You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
S2 Twins Episode - 14 (sdh revisi)



#Revisi


Sabtu, 20 Juni 2020


Pukul 20:08 WIB


#Masih ada musibah Covid jadi susah banget balik kemalang😑😑. Ngeupload aja susah banget ngejar wifi di sekolah SMP di kampung, jadi harus kesekolah dulu baru bisa Ngeupload🤦‍♀️😛Tapi Author suka tantangannnya kayak gitu😛😜.


Happy Reading...


Author POV


"Benaran Mereka enggak nyariin kamu?"David berulang kali mananyakan itu ke arlen yang sibuk menikmati Jus yang baru saja datang.


"Enggak ko--aku udah bilang ke Mom kalau aku baliknya agak sorean, kan nyari referensi buat tugas minggu depan"Balas Arlen santai. Arlen menyipit matanya manatap david.


"Kamu mau pulang sekarang? Enggak apa-apa pulang aja duluan, Aku masih mau duduk disini"Lanjut arlen saat menyadari kegelisahan david.


David kaget dan langsung menggeleng.


"Aku cuman takut keluarga kamu nyariin, yaudah lanjut makan aja dulu"David tersenyum menatap arlen.


Drrgggh


Drrgghh


From ♡


"Jemput aku Rel, Aku di kelas Les, sebentar lagi aku selesai"


David mendegus panjang saat membaca isi pesan itu. Cilla memintanya jemput.


"Ada apa?"tanya Arlen menatap david yang sedari tadi main sama ponselnya.


"Sepupu aku minta di jemput bentar lagi--tapi aku udah bilang kalau aku eng--"


"Jemput dia, Aku enggak apa disini sendiri"Sahut arlen cepat. David menggeleng, tangan kanan david terangkat dan mengusap lembut rambut panjang arlen.


"Aku enggak bisa ninggalin kamu sendirian, setelah aku antarin kamu sampai dirumah"balas David, arlen tersenyum sangat manis.


David diam saat melihat senyum tulus itu.


"Aku sayang sama kamu Arlen, jangan tunggalin aku apapun yang terjadi"David kaget sendiri dengan ucapan yang baru saja di lontarkan.


Arlen tersenyum kembali dan mengangguk.


"Jawabannya masih sama--aku juga sayang sama kamu Dav--maafin keluarga aku yang masih melarang--aku mau kita seperti hingga waktu yang pas aku akan ngomong pelan-pelan ke mereka--aku berharap kamu bisa nunggu"David tersenyum dan mengangguk.


"Tentu--sampai kapanpun aku enggak akan ninggalin kamu dan enggak mau putus sama kamu--kamu harus janji sama aku arlen--jangan tunggalin aku apapun yang terjadi"arlen menatap lekat wajah David mencari keseriusan disana. Di kedua mata david.


"Aku janji Dav"Balas arlen tersenyum.


"Yaudah habis kan dulu makannya, maaf hari ini enggak bisa lama nemanin kamu, aku harus jemput sepupu aku dulu di tempat lesnya"Arlen mengangguk mengiyakan itu.


"Enggak apa-apa, yaudah yuk"Arlen beranjak dari duduknya, mengambil tasnya.


David juga ikut beranjak dan menarik tangan arlen dan menggenggamnya.


Davin memberikan helm itu ke arlen, Arlen menerimanya dan memakainya.


Tadi pulang sekolah memang arlen bareng sama rere, tapi David mengirimnya pesan untuk ketemu bentar sekalian makan siang, Jadi mereka ketemu di Cafe ini.


Arlen meletakan kedua tangannya di bahu David sebelum davin menjalankan motornya.


David enggak masalah arlen memegang kedua bahunya. Yang penting arlen berpegangan.


David langsung melaju motornya meninggalkan kediaman Cafe itu.


David merasakan ponsel di saku celananya terus bergetar, Namun david enggak bisa apa-apa karena masih ada arlen di dekatnya.


Beberapa menit akhirnya motor david berhenti. David enggak menurunkan Arlen sampai di halaman rumah, beberapa rumah sebelum rumahnya arlen agar enggak ketahuan sama keluarganya. Itu permintaan arlen.


"Thanks"ucap arlen tulus sambil menepuk bahu david. David ikut membalas senyum Arlen dan menerima helm itu.


"Jalan gih, Aku tunggu sampe kamu masuk"Balas David, Arlen mengangguk dan melangkah menuju rumahnya.


David masih menunggu hingga Tubuh arlen menghilang saat masuk kedalam halaman rumahnya. David mengatur ekspresinya karena baru menyadari kalau bibirnya sedari tadi senyum menatap kepergian arlen.


Ddrrrgg


Drrggh


Ponsel david kembali bergetar mengagetkan dirinya. David langsung mengambil ponselnya.


"Aku Otw Cilla, Tunggu bentar"Ucap David langsung memutuskan sambungan itu.


David mengambil sesuatu dari balik Kemeja seragamnya.


David membuka kalung yang di pakai, dengan kepala sebuah cincin.


David membuka kaitan kalung itu dan mengambil cincin itu. Cincin dengan ukiran nama (D&S) di balik cincin itu.


David mrmgambil dan memasangnya di jari manisnya. Sedangkan kalung itu david memasukannya kedalam saku seragamnya.


"Maafin aku Cilla"Gumam David menatap cincin di jari manisnya. Hembusan nafas panjang terdengar berulang kali sebelum mengendarai motornya.


David menambah kecepatan motornya karena dari sini butuh waktu sedikit panjang menuju tempat Privat Ashilla.


°♡♡°


"Lu bisa serius belajar gk sih"ucap Fio kesel menatap Arsen yang hanya duduk.


"Ini serius"balas Arsen santai masih menatap lekat wajah fio hingga membuat fio gugup sendiri.


"Serius apaan! lu enggak belajar tapi lihatin gua"sahut fio kesel meletakan pulpennya diatas meja.


"Gua kan belajar meneliti lu, biar gua gk salah milih"ucap arsen senyum tipisnya masih menatap wajah Fio.


Fio mendengar itu mengerutkan keningnya. Dan menatao kesal kearah Arsen.


"Udah gua balik"fio mau beranjak dari tempatnya namun arsen lebih dulu mencekal tangannya.


"Bisa enggak kita ubah awal pertemuan kita, biar enggak kayak gini"ucap Arsen tanpa melihat fio tapi melihat tangannya masih menggenggam pergelangan tangan fio.


"Apaan sih lu, lu dari tadi ngomong ngeluntur mulu--enggak serius belajar"balas fio yg masih belum paham arah pembicaraan Arsen.


"Gua mau temanan sama lu--dan lu suka sama gua"ucap Arsen dan menarik tangan Fio, membuat fio duduk kembali.


"Lu jangan kayak gini, kedekatan lu buat gua tersiksa di sekolah--lu juga tau keadaan gua kemarin di bully--itu karena lu"gumam fio masih membuat arsen mendengarnya.


"Lu yg buat gua kayak gini--lu yang manggil gua buat tetap di samping lu--lu yang ngerubah gua"balas Arsen menatap lekat wajah fio didepannya.


Fio berusaha tidak membalas tatapan Arsen, mata Fio melirik isi Ruangan ini. ruangan yang penuh dengan buku seperti perpustakaan.


"Gua gk ngerubah lu ataupun manggil lu--itu cuman perasaan lu--jadi jangan dekatin gua kalau niat lu masih sama--buat gua suka sama lu dan lu bakalan menang--itu kan mau lu"balas Fio, Arsen dapat melihat tataoan kecewa itu.


"Karena lu selalu nolak apa yang gua kasih--gua mau lu akui kalau lu suka sama gua kayak cewek-cewek lain---akuin aja"balas Arsen sangat kepedean membuat fio jengah dan melepaskan tangan arsen yang measih menggrnggam tangannya, Namun arsen semakin mengeratkan genggamannya.


"Gua enggak suka sama lu, gua udah punya kekasih, jadi berhenti gangguin gua"Fio menarik paksa tangannya, Arsen langsung melepaskan nya, takut menyakiti kulit gadis di depannya ini.


"Kalau gitu biarin gua dan jangan halangin gua buat lu suka sama gua--dia masih pacar bukan suami lu kan"balas arsen serius membuat fio melotot enggak percaya.


"Tetap aja hati gua cuman buat dia"Araen semakin geram mendengar itu.


Arsen menarik kasar tangan Fio hingga fio mendekatinya.


"Enggak ada yang bisa ngerebut itu dari gua--lu cuman suka sama gua"Bisik arsen penuh penekanann membuat fio kembali menarik tangannya.


Menatap fio tanpa kedip, fio menyadari tatapan Arsen tiba-tiba merasa gugup.


"Lu punya segalanya, jadi lu bisa Dekatin cewek yg pantas buat lu"ucap Fio yg berusaha menatap Arsen, membalas tatapan arsen. Namun fio menunduk kembali karena tatapan tajam itu membuatnya gugup.


Arsen masih belum bersuara namun tatapannya kali ini begitu dingin saat mendengar kata dari fio.


"Tapi gua maunya lu gimana? Putusin pacar lu dan datang ke gua--akui ke gua kalau lu cinta mati sama gua"suara dingin yang kini fio dengar.


"Perasaan enggak bisa di paksain Arsen---gua enggak bisa--lu hanya butuh pengakuan kan--"Arsen semakin geram, dirinya enggak terima mendengar jawaban itu.


"Arsen--"Panggil fio lembut membuat Jantung arsen berdetak lebih cepat, tanpa sadar arsen melepaskan genggamannya. Arsen menatap lekat wajah Fio.


Disana fio juga membalas tatapannya. Jantung arsen kembali berdetak takaruan di dalam tubuhnya.


"Gua suka sama lu--gua sayang sama lu--Gua cinta sama lu"suara lembut Fio membuat Arsen diam dan masih menatap lekat wajah Fio.


"Lu enggak Tulus Ailen, Jangan bohongi gua--gua enggak sebodoh yang lu pikirin--otak licik lu mudah gua tebak"Fio kaget dan menjauh dari arsen. Arsen tersenyum dan beranjak dari duduknya, arsen memilih duduk di atas sofa.


"Sial--gua kirain dia bakalan percaya"batin fio. Fio sengaja ngelakuin itu agar arsen menjauhinya.


"Sayangnya usaha lu gagal"Arsen masih tersenyum menatap fio yang terlihat kesal.


"Udalah gua mau balik"fio beranjak dari duduknya mengambil tasnya keluar dari ruangan belajar Arsen.


Namun Arsen enggak membiarikan itu terjadi, dengan cepat sebelum fio membuka pintu kamar itu Arsen lebih dulu menutupnya kembali. menatap dingin ke arah fio.


"Gua gak suka lu selalu menghindar saat gua lagi ngomong"balas dingin Arsen menarik tangan fio pelan hingga fio berhdapan dengannya.


Fio dengan was-was menatap Arsen.


Arsen menarik tas yang ada di genggaman fio dan meleparnya kesofa.


Bola mata fio sekarang mungkin hampir keluar, karena kaget akan tindakan Ketosnya.


"Gua juga enggak tau apa yg gua rasain ke lu, tapi gua paling benci kalau lu selalu nolak gua saat gua berusaha ngobrol sama lu"Arsen dengan nafas yang terburu karena menahan emosinya yg hampir meledak.


Hal ini yang paling dia takutkan saat suara itu terdengar sangat datar.


"Mulai detik ini lu pacar gua--gua enggak suka penolakan"Arsen mengucapkan ini penuh dengan penekanan setiap katanya.


Fio yg sedari tadi diam kini mendongak menatap Arsen dengan mata melotot tak percaya.


Arsen langsung menjauh dari fio dan kembali duduk di sofa.


"Lu jangan seenaknya sendiri"teriak fio, Arsen menatap dingin dan datar kearah fio.


"Gua kasih lu pilihan, pertama lu jadi pacar gua--kedua lu biarin gua dekatin lu tanpa ada kata menghindari gua---ketiga putusin pacar lu"balas Arsen santai membuka buku dan pura-pura membaca buku itu.


Fio menggeleng, karena pilihan itu hanya kruntungan arsen bukan dirinya.


"Gua enggak milih semua"balas fio cepat, Arsen menutup bukunya dan menatap fio yang masih berdiri di belakang pintu.


"Pilihan lu cuman tiga itu, dan pilih salah satunnya"Arsen beranjak dari duduknya mendekati fio kembali.


Fio berbalik ingin membuka pintu itu namun terkunci, fio berbalik menatap arsen yang tersenyum sambil mengangkat kunci di tangannya.


Arsen melangkah mendekati fio, fio terus menghindari Arsen. Arsen hanya tersenyum melihat Fio.


"Gimana kalau jadi istri gua? Sekarang gua bisa ngelakuin sesuatu yang bakalan buat lu jadi milik gua Ailen--jadi pilihlah"Arsen mengejar dan menarik tangan fio dan menatap fio dengan wajah sinisnya.


"Lepasin gua--"Fio berusaha melwpaskan tangan arsen yang erat menggenggap tangannya.


"Awh"Keluh fio saat dirinya terlempar diatas kasur.


"Jangan macam-macam Arsen--gua bakalan laporin lu ke pol--"


"Silahkan--dengan catatan sipil buku nikah kita?"arsen naik ke ranjang dan langsung manarik kaki Fio agar enggak turun.


"Arsen please! ini salah--lepasin gua sialan"Arsen semakin senyum dan menindih tubuh fio. Fio semakin takut karena kekuatan arsen lebih besar darinya.


"Pilih atau gua baka---"


"Gua enggak bakalan hindari lu--Puas lu"Teriak fio sambil memejamkan matanya saat wajah arsen semakin dekat.


Arsen tersenyum puas.


Cup


"Okey lu sekarang PACAR gua"setelah mengecup pipi fio arsen langsung beranjak menjauh tubuhnya dari fio dan mengambil sesuatu di atas mejanya.


Fio masih menatap tak percaya ke arah Arsen. Fio kini membuka matanya dan menatao arsen penuh amarah.


Fio bangun dan duduk menatap arsen yang hanya santai.


"Sialan lu--gua bukan milih itu"Fio turun dari ranjang, mengambil tasnya di sofa.


"Lu barusan milih, apa gua salah dengar?"Arsen menatap datar kearah fio, membuat nyali fio sedikit mencuit.


"Lu memang sa---enggak"Sahut fik cepat saat melihat langkah arsen semakin mendekat.


"Good Girl Sugar"Arsen mengacak lembut rambut fio dan melangkah kearah pintu, membuka kunci kamarnya.


"Ayoo Sugar"arsen menarik lembut tangan fio dan keluar dari kamarnya.


Arsen membuat fio makin tak percaya.


"Gua bisa sendiri"fio menarik tangannya, Arsen berbalik dan menatap datar kearah fio,membuat Fio dengan polosnya mengulurkan tangannya.


Arsen hampir saja tertaw amelihat tingkah penurut fio.


Tanpa berpikir Arsen langsung menggenggan tangan fio.


"Ingat, lu pacar gua--jadi putusin mantan lu itu"Fio menatap arsen dari samping karena saat ini menuruni anak tangga.


"Yang namanya mantan ya pasti udah putus"Gumam Fio membuat arsen terkekeh, arsen hanya memancing kesadaran fio saat ini.


Tadi arsen hanya iseng mengerjain fio agar fio enggak menjauh darinya, menghindarinya lagi. Apalagi penolakan secara terang-terangan.


"Mom"panggil Arsen.


"Ada apa son"yg jawab bukan mominya tapi suara cowok siapa lagi kalau bukan Dadynya yg dusuk di ruang TV bersama mominya.


Arsen masih memegang pergelangan tangan fio berjalan ke arah Dady dan momnya.


"Arlen belum pulang?"tanya Arsen


Melihat jam tangannya sekarang udah pukul 16:03 sore.


"Belum"balas santai mominya yg tersenyum penuh arti menatap fio di samping anaknya.


"Siapa itu"tanya Dadynya namun dengan nada menggoda


"Hai Om"sapa fio melangkah mendekati Alex 


"Ah dady ingat km fio yg waktu itu mengisi acara ulta Arsen kan"tanya Alex mastiin, Arsen langsung teringat sesuatu. Amplop buat fio belum ia kasihkan.


Fio mengangguk dan tersenyum kaku.


Fio takut menatap Alex, tampang alex sama persis dengan Arsen, tatapan tajam dan rahang tegas itu.


"Dan Pacar arsen"lanjut arsen menatap ayahnya penuh rasa percaya diri.


"Arsen mau keluar, Assalamualaikum"pamit arsen dengan santai dan menarik kembali tangan fio melangkah menjauh dari mereka.


Fio menatap horor kembali ke arah arsen, dia kan belum pamitan kenapa main narik gitu aja sih.


"Ah aku rasa anak kita uda besar"ucap Tiara menatap punggung arsen.


"Ya aku rasa juga begitu"balas Alex merangkul istrinya yang duduk di sofa.


"Kalau gitu buat baby kecil yuuk"lanjut goda Alex langsung duduk di samping Istrinya.


"Mimpi sana, ingat tu umur"balas Tiara langsung kabur menaiki anak tangga.


Alex tertawa senang, karena menggoda istrinya merupakan kegiatan yang menyenangkan.


♥♥♥


"Besok gua jemput"ucap arsen yang kini mobilnya terparkir di depan rumah Fio.


Namun mereka berdua berdiri di samping mobil Arsen.


"Gk usah--gua bisa naik bus"balas fio cepat.


"Gk ada penolakan, Lu pacar gua"ucap Arsen penuh penekanan disetiap katanya.


Fio mengangguk dengan melas.


"Yaudah gua balik"pamit arsen yang menatap fio hanya memgangguk dalam diam.


Cup


Mengecup kening Fio.


Fio kaget menerima serangan tiba-tiba Arsen.


Tubuh fio mendadak kaku.


"Good night sweety"ucap Arsen langsung masuk ke dalam mobilnya dengan senyum manis meliaht fio yang masih di tempatnya.


"Lu harus terbiasa hal kecil itu"teriak Arsen langsung meninggalkan kediaman rumah fio.


Teriakan Arsen membuat Fio sadar.


"Cowok sialan, Jantung Gua"gumam fio kesel merasakan detak jantungnya, fio langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya.


☆☆☆


Part 14 Finaly🎉🎉🎉


Semoga kalian Suka😊😊


Vote + Komentar ya..😍


See You...