You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
S2 Twins Eps - 10a



Dirumah….


Waktu sudah menunjukan  pukul 21:23 WIB, arlen sama arsen baru aja sampai dihalaman rumah.


Arlen langsung turun gitu aja setelah mobil berhenti, ya arsen menjemputnya dengan mobil bukan motor biasa yang arsen pakai.


"Lu berani bohong sama gua hah?"teriak Arsen yang ucapannya sudah enggak teratur. Saat marah arsen akan menggunakan 'lu-Gua'. Arlen yang ingin melangkah masuk kini berhenti dan menatap kesal kearah kakaknya.


"Arlen bohong apa kak? Arlen benaran makan malem sama teman Arlen, kalau masalah pelukan dia cuman uca---"


"Nathania"Teriak arsen marah mendekati Adiknya.


"Lu masih Bocah, gua udah berulang kali bilang ke lu jangan dekat sama cowok, sekolah dulu yang benar--cowok mana yang anggap pelukan cuman sebatas teman!"lanjut Arsen menatap sangat tajam kearah Arlen.


"Arlen capeh debat sama kakak"Arlen berusaha mengatur emosinya, jika dirinya memakai emosi untuk melawan kembarannya, maka mereka akan terus dan saling berteriak satu sama lain.


"Astagaa, Kalian kenapa pulang teriak-teriak, Arsen--Arlen"Arlen menatap ibunya yang berdiri di ambang pintu. Arlen melangkah mendekati ibunya dan langsung memeluk ibunya.


Tiara kaget mendengar suara isak pelan dari putrinya, ini pertama kalinya Tiara mendengar suara isak puterinya di masa remajanya.


"Arsen ada apa? Kenapa kamu buat adik kamu sampai nangis kayak gini?"Tiara menatap puteranya disana Arsen melangkah mendekati mereka dengan wajah datarnya.


Arsen mengambil tangan kanan ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.


"Tanya sama arlen sendiri Mom, Pelukan dipublik apa enggak malu!"balas Arsen yang terlihat semakin kesal.


Tiara mendengar itu langsung menghembus nafas beratnya, karena Tadi tiara sendiri yang membiarkan putrinya pergi kencan.


"Tapi Mom hikz Kak arsen sampe Nonjok David"Adu Arlen yang masih memeluk erat tubuh Ibunya, membanamkan wajahnya di bahu Ibunya. Kedua tangannya meneluk erat pinggang ibunya.


"Gimana gua enggak puku! tu orang lancang banget meluk lu di publik--lu cewek sendiri kenapa ga--"


"Arsenio Stop--Masuk ke kamar kamu--biar mommy yang urus Adik kamu--"Arsen langsung menaiki anak tangga dengan perasaan kesal.


"Tentu dengan Aku sweety--Aku yang akan mengurus dan menanyakan banyak hal untuk kamu Arlen--apa yang Daddy dengar dari kakak kamu benar atau enggak jadi tolong duduk dan jawab semua pertanyaan Daddy"suara berat dan maraton itu membuat Arlen sedikit takut. Tuara menatap Suaminya yang berdiri di tangga terakhir.


Arsen menatap Ayahnya sekilas mengangguk dan melangkah menaiki anak tangga.


Arsen hanya enggak mau membiarkan adiknya salah bergaul diluar sana, karena jika adiknya salah bergaul, Adiknya akan melakukan hal yang enggak diluar sana. Apalagi dia cewek. Biar dirinya aja yang terlihat brengsek saat ini, jangan adiknya.


"Alex--jangan menakuti putri ku--"Balas Tiara yang meradakan pelukan erat dari putrinya.


"Dia juga puteri ku Sweety---Aku sama sekali enggak menakutinya--aku hanya ingin mendengar penjelasannya--hanya itu--aku hanya ingin mendengar tanggung jawabnya saat ini---Arlen duduk dulu"Suara Tegas Alex membuat Tiara diam.


"Daddy enggak akan nyakitin kamu--kalau daddy lakuin itu--mommy yang akan pukul Daddy kamu"Bisik Tiara berusaha meyakunkan puterinya bahwa semua bakalan baik-baik aja.


Arlen melepaskan pelukannya dan mengangguk. Tiara mengangkat kedua tangannya mungusap lembut kedua pipi arlen yang sembab.


Tiara membawa puterinya duduk disofa, didepan suaminya sudah siap melontar banyak pertanyaan untuk puterinya.


Tiara sangat tau, sejak kecil hingga saat ini kedua pria itu sangat Over menjaga puterinya. Dan tiara juga paham ini demi puterinya juga. Jadi Tiara hanya menjaga Arlen semampu dan mambantu puterinya jika puterinya benar. Dan Tiara enggak mau membuat puterinya enggak nyaman. Mungkin sudah tugas sebagai seorang ibu yang melindungi anaknya.


"Siapa dia sweetheart?"Arlen menatap gantian kedua orang tuanya dengan perasaan takut. Tiara tersenyum dan mengangguk.


"Namnya David Dad, Dia teman masa kecil Arlen dulu"Jelas Arlen membuat Alex mengangguk.


"Anak laki-laki yang sering ngikuti kamu kemanapun kamu pergi, yang hanya di halaman sekolah? Sejak SD sampai SMP dan hilang gitu aja tanpa ada kabar samapi sekarang kamu ketemu dia lagi? Apa daddy benar?"Arlen kaget mendnegar itu, itu artinya Daddynya tau tentang david teman masa kecilnya.


Arlen mengangguk pelan membenarkan ucapan Ayahnya. Tiara hanya menghembus nafasnya saat melihat suaminya.


Tiara juga enggak heran kalau suaminya tau masalah ini, karena suaminya ini mempunyai banyak mata dimana-mana.


"Putuskan dia Girl--demi kebaikan kamu--cari yang lain--kalau kamu masih mau sama dia! Daddy enggak segan akan turun tangan! Pilihan ada di tangan kamu Sweetheart"ucapan lembut alex namun terdengar sebagai ancaman bagi arlen.


"Tapi Dad--dia baik--dia teman masa kecil Arlen yang bukan cuman sehari kenal sama dia tapi udah 11thn saling kenal"Arlen berusaha membantah ucapan Ayahnya. Alex menggeleng dan menatap tegas kearah puterinya.


Ya arlen mengenal David awal masuk kelas Tuga sekolah Dasar (SD)  hingga sampai SMP kelas 2. Saat mau naik kelas Tiga, David menghilang begitu saja.


"Apa kamu yakin dia teman masa kecil kamu? Setelah 4tahun dia hilang? Apa kamu yakin dia David? Bagaimana dengan kembarannya?"Arlen diam mengimak semua pertanyaan Ayahnya.


"Dia david Dad--Dia tau semua tentang aku--dia tau mana makanan kesukaan dan mana yang enggak--arlen sendiri yang dengar tadi--masalah kembarannya enggak mungkin tau tentang aku--arlen sama sekali belum ketemu kebarannya David"Tiara mengusap punggung puterinya sebagai peringatan jangan terlalu membantah ucapan ayahnya.


Arlen mengangguk mengerti akan tatapan Ibunya.


"Putuskan dia--ini demi kebaikan kamu"keputusan final Alex membuat Arlen mengangguk patuh, suara tegas ayahnya membuat arlen enggak bisa membantahnya lagi.


"Naik dan ganti baju kamu sebelum tidur"lanjut Alex , Arlen menunduk dan pamitan untuk kekamarnya.


"Ada tugas dari sekolah?"Tanya Tiara lembut masih mengusap rambut arlen lembut. Arlen menggeleng dan langsung melangkah menaiki anak tangga.


"Lex biarkan dia mencari cintanya sendiri, kamu jangan terla--"


"Enggak sweety--dia masih puteri kecil aku--jadi aku akan ikut campur sampai dia benar-benar dewasa, dia masih labil Sweety, ngertilah"Balas Alex membuat Tiara mengerutkan keningnya. Tiara curiga kalau suaminya ini tau sesuatu tentang David.


"Apa dia kembarannya? Bukan David?"Tanya Tiara sedari tadi tiara mencurigai itu.


Alex duduk di samping istrinya.


"Tebakan kamu benar Sweety, Dia Darrel, bukan David, Aku hanya ingin lihat dia--sejauh mana dia bermain dengan puteri ku--aku sibuk kerja bukan berarti aku mengabaikan semua aktifitas twins"Tiara menggeleng menatap suaminya.


Pantas saja suaminya tadi tegas menyuruh puterinya jauh sama cowok itu.


"Kenapa kamu enggak ngomong langsung ke Arlen!"Alex menggeleng dan langsung membaringkan kepalanya di pangkuan Tiara.


"Aku hanya enggak mau melihatnya sedih lagi, setelah pesta itu Arlen terlihat bahagia--setiap hari aku lihat dia senyum-senyum sendiri"jelas Alex mengingat beberapa kali melihat puterinya yang senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya.


"Terus kenapa kamu menyuruhnya memutuskan hubungannya dengan David?"Tanya Tiara bingung.


"Awwk Aleexx--sakit ih"Keluh Tiara saat perutnya di gigit alex. Tiara memukul jidat alex dengan telapak tangannya karena kaget.


"Makanya jadi orang itu peka dikit--aku tadi bilang gitu biar puteri kita bisa berpikir dan bisa membedakan mana yang salah dan benar, hanya itu enggak lebih"Tiara terkekeh dan mengangguk. Suaminya memang terbaik saat mendidik kedua anaknya.


"Bangun Alex, jangan mencari kesempatan disana"tuara meradakan alex mencari kesemapatan di perutnya.


tiara memegang kepala suaminya dan membantu suaminya bangun.


Alex mendnegar itu hanya terkekeh karena ketahuan.


"Apa kamu enggak niat nambah dedek lagi? Aku ingin anak kecil Sweety, twins sudah besar, enggak mau diajak main lagi"Tiara langsung beranjak dari duduknya melangkah menjauhi suaminya.


"Karena twins udah besar, jadi malu sebagai orang tua, ingat umur Lex ingat--"Alex semakin terkekeh mendnegar itu, Alex langsung menyusul istrinya.


"Umur aku memang sudah berkepala empat tapi wajah Aku masih babyface Sweety, jadi kamu bisa nilai sendiri, masih tampan bukan!"Pede Alex membuat Tuara jengah dan menjitak kepala suaminya.


"Babyface dalam mimpi kamu Alex"Tiara langsung masuk kedalam kamar.


"Love You To sweety"balas alex enggak nyambung, alex langsung menyusul istrinya masuk kedalam kamar  mereka karena jam istrahat sudah waktunya.


….


Esokan Harinya...


Arlen seperti biasa bersiap di pagi hari, kegiatan dan aktivitasnya seperti biasa.


Arlen melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya kembali.


Arlen mendongak menatap kamar kakaknya.


Arlen melangkah mendekati kamar kakaknya, entah apa yang dia lakukan sekarang.


Arlen melangkah membuka gang pintu itu dan mengintip kedalam, Mencari keberadaan kakaknya. Namun arlen enggak melihat bayang kakaknya di dalam kamar itu.


"Arlen--"panggil seseorang membuat Arlen kaget dan berbalik, disana mommynya tersenyum melihat kearahnya.


"Arsen udah berangkat dari tadi, Katanya mau mampir ke rumah temannya dulu jadi udah berangkat"jelas Tiara tersenyum melihat puterinya.


"Arlen mau minta maaf ke Kak arsen Mom, masalah semalem, arlen udah bohong ke kak arsen juga masalah itu"Tiara langsung memeluk puterinya.


"Nanti aja pulang sekolah, kalau enggak di sekolah nanti kalau ketemu ya"arlen mengangguk dan mengikuti ibunya menuruni anak tangga.


"Sarapan dulu baru berangkat"Bisik Tiara membuat Arlen mengangguk. Mereka melangkah mendekati meja makan dimana disana sudah ada Alex menunggu mereka.


Cup


"Arlen minta maaf Dad, masalah semalem"Ucap arlen tulus saat mengecup pipi ayahnya, Alex tersenyum dan mengangguk.


"Apa kamj udah tau maksud Daddy semalem?"tanya alex, Arlen menganguk mengiyakan.


"Good Girl, ayo sarapan--mau Daddy antar kesekolah?"tawar Alex, Arlen mengangguk dan tersenyum.


"Boleh Dad, udah lama Daddy enggak antarin arlen ke sekolah"balas Arlen sambil menerima piring yang di kasih ibunya. Tiara tersenyum menatap puteri dan suaminya.


"Mom ikut juga boleh?"arlen sama alex mengangguk sama-sama sambil menatap Tiara.


"Boleh Mom/Sweety"Balas arlen sama alex sama-sama.


Tuara tersenyum dan ikut mengangguk.


"Kalau begitu kita sarapan dulu"merekapun sibuk makan, berbeda dengan arlen yang memikirkan seseorang yang telah mengisi hatinya, walaupun baru bertemu beberapa hari tapi arlen sangat yakin dia adalah teman masa kecilnya.


"Aku harus bilang apa ke David"Batin arlen.


….


"Sayang--ada yang udah nunggin di depan"Teriak seseorang berhasil membuat seorang gadis keluar dari kamarnya.


"Siapa Bun? Fio enggak janjian sama teman"balas fio yang baru menuruni anak tangga, rumah kecil yang memiliki dua lantai itu, peninggalan Ayahnya.


Harta satu satunya yang fio miliki bersama ibunya di rumah itu.


"Paling salah alamat bun, biarin aja--bunda udah Sarapan?"tanya fio saat meneguk susu coklatnya.


"Sudah, sepiring nasgor bunda habisin, tuh sisanya bunda kasih ke kamu"kekeh ibunya membuat fio hanya menggeleng.


"Nanti fio baliknya agak malem ya Bun"ucap fio sambil makan nasgornya.


Ibunya Fio mengangguk.


"Berhenti kerja aja ya, biar bunda yang kerja"Fio menggeleng menatap ibunya.


"Fio bantuin Bun, biar fio punya tabungan buat masuk kuliah nanti"balas fio membuat ibunya tersenyum tipis.


"Maafin Bunda yang enggak bisa jadi kebanggan kam---"


"Bun udahlah--jangan kayak gitu lagi--fio kerjakan hanya kemauan Fio bukan paksaan dari bunda--lagian fio nyaman ko sama pekerjaan fio sekarang, pekerjaan fio juga enggak berat, cuman nyanyi sama jadi waiter aja di Caffe itu, lagian Bos Andre juga baik sama fio"Jelas Fio membuat fio merasakan usapan lembut dari rambutnya.


"Bunda hanya enggak mau lihat kamu kecapean dan susah bagi waktu belajar kamu"fio langsung menggeleng dan menarik tisu mengusap bibirnya lembut.


Cup


"Buktinya sampai sekarang fio sehat--doain aja semoga fio sehat dan bisa kerja, ini kan hobby fio jadi fio suka aja"fio memeluk erat tubuh ibunya.


Setelah meninggal ayahnya dua tahun yang lalu, membuat fio dewasa belum pada usianya. Sejak SMP kelas tiga, fio diam-diam mencari pekerjaan dan hanya Cafe itu yang menerimanya.


Dan fio sudah sangat bersyukur saat cafe itu menrimanya sebagai waiter, setelah selesai MOS, fio menaruh lamaran lagi sebagai penyanyi di setiap Cafe, dan fio sangat beruntung saat Sebuah Cafe besar memanggilnya untuk mengisi acara setiap malemnya, namun di malem minggu jadwal fio semakin padat, karena fio harus begadang di Cafe itu demi menerima Reques lagu dari pengunjung. Itu yang membuatnya oulang hingga larut malem.


"Yaudah, Fio berangkat dulu ya, Bunda kerja jam berapa?"Fio beranjak mencium punggung tangan ibunya dna bertanya.


"Sebentar jam 9, kamu hati-hati naik Busnya"Fio mengangguk dan melangkah keluar setelah mengecup kedua pipi Ibunya.


Drrrggg


Drrggg


From Rendy:


"Nanti jangan Lupa Fi jam 6 ya, nanti aku jemput atau ketemu di Caffe aja?"


Jari-jari fio lincah mengetik sesuatu saat membaca pesan itu.


To Rendy:


"Ketemu di Caffe aja Kak, see You"


Fio memasukan kembali ponselnya kedalam saku Rok sekolahnya.


Fio melangkah keluar dari halaman rumahnya dan ketemu seseorang yang masih duduk di atas motornya. Orang itu masih menggunakan helm.


Fio melangkah acuh tak acuh melewati orang iti, namun tangannya dicekal sama orang itu.


"Bareng gua"ucap orang yang menahan tangannya, Fio mendongak menatap orang itu dan mencibir karena tau orang itu.


"Gua enggak butuh kasihan dari lu"Balas fio melepaskan paksa tangan Orang itu dan kembali melanjutkan langkahnya.


Orang itu buru-buru melepaskan helmnya dan menyusul fio.


"Stop ikutin gua"Fio menghentikan langkahnya, berbalik menatap kesal kearah orang itu.


"Enggak--gua juga naik Bus"Balas orang itu langsung naik Bus saat bus itu berhenti. Fio menatap motor yang terparkir di depan pager halaman rumahnya.


Tu orang datang sama motor tapi pergi bawa helmnya aja. Fio berusaha enggak peduli.


Fio sedikit berlari naik ke Bus itu karena ini bus terakhir yang melewati sekolahnya. Takut ketinggalan dan pasti fio akan bolos sekolah jika itu terjadi.


Fio menatap orang itu menupuk tempat duduk tepat di sampingnya, fio mencari kursi kosong yang lain namun enggak dapat.


Fio memilih untuk berdiri sampai di sekolah.


"Lu apa-apaan sih, lepasin gua"Orang itu menarik tangan fio dan menduduki paksa fio di kursi kosong tepat di sampingnya.


"Arsen"suara peringatan Fio membuat arsen tersenyum bukannya takut.


"Apa? Gua disini kenapa lu teriak"Balas Arsen santai yang masih memeluk helm mahalnya.


Fio kesal menium poninya, menatap Arsen dengan tatapan yang super kesal. Fio akhirnya memilih diam dan enggak mau banyak ngomong dengan cowok yang duduk di sampingnya ini.


Berbeda dengan arsen, hatinya sedikit merasa bahagia karena duduk dekat sama fio, entah karena apa tapi perasaannya bahagia saat ini. Arsen enggak bisa menutupi senyumnya saat ini.


"Dijaga"Arsen sengaja menaruh helmnya di atas pangkuan Fio. Karena sedari tadi fio hanya diam, arsen hanya ingin berdebat dengan gadis yang di sampingnya ini.


Melihat gadis itu kesal membuat rasa bahagia tersendiri untuk arsen.


"Apaan sih, bau"Fio meletakannya di bawa kaki. Arsen melotot tak lercaya melihat helmnya di injak fio.


"Helm 500jt gua, Lu bisa ganti Hah?"Omel arsen, Fio langsung mengambil saat mendnegar nominal harha helm itu.


"Gila harga helm doang bisa buat gua kuliah sampe s2"batin fio.


Arsen yang tadi kesal kini langsung senyum melihat fio yang kaget dan langsung mengambil helmnya dan akhirmya gadis itu memeluk helmnya.


Tin


Fio langsung beranjak dari duduknya melangkah turun disusul araen dari belakang.


"Buru-buru banget"Arsen menarik tangan fio agar enggak terlalu cepat melangkah mendekati halaman sekolah karena mereka masih di halte Bus.


"Apaan sih, Lu siapa?"Fio melepaskan tangan Arsen dan kembali melangkah.


"Barusan lu manggil nama gua"balas arsen santai mengimbangi langkah fio dan tepat disamping fio sudah saat ini.


Arsen melangkah sambil menatap fio dari samping, fio ngerti akan tatapan lekat arsen, tapi fio enggak peduli.


"Stop ikutin gua--gua enggak mau ada gosip di sekolah"Fio berusaha merendahakan suaranya. Arsen menyerit kedua matanya menatap fio.


"Bukannya bagus, Lu bakalan jadi terkenal karena gua"Fio menghembus nafas yang terasa sangat berat.


"Gua enggak suka, gua muak dan Gua udah  bilang jangan gangguin gua lagi"teriak fio yang hilang kendali membuat arsen tersenyum sinis.


"Gua perlu alasan yang jelas"ucap Arsen dingin enggak peduli sama ucapan fio barusan.


"badan dan batin gua sakit  itu karena FANS LU"lanjut batin Fio.


Rasanya fio ingin berteriak kalimat itu di depan wajah Arsen.


Fio sama sekali enggak tau kenapa Cowok itu selalu mencari kesempatan untuk mendekatinya, padahal dirinya sama sekali enggak memiliki ham spesial atau hak istimewah lainnya.


Justru banyak gadis lain yang memiliki itu, bukan dirinya.


"Lu masih enggak ngerti! gua enggak suka sama lu, dan gua engga mau lihat lu-- jadi berhenti gangguin gua--gua benaran muak dan terganggu sama lu"jelas Fio dengan marah


"Minggir gua ada kelas"fio masih dengan wajah marahnya melangkah menjauh dari arsen, melewati arsen begitu saja mendekati gerbang sekolah.


"Maka dari itu, jangan larang gua buat dekatin lu, gua akan buat lu suka sama gua, buat Lu cinta mati sama gua"teriak arsen membuat beberapa siswa yang melewati mereka itu kaget mendnegar arsen teriak.


Fio otomatis menghentikan langkahnya saat mendengar itu. 


"Apa setelah itu lu bakalan terus ngejar gua? Lu bakalan balas cinta mati gua? ENGAK ARSEN? LU BAKALAN BUANG GUA KAYAK LU BUANG SAMPAH DI JALAN"fio mengusap air matanya dengan kasar saat merasakan pipinya sudah basah.


"Yaaa Lu benar--Gua bakalan putusin lu saat Lu jatuh cinta sama gua"Balas Arsen membuat Fio terkekeh dan berbalik melanjutkan langkahnya masuk kedalam gerbang sekolah.


"Bren*sek--lu memang cowok Br*ngsek yang pernah gua temui, buat apa lu dekatin gua kalau cuman buat gua sakit"umpat Fio masih teringat ucapan arsen tadi.


"Shit! Shit! Shit!---bukan itu yang mau gua ngomong shit! Shit"Arsen menendang angin di depannya karena kesal.


….


Fio POV


Seperti hari sebelumnya pagi gua berangkat kesekolah setelah balik gua harus nyanyi di setiap Cafe lumayanlah buat uang saku gua.


Oya kenalin nama Gua Fiorenza Aileen Aretha, gua biasa di panggil Fio / ailen, panggilan ailen hanya Bunda gua sama Sahabt gua Lala.


Gua sama bunda nepatin rumah yang gk terlalu mewah, sejak Ayah meninggal gua sama bund sendirian, gua enggak punya saudara tapi sepupuan banyak tapi mereka jarang kesini.


Bunda tiap hari ngejaga tokonya, toko yang di bangun sama ayah sebelum meninggal.


Gua kalau enggak ada kerjaan dan enggak manggung di cafe pasti gua bantuin bunda jagain toko bunga.


Gua type orang yang enggak suka mikir yang ribet, Gua mau masuk sekolah itu biar gua masuk ke universitas yang gua mau.


Tapi semuanya enggak sesuai keinginan gua, niat awal gua masuk ke sekolah itu supaya gua bisa tenang karena enggak ada satu orangpun yang kenal gua, tapi saat ini gua punya teman, Namanya Kayla Gasha Xio, Gua sering manggil dia Lala. Lala merupakan keturunan China dari kakeknya.


Jadi nama belakangnya aja bahasa chinanya. Dia baik, jadi gua bisa jadiin dia sahabat gua. Gua bersyukur banget karena masih ada yang mau temanan sama gua. Cukup punya satu sahabat yang Care sama gua dari pada punya banyak teman tapi enggak Care sama gua.


Semuanya jadi buat gua enggak nyaman gara-gara Cowok itu, ketos di sekklah ini. Dia yang buat hidup gua enggak tenang datang di sekolah.


Setiap gua ke sekolah selalu aja ada kejadian yang buat gua takut, ya jujur gua takut kena bullyan dari senior. Tapi disatu sisi gua harus selesaiin sekolah ini demi masa depan gua.


Gua juga berterimakasih banyak sama ayah gua yang sudah menyisahkan tabungannya untuk gua sekolah hingga kuliah nanti. Tapi gua tetap kerja buat bantuin bunda.


Walaupun sekarang bunda buka Tokoh bunga kesukaannya sejak dulu.


….


Jangan Lupa Vote And Coment🙏😊😍


See You Next Day...