You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
Episode - 11a



Author POV


"Selamat ulang tahun Ayah, semoga ayah di tempatkan yang layak diatas, makasih buat semuanya ayah--dua tahun ini rasanya cukup lama yah--Ai kangen sama ayah--"Seorang gadis yang duduk mengusap nisan itu lembut, air mata terus jatuh membasahi kedua pipinya dan seragamnya pun kotor karena dirinya duduk di tanah itu.


"Maafin Ai yang sering nangis Yah--maafin ai yang enggak bisa jadi anak ayah yang kuat--maafin ai yang bandel dulu--maafin ai baru sekarang minta maaf ke ayah--bawa aku pergi yah--Ai enggak kuat di dunia yang Fana ini yah--ai benaran enggak kuat"Kedua tangan terangkat dan menutup wajahnya, suara isakan itu terdengar sangat jelas. Kedua bahu bergetar hebat.


Fio, fio yang baru selesai kerja langsung ke makam ayahnya, karena hari ini ulang tahun ayahnya--ibunya sudah pergi beberapa menit yang lalu karena mau menutup tokoh.


Fio masih terisak, hatinya terasa sesak dan enggak mampu menahannya.


Andai ayahnya masih ada, pasti ayahnya akan membantu melindungi dari orang-orang yang menganggunya. Andai ayahnya masih ada--fio pasti enggak kerja sekeras ini.


Fio merasa cukup dan menatap langit yang cerah diatasnya, berharap air mata itu berhenti. Setelah cukup lama menatap langit, fio kembali menunduk dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


Cake Tar dengan nama ayahnya di atas kue itu.


"Happy birthday ayah"fio terus menyanyikan lagu ulang tahun sambil memegang kue itu, langit sore tanpa matahari yang sudah mulai redup.


Fio masih betah duduk di samping makam ayahnya.


"Makasih Yah--makasih udah ajarin Ai selama ini--ai baru ngerti gimana hidup mencari nafka seperti ayah dulu--terimakasih---ai pengen permen kapas yah--"Fio terkekeh sedih mengingat dimana waktu Sekolah dasar, setiap Pulang sekolah dirinya selalu mampir bersama ayahnya membeli permen kapan langganannya.


Cuaca mulai gelap, Fio pun beranjak dari duduknya, karena sebentar lagi dirinya harus manggung lagi.


"Ai pamit pulang yah--besok ai bakalan balik kesini lagi--Bye ayah--I Love You yah"fio melangkah mundur menjauh dari makam itu.


Fio berbalik dan melanjutkan langkahnya menjauh dari makam itu.


Fio kembali mengusap air matanya yang kembali jatuh. Fio berulang kalu menghembus nafas panjang berusaha meringankan rasa sesak di hatinya.


Fio enggak langsung balik, Fio ingin mampir di suatu tempat, dimana kenangannya bersama ayahnya.


"Selamat ulang tahun Om--Maaf Om--saya tau saya lancang datang kesini- saya mau ucapin terimakasih telah membawa putri om di dunia ini--niat saya baik om--tolong restui dan beri saya kesempatan menjaga putri om--saya janji akan membahagiakan dan menjaganya om--sama seperti om menjaganya--tolong restui saya menjaga putri kesayangan om"seseorang yang masih menggunakan serang putih abu-abu itu berjongkok dan memegang nisan makam itu.


Hanya sebentar, orang itu beranjak dan langsung pergi setelah berdoa.


"Ekh neng ai--lama neng enggak main kesini--apa kabar neng?"Fio tersenyum saat mendapatkan sapaan ramah dari penjual permen kapas itu.


"Alhamdulillah baik mang"balas fio tersenyum dan menerima permen kapas itu.


"Oyaa bapak neng kemana? Apa kabar juga bapak neng?"Fio tersenyum menatap penjual itu.


"Ayah sudah meninggal dua tahun lalu mang"Penjual itu kaget dan mengusap dadanya.


"Innalillahi--maaf neng, Mang enggak tau--semoga ditempatkan yg layak--amiiinnn"fio pun tersenyum dan mengangguk.


"Amiiiinnn---oyaa--Ai langsung pulang ya Mang, Udah gelap juga--nih mang"Fio memberikan uang untuk membayar permen kapas itu.


"Sudah neng, buat neng gratis--main kesini lagi ya--"fio memaksa memberikan uang itu namun tetap aja penjual itu enggak mau menerimanya.


"Makasih banyak mang--semoga rezikynya lancar dan banyak yang datang--amiinn"


"Amiiinnn--neng naik apa pulangnya? Biar anak saya antari pul--"


"Makasih mang--saya belum pulang mau duduk bentar disana---makasih mang--"Fio melangkah pergi saat diangguki punjual itu.


Permen kapas itu masih utuh ditangannya. Fio terus melangkah menuju bangku kosong tepat di hadapan taman, tepat di samping jalan raya.


Fio menyembrang dan mendekati bangku itu.


Fio duduk dengan hembusan nafas panjang sambil menatap permen kapas itu.


Sejak kecil fio terlalu dekat sama ayahnya, kemanapun pergi fio selalu bersama ayahnya,walaupun ayahnya sibuk kerja, ayahnya selalu punya waktu untuk mengantarnya membelikan sesuatu.


Menemainnya mencari buku, menemaninya bermain di taman ini. Dan kemanapun fio ingin pergi, ayahnya satu-satunya ornag yang menaminnya. Fio jarang bersama ibunya, dulu ibunya lebih sibuk dari ayahnya. Hingga hanya sedikit waktu fio bersama ibunya. Dan sejak ayahnya pergi, ibunya mulai bersamanya.


"Ekh"kaget Fio saat seseorang menarik permen kapas dari tangannya.


"Sayang banget kalau enggak di makan"ucap orang yang sudah mengambil permen kapasnya, tanpa rasa malu orang itu makan.


Fio menatap orang itu kesal.


"Lu ngikutin gua lagi?"tanya Fio, Orang itu mrngangguk polos dan terus memakan permen kapas itu.


Fio kembali diam menatap lurus kedepan menatap mobil dan motor yang lulu-lalang.


Orang itu sadar dan langsung menatap fio yang berada di sampingnya.


"Ikut gua yuk"ajak orang itu membuat fio langsung menatap orang itu dan menggeleng.


Fio kembali diam.


"Gua harus gimana buat hibur dia"batin orang itu.


"Arseeennn"teriak Fio saat arsen menarik paksanya berlari.


"Ada orang gila Ai--gua takut"Teriak arsen, fio menatap kebelakang dimana memang benar disana seseorang yang memakai baju sobek dan rambut yang super benatakan.


Fio terkekeh dan ikut berlari. Arsen melihat itu ikut tersenyum dan terus menggandeng tangan fio berlari menjauh dari orang gila itu.


Arsen menghentikan larinya saat sudah berada di motor spot miliknya.


"Nih--pake aja dulu--enggak usah nanya"Dengan keadaan masih ngosa-ngosa--fio menerima helm yang di kasih Arsen.


"Punya siapa?"tanya Fio saat menerima helm berwarna pink bercampur biru dan ada gambar Bear di sekeliling helm itu.


"Punya gua--udah di pake aja---kelamaan--sini gua pakein"Balas Arsen cepat menarik helm itu kembali dan memakaikan di kepala fio, fio menerima itu langsung diam dan menatap arsen yang wajahnya sangat dekat.


Arsen mengingkirkan poni fio yang hampir menutupi kedua mata fio. Fio masih diam menerima perlakuan manis itu.


"Ayooo--"Arsen langsung naik ke motornya,menarik tangan fio pelan karena melihat fio habya diam.


Arsen memberika permen kapas itu kembali ke tangan fio dan menyuruhnya naik. Fio langsung naik ke motor di bantu arsen.


Entah aoa yang fio lakukan, kenapa ia menurut begitu saja. Fio menatap permen kapas yang ada di tangannya.


Arsen pun menjalankan motornya dengan jecepatan sedang, karena arsen enggak mau cepat-cepat sampai. Arsen ingin seperti ini cukup lama.


Fio diam dan sedikit tersenyum menatap permen kapas di tangannya. Hari ini dia enggak sendiri, ya dia ditemanin seseorang di hari ulang tahun ayahnya.


Arsen menatap wajah fio dari kaca spion motornya, arsen enggak bisa membohongi perasaannya saat ini. Dirinya bahagia saat cewek yang di boncengnya sangat nurut dan tanpa membantah ajakannya hari ini.


Fio masih diam tanpa menanyakan apapun. Fio pun teringat sesuatu, manggungnya di Cafe bentar lagi.


"Gua ada manggung nanti"teriak fio berharap arsen mendengar suaranya.


Fio cemberut saat arsen enggak menyahut teriakannya tadi, Arsen tersenyum dibalik helmnya saat melihat wajah fio di spion.


Arsen pun sengaja melaju motornya dengan kecepatan tinggi, hingga merasakan pegangan erat di kedua pinggangnya. Tangan nungil fio memegang erat kaosnya saat ini.


Arsen kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Entah kenapa senyumnya ini terus mengembang saat bersama Seorang Gadis yang berada dalam boncengannya ini.


Arsen pun menghentikan motornya karena tujuannya membawa fio ketempat itu sudah sampai.


"Dufan?"kaget fio melihat taman hiburan di depannya. Arsen mengangguk sambil membuka helmnya.


Arsen langsung menarik tangan Fio masuk kedalam.


"Tapi ini udah tutup, udah malem"Ucap fio dengan nada sedikit kecewa, Arsen menggeleng dan terus menarik tangan Fio untuk masuk kedalam.


"Nih--"Fio kaget melihat kartu yang di berikan Arsen.


"Gua sengaja beli pagi tadi biar bisa naik, spesial buat lu hari ini--ayoo--petugas udah nungguin kita"Fio mengangguk antusias saat melihat para pegawai disana yang menunggu mereka.


"Mau naik yang mana dulu?"tanya Arsen saat petugas memasang baju pengaman untuk mereka.


"Itu--yg lebih extrem"fio menunjuk itu membuat arsen menelan saliva sendiri.


"Gimana bisa kita bisa masuk? Bukannya ini sudah tutup?"tanya fio saat menunggu petugas memasang sabuk pengaman untuk mereka menaiki wahana itu.


"Rahasia"balas Arsen singkat memegang erat pegangan wahana itu, fio enggak menyadari itu karena terlalu senang.


Arsen masih terpaku sama senyum fio barusan. Yang arsen tau gadis di sampingnya ini susah sekali tersenyum. Tapi saat ini arsen melihat dengan jelas senyum itu.


"Siap?"tanya pegawai itu, arsen melihat fio mengangguk antusias. Arsen semakin mengeratkan pegangannya, namun wajahnya terlihat cool jadi fio masih enggak sadar.


Karena ini merupakan pertama kalinya arsen menaiki wahana. Sudah sejak Sd dan itu beberapa tahun yang lalu. Tapi saat ini arsen menaiki wahana ini lagi.


"AAAAAKKKKKKHHHHH"teriak fio lepas saat wahana itu jalan. Arsen diam menahan rasa mualnya. Perutnya terasa panas ingin mengeluarkan sesuatu di dalam sana.


Namun arsen berusaha menahannya demi membuat gadis di sampingnya ini bahagia. Hanya itu yang membuatnya bahagia.


Fio terlalu menikmati wahana itu hingga enggak sadar kalau seseorang di sampingnya itu menahan rasa mualnya.


"Huuooeeekk----Huuooeeekkkk"Fio berusaha mengusap punggung Arsen yang sedari tadi muntah.


"Maafin gua--gua enggak tau kalau lu bisa kayak gini--maaf"fio sedari tadi hanya mengucapkan kata itu. Arsen menggeleng namun belum bisa membalas ucapan fio karena rasa mualnya.


"Udah--lu---Huoeeekk"Fio panik terus mengusap punggung arsen. Fio teringat sesuatu hingga membuka tas selempang yang di pakainnya dan mengambil sesuatu disana.


Fio menuangkan sedikit dan menggosoknya di tekuk leher arsen. Arsen merasa hangat saat sesuatu menyentuh belakang lehernya.


"Ini minyak kayu putih, semoga bisa redahin mual lu--sorry"Fio mengambil tangan arsen dan menaruh botol kecil berwarna hijau itu di telapak tangan arsen.


Arsen menegakan tubuhnya karena merasa lebih baik.


Beruntung tidak ada orang disini jadi mereka enggak melihatnya muntah sebanyak itu.


"Maafin gua--lu enggak bisa naik wahana yang lai--"


"Enggak apa-apa, gua yang harus minta maaf ke lu"balas fio cepat dengan tatapan kecewa.


"Yaudah makan yuk, gua laper--"Arsen kembali menarik lembut tangan fio keluar dari area dufan.


_♡Caffe♡_


Fio menatap punggung arsen yang berdiri di kasir memesan makanan untuk mereka.


"Kenapa lu ngelakuin ini?"batin fio.


Fio memegang dadanya yang berdetak lebih cepat. Fio menggeleng menghilangkan isi pikirannya saat ini.


"Lu kenapa? Pusing?"Fio kaget dan mendongak menatap arsen dan langsung menggeleng.


Fio kaget tiba-tiba arsen sudah ada di dekatnya.


Arsen masih menatap lekat wajah fio yang Datar. Arsen duduk dan mengingat sesuatu.


"Ini punya lu--thanks"Arsen memberikan minyak kayu putih itu.


Fio mengangguk menerimanya dan masih menatap arsen, arsen menerima tatapan itu hanya bingung dan ingin menanyakan sesuatu ke fio.


"Salah--semuanya salah hari ini--kenapa dia baik sama gua hari ini--ada niat apa dia? Seharusnya gua enggak disini sama dia"batin fio.


Ingin sekali fio menanyakan itu, namun gengsinya terlalu tinggi, fio juga ingin berterima kasih untuk hari ini.


"Lu kenapa?"tanya arsen saat melihat fio melamun.


Fio kembali menggeleng. Arsen menatap lekat wajah fio yang kembali melamun.


"Gua--kenapa lu ngelakuin ini?"tanya fio akhirnya. Arsen tersenyum tipis, sangat tipis hingga fio enggak melihat itu.


"Gua bakalan buat lu suka sama gua"balas Arsen santai bersandar di punggung sofa.


"Kenapa? Bukannya sama aja--lu buat gua suka sama lu--dan setelah itu lu bakalan selesai--lu mau gua ngakuin itu?"Arsen diam dan mencondong tubuhnya mendekati fio.


"Gua enggak tau kelanjutannya--setelah suka--gua bakalan buat lu benaran sayang sama gua--dan setelah itu Cinta mati sama gua"bisik Arsen berwajah datar membuat Fio tersenyum.


"Setelah itu?"tanya fio balik menantang Arsen. Arsen menatap wajah fio tanpa kedip. Arsen merasa fio berbeda sekarang.


"Setelah itu--gua bakalan buat lu jadi milik gua--karena gua udah terlanjur sayang sama lu--lu yang manggil gua buat lindungi lu---gua hanya butuh pengakuan dari lu--suka, sayang dan cinta sama gua"lanjut batin Arsen.


"Gua enggak tau"balas arsen santau dan menjauhkan tubuhnya bersandar di punggung sofa kembali. Rasa egonya lebih tinggi mengakui sesuatu yang mrngganjal dalam hatinya.


Fio mengangguk mendengar jawaban itu.


"Kenapa? Lu udah mulai suka sama gua?"tanya Arsen lagi, arsen ingin mengumpat bibirnya saat ini, kenapa dirinya ingin terus mengganggu gadis di depannya ini.


"Permisi"pelayan itu menaruh perasanan mereka dimeja.


Arsen menegakan tubuhnya, tatapannya masih menatap wajah fio saat ini. Fio tau akan tatapan arsen, fio berusaha menutupi rasa gugupnya.


"Makasih buat hari ini"Arsen hanya mrngangguk dan sesuatu yang membuatnya penasaran. Dan arsen baru menyadarinya saat lengah kaos fio terangjat dan melihat memar di pergelangan tangan fio.


"Lu kenapa?"tanya arsen melirik tangan fio yang memar, fio belum menyadari itu kembali menggeleng.


Kenapa arsen terus menanyakan pertanyaan yang sama, fio hanya enggak mau terisak disini.


"Lu mau ngapa--"panik fio saat melihat arsen duduk di sampingnya. Fio duduk di pojok dan arsen berada di sampingnya.


"Siapa yang ngelakuin ini?"Arsen menarik tangan fio lembut, ada perasaan sesak saat melihat memar di pergelangan tangan fio yang cukup parah, bukan hanya sedikit, memar itu cukup panjang hingga ke siku gadis itu.


Fio kaget menarik kembali tangannya, fio berusahan menarik lengah kaosnya menutupi memar itu.


Arsen menatap datar kearah fio dan menarik kembali tangan fio.


"Diam atau gua bakalan gendong lu disini"ancam arsen membuat fio mengurungkan niat menarik tangannya.


"Siapa?"tanya ulang arsen ingin mengetahui akibat memar di tangan fio itu.


"Gua jatuh dari motor"balas fio tanpa menatap arsen.


Fio juga bingung kenapa harus menjawab pertanyaan arsen.


Arsen juga mengumpat karena bingung sama kelakuannya saat ini, kenapa dirinya pengen tau semua tentang gadis di depannya saat ini.


Arsen memanggil pelayan.


"Ada yang bisa saya ban--"


"Boleh saya minta P3k?"potong arsen langsung.


"Gua enggak apa-apa"balas fio cepat, Arsen mengabaikan ucapan fio dan kembali menatap pelayan itu. Menyuruh pelayan itu mengambilnya.


"Gua bukan orang bodoh yang mampu lu bodohi"balas arsen masih memegang tangan fio. Arsen melipat lengah kaos fio menatap memar itu.


"Siapa yang ngelakuin ini?"tanya ulang Arsen.


"Lu di bully?"kaget fio membuat arsen menyimpulkan sebuah kebenaran.


"Enggak"sahut fio cepat masih menghindari tatapan arsen.


"Diam"Sahut suara tegas Arsen membuat fio diam. Fio menatap tangannya yang di genggam erat.


Arsen masih belum sadar saat menggenggam tangan fio. Perasaan ingin marah saat tau gadis itu di bully disekolah.


Rasanya Arsen pengen meneriaki orang yang telah melukai gadis di depannya ini.


Sedangkan fio berusaha mengontrol detak jantungnya yang hampir keluar dari organ tubuhnya.


"Ini p3knya"arsen langsung mengambil itu dan langsung membukanya. Dengan kesempatan arsen melepaskan tangannya fio ingin menarik tangannya, namun telat, Arsen kembali menarik tangannya.


"Lu makan dul--"


"Enggak sebelum luka lu diobati"sahut arsen cepat membuat Fio kembali diam dan melihat arsen yang serius mengoles salep di tangannya. Sekali-kali Arsen meniup memar itu.


Sedangkan makanan yang mereka pesan tadi masih utuh di atas meja.


"Vina--dia ngebully lu?"fio kembali di buat kaget, kenapa arsen bisa tau.


"Enggak--gua kesandung jadi tangan gua kena meja"fio semakin panik saat arsen enggak mempercayainya.


Dari sini arsen kembali menyimpulkan kalau dugaan semunyaa benar.


"Kalau sampe lu ngadu ke Arsen! Lu bakalan nerima lebih dari ini *****"


Fio masih jelas mengingat kalimat itu.


Arsen sengaja melambat mengobati memar itu, arsen hanya ingin terus bersama gadis di sampingnya ini.


"Ud--"


"Arsen lu disini juga"Fio sama arsen langsung mendongak menatap orang itu, Vina-wakil ketos di dekolahnya.


Fio langsung menarik tangannya dari genggaman arsen. Arsen menyadari itu dan menatap Datar kearah Vina yang enggak sopan sudah duduk di depan mereka.


"Laporan organisasi gua udah selesai ngerjain"basa-basi Vina sambil melirik Fii yang berada di samping Arsen.


"Sialan--nih cewek enggak kapok-kapok juga"batin Vina.


Arsen mencondong tubuhnya dan tersenyum sinis.


"Kebutulan lu ada disini--gua mau ngomong sama lu"kedua mata Vina berbinar saat mendnegar itu.


"Tunggu gua di parkiran motor tadi"bisik arsen membuat Vina mendegus sebal melihat itu.


"Tapi makan--"


"Kita makan ditempat lain nanti"sahut Arsen cepat, jantung fio semakin berdetak saat mendengar kata 'kita' itu.


Sedangkan Vina semakin kesal.


Fio mengangguk dan melangkah keluar saat arsen memberinya jalan keluar dari situ.


Vina masih menatap sinis punggung fio semakin menjauh. Arsen menyadari itu dan kembali tersenyum sinis menatap Vina di depannya.


"Berhenti gangguin dia"Suara peringatan Arsen membuat Vina memasang tampang sok polosnya.


"Gangguin siapa? Lu udah pesan makan, gua pesanin ya"basa-basi Vina mmebuat Arsen semakin muak.


"Lu berhenti atau gua yang bakalan keluarin lu jadi ketua karate putri dan jabatan wakil ketos lu terancam"Vina langsung diam dan berusaha menyimpan emosinya.


"Sial"umpat Vina dalam hati.


"Maksud lu apaan sih Arsen? gua enggak paham sama apa yang lu bicarain?"Vina masih berusaha untuk tidak mengakui nya.


Arsen terkekeh dan mencondong tubuhnya mendekati Vina.


"Cewek barusan, kalau lu lupa--berhenti gangguin dia--lu akan berhadapan sama gua kalau lu masih gangguin dia"Arsen tersenyum sinis saat melihat tatapan kaget Vina.


"Sial--Tu cewek berani ngadu ke arsen"batin Vina.


"Ingat itu--gua enggak main-main sama ucapan gua"Arsen bernajak dari duduknya.


"Apa hebatnya dia? Lu baru kenal sama dia, lu sama gua udah kenal lama arsen--kenapa lu langsung percaya gitu aja sama tu cewek, lu enggak percaya sama gua?"arsen berbalik menatap Vina. Senyum sinis itu kembali terukir di bibir Arsen.


"Lu siapa? Hanya wakil ketos di sekolah dan buat apa gua percaya sama lu"Setelah mengucapkan itu. Arsen menyambar jaketnya yang di sofa langsung pergi .


"Sialan--lihat besok *****"gumam Vina terlihat sangat kesal.


Vina beranjak dari duduknya melangkah mendekati teman-temannya disana.


Sedangkan diluar Fio dengan jelas melihat punggung arsen yang mendekati Vina.


Fio langsung menatap kearah lain saat melihat wajah Arsen semakin mendekati Vina.


"Gua kenapa? Ternyata dia ngelakuin ke semua cewek"Gumam Fio.


Fio langsung melangkah menjauh dari Caffe itu, fio enggak peduli lagi dengan ucapan arsen tadi yang menyuruhnya mengunggu.


Fio terus melangkah mengikuti jalan itu. Fio sekali-kali menatap kearah langit yang sudah gelap, Fio kembali menunduk menatap jam tangannya.


"Udah pukul sembilan ternyata"gumam fio saat melihat itu.


Fio menghentikan langkahnya kembali mendongak menatap langit yang hanya bintang-bintang yang menerangi awan gelap itu.


"Ayah---Ai kangen yah--selamat ulang tahun "Batin Fio masih menatap awan gelap itu.


"Shit! Kemana dia"umpat arsen saat enggak mendapayi Fio di parkiran motornya.


Arsen menatap sekeliling mencari keberadaan gadis itu.


….


"Arsen dari mana kamu?"Suara bass itu mengagetkan arsen yang baru saja ingin menaiki anak tangga.


Arsen berbalik dan menatap ayahnya di sana, baru dari dapur, mungkin mengambil air minum.


"Ngantarin Teman dad"balas Arsen mendekati ayahnya dan memberikan salam mencium punggung tangan ayahnya.


"Sampai malem gini? Pulang sekolah bukannya kerumah malah keluyuran--seragam juga belum kamu ganti"omel Ayahnya. Arsen mengangguk menatao dirinya yang masih menggunakan celana sekolah.


"Maaf"hanya itu yang keluar dari bibir arsen.


"Kamu sudah pulang arsen! Udah makan?"Arsen mendongak menatap ibunya yang baru menuruni anak tangga.


"Sudah Mom"balas Arsen singkat dan sedikit melas. Tiara tau kalau putranya ini ada sedikit masalah.


"masuk ke kamar dan istrahat"arsen mengangguk dan melangkah menaiki anak tangga.


"Dia sudah besar, jangan terlalu mengekangnya Alex"suara peringatan Tiara membuat alex tersenyum.


"Sekarang aku cemburu"balas Alex melangkah menaiki anak tangga menyusul istrinya.


Ya alex selalu seperti ini saat istrinya memberikan perhatian lebih ke putranya. Apalagi alex melihat istrinya dekat dengan kerabat alex sendiri, saat pulang alex akan mengamuk dirumah, dengan alasan cemburuannya.


Tiara yang mendengar itu hanya menggeleng, Suaminya yang selalu dan ingin terus menggodanya.


beberapa menit Tiara pamitan untuk ke kemar putranya. Alex hanya mengangguk dan kembali serius menatap leptopnya.


"Aku melihatnya sebentar"Tiara melangkah mendekati kamar putranya.


"Arsen--Boleh Mommy masuk?"Tiara mengetuk pintu kamar putranya.


Tiara tersenyum saat suara kunci kamar putranya bunyi.


Tiara mengintip dimana disana putranya baru saja menggunakan kaos.


Tiara tersenyum dan mendekati putranya yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Kemana aja seharian?"tanya Tiara lembut, Arsen menatap Ibunya dengan tatapan datar dan menggeleng.


"Nemanin teman"balas Arsen singkat dan kembali fokus dengan ponselnya.


"Apa ini alasan km pulang malem terus? siapa Gadis itu? bawa kerumah, atau kenalin ke mommy"tanya Ara yag mulai penasaran apa yang membuat putranya yang berapa hari ini terus saja pulang malem.


Arsen mendengar itu hanya menghembus nafas lanjangnya. Arsen tau ibunya bakalan tau hal ini.


"Siapa Gadis itu hingga buat putra mom seperti stalker?"Arsen langsung menatap ibunya dengan tatapan Kaget, Tiara langsung tersenyum.


"Daddy kamu yang ngasih tau, Apa dia fio? Gadis yang mengisi acara kalian waktu itu? Apa kamu udah kasih upahnya?"Arsen meletakan ponselnya, dirinya harus meminta saran dari ibunya untuk mendapatkan hati gadis itu.


Arsen mengangguk mengiyakan semua ucapan ibunya.


"Aku belum ngasih amplop itu mom"balas arsen memang sangat lupa memberikan itu.


"Alasannya apa?"tanya Tiara lagi, karena dirinya sagat penasaran apa yang dilakukan putranya.


"Aku mengikutinya saat pulang sekolah, dia kerja di Cafe hingga larut mom, dia juga kerja di beberapa Cafe sebagai pelayan Part time dan dengan bodohnya saat pulang dia jalan tanpa merhatikan sisi kiri dan kanan nya, dan itu bahaya untuk gadis seperti dia"jelas arsen membuat Tiara tersenyum lebar.


"Jadi km menghawatirkan Gadis itu?"Tanya Tiara langsung, karena jujur dirinya sangat penasaran sama yang di lakukan putranya untuk gadis itu.


Arsen mengangguk langusng tanpa berpikir.


Kalau ada masalah arsen selalu curhat sama ibunya, walaupun wajahnya selalu terlihat datar. tapi justru ibunya sangat bangga memiliki putra sepertinya.


"Bawa kerumah, Mom ingin mengrnalnya lebih dekat"balas Tiara langsung memberikan restunya.


"Dia enggak akan mau Mom, arsen dekatin aja susah"balas Arsen lesuh. Tiara langsung terkekeh.


"Kalau begitu km lebih usaha lagi buat dia nyaman sama kamu, minta maaf ke dia dengan kelakuan yang menurut kamu salah"jelas Tiara kembali mrmbuat arsen diam.


"Gimana caranya mom? aku udah berusaha dekat dan minta maaf, dia malah nyuruh arsen buat menjauh dari dia. apa nasib arsen selalu bawa sial di...."tanya arsen. Tiara langsung memukul lengah putranya yang mulai ngeludur.


"Huuusss, ko ngomong gitu sih, mommy gk suka ah. km sih baca buku pelajaran mulu, coba km browsing gimana caranya dekatin cewek"usul mominya namun batinnya tersenyum geli.


Ini udah malem jadi Arlen tidak bersama mereka, karena arlen sudah tidur. Kalau enggak Arlen mungkin sudah sejak awal menertawakan kakaknya disini.


Awalnya arsen ingin belajar tapi momi masuk ke kamarnya arsen gk jadi belajar dan lebih milih curhat, karena sejak dari kemarin bingung dengan hatinya dan bingung akan berhadapan sama cewek, karena baru kali ini Arsen tertarik akan mendekati cewek.


"Apa km mau mommy kenalin sama pakar cinta hmm?" tanya mominya terkekeh menatap putranya yang payah dalam hal asmara.


"Siapa mom?"tanya arsen cepat mmebuat Ara terkekeh.


"Tentu saja Daddy kamu boy"balas Ara membuat Arsen langsung menggeleng.


"Enggak mom.  terimakasih untuk itu" arsen tersenyum membuat Tiara mengangguk dan terkekeh.


jelas aja putranya menolak, jika dadynya tau bukan lagi mengajarkan trik mendapatkan pacar, tapi arsen akan mendapatkan ejekan dari Daddynya nanti.


"Ya sudah km tidur gih, besok km sekolah kan, Good night Biy"ucap Tiara mencium kening putranya sebelum keluar dari kamar putranya.


Arsen memikirkan saran mominya beranjak dari kasurnya menuju ke meja belajarnya.


Arsen menyalakan komputernya, dan mencari kata kunci yang Ingin Arsen ketahui


Tips dekatin cewek Galak.


Sabar


"Gua rasa gua orang yang paling sabar"mikir arsen.


Tetap tersenyum di depan dia


"Nah ini bukan gua banget, masa tersenyum apa lagi pas-pasan gini langsung senyum gitu, ah ini bukan gua banget"gumamnya..


Dan masa dikit-dikit senyum.


Perhatian


Perhatian gua kurang apa coba kan gua ikutin dia tiap hari, itukan perhatian juga..


"Tapi tanpa pengetahuannya kan"bisikan setan.


Benar juga sih, tapi... Ah pusing gua.


Buat si wanita galak itu penasaran


Gua akan usahain buat dia oenasaran sama gua..


Harus berani nekad tapi romantis


Gua rasa gua udah nekat buktinya gua nyium dia, tapi romantis, gimana caranya.. Ck susah banget.


Cewek emang ribet ya?


Diginiin salah, digituin salah hmmm😠


Pikir arsen yang mengacak rambutnya frustasi.


Tetap ramah atau humorin cewek galak bakalan suka sama cowok yang banyak candanya.


Gua rasa gua udah berusaha ramah sama dia, tapi selalu saja gua di galakin ck


Ck ribet, gua make dengan cara gua sendiri.


Lihat saja besok gua akan lakuin babak pertama.


Arsen terus bertanya sama dirinya.


"Ah gua berasa kayak orang ****"gumamnya terkekeh geli dan beranjak dari tempat duduknya.


Arsen mendekati tempat tidur nya dan berbaring, dirinya hars tidur sekarang, karena besok dirinya harus ke sekolah. Arsen berusaha memejamkan kedua matanya.


Arsen masih bertanya-tanya kemana Gadis itu, bahkan Gadis itu belum makan malem.


.....


☆☆


Part 11 Finaly🎉🎉🎉


Dikarenakan panjang episodenya jadi di episode ini aku bagi dua aja ya😁😁🙏


Semoga kalian suka😣


Maaf baru update, semalem ketiduran😂😂


Vote + Coment ya...


See You.....