
Author POV
Seorang Gadis menerima sebuah helm yang di sedorkan seorang pria, tunangannya sendiri.
Gadis itu memberikan kembali helm itu membuat pria itu mengerut keningnnya.
"Ada ap--"
"Kamu yang pakein--"Manja gadis itu melangkah mendekati tunangannya. Pria itu tersenyum dan dengan senang hati memakaikan helm itu di kepala cantik gadis itu.
"Aku mau kepantai, makan di sana Darrel"ucap Gadis itu membuat pria yang masih duduk di atas motor hanya mampu mengangguk.
Gadis itu pun naik ke atas motor besar itu, tentu dengan bantuan tunangannya. Ya Ashilla sekarang Bersama Darrel. Jika Darrel bersama Arlen makan namanya akan berubah kembali me jadi David.
"Aku kangen kita yang dulu jalan tanpa sembunyi"Ucap Gadis itu lagi yang kini sudah memeluk erat perut pria itu.
"Yaudah kita makan disana aja"balas pria itu langsung melaju motornya, tujuan mereka saat ini ke pantai. Menikmati matahari sore dan harumnya ombak.
Pria itu merasakan pelukan gadis di belakangnya semakin mengerat pelukannya.
Pria itu pun menggunakan satu tangannya mengusap lembut punggung kedua tangan yang melingkar di perutnya.
Gadis itu tersenyum saat mendapatkan usapan lembut itu.
"Gua enggak akan biarin lu pergi Rel, sejak dulu lu cuman buat gua, lu cuman buat Gua Darrel"Batin gadis itu.
Wajah gadis itu bersandar di punggung pria yang sedang mengemudi motor dengan kecepatan sedang. Tempat ternyaman kedua sebelum ayahnya.
"Cilla--Ayoo"Darrel melepaskan kedua tangan Ashilla dan membantu ashilla turun.
Ashila melangkah mendekat dan Darrel langsung membuka Helmnya.
"I Love You"Ucap Ashilla saat helmnya terlepas dari kepalanya. Ashilla tersenyum lebar menatap Darrel.
Senyum Ashilla pudar saat Darrel enggak membalas Ucapannya.
"Love You to"balas Darrel mengacak lembut rambut Ashilla. Ashilla kembali tersenyum lebar.
Ashilla menunggu Darrel turun dari motor. Ashilla langsung memeluk lengah Darrel dan mereka melangkah ke tepi pantai, sebelum duduk di tepi pantai, mereka memesan beberapa menu untuk mereka makan.
Darrel yang sudah kenyang, namun demi gadis di sampingnya ini Darrel berusaha memesannya.
"Thanks You"ucap Ashilla saat pelayan selesai menaruh pesanan mereka.
"Mom Sama Daddy nanyain kabar kamu, kenapa enggak jawab tlpon mereka?"Darrel yang tadi melamun langsung menatap kearah Ashilla.
Mom dan Daddy yang di maksud Ashlla adala kedua orang tua kandungnya.
Memang Darrel sengaja engak menjawab tlpon dari kedua orang tuanya.
"Enggak apa-apa"balas singkat Darrel membuat ashilla terus melempar beberapa pertanyaan.
Darrel mentap ponselnya, entah kenapa dirinya gelisah, menunggu dan berharap seseorang mengirimnya pesan.
"Kamu masih marah sama mereka? Kamu juga harus ngerti dong kenapa mereka pergi sama david"Darrel tau, bukan itu yang membuatnya pindah kesini.
Entah sesuatu yang membuatnya datang kenegara ini hanya karena isi deary itu. Deary milik kembarannya. Milik David.
Dan itupun Ashilla tau, tapi enggak semuanya. Ashilla hanya tau sebagian, karena Darrel sengaja enggak mau menceritakan nya.
"Aku ngerti Cil, ngerti banget, cuman saat mereka tlpon aku enggak tau"Balas Darrel sambil sibuk makan. Ashilla langsung menatap Darrel lekat.
"Penting aku apa Gadis itu?"Darrel langsung diam, tatapannya masih menatal lurus ombak yang silih berganti menuju kearahnya.
"Arlen"Batin Darrel.
"Rel--"Darrel langsung menatap Ashilla saat merasakan genggaman tangan ashilla.
"Tanpa perlu aku jawab, kamu udah tau cil, kamu yang kenal aku bukan cuman sebentar"Balas Darrel membuat Ashilla tersenyum.
"Tapi sekarang kamu bukan Darrel yang aku kenal dulu, kita jarang ngobrol saat disini"Darrel kembali di buat kaget. Ashilla menghindari tatapan Darrel. Ashila tersenyum sambil menatap lautan di depannya.
"Jujur Aku merasa kehilangan saat ini, waktu buat aku enggak ada, kamu terlalu sibuk sama gadis itu--kita akhir--"
"Ashilla Stop--aku minta maaf kalau tindakan aku sekarang nyakitin perasaan kamu-- yang kamu rasain sekarang please! buang jauh-jauh prasangka itu--percaya sama aku--jangan akhiri ini--tunggu sampai David sadar--ya hanya sampai batas waktu itu, hanya sebentar dan aku berhasil bawa gadis itu menemui david"jelas Darrel mengambil tangan Ashilla. Ashilla hanya tersenyum kecut melihat cincin nya dan cincin yang di pakai Darrel. Cincin pertunangan mereka.
"Tapi tindakan kamu bertele-tele Rel, buang waktu kamu aja--padahal kita bisa ngomongin ini baik-baik ke Arlen kalau temannya saat ini sedang sakit, hanya tindakan simple itu yang buat Arlen datang menemui david, bukan cara kayak kamu sekarang Rel--oke kalau kamu lakuin ini--tapi ada aku Rel--aku yang udah ada status tunangan sama kamu--dan bohong kalau aku enggak sakit lihat kamu jalan dan ngasih perhatian sama dia"Darrel diam, bingung harus membalas ucaoan Ashilla saat ini.
Ashilla memang benar, Darrel akui semua ucapan Ashilla semuanya benar.
Namun ada sesuatu yang harus Darrel pastikan lebih dulu, bukan hanya mengajak gadis itu pergi menemui kembarannya. Tapi ada sesuatu yang membuat dirinya harus berusaha didekat Gadis itu. Entah karena apa! Darrel hanya ingin sedikit bermain-main.
"Karena aku penasaran sama Dia"Batin Darrel.
"Maafin aku Cilla, sejak awal kamu udah setuju, kenapa kamu sekarang protes saat aku udah ketemu Arlen"Balas Darrel melepaskan genggamannya.
"Maafin aku kalau itu nyakitin aku, please! Aku mohon banget beri aku waktu"lanjut Darrel membuat Ashilla diam.
"Apa kamu enggak suka sama perjodohan ini?"tanya Ashilla makin membuat Darrel kesal.
"Kalau aku enggak suka! Sejak dulu aku enggak mau tunangan sama kamu Ashilla, berhenti melempar pertanyaan yang membuat aku emosi--Ayo pulang"Darrel langsung beranjak dari duduknya.
"Aku masih mau disini"Balas Ashilla menatap lurus ke arah lautan tanpa menatap Darrel yang ada di belakangnya.
"Terserah kamu"Darrel melangkah menjauh dari Ashilla. Selang satu menit Ashilla mendemgar suara motor milik Darrel.
Darrel benaran pergi meninggalkannya.
Ashilla mengangkat tangannya dengan cepat mengusap air matanya yang sudah jatuh, sejak tadi Ashilla menahannya.
"Jangan Merubah aku menjadi sosok yang Jahat Rel--please!"Batin Ashilla.
Ashilla mengusap kedua pipinya yang semakin basah karena air mata itu terus saja jatuh.
"Hiks hiks hiks"Suara isakan Ashilla pun keluar dari bibirnya, Ashilla langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua lengah di atas meja itu.
Suara isakan itu terdengar pilu jika seseorang dekat dengannya. Namun semua orang sangat jauh.
Ashilla mengusap air matanya dan mengambil ponselnya.
"Mah--pindahkan Cilla kembali disitu--Cilla Kangen sama Mamah"Ashilla langsung memutuskan panggilan itu. Ashilla langsung beranjak dari duduknya.
Ashilla melihat beberapa uang itu, Darrel yang menyelip uang itu di bawa piring.
Ashilla langsung melangkah menjauh dari pantai itu.
Tekadnya sudah bulat untuk pergi dari negara ini. Kembali ke kedua orang tuanya.
Ashilla enggak bisa melihat mereka yang terus bersama.
Pergi tanpa memberitahukan tunangannya, Apa tunangannya akan mencari dirinya atau itu hanya menjadi sebuah harapan?. Ashilla akan melihatnya nanti.
"Satu tiket ke tokyo, gua mau pulang--sekarang"Ashilla melempar begitu saja ponselnya saat masuk kedalam mobil.
"Gua yang nyetir"Ucap Ashilla menyuruh seseorang yang telah menjemputnya.
"Sil, lu lagi emosi--biar gua yang nyetir"Balas orang itu yang sudah duduk di samping kursi pengemudi.
"Diamlah Nick"Balas Ashilla langsung melaju mobilnya.
"Lu kenapa? Tiba-tiba minta pulang!"Tanya Orang itu. Nicky radit, Sepupuh Ashilla. Ayah Nick dengan ibunya Nicky adik kakak sungguh.
"Lu tau dari siapa?"Tanya Ashilla langsung tanpa menurunkan kecepatan mobilnya.
"Barusan auty nyuruh gua antarin lu sampai di rumah"Balas Nick santai sambil membuka dosbk mobil.
"Dia siapa?"Tanya Nick sambil memberikan sebuah Foto.
Ashilla menatap itu dan langsung diam.
"Lu udah putus sama Dar--"
"Enggak akan pernah"Sahut Ashilla cepat. Nick mengangguk melihat reaksi Ashilla, menurutnya mereka belum putus.
"Terus siapa Cewek yang Jalan Sama Darrel Sil?"Tanya Nick karena penasaran.
Ashilla masih diam. Kedua tangannya memegang erat setir mobil, Nick juga melihat itu.
"Berhenti gangguin gua Nick, ini urusan Gua sama Darrel"Balas Ashilla menambah kecepatan mobilnya. Emosinya semakin meluap saat melihat foto itu.
"Okee"Balas Nick santai dan membiarkan Ashilla melupkan emosinya dengan cara mengemudi seperti orang kesetanan.
Nick pun langsung menatap Ashilla saat mobilnya berhenti.
"Apa perlu gua Habisin dia?"Bisik Nick menarik lembut dan membawa Ashilla dalam pelukannya.
Suara isakan langsung terdengar. Ya Ashilla kembali terisak.
"Gua takut dia ninggalin gua"Gumam Ashilla enggak jelas masih membuat Nick mendengarnya.
🎶🔊Katalyn karvel - You Don't Know🎶
Author : (Dengarin lagu itu, lagu mewakili perasaan AshillaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜)
Nyesek banget dengar lagu itu😑😑
°♡♡°
Esokan Harinya...
Arsen sedang menunggu fio depan rumah fio.
"Gua bilang enggak usah jemput. gua bisa pergi naik bus"ucap fio yang baru keluar dari rumahnya melihat arsen yang berdiri bersandar di mobil.
Kini arsen memilih membawa mobil karena menjemput seseorang.
"Gua enggak mau pacar gua datang telat, itu aja"balas Arsen santai sambil membuka pintu mobilnya.
"Masuk"ucap Arsen menatap Fio yang masih diam di sana.
"Gua bis-..."
"Sekarang Gua enggak ngasih pilihan buat lu milih--yang lu lakuin sekarang masuk dan duduk"suara tegas Arsen membuat fio menghembus nafas panjangnya.
Dengan terpaksa fio masuk kedalam mobil arsen dengan wajah yang sangat di tekuk.
Fio enggak mau mencari masalah, karena kelasnya sebentar lagi mulai.
"Gua kemarin lupa ngasih buku yg pak kepsel ngasih ke gua"jelas Arsen yg sudah meninggalkan kediaman rumah fio. Fio langsung melihat kearah Arsen.
"Buku apa?"tanya fio singkat karena masih kesel.
"Buku saat lomba nanti"balas Arsen santai tanpa melirik fio sekilas dan kembali fokus menyetir.
"Terus kemarin yg belajar itu apa?"tanya fio kaget dan heran kenapa Arsen selalu bermain-main.
Karena kemarin mereka belajar menggunakan bukunya, bukan buku yang di berikan Pak Kepsek yang Arsen bilang.
"Ya belajar"balas Arsen santai menahan senyumnya.
"Terserah lu deh, males ngomong sama lu"kesel fio dan lebih memilih melihat pemandangan di sampingnya dari pada harus berdebat dengan Arsen.
Arsen tersenyum dalam diam menanggapi kata fio.
Entahlah arsen tidak bisa mengontrol kalau berurusan dengan gadis yang di sampingnya.
Selalu memiliki banyak cara untuk menarik Gadis itu selalu ada di sampingnya.
°♡♡°
Disekolah….
"Lu gk boleh dekat sama cowok lain"ucap Arsen saat sudah memarkirkan mobilnya.
Fio menatap dingin kearah arsen, fio hanya males kalau cowok di sampingnya itu terus mengaturnya.
"Kalau lu ketahuan lu bakalan tau akibatnya"lanjut arsen yg kini mereka sudah turun dari mobil.
"Lu enggak bisa ngatur-ngatur gua--Thanks"balas Fio langsung melangkah memasuki lobby. Namun arsen cepat mencekal tangan fio.
Fio menatap sekelilingnya, banyak orang menatap kearah mereka. fio berusaha melepaskan cengkraman tangan Arsen, namun arsen semakin mengeratkan.
"Lu pacar gua"ucap arsen dingin dan menatap tajam kearah fio dengan wajah datarnya.
"Kita udah bahas ini kemarin jadi jangan buat gua emosi Ailen"geram Arsen terlihat emosi menatap Fio. Fio menghembus nafas beratnya.
Semua siswa memperhatikan mereka yang seperti sepasang kekasih yang bertengkar.
"Gua mau ke kelas"ucap fio langsung melangkah pergi. Fio enggak mau membahas masalah itu lagi.
"Gua masih mau ngomong sama lu Ailen"Arsen mencekal tangan fio erat hingga membuat fio kesakitan.
"Lepasin Gua arsen, Lu seenaknya sama gua"Fio berusaha melepaskan tangan arsen, Fio mendongak menatap Arsen yanga menatap tajam kearahnya.
"Lu selalu bantah sama ucapan gua"geram arsen, Fio masih berusaha melepaskan tangan Arsen.
"Lu akan tau akibatnya, kalau lu enggak ikuti apa yang gua bilang barusan, jangan pernah dekat sama cowok"Fio mengangguk membuat Araen mengerut keningnya.
"Iyaa--sekarang lepasin"Fio menarik paksa tangannya dan langsung melangkah mrninggalkan Arsen.
Arsen putar balik arahnya menuju kantin, dan disanalah kedua sahabatnya sudah menunggu.
Namun langkah Arsen berhenti saat melihat seseorang. Dengan langkah cepat Arsen mendekati orang itu.
"Gua mau ngomong sama lu"Ucap Arsen tanpa menghentikan langkahnya, Orang itu langsung mengikuti Arsen.
Arsen terus melangkah hingga di depan gudang yang enggak terpakai, dan sangat sepih.
Buugghh
Dengan penuh emosi Arsen berbalik dan langsung menonjok wajah orang itu.
Arsen menarik kerang seragam orang itu hingga menyepitkan tubuh orang itu ke dinding.
"Ini peringatan pertama gua, Jauhin adik gua sebelum gua pastiin lu mati di tangan gua"ucap Arsen dingin dan menatap Tajam kearah Orang itu, Darrel.
Darrel hanya tersenyum dan mendorong Arsen menjauh dari tubuhnya. Darrel memperbaiki kerak seragamnya dan mengusap sudut bibirnya yang terasa sedikit perih. Mungkin bibirnya kini sufah sobek dan ada sedikit terasa asin di lidahnya.
Darrel menatap jari jempolnya yang ada sedikit noda merah, itu artinya sudut bibirnya luka.
Buughhh
Darrel berhasil menghindari pukulan itu.
"Ini hubungan gua, gua enggak butuh larangan lu, yang jelas gua sama arlen saling sayang"Arsen semakin emosi mendengar itu.
Buugghh
Buugghh
Arsen menarik kerak kemeja Darrel dan dengan kekuatan penuh Arsen menonjok dan menendang Darrel hingga terjatuh di lantai.
"Sayang! ****! Tunangan lu kemanain Br*ngsek"Teriak Arsen melangkah cepat menaiki perut Darrel dan memberikan pukulan bertubi-tubi di wajah darrel.
Darrel terlalu kaget hingga serangan tiba-tiba Arsen Darrel lupa, hingga kini Darrel membiarkan Arsen menonjok sesuka hatinya.
Darrel sadar dan langsung menginjak Arsen hingga Tubuh Arsen ikut Jatuh di lantai, Dengan kesempatan Darrel langsung beranjak.
Wajahnya terasa kaku karena tonjokan bertubi-tubi dari Arsen.
Arsen masih tersenyum sinis dan Langsung berdiri.
Emosinya semakin meluap saat mengingat Adiknya, Arsen enggak mau melihat adiknya sedih hanya karena cowok palsu di depannya ini.
Buggh
Buugh
Buggh
Buuggh
Mereka pun saling balas satu sama lain saling menonjok. Enggak ada yang memisahkan mereka karena enggak ada yang melihat mereka.
"Br***sek, Secara enggak langsung lu udah nyakitin adik gua s***an"Arsen mengusap sudut bibirnya yang kini mengeluarkan darah segar.
Arsen menatap tajam kearah Darrel yang berusaha membompong tubuhnya. Wajah darrel lebih parah dari Arsen.Â
"Gua benaran sayang sama dia"Arsen mendengar itu langsung melangkah lebar mendekati Darrel.
Bughhhh
Buugghhh
Dua kali pukulan kembali di wajah Darrel.
"Awal kebohohan bakalan tetap ada kebohongan lainnya, B***gsek---gua enggak percaya sama lu Bre****k"Umpat Arsen mengusap kepalan tangannya yang ada noda merah.
"Gua benaran sayang sama Arlen--GUA CINTA SAMA ARLEN--"Teriak Darrel yang sedikit merasa bersama saat mengingat seseorang.
Buuggh
Buuggh
"Br*****k"Umpat Arsen kalut sama emosinya hingga bertubi-tubi menonjok Darrel.
Dengan kesempatan Arsen kembali duduk di atas perut Darrel dan bertubi-tubi menonjok wajah Darrel.
"ARSEN sadar Woe lu bisa bunuh anak orang"Rio sama Aldo langsung menahan kedua tangan Arsen dan membawa arsen menjauh dari Darrel.
"Lepasin Gua--Gua mau Lenyapin Tu Orang--Br*****ek"Arsen merontak saat kedua tangannya masih di pegang Aldo sama Rio.
"Anak orang, lu bisa masuk penjara"Aldo melepaskan tangan Arsen dan melangkah mendekati Darrel yang masih berbaring di lantai.
Aldo takut kalau orang itu mati.
"Gua bunuh Lu Bre****sek"
"Ars--Owwhh"Rio enggak bisa menahan Arsen hingga pukulan itu melayang di wajah Aldo saat Aldo menghalangi Arsen.
Rio ikut meringis saat melihat Aldo mendapatkan pukulan Arsen.
Aldo menahan Arsen dan kembali menjauh daru Darrel.
Rio melihat itu langsung membantu Darrel bangun.
Rio menggeleng melihat babak belur di wajah Darrel yang udah enggak berbentuk wajah. Wajah itu penuh dengan biru dan ada noda merah.
"Sorry"Ucap Rio terkekeh melihat noda ungu di waajh aldo.
"Sialan Lu"Balas Aldo masih menahan Arsen.
"Lepasin gua"Aldo langsung melepaskan Arsen. Rio melihat Arsen yang udah melangkah pergi.
"Arsen--Silahkan keruangan saya sekarang Juga"Aldo sama Rio kaget melihat ada kepsek berada disitu mrlihat mereka.
"****** kita"Gumam Aldo sama rio barengan.
"Termasuk lu berdua"Lanjut kepsek langsung pergi.
Arsen melangkah pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Aldo sama Rio berbalik menatap Darrel disana yang masih duduk di lantai.
"Gua bisa sendiri"Ucap Darrel saat melihat Aldo sama rio mendekatinya.
Aldo sama rio mengangguk dan melangkah meninggalkan Darrel.
Darrel merabah beberapa luka yang mrmbuat wajahnya kaku.
Darrel beranjak dan melangkah gintai pergi dari disitu.
Darrel terus melangkah melewati orang-orang yang kaget menatapnya.
"Gua pinjam bentar"Darrel menarik topy salah satu siswa dan memakainya.
Darrel membiarkan seragamnya yang keluar. Kancing seragamnya pun kini enggak terkancing lagi. Hingga memamerkan kaos putihnya.
Darrel semakin menutupi wajahnya saat melihat seseorang yang di depannya.
"David"panggil seseorang membuat Darrel terus melangkah, Darrel enggak mau orang itu melihat wajahnya.
"David aku cuman mau ngas---Wajah kamu kenapa?"Arlen kaget sendiri melihat wajah Darrel saat ini, Darrel enggak bisa menutupi wajahnya karena Topynya sudah berpindah di tangan Arlen.
"Aku eng---"
"Ikut aku"Arlen langsung menarik tangan Darrel melangkah pergi menuruni anak tangga.
Darrel dibelakang hanya diam mengikuti Arlen, entah Gadis di depannya ini membawanya kemana.
Darrel ikut masuk kedalam mobil saat melihat Arlen masuk kedalam mobil.
"Kak arsen yang ngelakuin ini kan?"Darrel mendongak menatap Arlen dan menggeleng, kelopak mata sebelah kanannya bengkak hingga membuat dirinya kesulitan melihat wajah Arlen saat ini.
Arlen langsung mengemudi mobil dan keluar dari parkiran sekolah.
"Kita masih sekolah arlen, Dan sekarang bukannya kamu masih ada pembelajaran di kel---"
"Wajah kamu perlu di obati David"Sahut Arlen cepat tanpa melihat kearah Darrel.
"Maafin aku"Arlen langsung menatap sekilas wajah darrel dan kembali fokus.
"Seharusnya aku yang minta maaf karena kakak aku yang---"
"Maafin aku--aku hanya ingin kamu maafin aku--maaf--aku minta maaf--Aku benaran sayang sama Kamu Arlen"Jantung Arlen berdetak lebih cepat saat mendengar itu.
Ini pengakuan pertama kalinya arlen dengar dengan tulus saat Darrel mengungkatkan isi hatinya.
Namun berbeda dengan Darrel yang merasa sangat bersalah saat ini. Karena kebenaran belum arlen ketahui, kalau dirinya bukan David yang sebenarnya.
Darrel ikut diam saat Arlen enggaj menjawab ucapannya hingga mobil arlen terparkir di depan halaman rumah sakit.
"Aku minta ma---"Darrel yang bekum menyelesaikan ucapannya kini sudah mendapatkan pelukan hangat daru arlen.
"Hiks hiks--Aku ingin Marah Ke Kakak aku--Tapi aku enggak Bisa Dav--Maafin aku--aku enggak bisa marah sama kakak aku--walaupun dia nyakitin kamu kayak gini hiks hiks"Darrel langsung membalas pelukan Arlen sambil tersenyum.
Bukan hanya Arlen, dirinya juga enggak bisa memarahi kembarannya.
"Aku enggak apa-apa, Cowok udah biasa kayak gini"Bisik Darrel mengusap lembut rambut panjang arlen. Arlen masih terisak pelan dalam pelukan Darrel.
"Kamu harus di obatin, Ayoo--"Darrel langsung mencekal tangan Arlen saat ingin turun.
"Aku mau kamu yang obat, aku enggak mau turun"Ucap Darrel membuat Arlen menggeleng.
"Aku enggak tau cara obati luka"Balas Arlen jujur. Darrel tersneyum.
"Kita ke apotik aja, beli obat"Arlen mengangguk dan kembali mengendarai mobilnya.
"Mobil siapa ini?"Tanya Darrel karena pagi tadi dirinya sendiri yang mengantar Arlen, jadi arlen enggak bawa mobil.
"Punya rere"Balas arlen terkekeh. Darrel mengangkat tangannya mengusap pipi sembab arlen dari samping.
Arlen menerima itu langsung menatap Darrel sekilas.
"Jangan pernah nangis Len--apapun yang aku alami--apapun alasan karena aku--jangan pernah menangis"Ucap Darrel tulus, sangat tulus hingga membuat Dadahnya ikut sesak mengucapkan itu.
Arlen mengangguk dan tersenyum singkat menatap Darrel. Darrel langsung mengacak lembut rambut Arlen yang serius nyetir.
"Maafin gua Arlen--maafin gua Dav, gua benaran sayang sama teman masa kecil lu ini--maafin gua"Batin Darrel.
Bersambung…...
★★
#revisi
Minggu, 28 Juni 2020
Part 15 Finaly🎉🎉🎉🎉
Semoga kalian suka😆
Vote + Coment ya😊😊
See You...Â