
Author POV
Arlen yang baru selesai mengganti seragamnya, kini menuruni anak tangga. Dengan perasaan takut dan gugup saat menyampaikan pesannya ini.
"Girl-- ada apa?"tanya Tiara melihat putrinya yang murung.
"Mom apa boleh nanti malem Arlen keluar sama teman?"Arlen mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa sambil membaca Mazala itu.
Arlen mengambil duduk disamping ibunya. Tiara mendengar itu langsung tersenyum.
"Cowok yang waktu itu nyamperin kamu di pesta?"Arlen kaget dan tersenyum mengangguk.
"Dia ngajak Arlen keluar malem ini, cuman sekedar makan malem aja mom"jelas Arlen, Tiara mengangguk menatap putrinya.
"Boleh sayang, tapi harus hati-hati sama dia, kalian kan baru dekatan, siapa tau dia udah punya pacar? Jadi antisipasi jangan ambil kesimpulan dulu, jangan menyukai seseorang terlalu cepat"Arlen diam menatap ibunya.
"Dia teman masa kecil Arlen, Mom ingat waktu mom jemput Arlen di sekolah dan anak cowok gandeng tangan arlen berlari kearah Mommy, Dia David Mom--selama Arlen di sekolah dasar hingga SMP sama dia Mom, Dia yang jagain arlen selama disekolah--arlen enggak berani ajak dia kerumah waktu itu, arlen takut kakak sama Daddy "cerita Arlen, Tiara mengusap lembut rambut Arlen.
"Yaudah kamu naik dan siap-siap, ini udah sore juga kan"Arlen mengangguk antusias mendnegar persetujuan ibunya.
"Benaran boleh Mom? Gimana daddy sama Kakak nanti?"Tiara tersenyum.
"Biar Mom yang urus meraka, sana dandan yang cantik, tapi ingat--harus hati-hati"Arlen mengangguk kembali penuh semangat.
Arlen melangkah menaiki anak tangga setelah mengecup kedua pipi ibunya, sangking semangatnya arlen berbalik memeluk ibunya lagi, sebelum berlari menaiki anak tangga.
….
Arsen masih setia duduk menunggu fio yang belum juga selesai kerja, padahal sebentar lagi waktu menunjukan lima sore.
Arsen enggak mampu langsung melangkah kearah Dapur Cafe itu.
"Maaf ada yang bisa di bantu?"tanya seorang pelayan Cowok.
"Fio"hanya nama itu yang keluar dari bibir arsen sambil mencari sosok itu.
"Oh fio, baru aja keluar beberap---loh aneh tu orang"Belum selesai ngomong, Arsen sudah berlari keluar dari dapur itu.
Arsen berlari keluar dari Cafe.
"Shit! Tu cewek lehai banget kabur"umpat Arsen menatap sekitar Cafe berharap menumakan sosok itu.
Namun Sosok itu sama sekali enggak arsen temui. Merasa capeh, Arsen menyebrang jalan menuju motornya terparkir disana.
Arsen masih menatap sekitran di jalan raya itu, berharap ada fio disana, namun arsen sama sekali enggak ketemu fio.
"Arsen--"Arsen langsung berbalik berharap orang yang ia cari, namun harapannya sia-sia saat melihat sosok yang berbeda.
"Kebutulan sekali gua ketemu loh disini, gua nunggu taxi tapi gua belum dapat, Boleh enggak gua neb---Arsen"Cewek itu terus mengejar arsen hingga di samping motor arsen.
"Gua sibuk, naik aja angkot masih banyak"Arsen langsung naik ke motornya. Arsen memakai helmnya.
"Tapi gua enggak biasa naik angkot--antarin gua pula---Shit!--Arsen"Teriak cewek itu menatap kepergian motor arsen yang melaju menjauh.
"Sial--semua gara-gara cewek sialan itu, dia yang buat arsen berubah"Umpat Cewek itu kesal.
Cewek itu pun langsung masuk kedalam nya yang terparkir sejak tadi. Dirinya hanya bohong agar dapat di bonceng sama arsen. Namun usahanya sia-sia.
….
"Mom--Arlen berangkat ya"Arlen mendekati ibunya yang sedang menyiapkan makan malem.
"Kak arsen mana Mom!-ko belum pulang sejak tadi"Tiara tersenyum menatap putrinya.
"Biasa cowok sayang--duh cantik sekali anak Mommy yang satu ini"Tiara mendekati putrinya. Arlen tersenyum malu menatap ibunya.
"Mau kemana kamu Len?"Arlen berbalik menatap kakanya disana.
"Jalan sama Rere"bohong arlen menatap ibunya disana, Tiara tersenyum.
"Adik kamu hanya makan malem sama temannya di luar, Biar kan dia pergi"Tiara membantu putrinya, Arlen mengangguk sambil menatap Kakaknya.
Arsen langsung duduk di meja makan menatap penuh curiga kearah adiknya.
"Enggak biasanya kamu keluar malem Arlen--siapa yang ngajak kamu keluar?"Arlen memegang erat tasnya, Takut kakanya enggak mengizinkan dirinya keluar hari ini.
"Arsen--sudah--Arlen boleh pergi, asalkan nanti dijemput sama kamu--setelah makan malemnya selesai--iya kan sayang?"Arlen mengangguk dan tersenyum. Arsen juga ikut mengangguk.
"Cowok apa cew---"
"Arsen--Cewek yang kemarin ngisi acara kalian apa kamu kenal? Mom cariin dia buat ngasih upah karena sudah mengisi acara kalian, Tapi sampai sekarang Mom belum ketemu dia"Arsen tertarik dengan percakapan ibunya saat ini.
Tin
Tin
Suara klakson membuat Arlen tersenyum dan beranjak dari duduknya.
"Arlen berangkat ya Mom--kak"Arlen mencium punggung tangan arsen dan ibunya.
"Jam 9 aku jemput, mau enggak mau harus pulang"ucap arsen tegas, Arsen mau enggak mau langsung mengangguk mengiyakan.
"Assalamualaikum"pamit arlen melangkah keluar dari meja makan.
Arlen menatap jam tangannya yang menunjukan pukul 18:45, berarti dirinya hanya 2 jam bersama David.
"Gimana sama fio?"tanya Tiara membuat Arsen kaget.
"Maksud Mom?"tanya balik arsen. Membuat Tiara terkekeh.
"Kamu menyukainya Boy?dilihat dari raut wajah kamu--sepertinya kamu tertarik sama percakapan Mom sekarang"tebak tiara masih terkekeh menatap putranya. Arsen mengatur ekspresi sedatar mungkin, namun arsen mengalah karena Mommynya pasti tau.
"Enggak Mom"balas arsen singkat. Tiara mengangguk.
"Kamu juga enggak tau keberadaannya? Sayang sekali mom enggak dapat Nomor Tlponnya, padahal upahnya malem itu mom belum kasih sampai sekarang"Arsen merasa tertarik langsung menatap ibunya.
"Biar aku yang ngasih Mom"Tiara langsung tersenyum lebar mendengar itu, itu artinya putranya ini sedang dekat dengan cewek itu.
Cewek itu juga membuat Fio tertarik dengan kesederhanaan dan kebaikan Fio.
"Baiklah, Mom akan nitip ke kamu--atau enggak ajak dia main kerumah gimana?"Arsen langsung menggeleng.
"Dia enggak bakalan mau Mom, dia satu sekolah sama arsen, jadi biar arsen yang ngasih dia saat ketemu"Tiara mengangguk namun menatap penuh curiga kearah puteranya.
Arsen menyadari tatapan curiga dari ibunya hanya diam.
….
Arlen yang baru aja memasuki sebuah Caffe, Caffe yang berada di tengah-tengah Taman hingga membuat banyak pengunjung datang namun masih banyak tempat yang kosong.
Sangking besar nya ini caffe, Caffe yang penuh dengan kehijauan.
Arlen mencari keberadaan david yang katanya sudah sampai beberapa menit yang lalu.
"Arlen hay sini"teriak seseorang membuat arlen mencari keberadaan suara itu, senyum arlen mengembang saat melihat David yang duduk di bawa pohon dengan elasan karpet, memang Caffe ini tempatnya elasan semua, tapi David memilih yang berada di bawa pohon yang banyak remeng-remeng lampu itu.
"Sorry, lu udah lama disini?"tanya arlen langsung duduk di samping David. David menggeleng dan tersenyum menatap menatap Arlen.
"Enggakk juga, lu mau mesan apa?"tanya David menyerahkan buku menu kearah Arlen, Arlen menyerahkan kembali buku menu itu ke david.
"Samain aja sama kamu"balas Arlen tersenyum sambil membuka tas selempangnya itu menaruhnya di samping.
"Okey bentar ya, aku oesanin dulu"Arlen mengangguk dan menatap David pergi memesan makanan untuk mereka.
Arlen sibuk membuka ponselnya.
To Re_le
Len_Arlen..
Gua kencan sama David Reeeee.. gua masih enggak nyangka..
Rer_e…
Sumpah lu Len? Jadi sekarang lu lagi diluar sama david? Tadi di sekolah ko lu enggak cerita sih!.
Len_Arlen..
Gua lupa cerita Re--Sorry--gua tadi pulang sekolah baru gua ingat pas baca wa David--ekh udah dulu ya, david datang..besok gua ceritain--bye..
Arlen melihat David melangkah mendekatinya. Arlen pura-pura sibuk enggak melihat David.
"Gimana kabar lu Len!"Tanya David membuat Arlen sedikit sedih karena david enggak memanggilnya Nia.
"Gua baik Dav--hmmm di sekolah tadi gua sama sekali enggak lihat lu!"David tersenyum dan mengangguk.
"Gua tadi enggak masuk karena ada urusan bentar, besok gua udah masuk ko"arlen mengangguk mendengar penjelasan David. Arlen enggak tau lagi harus menanyakan apa karena suasa membuat mereka cangguh.
"Gua--"Arlen sama david tersenyum saat mereka sama-sama berbicara.
"Lu enggak ingat sama gua?"David kaget mendengar itu. Namun detik kemudian David tersenyum.
"Nia--apa masih belum cukup saat gua ingat nama lu itu!"Arlen tersenyum sangat lebar.
"Lu ingat gua Dav? Benaran? Lu david yang itukan, wajah lu sekarang lebih dewasa"Arlen heboh sudah memeluk lengah David. Jantung David berdetak lebih cepat saat menerima pelukan tiba-tiba itu.
02-05-2017
Arlen Nathania--Nia
Gadis kecil imut yang buat gua tertarik buat jadiin dia pacar. Tapi gua takut ungkapin itu. Dia gadis cengeng yang selalu ngadu apapun yang dia alamai ke gua, gua bersyukur karena gua jadi tempat curhatnya.. seandainya dia tau keadaan gua, apa dia masih mau jadi teman gua saat ini?
Nia
Gadis kecil yang ingin selalu gua lindungi, kemanapun gua pergi, Nia selalu mengekori gua, hingga buat gua berbalik peluk tubuh mungilnya.
Gadis kecil itu mengadu kalau kakanya melarang dia berteman sama cowok termasuk gua, dia melarang aku buat datang kerumah demi persahabatan tanpa ketahuan dari kakak dan daddynya. Nia gadis bawel, agresif dan ceplas-ceplos kalau ngomong, suka enggak ngerem kalau ngomong.
Kesukaan nia, nia suka banget sama Jus Alvokat, dan Nasi goreng Seafood, Steak, dan masih banyak makanan, selain Udang, Nia alergi udang. Padahal gua doyan banget udang.
"Lu masih sama, Bawel and enggak suka sama udang"Arlen terkekeh dan kangsung melepaskan pelukannya. Hatjnya bahagia saat tau David teman masa kecilnya sudah kembali.
"Tapi kenapa lu pindah enggak ngabari gua, Padahal bentar lagi UN Waktu itu"David menggaruk tekuknya yang enggak gatel, karena bingung harus ngasih jawaban apa. Arlen masih merhatikan David.
"Waktu itu, ada keluarga gua yang kecelakaan jadi gua harus Ke Singapure buat berobat jadi gua langsung ikut mereka--sorry kalau buat lu khawatir"Arlen diam menatap David.
"Enggak apa-apa, gua enggak tau jadi gua tanya--Kembaran lu dimana Vid? Kamu pernah cerita punya kembaran kan? Katanya mau ajak kenalan sama dia, tapi sampai sekarang gua enggak tau"David kaget banget dengar itu.
"David cerita tentang gua?"batin Darrel.
"Dav--David--ko ngelamun"Arlen menyentuh bahu David membuat David sadar dari lamunannya.
"Oh iya--apa? Lu nanya apa tadi?"Arlen langsung tersenyum.
"Lu dulu pernah cerita kalau lu punya kembaran, dan gua juga cerita punya kembaran, lu enggak ingat?"ulang Arlen membuat david senyum kecut.
"Oh itu gua ingat ko, terus lu gimana setelah lulus nanti! Mau lanjut dimana?"David berusaha mengalihkan pembicaraan. Arlen cemberut dan menggeleng.
"Dia penuh ekspresi"Batin David saat tau satu hal tentang arlen.
"Aku mau lanjutin di Paris, Negara Romance menurut aku, bukannya aku udah cerita ke kamu dulu ya"David gelagapan dan tersenyum.
"Oh iyaa maaf gua agak lupa, hmmm ada sesuatu yang mau gua omongin ke lu"Arlen diam dan jantungnya berdetak lebih cepat.
David mengambil kedua tangan arlen.
"Gu--"
"Permisi-- ini pesananya kak"Ucap seorang pelayan yang membawa pesanan mereka.
Arlen menarik tangannya karena kaget. David diam kiku karena ikut salting juga.
"Oh iyaa---Thanks You"Ucap arlen membantu menaruh pesanannya ke meja.
David masih menatap lekat wajah Arlen yang merona.
"Imut"batin David tanpa sadar. David langsung menggeleng menghilangkan perasaan itu.
"Ayoo makan dulu Dav, Gua laper"David mengangguk dan tersenyum.
Merekapun langsung makan dalam diam.
"Gua--"Arlen mendongak menatap David sekilas dan kembali makan.
"Omg jantung gua"Batin arlen yang berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Gua tau ini mungkin terlalu cepat bagi lu Len, Tapi--"Jantung arlen semakin berdetak takaruang mendnegar itu.
David meletakan sendok yang di pegangnya tadi dan melipat kedua tangannya di meja menata Arlen.
"Gua mau lu jadi pacar gua arl--Nia"
Uhuk
Uhuk
David langsung memberikan minum untuk Arlen. David mengusap punggung arlen oelan agar batuk arlen cepat redah.
"Nia gimana?"tanya ulang David saat arlen enggak kunjung menjawabnya.
"Maaf kalau gua terlalu cepat buat nem--"
"Gua mau david--gua mau jadi pacar lu--tapi gua--"David tersenyum namun dari ucapan Arlen membuat david sedikit takut.
"Gua takut persahabatan kita bakalan renggeng kalau ada masalah"Lanjut Arlen memikirkan tali persahabatannya. Namun jauh dilubuk hatinya arlen sangat bahagia saat david mengajaknya menjadi pacarnya.
"Aku janji enggak akan merusaknya Nia"Arlen langsung tersenyum sambil mengangguk.
"Jadi--"tanya David lagi menahan senyumnya.
"Jadi apa?"tanya balik arlen pura-pura enggak paham akan ucapan David.
"Jadi pacaran nih?"Goda david sambil mengacak rambutnya saat Arlen hanya mampu mengangguk.
"Tapi benaran kamu enggak punya pacar selama di singapure?"tanya arlen membuat david menggeleng.
"Dulu-- saat aku baru kenal kamu waktu SD, aku pengen langsung jadiin kamu pacar aku, tapi waktu itu aku pikir kita masih kecil--dan sekarang aku kembali buat jadiin kamu kekasih hati aku"Arlen tersipu malu mendengar itu.
David memegang erat tangan Arlen dan mengusapnya lembut.
Arlen langsung mengingat dulu, David sangat menjaganya saat ada orang yang mengganggunya.
Tanpa mereka berdua sadari, kini mereka berbicara sudah tidak menggunakan 'gua-lu' melainkan kata yang sangat akrab dengan seseorang yang disayang.
"Janji sama aku untuk tetap disamping aku apapun yang terjadi"Arlen kembali mengangguk dan tersenyum menatap david, david ikut tersenyum.
"Aku janji, kamu juga lakukan hal yang sama David, maka aku akan menjaganya sampai kapan pun"David mengangguk dan langsung memeluk Arlen.
"Nathania"Arlen yang super kaget langsung mendoring David hingga Jatuh.
"Kak Arsen"Kaget Arlen melihat Arsen disana yang bersandar di pohon yang enggak jauh dari mereka, tatapan tajam itu seolah membunuhnya.
"Siapa nia?"David kembali dan mendekati Arlen. Arlen panik melihat jam tangannya dan ternyata sudah pukul sembilan malem.
Padahal mereka baru aja ngobrol kenapa waktunya sangat cepat.
"Kamu harus pergi david, cepatan--dia kembaran aku namanya Arsen"Ucap arlen, david hanya diam menatap Arsen yang melangkah mendekati mereka.
"Kebutulah Nia, Aku akan berkenalan dengan kembaran kamu"Arlen menggeleng keras menatap david.
David hanya menunggu kedatangan Arsen.
Bugghh
"Lu berani sentuh adik gua hah? Brengs*k lu?"Arsen langsung menonjok wajah David. David menerima sasaran itu langsung terduduk.
Para pengunjung langsung menyorot mereka.
Niat david ingin mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya, namun dugaan David di luar pikirannya.
"Shit!"umpat Batin david.
"Kaka apaan sih, David maafin kakak aku"Arlen membantu david beranjak dari jatuhnya.
Arsen semakin marah melihat adiknya.
"Kesini Nathania"Arsen langsung menarik tangan Arlen dan pergi.
David menatap punggung mereka semakin menjauh.
"Jadi itu kembarannya?"gumam David mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
#fio
★★★
Part 9 Finaly 🎉🎉🎉🎉
Semoga kalian suka😊😊
Vote + Coment ya...
See You...