeja kamu kotor lagu gimana?"omel Ara saat melihat suaminya membantu dirinya menyusun piring itu, tapi seteah di susun suaminya malah mengangat dan menaruh di wastafel.
"Sweety nanti aku balik jam 4, nati malam dinner ya sama anak-anak. udah ama kita enggak Dinner diluar"ucap Alex memperbaiki kemejanya saat selesai menaruh piring itu.
"Boleh, aku akan bilang ke anak-anak"balas Tiara berdiri di depan suaminya memperbaiki dasi suaminya. alex hanya tersenyum menatap lekat wajah istrinya.
Semua kebutuhannya! Tiaralah yang menyiapkan semuanya.
"kan udah aku bilang jangan, km sih gk dengarin, ntar kemeja kamu kotor gimana? kan bisa telat ke kantornya"omel Tiara saat mendapati sedikit kotor di ujung kemeja.
Alex mengangkat tangannya dan mengacak lembut rambut istrinya.
cup
alex mengecup kening istrinya karena gemes.
"masih banyak kemeja di kantor, stok dirumah juga banyak. kenapa harus khawatir sih. dan kamu jangan lupa, kalau aku bosnya diperusahan itu sweety"jelas Alex terkekeh.
Tiara mengangguk mengiyakan karena gk mau berdebat lagi.
"Kapan nenek mereka berkunjung lagi?"tanya Tiara yg masih memperbaiki dasi suaminya.
"Apa km kangen sama mama kamu?"tanya alex menatap lekat istrinya.
"Ya aku merindukan mereka"Balas Tiara tersenyum menatap suaminya, alex mengangguk dan kembali mengecup kening istrinya.
"Apa km mau kita kerumah mereka langsung?"balas alex memeluk istrinya.
"Jangan bercanda, indo ke eropa jauh lex"balas Tiara gk percaya sama ucapan suaminya. alex melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap istrinya.
"Kita hanya menaiki pesawat saja sayang. sehari sampai kan"
"Udah km berangkat saja, aku enggak mau ninggalin anak-anak lagi, nanti saat mereka libur saja biar pergi sama anak-anak"Tolak halus Tiara mrmbuat Alex kembali terkekeh.
Cup
"Aku mencintaimu"alex gemes akan istrinya yang selalu mrnghawatirkan anak remaja mereka.
Istrinya selalu beralasan seperti itu kalau dia mengajaknya keluar kota.
"Aku juga mencintaimu"
"Aku lebih sangat mencintaimu, aku menyayangi kalian"ucap alex lagi langsung memeluk istrinya.
"Aku juga"sahut Tiara tersenyum manis di pelukan suaminya.
"Udah km harus berangkat kerja" Tiara melepaskan pelukannnya.
"Ah jadi enggak tega ninggalin istri dirumah"balas Alex cemberut layaknya anak kecil.
"Km naik di saku sini ikut aku ke kantor"lanjut alex tersenyum geli.
"Kamu kira aku permen langsung cukup di saku kamu"balas Tiara sebel.
Cup
Alex mengecup singjat bibir istrinya sambil terkekeh.
"Aku hanya bercanda, km itu berlian sweety, jadi aku harus hati-hati menjaganya, jangan sampai rusak"alex masih berusaha menggoda istrinya lagi.
"Km hati-hati di rumah ya, kalau ada apa-apa tlpon aku, kalau km bosen ke kantor aku aja ya"lanjut Alex setelah mencium kening istrinya.
"siap pak Bos"hormat Tiara mengambil punggung tangan Alex dan menciumnya.
Alex sedikit membungkuk agar kepalanya sejajar dengan istrinya.
Cup
Satu kecupan di bibir Alex.
Inilah kebiasaan rutin mereka di pagi hari.
Mereka berjalan keluar rumah.
"I Love You sweety"teriak alex saat masuk kedalam mobil, Tiara hanya mengangguk.
"Love You To"balas Tiara terkekeh melihat suaminya yang jahil memberikan kecupan jauh.
seperti biasa Tiara mengantarkan alex hingga mobilnya menghilang dari halaman rumahnya.
Sekolah….
"Arlen ke kelas ya"Pamit Arlen saat turun dari mobil arsen. Arsen kembali membawa mobilnya karena ada adiknya.
Selain adiknya enggak ikut, arsen berani membawa Motornya.
Arsen mengangguk saat adiknya berpamitan.
Arsen dengan cepat turun dari motor saat melihat orang itu.
"Hmm Fio--lu lihat fio"Arsen mendekati seorang cewek dan langsung menanyakan itu.
"Gua juga nyariin Fio, kata anak lain fio udah datang"balas cewek itu ikut khawatir dengan sahabatnya.
Arsen mengangguk dan langsung pergi.
Arsen sedikit berlari masuk kedalam kelas Fio. Melangkah mendekati bangku fio.
Semua siswa yang berada di ruang itu menatap lekat wajah arsen penuh kekaguman.
"Lu lihat cewek yang duduk disini?"tanya arsen ke siswa yang duduk teoat di belakang bangku Fio.
"Ba--enggak kak"balas cewek itu sedikit gugup dan menunduk.
"Lu tau kan dia kemana? Bilang ke gua"gertak arsen membuat cewek itu takut.
"Ta--tadi gu--a li-hat--sama kak Vin--"Arsen langsung pergi saat tau itu. Dugaannya benar.
Rasa khawatir dan takut yang arsen rasakan saat ini. Arsen takut saat gadis itu kembali terluka.
Arsen berlari mencari semua sisi ruangan dan ruangan kosong.
_♡_♡_
"Awwkhh"Keluh fio saat rambut nya dijambak oleh seseorang.
"Kalau lu berani sama gua jangan main kroyokan sialan"teriak fio berusaha melepaskan jambakan orang itu.
Namun susah karena ada beberapa orang yang memegang kedua tangannya.
"Beraninya lu sama gua--lu ngadu kan sama arsen, gua di marahi Arsen semua karena gara-gara lu bit*h"Cewek itu semakin menjambak rambut fio hingga membuat fio meringis kesakitan.
Ditambah kedua tangannya yang dipegang teman cewek itu, yang berusaha mengikat kedua tangannya dari belakang.
Fio berusaha merontak namun tenaganya kalah sama tiga orang itu.
"Vina gua takut arsen bakalan ngamuk kalau lihat in--"
"Lu teman gua kan, ikut apa yang gua suru--ikat dia hingga enggak bisa gerak"omel Vina membuat kedua temannya langsung mengikat kedua tangan fio dan mengikat kaki fio.
Fio yang enggak mampu hanya diam, percuma dirinya melawat ketiga orang yang berusaha menyakitinya.
"Jawab pertanyaan gua, lu ada hubungan apa sama arsen?"Vina berjongkok di depan fio yang sudah terisak. Fio mendongak dan menatap sinis kearah Vina.
Plak
Vina kesal dengan tatapan Fio untuknya, hingga tangan itu melayang di kedua pipi fio.
Fio meringis menahan sakit.
"Kuat juga lu"kekeh Vina saat melihat Fio yang enggak sama sekali menangis.
"Sialan--lu pengecut main kroyokan sama gua"Fio kembali menatao sinis kearah Vina dengan senyum mengejeknya.
"Lu takut bersaing sama gua? Lu ngebully gua karena Arsen sama sekali enggak lihat lu? Lu mau tau alasannya? Karena lu Bit** sial*an"Teriak fio sambil terkekeh puas. Kedua teman Vina hanya diam menyaksikan itu.
Plak
Vina kembali menampar pipi Fio, hingga darah segar itu keluar dari sudut bibir arsen. Vina kaget namun emosinya menutupi ketakutannya.
"Lu sendiri yang ngegoda arsen kan, dengan tubuh l---"
"VINA"vina kaget langsung melihat kearah pintu. Disana arsen melangkah mendekati mereka.
Vina melangkah mundur menghindari fio dan arsen yang terus mendekat.
Vina melihat kedua temananya yang menunduk takut.
"A--Arsen, gimana lu bisa tau gu--"
"Bawa mereka pak"Vina langsung menatap kearah pintu masuk dimana ada polisi disana.
Vina enggak nyangka arsen bisa menemukan mereka, mereka berusada di gubuk yang sedikit jauh dari sekolah, gubuk yang berada di belakang sekolah namun cukup jauh.
"Arsen lu bercanda kan?"Vina semakin takut saat polisi itu mendekati dirinya.
"Anda akan kami tahan dengan tuduhan penculikan dan pembullyan di sekolah ini"kedua polisi itu langsung menahan kedua tangan Vina dan kedua teman Vina.
"Gua enggak salah, Dia yang manggil gua kesini bareng rasti"Teriak temannya saat di borgor.
"Sialan lu za--Lu yang ngerencanain semuanya"Teriak Vina enggak mau di tubuh.
"Tapi lu yang udah buat dia luka"teriak rasti teman Vina.
"Gua puas karena lu udah kesakitan--lu benaran kotor-demi tubuh kotor lu itu--lu berusaha dapatin arsen ka---"
"DIAM--bawa dia"Kedua polisi itu langsung membawa Vina dan kedua temannya.
Arsen sejak tadi berusaha membuka ikatan tangan dan kaki Fio.
Seragam fio sangat berantakan dan kotor. Arsen lebih awal membuka ikatan di kaki Fio.
Arsen melihat kancing kemeja fio semuanya terbuka hingga menyisahkan tantop berwarnah putih itu. Tantop itu juga sedikit kotor.
Arsen duduk di hadapan fio, memegang Dagu Fio agar bisa menatapnya.
"Lu sekarang aman"Bisik Arsen lembut dan memasang kancing kemeja fio satu persatu, Fio hanya diam karena seluruh tubuhnya memang sangat sakit.
Arsen semakin khawatir saat melihat fio hanya diam. Setelah selesai mengancing kemeja fio, Arsen beralih membuka ikatan di kedua tangan fio. Fio masih menunduk dalam diam.
Enggak ada air mata disana membuat arsen semakin takut.
"Ailen, lu aman sama gua"Bisik arsen mengusap lembut pipi fio, fio masih diam dengan tatapan kosong.
Arsen menggending fio dan mendudukan fio di meja itu, karena di lantai gudang itu sangat kotor. Fio masih diam.
"Menangislah kalau itu bisa buat lu legah"Arsen membuka seragamnya, dengan lembut Arsen memberikan kotoran yang melekat di wajah fio, arsen semakin geram saat melihat darah di sudut bibir fio.
Fio masih diam dengan tatapan kosongnya, fio enggak mau terlihat lemah.
Arsen semakin mengumoat kesal saat melihat kedua pipi fio yang merah bekas jari.
"Tunggu bentar gua ambil air dulu"Arsen beranjak ingin keluar dari gedung itu. Arsen tau kalau gadis itu menbutuhkan sesuatu yang harsu di makan.
"Arsen--"Arsen menghentikan langkahnya dengan keadaan jantungnya berdetak sangat cepat. Suara lembut itu mempu membuat jantungnya berdetak enggak karuang di dalam tubuhnya.
"Jangan berbalik"pinta fio masih suara lemahnya. Arsen yang ingin berbalik menatap Fio, diurungnya saat mendengar suara itu lagi.
Fio berusaha turun dengan kaki pincang Fio mendekati Arsen yang masih memunggunginya.
"Ai maafin gua kare---"belum selesai arsen mengucaokan itu, Arsen merasakan sesuatu yang melingkar di perutnya.
Kedua tangan fio berada di perutnya, fio memeluknya dan belakang.
"Hikz hikz"Arsen mendengar suara tangisan pilu itu.
Dada arsen terasa sangat sesak mendengar itu. Arsen meraskan kedua tangan itu semakin erat memeluk perut ratanya.
Kedua tangan arsen terangkan menyentuh tangan fio yang melingkar di perutnya.
Arsen semakin sesak mendengar suara tangisan itu terdengar.
Arsen mengusap lembut tangan fio yang masih melingkar di perutnya.
Fio masih terisak dengan kepalanya menyandar kepunggung arsen.
Entah kenapa dirinya melakukan ini. Perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Melihat arsen yang menghawatirkannya membuat fio ingin menangis saat itu juga.
Dan fio terisak di punggung arsen, karena fio enggak mau arsen melihatnya menangis.
Arsen masih merasakan kedua tangan fio masih bergetar. Arsen masih diam menunggu fio. Menunggu fio menceritakan semuanya.
"Lu aman sama gua"bisik arsen lembut, Fio menarik kedua tangannya namun dengan cepat arsen mencekalnya.
Fio panik saat Arsen berbalik tubuhnya.
Arsen memegang dagu fio dan mengangkatnya. Arsen mengangkat kedua tangannya menyingkirkan rambut dan poni yang menutupi wajah fio. Fio masih menatap wajah arsen.
Kenapa tubuhnya enggak menolak, kenapa fio diam saja saat ini.
Kedua jempol arsen mengusap lembut bekas air mata yang di kedua pipi fio.
"Gua enggak akan biarin mereka nyakitin lu"Bisik Arsen masih mengusap lembut pipi fio.
Arsen membungkuk menatap lekat wajah fii yang hanya jarak beberapa centi dari wajahnya.
Fio panik dan berusaha menjauhkan wajahnya, namun arsen lebih duku menahan wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kokoh itu.
Fio memejamkan matanya saat wajah arsen semakin mendekatinya, fio merasakan ujung hidungnya yang mungkin sudah menyentuh ujung hidung mancung arsen. Fio enggak berani membuka kedua matanya.
"AAAAAKKKK"Teriak fio kaget saat tubuhnya udah melayang. Fio membuka kedua matanya dan ternyata Arsen menggendongnya
Fio dapat melihat senyum sinis arsen dari bawah.
"Turunin gua"pinta fio masih bersuara lemah.
"Kita kerumah sakit"Arsen terus melangkah dengan senyum itu.
Fio diam dalam gendongan arsen.
"Gua masih bisa jal--"
"Diamlah"arsen sedikit membentak membuat fio kembali diam.
Bersambung…..
_♡_♡_
Cuplikan selanjutnya….
"Aku enggak mau putus Arlen, Kita jalani hubungan itu tanpa sepengetahuan mereka, aku akan berusaha mendapatkan restu itu"
"Tapi David, aku enggak bisa bohongi mereka--mereka kedua orang tua aku"
"Kamu enggak sayang sama aku?"
"Aku sayang sama kamu, tapi keluarga aku lebih penting"
"Please! Bertahan sama aku, aku akan berusaha mendapatkan restu itu--jangan putus ya!"
"Baiklah, tanpa sepengetahuan keluarga aku"
_♡_♡_♡_
**Episode 11b finally🥰😍🤩
Jangan lupa Vote and Koment.
Revisinya masih bertahap ya, lanjutan nya belum aku revisi, tapi kalau kalian udah baca kalau beberapa episode udah revisi. Berarti itu aku udah fix revisi dan alurnya beda dari sebelumnya ya.
Author nambahin sedikit dan ngerubah sedikit alurnya😁😁🙏🤣**
See You Next Day...😍🥰