You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
Episode - 13 (sudah revisi)



Sabtu, 20 Juni 2020


°♡♡°


Author POV


Dua hari sebelumnya..


"****! Kemana dia"Umpat seorang Cowok yang masih menggunakan seragam sekolahnya, helm mahal yang berada di tangan kanannya.


Cowok itu sudah dua hari ini berada di depan rumah seseorang yang enggak ada penghuninya. Jika dihitung sudah empat kali cowok itu datang kerumah ini, setiap pagi dan sore demi mencari seseorang.


"Cari siapa nak?"tanya seseorang membuat cowok itu mengurungkan niatnya saat mau memakai helmnya.


"Hmm pemilik rumah ini kemana Nek?"tanya Cowok itu sopan.


"Oh bunda Vita sama Neng Fio! Dua hari kemarin katanya mau kerumah mana gitu, cuman 4 hari disana"cowok itu hanya mengangguk dan berterimakasih.


"Siapa? Bukan ibunya fio anak tunggal?"gumam cowok itu langsung memakai helmnya.


Niatnya datang menjemput fio dan menanyakan kenapa dia kabur dari rumah sakit tanpa pamit.


Ya arsen, cowok itu arsen yang frustasi mencari keberadaan fio. Sejak di rumah sakit itu, fio kabur dan sampai saat ini fio enggak ada kabar.


Arsen kembali melajukan motornya ke sekolah, karena jam sekolahnya sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu.


Hanya beberapa menit akhirnya Arsen sampai di sekolahnya.


Arsen membuka helmnya dan matanya menyipit saat melihat sosok seseorang yang ia kenal.


Dengan langkah lebar Arsen mendekati mereka.


"Jauhi Adik gua bre**sek"Arsen kangsung menarik tangan Arlen menjauh dari cowok itu.


"Kakak apaan sih, aku cuman nerangin presentasi kelompok kita nanti di kelas"Arlen melepaskan tangan Kakaknya. Arsen langsung menatao datar kearah David yang masih duduk di motor.


"Lu berani bohongi gua? Lu enggak bisa bohong arlen"Arlen sedikit takut dan berusaha meyakinkan kakaknya.


"Benaran kak, kelas david sama kelas aku gabung buat presentasi, kalau kakak enggak percaya bisa tanyakan teman Arlen, Rere sekarang ada di kelas"balas Arlen karena sedikit benar. Beruntung kakaknya enggak melihat dirinya sedang bergoncengan sama david barusan.


"Udah kan, sekarang lu masuk ke kelas. Dan lu! Berhenti dekati adik gua sebelum gua habisin muka s***an lu itu"Arlen langsung melangkah pergi, Arsen menatap tajam kearah david sebelum melangkah menyusul adiknya.


David diam menatap mereka.


"Dav--sejak lama aku senang kalau kamu ada di samping aku, aku kangen kita main ke danau itu, main layang-layang yang kamu buat. Oya kamu tau gambarkan, boleh dong gambar aku nanti saat kita berkunjung di danau itu"


"Dulu kamu sering gambar aku, aku masih simpan gambar itu sampai sekarang--saat kamu ngilang!--enggak ada yang temanan tulus sama aku, cuman kamu sahabat aku dan Rere sejak kamu pergi--aku ketemu rere saat naik semester--sampai saat ini aku sahabatan sama rere--rere tau tentang kamu karena aku sering cerita, aku sedih saat kamu pergi--sangat--Dav--aku benaran sayang sama kamu--sangat"


Davin mengacak rambutnya frustasi saat mengingat kalimat Arlen kemarin saat mereka duduk santai di Caffe sebelum pulang kerumah.


"Aku takut kamu benaran jatuh cinta sama dia--aku takut Rel--aku takut kamu ninggalin aku"


David kembali mengacak rambutnya frustasi. David meletakan helmnya dan langsung melangkah kelasnya, namun langkahnya berhenti saat seseorang memanggilnya.


"Kaka David ini buat kakak, makasih"Ucap seorang wanita yang memberikan sebuah coklat dengan pita pink di atas coklat itu.


David sudah biasa menerima seperti ini, dan alhasilnya coklat itu ia berikan ke teman kelasnya.


David kembali melanjutkan langkahnya.


Bruuukkgh


"Sorry"David mengerut keningnya saat menabrak cewek dan cewek itu langsung pergi.


David kembali dibuat kaget saat melihat Arsen mengejar Cewek tadi.


David kembali menaiki anak tangga. David menghentikan langkahnya saat sampai di depan kelas Arlen. Karena bertubuh tinggi, David dapat melihat Arlen yang duduk di dalam.


David tersenyum dan melangkah masuk namun seseorang menghentikan langkahnya kembali.


"David"David berbalik dan dengan cepat mendekati orang itu.


"Cilla, aku udah bilang kalau di sekolah jangan tegus aku"Panik David saat sudah di lorong enggak ada orang.


"Kenapa? Aku tunangan kamu--aku cuman ngasih ini"Ashilla langsung melepaskan kedua tangan david dari bahunya dan pergi meninggalkan David begitu saja.


"S**t!"Umpat David saat melihat sesuatu di tangannya. David dengab jelas melihat wajah ashilla yang lagi marah.


"David"Davin kembali di buat kaget saat melihat Arlen.


"Kamu kenapa bisa kesini?"oke David merasa pertanyaannya sangat konyol kali ini. Arlen menunjuk sesuatu disana.


"Ketoilet, kamu kenapa disini? Bukannya udah masuk kelas ya!"David menggaruk kepalanya engga gatel dan menegakan tubuhnya mendekati Arlen.


"Aku barusan dari toilet, masuk gih aku jagain disini"David mendorong pelan bahu arlen. Arlen masih menatap bingung kearah david, david senyum meyakinkan Arlen.


"Kamu balik ke kelas aja"David menggeleng dan arlen melangkah masuk.


David mengeluarkan tangannya yang memegang sesuatu dan menyembunyikannya dari arlen.


David dengan cepat memasukan benda itu kedalam saku celanannya dengan hembusan nafas panjangnya.


°♡♡°


"Stop disitu Arsen--berhenti dekatin gua"Fio melangkah mundur saat arsen terus mendekatinya.


"Lu kemana aja? Kenapa ponsel lu enggak aktif? Kenapa lu enggak masuk sekolah? Kenapa lu enggak ada dirumah? Kenapa lu kabur dari rumah sakit? KENAPA LU BUAT GUA KHAWATIR?"teriak Arsen enggak bisa manahan emosinya.


Seharusnya pertanyaan itu, Gadis di depannya ini memberikan semua penjelasan dan tanggung jawab atas pertanyaan yang berputar di pikirannya sejak dua hari ini. Pertanyaan itu yang membuat tidur nya terganggu.


Fio kaget mendengar semua pertanyaan itu, itu artinya arsen mencarinya beberapa hari ini.


Khawatir? Fio hanya menangkap kalimat akhir arsen, itu berarti Arsen menghawatirkan kondirinya. Fio kembali menggeleng menghilangkan perasaan itu. Fio kembali berpikir kalau Arsen ngelakuin itu hanya semata membantunya.


"Thanks--gua lupa berterimakasih ke lu waktu itu--thanks udah nolongin gua dan bawa gua berobat--tapi please! sekarang biarin gua sendiri--jangan gangguin gua--gu---"


"Bukan itu yang mau gua dengar dari mulut lu--Dan kenapa lu cabut laporan itu di polisi? Kenapa lu bebasin mereka? Apa lu Idiot? Apa l---"


"Ya gua memang idiot, jadi berhenti ikut campur masalah gua lagi"Teriak fio membuat arsen bukannya nyerah malah lebih emosi mendengar itu.


Ya, Arsen mendapaykan info kalau laporannya di kantor polisi itu fio sendiri yang mencabutnya. Membiarkan ketiga macan itu keluar dari penjara. Walaupun ketiga irang itu skors di sekolah, namun bagi arsen belum puas saat melihat ketiga orang itu bersantai dirumah.


"Semua karena lu hidup gua jadi berantakan--menghilang dari Kehidupan gua"Teriak fio lagi menutup kedua kupingnya dan berjongkok di bawa sambil terisak.


Arsen sedikit kaget mendnegar itu, namun perasaan penasaran dan khawatirnya menutupi semua itu.


Arsen hanya ingin melihat gadis di deoannya ini sudah sembuh dari sakitnya, ditambah wajah gadis itu sedikit bengkak waktu itu.


"Jelasin semunya Ailen, Jelasin semuanya"Fio merasakan usapan di kepalanya. Bukan usapan itu yang fio takut, tapi suara arsen kini terdengar menakutkan di kedua kupingnya.


Arsen melihat Fio menggeleng. Arsen memegang kepala fio dan memaksa fio menatap kearahnya.


"Lihat gua"pinta arsen dengan suara lembut, Fio masih menggekeng dengan mata terpejam, kedua mata itu juga terus mengeluarkan air bening hingga membasahi kedua pipinya.


Arsen luluh dan mengusap lembut Kedua pipi fio yang basah.


"Gua khawatir sama lu karena lu ngilang gitu aja tanpa pamit"Bisik Arsen lembut membawa Fio kedalam pelukannya.


"Menjauh dari gua"fio mendorong arsen menjauh.


"Please! Gua benar mohon sama lu--menjauh dari kehidupan gua--mereka ngebully gua karena lu-- mereka jahat sama gua karena lu--gua dipecat karena lu"Arsen sangat kaget mendnegar itu.


Padahal niatnya datang kehidupan gadis di depannya ingin menghibur dan memberikan warna untuk kehidupan gadis di depannya ini.


Namun dugaannya salah, Ternyata dirinya hanya memberikan kehidupan silam dan gelap untuk gadis itu.


Gadis itu tanpa sadar sudah membuka hatinya, gadis itu juga telah menjadi orang pertama yang membuatnya khawatir selain ibu dan adiknya.


Tanpa menanyakan alasan, Arsen kembali memeluk Fio.


"Maaf--maafin gua--gua benar-benar minta maaf--syukurlah gua legah lihat lu baik-baik aja"Fio diam mendengar itu dan semakin terisak dalam diamnya.


Fio tau semuanya bukan salah Arsen, namhn keadaan dan lingkungannya membuat semuanya jadi berantakan.


Andai Arsen mengajaknya baik-baik dan mengerti keadaannya saat ini, Fio akan menerima arsen sebagai temannya.


Tapi keadaan itu fio enggak bisa membalikan lagi.


Semuanya sudah terlanjur, dan masalah pekerjaannya, Fio enggak mau menceritakannya ke arsen dimana dirinya di pecat hanya karena Seseorang yang membuat dirinya di pecat.


Dan setelah ini fio ingin mencari pekerjaan itu lagi.


Fio menatap punggung arsen semakin menjauh, setelah memeluknya! Arsen langsung pergi mrninggalkan dirinya tanpa menanyakan alasan dari semua ucapannya.


°♡♡°


Hari Normal♡Sekolah...


"Lu ngapain senyum enggak jelas gitu?"tanya Rio merhatikan Arsen sedari tadi hanya senyum, dikit-senyum kayak orang gila baginya.


"siapa?"tanya balik arsen pura-pura enggak ngerti apa yang di maksud sahabatnya.


arsen menegakan tubuhnya dari sandaran kursi, tadi duduk dengan kaki di angkat di atas meja kini ia turunkan di lantai.


"Hayoo, lu mikirin yang jorok ya"Sahut aldo melihat Arsen kembali senyum-senyum.


Arsen langsung menatapnya horror kearah kedua sahabatnya yang menatap curiga kearahnya.


"Maklum dia lagi kasmaran Do"jelas Rio membuat Arsen langsung memasang wajah datarnya.


"Eh terus lu jadi ikut olimpiade yang lu maksud kemarin?"tanya Rio ke arsen langsung.


"Njiiiirr gua seriusan nanya malah ngejawab make senyum manis gitu--ngeri gua"lanjut Rio saat melihat Arsen tersenyum lebar.


"Ehem"Dehem Arsen karena enggak bisa mengontrol perasaannya sendiri.


"Pengen gua tabok sumpah!"Geram Aldo yang geli sendiri melihat Arsen senyum gk jelas kayak gitu.


"Sama siapa lu kali ini?"tanya Aldo


Bibir arsen tanpa disuru langsung ketarik keatas seulas senyum manis.


"Wah gua makin curiga sama ni orang"ucap rio duduk mendekati Arsen.


Puk


"Awwwk Sakit tol*l"Teriak Arsen menatap tajam kearah Aldo saat aldo memukul kepalanya sama buku tebal yang sedari tadi aldo megang.


"Lagian lu gk jawab malah senyum gk jelas gitu. Sorry.. gua kirain lu kesurupan"Balas Aldo polos membuat Rio hanya menggeleng.


"Terus Lu sam...."


"Ketos di Panggil sama kepala sekolah"teriak teman kelas mereka membuat Rio mengurungkan niatnya untuk nanya ke arsen lagi.


Arsen dan kedua sahabatnya langsung melihat arah pintu masuk.


"Okey, Thanks"balas arsen langsung keluar dari kelas meninggalkan tanda tanya besar di kepala kedua sahabatnya.


"Sohib Lu njiir --enggak gak mau jelasin--tapi senyum ngeri gitu"Sahut Rio melihat Arsen yang udah menghilang.


"Sohib lu juga kali"Balas Aldo terkekeh yang udah biasa melihat arsen kayak gitu.


"Akhirnya gua punya cara buat dekatin ku kembali"Batin arsen.


Arsen sengaja menulis nama fio untuk lomba kali ini, Arsen hanya ingin mendekati gadis itu lagi. Walaupun terus di tolak, namun arsen masih berusaha mendekati gadis itu. Ditanya sampai kapan? Arsen hanya ingin berusaha hasilnya akan arsen lihat nanti.


Walaupun pertengkaran mereka waktu itu membuat arsen mau mundur. Tapi Arsen ingin membuat warna dikehidupan gadis itu.


Hingga tanpa sepengetahuan gadis itu, arsen selalu melindunginya dari jarak jauh. Melarang orang mengganggu gadis itu. Biarkan gadis itu enggak tau.


♡_♡


"Assalamualaikum"ucap arsen saat membuka pintu ruang kepala sekolah.


"Silahkan duduk Arsen"ucap kepala sekolah saat melihat Arsen.


dengan wajah datar arsen langsung duduk.


"Ini kotak bapak udah isi beberapa buku yang harus kalian pelajari sebelum hari H"jelas kepala sekolah sambil memberikan kotak yang ukuran sedang yang isinya buku.


Arsen mlihat isi kotak itu, benar ada beberapa buku mungkin lebih dari 5 buku.


"Apa ada lagi pak?"tanya Arsen sopan.


"Sudah itu saja, kalian harus persiapan dengan matang, biar kita mengambil juara satu seperti hari sebelumnya"balas pak kepsek.


Arsen mengangguk dan mengambil kotak itu.


"Terimakasih pak, saya permisi dulu kalau begitu"pamit arsen langsung keluar dari ruangan.


Tin


Tin


"Yes pulang"batin Arsen senang.


Arsen berjalan menuju kelasnya dan ketemu dua sahabatnya.


"Apaan tuh?"tanya aldo kepo saat melihat arsen membawa kotak itu.


"Buku"jawab singkat arsen sambil menaruh kotak itu di atas meja.


"Bawain Tas gua dong"lanjut Arsen menunjuk Tasnya yang bearada di atas mejanya.


Aldo mengambil tas arsen dan mereka langsung jalan keluar kelas.


"Kali ini lu sama siapa?"tanya rio yang masih penasaran.


"Fio, anak kelas satu"Balas Arsen singkat.


Adlo sama rio langsung saling melempar tatapan.


"Njiiirr pantes aja lu senyum enggak jelas gitu"sahut Aldon cepat.


"Pata hati gua"lanjut Aldo membuat rio menepuk bahu Aldon penuh rasa kasihan.


♡_♡


15 menit berlalu….


Mereka masih di parkiran, padahal udah waktunya dan sekolah udah mulai sepih.


namun arsen sedari tadi melihat jam tangan dan lobby sekolah.


"Lu nungguin siapa?"tanya Aldo yg masih setia nemanin Arsen yang katanya  lagi nungguin seseorang.


"lu berdua balik aja duluan, Gua masih ada urusan"ucap Arsen kedua sahabatnya.


"Yaudah benaran ni kita tinggal"ucap Aldo melihat arsen curiga.


"Iya udah sana"balas arsen mengangguk meyakinkan kedua sohibnya.


aldo meletakan tas Arsen yang sedari tadi dipegangnya.


"Arlen, lu pulang bareng Rio"Ucap arsen saat melihat adiknya baru saja keluar dari Lobby.


"Aku pulang sama rere aja kak, sekalian mau nyari bahan buat tugas juga"Jelas Arsen, Arsen menatap penuh ciriga namun kembali mengangguk.


"Kita cabut duluan ya"Pamit Rio sama aldo, Arsen mengangguk. namun tatapannya terus melihat kearah lobby.


seseorang yang ia tunggu sama sekali tidak nongok di hadapannya.


Arsen melihat adiknya naik ke Mobil Rere.


"Arlen dukuan kak"Pamit Arlen yang kini mengemudi mobil rere. Arsen hanya mengangguk.


"Untung lu enggaj ketahuan"Ucao rere saat kaca mobil tertutup. Arlen hanya memgangguk dan mengusap dadanya. Sebelum keluar dari kelas, Arlen tadi masih ngobrol dengan David jadi agak sedikit telat keluar.


"Dimana sih ko gk nongol-nongol, Beraninya dia kabur dari gua."gumam Arsen kesal dan kembali melihat jam tangannya, yang hampir setengah jam dirinya menunggu.


Arsen meletakan kardus isi buku itu atas motornya.


Arsen langsung melangkah menuju lobby sekolah lagi, menuju kelasnya Fio. ya fio, Sedari tadi arsen menunggu fio.


Ya mereka tadi sudah janjian kalau mereka akan belajar bareng mulai hari ini.


Arsen melangkah lebar menuju Kelasnya Fio, perasan kesal dan ingin meneriaki Di deoan Wajah Gadis itu.


Dari depan kelas Fio, Arsen sudah melihat Seorang gadis duduk sendiri di dalam kelas membompong kepalanya di atas meja..


dengan perasaan kesal dan emosi Arsen melangkah cepat masuk ke kelas ingin sekali memarahi gadis itu.


Karena sedari tadi Arsen menunggunya ternyata gadis itu dengan santainya tidur di kelas ini.


"Lu gua tungguin di parkiran malah lu keenakan duduk disini"teriak Arsen marah sambil memukul meja hingga membuat Gadis itu kaget.


Fio menatap Arsen sinis dan kembali membompong kepalanya di atas meja, kedua tanganya memegang perutnya.


"Ailen"teriak Arsen sambil mengangkat kepala fio agar fio melihatnya.


"Aiiisss"keluh Fio mendongak melihat Arsen dengan wajah merah dan meringis menahan sakit.


Namun kedua tangan memegang perutnya sendiri, wajahnya menahan rasa sakit, peluhan keringat mrmbasahu wajahnya begitu juga air matanya ikut mengalir.


"Ailen"gumam Arsen kaget melihat keadaan fio saat ini.


Dengan cepat Arsen duduk di samping Fio.


"Lu kenapa?"tanya arsen panik melihat fio yang terus memegang perutnya.


"Aww perut gua kram"balas fio susah paya dan mencengkram kuat seragamnya.


"Lu punya magh"tanya arsen lagi sambil mengusap keringat di wajah fio.


"Jangan banyak tanya ****, perut gua lagi sakit ini"Marah fio menatap horor ke arah arsen.


arsen melotot tak percaya, padahal niat baik menayakan itu.


"Yaudah gua balik"ucap arsen dingin dan melangkah mau meninggalkan kelas.


"Batuin gua ****, lu gak lihat gua sakit"Teriak Fio sambil terisak. arsen menatap sinis kearah Fio.


"Gua gak kenal sama lu, Gk ada sopan santunnya minta tolong"Balas Arsen dingin.


Arsen kembali melangkah keluar dari kelas itu.


"Please! bantuin gua"ucap Fio susah payah, Fio kembali membompong kepalanya di meja dengan keadaan lemas.


arsen hanya ingin fio sopan dalam meminta bantuannya, bukan ucaoan kasar seperti tadi.


arsen berjongkok mengambil tas Fio.


"Lu bisa jalan gk?"tanya Arsen ke fio dengan suara lembut.


fio masih menunduk di atas meja. Fio menggeleng.


Arsen membereskan buku fio menaruhnya di tas fio. Arsen juga membawa tas fio dengan meletakannya di depan.


Dan Arsen berjongkok di samping meja fio. fio langsung melihat kearah Arsen yang di sampingnya.


"L-lu ng-nga-pain?"tanya fio menahan rasa sakit di perutnya.


"cepatan naik"balas arsen singkat


Fio langsung naik ke punggung arsen.


Kalau dia menolak siapa yang akan membantunya lagi, di kelasnya tidak ada siapa-siapa lagi.


Sahabatnya juga tadi udah balik duluan, karena sebelum sahabatnya pamitan perutnya masih normal belum sakit seperti ini.


Setelah fio naik di punggung arsen, arsen langsung menggendong dan keluar dari kelas.


Selama di perjalanan mereka tidak ada percakapan.Fio hanya diam, ada perasaan gk enak namun fio kini hanya memperdulikan perutnya yang nyeri.


"Baik juga dia"Batin fio.


Arsen pun dengan pelan menurunkan fio di samping mobilnya dan membukakan pintu mobilnya.


Fio pun naik mobil arsen tanpa mengeluarkan suaranya.


Arsen langsung masuk dan menyalan mesin, menjalankan mobilnya keluar dari halaman sekolah.


"Lu sakit apaan sih?"tanya Arsen melihat fio yang masih mencengkram perutnya.


sedari tadi Arsen penasaran sakit apa yang fio rasakan saat ini.


"Gua hanya sakit perut biasa"balas fio setengah meringis.


"Apa perlu ke dokter?"tanya arsen sekali-kali melihat kearah fio.


Fio langsung melihat ke arah arsen wajah arsen kelihatan kwatir.


Tapi hati fio akan menolak itu, mana mungkin arsen menghawatirkannya.. Itu mustahil.


"Enggak perlu. gua hanya sakit perut bisa kalau lagi datang bulan"ucap Fio polos tanpa rasa malu.


"Oh"jawab arsen singkat gk tau mau jawab apa lagi. karena arsen paham akan hal itu. karena adiknya juga cewek.


"Eh ini mau kemana?"tanya fio saat arsen membelok ke arah kiri


"Mampir di indomaret dulu gua mau beli jajan buat belajar kita nanti"jelas Arsen dan markirkan mobilnya.


"Gila, gua sakit gini, dia masih mikir belajar?"Batin fio kesal.


"Tunggu bentar disini"lanjut arsen langsung turun dari mobil.


Fio masih menahan rasa nyeri di perutnya. setia saat datang bulan selalu perutnya terasa nyeri hingga mmebuatnya susah jalan.


"Ais lu sakit di saat yg enggak tepat ****"umpat fio kesel.


"Omg jangan bilang"kagetnya saat merasakan banjir, sesuatu yang gk diharapkan fio.


"Aduh gimaan nih, malah mobil orang pula"gumamnya panik.


"Ais bikin malu aja"lanjut fio semakin panik saat melihat noda m*rah di kursi itu.


"Ngapain lu?"tanya arsen yg baru masuk mobil melihat Fio kayak cacing kepanasan.


"Ehm anu- maaf"balas Fio menatap melas ke arah arsen.


"Maaf?"tanya arsen menatap fio bingung.


"Tumben ni orang minta maaf?"Batin arsen.


"Anu- i-ini guatembus"ucap fio sangat cepat hingga membuat arsen sulit menangkap ucapannya.


"Apa? ngomong yg jelas kenapa sih?"geram arsen menatap tajam kearah fio sebelum mebyalakan mesin mobilnya.


"Gua tembus"ucap fio pelan sambil menunduk menyembunykan wajahnya.


"Apanya yg tembus? kalau ngomong yang jelas biar gua bisa paham"arsen menatap fio heran dan bingung.


"Aduh gua jelasin gimana sih ck malu banget gua"batin fio berteriak frustasi.


"Kursi mobil lu kotor, gua gu-gua"ucap fio takut menatap Arsen.


"Oh, itu ternyata. lu tembus? lu lagi datang bulan?"tanya arsen mengerti arah pembicaraan fio, dan menanyakan banyak pertanyaan  membhat fio melotot gk percaya.


"Ko lu bisa paham gitu sih? apa lu ud..."


"mikir Negatif aja terus tentang gua, sampe lu suka sama gua"Potong arsen cepat menatap sinis kearah Fio.


fio langsung diam. arsen pun kembali fokus menyetir.


"Gua bisa minta tolong gk?"ucap fio takut dan ada perasaan gugup mengutarakan pertolongan itu.


"Apa? gak ada yang gratis didunia ini? mau bayar pake apa?"tanya arsen cepat membuat fio menatap sinis kearah Arsen.


"ENGGAK JADI"jutek Fio, fio langsung menatap kearah luar jendela.


"Beli lu pembalut? Di rumah gua banyak stoknya, serah lu mau milih, yang bersayap buat lu terbang atau gk ada sayapnya"ucap arsen santai membuat Fi syok dan diam seketika dengan mulut terbuka.


"Tu mulut minta gua cabein kayaknya"Batin Fio.


"APA? MESUM LU"teriak fio kaget sama ucapan arsen barusan.


"Banyak, jangan-jangan.... duh amit-amit deh"batin fio berpikir negatif.


"dia bukan cewek jadi-jadiankan? atau dia benaran transjend....er...omg"Batin Fio yang pikirannya menjalan kemana-mana*.


"Yang jadi cewek jadi-jadian itu lu. bukan gua. Gua cowok tulen dan masih normal"Sahut arsen kembali membuat fio kaget karena arsen menjawab apa yang ada dalam pikirannya.


"LU SETAN?"Tanya fio dengan tampang polosnya, Arsen langsung terkekeh dan itu membuat Fio terpana.


Namun fii kembali menggeleng.


"Dalam hatinya tersenyum, pasti gadis di sampingnya ini berpikir yang macam-macam tentang dirinya.


sepanjang jalan fio terus nanya hal yang gak masuk akal, Namun arsen mengabaikan semua pertanyaan itu. arsen memilih diam karena baginya pertanyaan fio itu enggak pantas untuk dijawab.


♡_♡


Kediaman Rumah Family A4...


Arsen memarkirkan mobilnya di Garasi dan keluar membawa kresek yang isi jajan.


Arsen menatap fio sekilas dari jok belakang, dengan senyum sinis arsen menutup pintu kembali.


"Arsen"teriak Fio masih dalam mobil.


Arsen tersenyum baru kali ini dia mendengar fio memanggil namanya.


"Apa?"tanya Arsen tanpa rasa salah.


"Lu ko ninggalin gua gitu aja, gua gk bisa jalan keadaan  kayak gini"Balas Fio tanpa beranjak dari duduknya.


"Lu siapa? bukan pacar gua juga, Jalan aja sendiri"Balas Arsen kembali melangkah meninggalkan Fio di dalam mobil.


"S*alan tu orang"Umpat Fio berusaha untuk turun dari mobil. fio membuka pintu mobil dan mengeluarkan kedua kakinya tanpa turun dari mobil.


"Arsen, Lu Nyebelin"Teriak Fio lagi.


arsen yang udah mau sampai di teras rumahnya langsung berbalik saat menaruh kresek itu di meja.


"Lu ngerepotin orang"Ucap Arsen membuat fio diam.


arsen merasa gk enak langsung mendekati Fio dan membuka jaketnya.


"Lagian lu keluar aja, gk ada orang disini ko, cuman mommy dan pembantu gua"lanjut Arsen menyuruh fio turun dari mobil.


"Tapi ada lu, gua malu"gumam fio membuat Arsen menggeleng.


"Nih jaket gua"arsen memberikan jaketnya ke fio.


"Gak apa-apa nih?"tanya fio mastiin.


"Iya,, mau keluar gk? kalau gak yaudah lu disitu aja"Balas Arsen kembali kesal sama tingkah fio hati ini.


"Maulah tapi gimana sama kursi ini"tanya fio menujuk jok mobil arsen.


"Biarin aja, sekarang lu ganti dulu ntar lu mikir buat bersihin yg itu"balas arsen menutup kembali pintu mobil.


Fio dengan malu keluar dari mobil dengan jaket arsen yang sudah berada di pinggangnya.


"Arsen tunggu"teriaknya saat arsen berjalan sudah lumayan 3 meter.


"Manja lu"Balas arsen membuat fio cemberut. fio terus melangkah mendekati arsen.


"Gua gak manja, Karena gua gak tau lokasi sini, Ntar gua kesasasr gimana? rumah lu kan gede"Jelas Fio.


Arsen berhenti nungguin fio, Setelah satu meter dekat arsen berjalan kembali dan masuk ke dalam rumah.


"Serah lu"Balas arsen singkat.


"Assalamualaikum... Mommy" salam teriak Arsen saat masuk kedalam rumah.


"Toak Banget"Batin fio mendengar suara teriakan arsen.


Fio di belakang masih  takjub melihat isi rumah ini.


Di luar terlihat tidak terlalu mewah tapi saat masuk isinya mewah banget menurutnya.


"Gua yakin tu lukisan harganya sampe miliyaran deh"Batin Fio saat melihat lukisan besar di depannya yang bergantung di dinding.


"harga Dua ginjal lu enggak cukup buat beli sepatu buat gua, jadi duduk tenang. gak usah katro kayak gitu. gak usah megang barang dirumah ini"Ucap pedas arsen membuat fio kesal.


"Siapa juga mau nyentuh barang rumah ini, lihat aja gua ngeri"Batin fio.


"Walaikumsalam"balas Tiara dari arah dapur.


"Eh neng fio"kaget ara saat melihat gadis di belakang arsen.


Ara tersneyum bahagia dan menyambut Fio.


"Assalamualaikum tante Ara"salam Fio ramah dan mencium tangan Ara.


"Walaikumsalam"balas Tiara tersenyum sambil menepuk bahu fio lembut.


"Mom urus Ailen bentar ya, lagi pms"ucap Arsen santai dan meletakan kresek di atas meja.


Fio menatap horor ke arah arsen. karena ucaoannya gak pernah disaring dulu.


Ara hanya tertawa, ini bukan hal pertama kali putranya mengahadapi gadis yang lagi pms, dia selalu mengahadapi adiknya. dan itu udah buat dia biasa.


"Siap ayo nak fio"ajak Ara merangkul fio menuju toilet tamu.


Arsen langsung manaiki anak tangga menuju kamarnya. arsen melihat sekilas punggung fio dan mommynya kearah dapur.


setelah itu arsen langsung menghilang di tangga terakhir menuju kamarnya.


"Sekarang km masuk ke dalam dulu, tante akan mengambil baju ganti km"ucap ara menyuruh Fio masuk kedalam kamar mandi.


Fio tersenyum dan masuk ke dalam toilet yg cukup luas.


"Toilet tamu aja mewah banget kayak gini, apa kabar sama kamar mereka ya"Batin fio.


Ara menaiki anak tangga menuju kamar putrinya, mengambil pakaian buat Fio dan barang wanita yang di butuhkan fio lainnya.


Setelah ketemu ara kembali menuju toilet yg di pakai fio.


"Sayang ini pakaian km"ucap ara mengetuk pintu toilet.


Fio membuka pintu dengan berlahan menyalurkan tanganya di sela itu pintu terbuka itu.


Ara mengerti langsung menaruh baju di tangan fio.


"Disitu juga udah ada yg km butuhin"teriak ara.


Dan kembali ke meja makan untuk menata makanan yg tadi di tinggal.


"Terimakasih tante"ucap fio saat keluar dari toilet.


Ara tersenyum melihat fio cocok menggunakan baju itu.


"Duduk sayang, apa km laper? makan dulu ya"tanya ara ramah memberikan piring untuk fio.


"mmmhh enggak tante. terimakasih, fio belum laper"Tolak fio lembut sambil tersenyum.


"Baiklah. kalau laper langsung makan ya, gak baik juga loh nolak rizki"Balas Ara membuat fio mengangguk dan tersenyum.


"Emm tante fio mau bersihin mobil arsen dulu"ucap fio takut menatap Ara.


"Loh kenapa?"tanya ara bingung.


"Itu tadi fio tembus makanya harus di bersihin dulu joknya"jelas fio sedikit malu.


"Udah biarin aja,  bi asma yg bersihin, ini bukan yang pertama kalinya ko"balas ara terkekeh.


"Maksud tante?"tanya fio bingung.


"Arsen pernah ngalamin kerjadian kayak gitu di mobilnya saat sama adiknya"jelas Ara tersenyum.


"Arsen punya adik?"kaget fio, ekspresi fio membuat ara terkekeh.


Ara mengangguk dan tersenyum.


"Arsen punya adik, namanya Arlen tapi sekarang belum pulang, mungki aja kegiatan diluar "jelas Ara lagi.


"Mom, Dady belum balik?"tanya arsen yang baru muncul.


Fio langsung melihat arsen yg sudah menggunakan kaos polos putih sama celana jeans pendek selutut dan itu membuatnya terlihat keren.


"Belum tadi dady kamu tlpon katanya selesai magrib baru nyampe rumah"jelas momi memberikan piring buat Putranya.


"Lu gak makan?"Tanya Arsen saat melihat fio bengong.


"Woyy,"Arsen menepuk pipi fio hingga membuat fio sadar dari lamunannya.


"Hah? apa?"Tanya fio, Ara terkekeh melihat mereka.


"Lu belum makan kan? makan gih"ulang arsen lagi sambil memberikan Piring kearah fio.


"Gua belum laper"Balas Fio menolak piring itu.


"Belum laper tapi sepanjang jalan perut lu bunyi, Makan"Dengan paksa Arsen memberikan piring kosong itu. Ara masih tersenyum dan menyaksikan mereka.


"Secepatnya gua bakalan dapat mantu"Batin Ara bahagia.


"Ya gak usah ngegas gitu juga kali"Balas fio kesal.


Arsen mengambil beberapa menu menaruhnya dipiring.


"mom gk makan?"tanya arsen lembut kearah Mommynya.


fio mendengar suara lembut itu ikut kaget.


"Sudah barusan, Mom selesai makan kalian langsung datang"balas Ara.


"gak usah sok malu, makan lu"Ucap arsen membuat ara menggeleng.


"Udah gak usah kasar gitu ah, Kasihan nak fio nya"Sahut Ara.


"Nak fio mau makan apa?"Lanjut tanya ara ke fio.


"biar fio yang ambil sendiri aja Tante"Balas fio langsung mengambil beberapa menu.


sejujurnya fio males makan karena perutnya masih gak enak menerima makanan.


selang beberapa menit Merekapun selesai makan.


"Ya sudah Arsen mau belajar dulu ya mom"ucap arsen melihat fio membawa piring kotor mereka berdua di wastafel.


"Mom setuju sama nak fio"Bisik Ara membuat Arsen tmhanya tersenyum.


"Doain aja mom"Balas arsen.


"Ayoo"arsen langsung menarik tangan fio keluar dari dapur.


"Eh menantu momi tu, ko di bawa pergi sih"teriak Ara, hanya menjaili putranya.


Arsen menatap horor ke ibunya, namun detik selanjutnya memberikan senyum penuh arti ke mominyanya


Fio menatap tangan arsen masih menggenggam tangannya. Masalah mereka kemarin seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa dia enggak nyerah"Batin fio.


"Gua bakalan nutupi kedua kuping gua saat sama lu, ennggak mau dengarin apapun penolakan lu--sampai akhirnya gua nyerah--sampai waktu itu tiba"Batin arsen.


Bersambung…...


♡_♡


Yeeee


part 13 Finaly🎉🎉🎉🎉🎉


Part selanjutnya adalah kejutan buat Arlen ya😊😊


Semoga suka😊😊😊


Vote + Coment ya...


See You....