
Author POV
Mos Hari terakhir...
"Yang merasa tugas ttd yg belum lengkap silahkan maju"ucap Arsen dingin yang kini berdiri di atas panggung sambil memegang mic.
Sedangkan arlen duduk santai di samping panggung menatap kakanya yang di atas.
ada tiga Puluh Delapan orang yang maju, Dua puluh delapan cowok dan Sepuluh cewek.
"Semuanya Silahkan bersihkan lapangan basket, selain Lu"ucap arsen dingin sambil menunjuk salah satu.
Semuanya melangkah menjauh dari situ menuju lapangan basket, Selain orang yang di tunjuk Arsen Tadi.
"Silahkan bersihkan semua toilet mulai lantai atas hingga dasar, enggak ada penolakan Fiorenza"tunjuk arsen ke orang itu.
Ya fio masuk dalam sini karena dia kurang satu, tanda tangan dari ketosnya sendiri.
"Gk salah tuh, kenapa gua sendirian, mereka jumlah cukup banyak hanya bersihkan satu tempat sendangkan gua sendiri bersihin banyak tempat, Enggak adil"protes fio Kesal menatap Arsen karena peraturan yang sama sekali enggak adil bagi dirinya.
"Tidak ada bantahan ataupun penolakan dari lu. Gua enggak terima protes dari lu"tegas arsen mengambil Mic kembali dan menatap siswa yang lain, yang masih dalam barisan.
"Silahkan bubar"lanjut Arsen langsung menaruk mic itu dan turun dari panggung.
"Heeyy ini enggak adil"teriak Fio melihat arsen semakin menjauh.
"Terima hukum lu, selesaikan. Enggak usah banyak protes, lu anak baru disini"Ucap seseorang membuat Fio berbalik dan menatap kesal orang itu.
"Gua hargai lu senior tapi sekarang gua enggak butuh ocehan lu"Balas fio membuat Orang itu kaget karena fio berani membantahnya.
"Vina udah, biarin dia bersihin semua toilet, itukan hukuman buat dia yang sok cantik"Sahut salah satu temannya yang berada di samping vina selaku Wakil ketua osis.
"Perlu di kasih pelajaran ni anak biar bisa hormati seniornya"Marah Vina membuat fio terkekeh dan menatap penuh ejekan kearah Vina.
"Lu ajari gua tentang hormati orang? Lu sendiri gimana? Pernah enggak hormati orang? Enggak kan. Mikir lu"Balas Fio membuat Vina gertak giginya kesal, bahkan sangat kesal saat melihat juniornya berani membantah dan ingin sekali menjambak rambut orang di depannya ini.
"Lu--si*lan lu y---"
"Buruan"Arsen langsung menarik tangan Fio menjauh dari Vina. Fio juga kaget seseorang menariknya pergi dari situ.
"Arsen--biar gua aja yang ngasi di---"
"Ouupss Sorry--ini bukan urusan Lu cantik"sahut Arlen cepat menghalangi langkah Vina. Vina yang ingin menyusul arsen, Arlen langsung menghalangi Vina.
Vina langsung diam sambil mengumpat melihat arlen pergi menyusul arsen.
"Sial--Untung dia kembarannya arsen, kalau enggak! Gua udah habisin tu orang"Batin Vina.
"Ck cantik-cantik bersih toilet kan kasihan tangannya"ucap Rio sambil mengelus tangannya sendiri.
"Ekh lu mau kemana Do?"Tanya rio saat Aldo pergi.
"Bantuin Bidadari gua bersihin Toilet"Balas Aldo membuat Rio langsung menyusulnya. Mereka pun menyusul Arsen.
"Gua bisa sendiri sial*n"fio menghentakan tangannya ingin melepaskan genggaman arsen, namun genggaman Arsen enggak lepas dari tangannya.
"Lu akan nyesal berurusan sama gua"Gertak Arsen menatap tajam kearah Fio, fio terkekeh mendengar itu dan menatap kesal kearah arsen.
"Gua enggak peduli"balas Fio langsung melangkah menaiki anak tangga saat melepaskan tangan arsen.
"Arlen suka sikap cewek itu"Arsen langsung menolak kesamping di mana sudah ada adiknya disana.
Arsen berbalik diikuti arlen, arsen juga melihat disana ada aldo dan rio melangkah kearah nya.
"Bidadari gua kemana?"tanya aldo langsung melihat sekelilingnya. Arsen tak ecuh terus melangkah melewati kedua sahabatnya.
"Ayoo--"Rio mengajak Aldo menyusul arsen lagi namun aldo menggeleng.
"Lu aja, Gua mau keatas dulu, Bye"Aldo langsung berlari menaiki anak tangga. Rio hanya hingung melihat aldo dan melangkah menyusul arsen.
"Kak, enggak kasihan apa ngasih hukuman seberat itu"Ucap arlen saat sudah di samping Arsen. Arsen hanya diam.
"Dia cewek kak, jangan kayak gitu sama cewek. Ntar kakak benaran suka loh sama dia"lanjut Arlen, Arsen masih enggak balas ucapan adiknya.
"Kita kemana ka?"tanya arlen karena mereka terus melangkah.
"ruang osis"Balas Arsen singkat yang terus melangkah. Arlen hanya mengangguk dan terus mengekori kakanya.
Saat mereka melewati kantin Langkah Arlen berhenti karena seseorang menarik perhatiannya.
Kebutulan Arlen yg paling belakang jadi diam-diam arlen langsung masuk kedalam kantin, tanpa sepengetahuan Kakaknya.
Sedangkan Rio yang dari tadi mengikuti mereka hanya bingung menatap Arlen masuk kedalam Kantin.
"Siapa dia?"Gumam Rio saat melihat Arlen lagi nyamperin seseorang. Kemudian Rio langsung menyusul Arsen.
"Aku antari pul---Len--Arlen"Arsen yang udah duduk di kursi yang dalam Ruang Osis kaget saat adiknya enggak ada. Arsrn langsung menatap seseorang yang baru masuk.
"Lu lihat Arlen?"tanya arsen langsung. Rio langsung mengangguk.
"Gua lihat dia masuk kantin nemuin seseorang, cuman gua enggak tau dia siapa, gua baru lihat dia di----Arsen"Belum selesai menjelaskan Arsen udah Keluar dari ruangan itu.
….
Kantin sekolah….
"Hay"sapa arlen saat sudah di depan orang itu.
"Oh hay, hmm sepertinya enggak asing"balas orang itu merhatikan Arlen sambil berpikir.
"Ehem--Toko buku kemarin"jelas arlen tersenyum, orang itu langsung mengangguk dan tersenyum.
"Ah iya, silahkan duduk, lu sekolah disini juga?"orang itu persilahkan Arlen duduk, arlen langsung duduk di depan orang itu, senyumnya enggak pernah hilang.
"Oya kita belum kenalan, Kenalin Gua Naufal, David Naufal Emary"ucap cowok itu mengulurkan tangannya
"Apa dia benaran gk ingat sama gua"gumam Arlen pelan, tatapannya enggak lepas dari orang di depannya.
"Apa? Barusan lu ngomong apa?"tanya orang itu karena sedikit mendengar suara gumaman Arlen. Arlen langsung menggeleng sambil tersenyum.
"Ah enggak ko, gua Arlene Nathania Casandra panggil aja Arlen"arlen membalas uluran tangan orang itu. Naufal tersenyum.
"Boleh gk gua manggil lu David aja--hmm--gua enggak bermaksud apa-apa cuman Nama David lebih cocok buat lu--iya gitu"ucap Arlen Dan mendapatkan tatapan sulit di artikan dari Naufal.
"Enggak apa-apa, terserah lu mau manggil nama gua yang mana--cuman Lu ingatin gua pada seseorang yang hanya manggil gua David"ucap naufal sedikit antusias membuat senyum arlen makin ngembang.
"Oh ya"sahut arlen tersenyum, dalam hatinya merasa bahagia.
"Siapa orang itu? Teman kecil lu ya?"lanjut arlen penasaran, arlen ingin lebih mendengar cerita dari David.
"Dulu banget-- dia gadis kecil yang bawel dan suka menangis, gua kangen sama dia"jelas David tersenyum manis memikirkan orang itu.
"gua bisa berharap enggak sih kalau itu gua, lu enggak ingat sama gua david--ini gua Nia--Lu sering manggil Gua Nia"batin arlen.
"Nia"ucap David tiba-tiba membuat Arlen langsung menatap david saat mendengar nama itu.
"Namanya Nia"ulang David.
"Gua ketemu sama dia cuman sekali doang, gua cuman tau nama dia"lanjut David sedikit kecewa saat ini, Arlen masih menatap lekat wajah David dalam diamnya.
"Tapi entahlah gua gk tau keberadaannya sekarang, saat ini gua cuman berharap ketemu sama dia lagi"lanjut david lagi sambil tersenyum menatap Arlen.
"Dan sekarang gua ketemu lu Nia-lu di depan gua sekarang-ini benaran Lu kan? Nia yang cengen"Lanjut Batin David.
"Lu masih ingat sama gua ternyata tapi sekarang kenapa lu enggak kenali gua--Gua Nia Dav, Gua sekarang di depan Lu"batin arlen lagi.
"Hey---Arlen--Hello lu baik-baik aja kan"David menyentuh punggung tangan Arlen hingga membuat lamunan arlen buyar.
"Ah iya gua baik aja"balas arlen cepat dan sedikit gugup melihat Tangan David memegang tangannya.
"Oh Sorry"David langsung menarik tangannya saat sadar sama Tatapan Arlen.
"Lu anggota osis disini?"tanya David membuat arlen menggeleng.
"Enggak Ko, gua bukan anggota osis, gua cuman jalan-jalan ke sini aja"Balas Arlen tersenyum. David mengangguk.
"Oh"balas David singkat.
"Lu ngapain disini?"tanya arlen menatap David, David berusaha nenghindari tatapan langsung dengan arlen. Karena david enggak mau melihat tatapan itu.
"Gua masuk sekolah disini, gua baru pindah kesini seminggu yang lalu, gua ke sekolah hanya melihat-lihat lokasi aja sebelum gua benaran aktif"jelas David, Arlen enggak bisa menyembunyikan ekspresinya, Ekspresi antusias itu membuat David sedikit bahagia melihat itu.
"Ekh lu belum mesan makan--mau gua pesanin?"David baru sadar kalau sedari tadi arlen sama sekali enggak mesan apa-apa.
"Enggak usah--maksud Gua makasih-- gua udh kenyang"tolak halus arlen tersenyum kiku menatap David.
"Lu...."
"Nathania"teriak seseorang membuat Arlen kaget dan menepuk jidatnya saat melihat kakanya disana.
David ikut menatap kearah pintu masuk kantin. Disana ada seorang cowok yang menatapnya garang mendekati mereka.
"****** gua"batin arlen.
"Gua kesana Dulu ya, Bye"Arlen beranjak mendekati Kakaknya.
"Km----Astaga Nathaniaaaa"Geram arsen menatap kembarannya. Arlen masih memeluk lengah arsen.
David yang jauh beberapa meter darinya hanya diam menatap mereka, perasaan yang ganjel saat melihat Arlen memeluk lengah cowok itu.
"Hehe piss ka, maaf arl gk bilang dulu"cengesan Arlen ingin menarik kakanya keluar dari kantin.
"Lu udah punya Pacar Nia--lu lupa sama gua?"batin David.
"Ayo kak kita balik"Arlen menarik tangan Arsen, Namun Arsen hanya curiga kenapa adiknya ingin cepat keluar dari kantin.
Arsen teringat ucapan Rio tadi kalau adiknya kesini menemui seorang cowok.
Arsen langsung melangkag mendekati Meja David.
"Kak udah, Ayoo kita pulang"Arlen berusaha menarik kakanya, Namun hasilnya nihil karena kakanya terus melangkah mendekati meja David.
"Astaga apa yang bakalan kakak gua lakuin disana"Batin Arlen khwatir.
"Jangan dekatin Arlen lagi"Ucap arsen saat disamping David, David mendongak melihat Arsen.
"Kak Ayoo, perut aku sakit"Arsen langsung menatap Adiknya. Mendnegar itu arsen langsung khawatir dan menarik tangan adiknya keluar dari kantin.
"Selamat ulang tahun nia, karena hari ini ulang tahun Lu"batin David.
"Ck masih saja over ya kalau sama adiknya, dia kayak ngejaga berlian"Ucap Aldo yang sedari tadi merhatiin mereka. Rio ikit mengangguk mengiyakan.
"Apa cuman karena Cowok itu lu pergi enggak bilang dulu, gua udah bilang jangan berteman sama orang yang asing, yang belum lu kenal"Teriak Arsen saat mereka sudah di luar kantin.
"Dia bukan orang asing kak, Dia teman lama Arlen--arlen tadi lihat dia jadi arlen nyamperin"Jelas Arlen yang semakin jrngah sama kelakuan kakanya yang terus menganggaonya seperti anak kecil, yang enggak boleh bergaul sama siapapun.
"Ck teman lama km bilang, dia itu cowok Nathania"galak arsen menatap dingin kearah Arlen. Arlen menghembus nafasnya mendnegar ucapan kakaknya barusan.
"Apa salahnya Arlen punya teman Cowok, cewek- cowok sama aja kak bagi arlen, arlen kan sudah dewasa kak, jangan anggap Arlen masih anak kecil--please kak"rengek arlen namun pertengkaran kecil ini mengundang semua siswa si sekolah menyaksikan itu.
Mereka seperti sepasang kekasih yg sedang bertengkar.
"Di mata kaka km masih kecil, jadi jangan macam-macam dan jangan pernah beranggapan buat punya pacar, sekolah yang benar dulu"tegas arsen membuat Arlen kesal menatap kakanya.
"Kak please! Arlen bentar Lagi udah SMA kelas 3 dan bentar lagi kuliah, jadi berhenti anggap arlen kayak gitu, Arlen bisa bedain mana teman yang baik dan buruk buat arlen, Arlen tau kakak ngelakuin ini karena sayang sama Arlen tapi arlen sedikit enggak suka sikap kakak kayak gini--maafin Arlen"Arsen diam mendnegar semua ucapan adiknya.
"Jadi lu merasa udah dewasa! Lu enggak mau dengar apa yang gua larang lagi gitu? Oh oke kalau gitu, lu urus aja sendiri urusan lu, gua enggak bakalan ikut campur lagi"Arsen yang ingin pergi, Arlen dengan cepat memegang lengah kakanya.
"Arlen minta maaf, Arlen enggak bermaksud begitu, Maafin Arlen kak, maaf"mata arlen berkaca-kaca membuat Arsen enggak tega dan merangkul adiknya menuju parkir, Dia harus mengantar adiknya segerah pulang kerumah.
"Masuk"lanjutnya membuka pintu mobil untuk adiknya.
Arlen langsung Naik ke mobil tanpa sepata katapun. Selama di perjalanan mereka enggak ada yang berani membuka pembicaraan leboh awal.
Hingga perjalanan mereka sampai di rumah pun di dalam mobil itu masih sunyi.
Bersambung....
….
episode ini panjang jadi aku bagi dua ya...
See You.....