You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
S2 Twins eps - 17 (sudah revisi)



Author POV


"Gua mau pulang"ucap fio tiba-tiba,


Arsen yg tadi sibuk dengan kertas di depannya kini beralihmenatap fio.


Fio membereskan buku-bukunya dan memasukan kembali ke dalam tas, sekarang waktu sudah menunjukan 17:02 udah sangat sore, walaupun bundanya sudah tau kalau fio sedang belajar bersama. Tapi ada sesuatu yang harus fio lakuin.


Mencari pekerjaan? Ya fio harus melakukan itu, karena selama beberapa hari ini fio enggak kerja lagi.


"Gua anta...."


"Gua bisa pulang sendiri"sahut fii cepat beranjak dari duduknya. Arsen langsung menahan tangan fio dan menatap tajam kearah fio.


"Gua bilang antar ya gua antar--gua enggak ngasih lu pilihan sekarang"balas Arsen beranjak dan menarik lembut tangan fio keluar dari perpustakaannya.


"Tap--"


"Enggaka da penolakan Ailen"sahit Arsen tegas menatap fio kesal sebelum melangkah kembali menuju kamarnya.


"Ngapain kesini?"tanya fio takut karena Arsen membawanya masuk kedalam kamar. Kamar miliknya.


Arsen enggak peduli ocehan fio, terus menarik tangan fio masuk kedalam kamarnya. Dengan satu kaki Arsen mendorong pintu.


Bunyi suara pintu membuat fio semakin takut melihat pintu itu tertutup rapat.


"Gu--gua---"


"Lu duduk diam disini, gua mandi dulu, setelah itu baru gua anterin lu pulang"tegas Arsen mendudukan Fio di pinggir ranjang.


"Gu..."


"Enggak ada penolakan Ailen"fio melihat tatapan tajam itu lagi membuatnya diam sebelum terjadi sesuatu dengannya.


"Iya iya gua tunggu"potong fio cepat, membuat arsen mengangguk Puas.


"Kenapa sih kata-katanya selalu mengancam orang"gumam fio membuat Arsen tersenyum sinis.


"kalau gua ngomong pelan yang ada lu nolak,  lu gk dengarin gua"sahut Arsen langsung membuka bajunya di depan Fio.


Fio langsung menutup matanya karena kaget.


"Arseeenn lu gila hah?"teriak fio masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Gk usah malu kalau mau lihat, gua kasih gratis buat lu"ucap arsen menggoda fio, fio semakin menutup kedua matanya.


"Lu benar-benar gila, cepat lu masuk ke kamar mandi. kalau gk gua balik nih"ancam fio masih setiap menutup wajahnya sambil merem, fio gk berani membuka matanya dan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.


"Hahahaah"tawa Arsen langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"What? Arsen ketawa nyesel gua gk lihat dia ketawa"batin Fio.


Fio sudah membuka kedua matanya karena menyadari arsen sudah enggak di ruangan ini.


Fio menatap sekeliling kamar Arsen ini, rapi dan sangat maskulin banget.


Setelah menunggu 15 menit, fio bosan dan melangkah keluar kamar menuju balkon.


Fio menemukan gitar di atas kursi, seulas senyum bahagia melihat gitar itu. fio mangambil dan duduk memangku Gitar itu.


Fio mengingat dulu, dulu banget saat Fio belum tertarik main Gitar, fio hanya diam dan kagum menatap seseorang bernyanyi dan bermain gitar di depannya.


Sampai suatu hari itu, Fio ingin belajar memainkan gitar itu. Hingga sebulan penuh fio hanya melatih di rumah bersama orang itu. Namun enggak sia-sia, akhirnya Fio mahir dalam dua bulan latihan.


Hingga pas ulang tahunnya. Sebuah gitar yang Fio dapat di hari ulang tahunnya. Gitar itu gitar kesayangannya hingga saat ini. Gitar Yang merupakan kado dari ayahnya, ya dari ayahnya. Gitar itu kini menjadi hadiah yang paling terindah untuknya.


Jari lentik dan mungil Fio memetik gitar dan ikut bernyanyi, menyanyikan sebuah lagu yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang telah menghilang dari kehidupannya.


Tanpa sadar Di belakangnnya seseorang memerhatikannya sambil tersenyum. Orang itu membiarkan fio mengakhiri lagunya.


"Suar...."


"Aaaaa setan gila ---Omg---Yaaaakkkk" teriak fio kaget memejamkan kedua matanya dan memeluk erat gitar yang ada di pangkuannya. Suara yang tiba-tiba membuatnya kaget. Lamunannya tentang seseorang di masa lalunya kini buyar.


"Suara lu bagus juga"lanjut Arsen karena tadi fio memotong ucapannya arsen tersenyum, bukan hampir saja tertawa melihat ekspresi fio yg kaget tapi menahannya.


"Lu kayak jelangkung tau gk, datang tak di undang"ucap fio sini yg manis memegang dadanya, merasakan detak jantung yg sangat cepat karena kaget.


Fio menatap Arsen yang menggunakan kaos polos dengan jeans pendeknya. Ganteng. Kata itu begitu lolos dari pikirannya.


"Lu udah terpesona, udah akuin aja kalau lu suka sama gua"ucap Arsen pede dengan mengangkat sebelah alisnya, membuat Fio langsung sadar.


"Ayo anterin gua"fio beranjak dari duduknya dan menaruh gitar yg di pangku tadi kembali ke kursi semulannya.


Fio langsung berjalan masuk mengambil tasnya di atas kasur Arsen langsung keluar kamar.


Fio takut Kalau Arsen bakalan aneh-aneh seperti di ruang belajar tadi.


Arsen mengikuti fio dari belakang namun wajahnya selalu tersenyum, entahlah kalau bersama dengan fio dia tidak bisa menahan senyum itu.


"Ehem"dehem seseorang, Arsen dan fio langsung menengok ke Arah suara tadi. Ternyata Dadynya Arsen.


"Halo Om"sapa fio tersenyum menatap Alex disana.  Alex tersenyum mengangguk melihat fio.


Sedangkan arsen menatap dadynya penuh curiga.


"Hai nak fio, udah lama disini?"tanya alex yg kini sudah berhadapan dengan fio. Fio kembali mengangguk.


"Iya om dari jam 2 siang tadi"balas Fio sedikit cangguh melihat ketampanan Alex di depannya, walaupun sudah menjadi bapak tapi tetap aja ganteng.


"Ayoo kebawa kita makan dulu"alex langsung merangkul Fio menuruni anak tangga. Alex sengaja melirik putranya sebentar sebelum merangkul fio.


Fio cangguh dan dengan senang hati menerima ajakan itu, karena fio merasa nyaman. Merasa memiliki seorang ayah.


Fio terus menatap lekat wajah Alex dari samping. Fio akui wajah orang tua  yang merangkulnya jauh lebih tampan dibandingkan ayahnya. 


Namun jika ditanyakan kenyaman fio akan lebih nyaman sama ayahnya, namun saat ini fio merasa nyaman disamping orang tua ini.


"Daddy"teriak Arsen dari belakang, semakin marah saat melihat fio yang menatap Ayahnya dengab tatapan begitu.


Alex mendengar itu tersenyum sinis, sedangkan fio bingung menatap arsen berteriak di belakangnya.


"Udah jangan peduliin dia"bisik Alex terus membawa fio kedapur, dimana k


"Sayang, makan malam udah siap? ada gadis cantik mau makan"teriak Alex ke istrinya yang menyiapkan makanan untuknya, disana juga ada putrinya.


Arlen dan Tiara menatap Alex dengan senyum, alex memberikan kode kepada putri dan istrinya ke arah tangga atas.


Tiara dan arlen menatap ke atas melihat Arsen yang wajahnya merah padam, mungkin marah karena dadynya merangkul calon kekasihnya. Atau mungkin kekasihnya.


"Sudah sayang, ayo sini nak fio"ajak Tiara tersenyum, Fio mengangguk dan melangkah mendekati mereka.


Fio mendapatkan perlakuan baik tersenyum cangguh.


Alex dan fiopun duduk di kersi meja makan.


"Fio boleh bantuin?"Tawar fio melihat arlen yang sibuk mengelap piring dan sendok. Arlen tersenyum mendengar itu.


"Sudah Fio, Semuanya udah selesai"Balas Arlen meletakan piring satu persatu di atas meja dan tepat di depan masing-masing kursi.


"Mmm sebenarnya fio mau pulang om, tante"ucap fio sedikit merasa enggak enak menolakan ajakan makan mereka.


"Makan dulu ya, selesai makan baru Arsen mengantarkan km pulang"Rayu Tiara dan di anggukin Arlen dan Alex.


"Dad bentar lagi gajah bakalan ngamuk"ucap Arlen melihat kakanya dengan kasar menarik kursi dan duduk.


Arsen menatap tajam ke arah Arlen yang menyinggungnya tadi.


"Km pacarnya Arsen?"tanya Alex menatap fio. Fio kaget dan menatap Arsen dengan perasaan takut.


Semuanya sibuk makan tiba-tiba alex menanyakan itu.


"Iya dia pacar Arsen"Arsen yang menjawabnya sambil menatap tajam ke Dadynya, dadynya tanpa bersalah tersenyum sambil mengangguk.


Fio menatap horror ke arah arsen. Fio kembali menunduk dan kembali menyuapi satu persatu masuk kedalam mulutnya.


"Arsen-"Arsen menatap Ibunya dengan hembusan nafas berat. Entah emosinya enggak bisa terkontrol beberapa hari ini.


"Kakak jadi enggak galau lagi nyariin lu"Fio langsung menatap Arlen.


"Nyariin gua?"Gumam Fio pelan. Arlen yang mendapatkan tatapan dari kakaknya langsung memilih diam.


"Udah selesaikan ayo--Mom, dad aku mengantar fio"Arsen langsung menarik tangan fio keluar dari meja makan. Beruntuk piring yang di pegang tadi enggak jatuh.


Fio yang ingin menurunkan piring dan mencucinya, namun arsen lebih dulu menariknya pergi.


Arsen kembali mengacak poni adiknya yg duduk di sampingnya.


"Jangan kemana-mana km, awas aja kalau keluar tanpa memberitahu aku lebih dulu"ucapnya dingin kepada adiknya sebum melangkah pergi.


"Ah berantakan kaka, aku masih makan juga, iya iya Arl gk keluar"balas arlen kesel.


"Ail--"Arsen ingin teriak saat Fio melepaskan genggamannya, namun teriakan itu tertahan saat melihat tindakan fio.


"Om, tante, dan Arlen, aku permisi pulang dulu ya, terimakasih makanan nya"ucap fio tulus.


"Sama-sama"balas mereka bareng sambil tersenyum.


Fio pun mencium tangan Ara dan Alex pamitan.. Dan berpelukan dengan Arlen


Entahlah mereka seperti sudah mengenal lama, padahal baru hari ini namun mereka sudah akrab.


"Assalamualaikum"ucap fio sopan.


"Walaikumsalam"balas mereka semua fio tersenyum langsung berbalik menatap Arsen disana.


Fio langsung melangkah meninggalkan Arsen.


"Udah pergi sana"Singgung Arlen membuat arsen sadar.


"Assalamualaikum"Ucap Arsen langsung melangkah pergi dari situ.


Arsen melihat punggung fio yang berdiri di teras rumahnya.


Arsen melangkah menuju mobilnya. Arsen langsung naik dan memundurkan sedikit mobilnya agar fio naik.


Fio langsung masuk ke dalam mobil Arsen, arsen langsung menjalankan mobilnya.


Akhir-akhir ini Arsen menggunakan mobil tidak lagi menggunakan motornya.


"Boleh mampir di supermarket bentar?"Ucap fio takut-takut menatap Arsen.


Arsen tidak menjawabnnya, fio lebih milih diam saja. Mungkin arsen enggak mau mengantarnya.


Setelah 10 menit perjalanan Arsen menepihkan mobilnya disebuah supermarket.


"Lu mau belikan?, udah sana turun--gua tunggu disini--Buruan"ucap Arsen mendesak fio, Fio mengangguk dan langsung turun, karena hanya beberapa barang yang dia beli.


"Thanks"Ucap fio pelas dibalasi arsen hanya gumaman.


Fio menatap sekelilingnya ternyata di depan supermarket.


Fio melangkah masuk kedalam. Arsen masih menatap fio hingga masuk kedalam. Arsen merendahakan sedikit sandaran kursinya.


Merilexkan sedikit punggungnya.


"Gua rasa benaran jatuh cinta sama ni Cewek"gumam Arsen mengusap wajahnya berulang kali.


Bruk


"Awww"keluh fio karena seseorang menabraknya. Barang yg bawanya jatuh berserakan di lantai. Fio langsung memungutnya tanpa melihat orang itu.


"Maaf, lu baik-baik aja kan"ucap orang itu langsung membantu mengambil barang fio yang jatuh dan memberikan ke fio.


"Terim....."


"Vano"gumam fio melihat orang itu.


"Ailen hai gua senang banget ketemu lu disini"ucap Seseorang yg bernama Vano itu langsung memeluk fio, fio langsung mendorong Vano.


Fio langsung melangkah pergi tanpa menoleh kearah Varo Lagi. Vano enggak mau meninggalkan kesempatan, Vano langsung menyusul Fio. Mencekal tangan Fio.


"Fio hey masalah itu gu..."


"Gua gk butuh"sahut fio dingin tanpa menatap Vano yg berada di belakangnya, Fio melapkan tangan Vano dan mengantri di Antrian menuju kasir.


"Totalnya 215.000 ribu"ucap kasir, Fio membuka dompat dan menarik uang yang ada di dalam dompetnya.


Namun seseorang membayarnya lebih dulu, fio mendongak menatap orang itu yang sudah menenteng barangnya juga.


"Kembaliannya ambil saja"ucap orang itu langsung menarik tangan Fio keluar dari situ.


Fio kaget melihat Arsen yang kini menariknya, bukannya tadi dia di mobil. Menunggung di mobil?.


"Masuk"ucap dingin Arsen, fio langsung masuk, barang belanjaannya di tangan Arsen, dan melihat arsen menaruknya di jok belakang.


Arsen langsung ikut masuk.


Arsen menjalankan kembali mobilnya tanpa suara.


Sedangkan Vano melihat itu tersenyum masem.


"Siapa dia ailen? Apa di pacar baru lu Ai?"batin Vano.


Arsen menepih mobilnya saat sudah sampai di depan rumah fio.


"Siapa cowok tadi?"tanya arsen dingin melirik Fio dengan tatapan sinisnya.


"Enggak tau--Gua gak kenal"Balas fio santai sambil membuka sabuk pengamannya.


"Gak kenal tapi pelukan gitu maksud lu apa?"teriak Arsen sambil mencekal erat tangan fio, Fio kaget dengan teriakan Arsen. Suara bentak itu terdengar sangat keras.


"Gua enggak Tau"Balas Fio berusaha melepaskan tangan arsen yang menyakitu pergelangan tangannya.


"Jangan pernah dekatan sama cowok mana pun selain gua"ucap Arsen dingin melonggarkan sedikit genggamannya.


"Apaan sih"Fio bingun dengan sifat arsen yang selalu mengatur kehidupan sosialnya.


"Gua bilang jangan dekatan sama cowok siapapun"geram Arsen menatap tajam ke arah fio


"Dan mulai sekarang kemana-mana harus bareng gua"lanjut Arsen masih menatap tajam kearah fio, menahan emosi demi enggak mau menyakiti Gadis di sampingnya ini.


"Terserah lu, lepasin tangan lu"balas Fio, kini dia juga perasaannya bercampur aduk. Memikirkan orang yang tadi.


Arsen merubah tatapannya kini menjadi sendu dan lembut,  bukan lagi tatapan marah.


Fio dibuat kaget saat tangan arsen menariknya, merasakan kehangatan saat kedua tangan itu memeluk erat tubuhnya.


"Gua enggak suka lihat lu dekat sama cowok lain, hanya gua yang bisa meluk lu kayak gini"Bisik Arsen membuat Fio diam.


Cup


Arsen melepaskan pelukannya, namun sebelum itu arsen mengecup kening Fio singkat dan menatap lembut kearah fio. Fio yang masih menunduk enggak menyadari tatapan itu.


"Good night, besok gua jumput jangan berusaha kabur dari gua"ucap arsen yang masih menatap lekat wajah fio. Fio hanya mampu mengangguk dan membuka pintu mobil.


"Hmm Night"balas singkat fio langsung turun, Arsen melihat fio membuka pintu brlakang dan mrngambil barangnya tadi. Arsen masih melihat fio yang melangkah masuk kedalam rumahnya.


Dengan perasaan masih sedikit emosi arsen menggenggam erat setir mobilnya, arsen kembi menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


°♡♡°


Ditokyo….


"Ashilla---Darrel kemana? Ko sendirian?"Tanya seorang wanita paruh baya saat sudah duduk di ruang tamu, seorang gadis cantik yang bertamu di sore hari. Namun membuat wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia karena calon menantunya datang jauh-jauh mengunjunginya.


"Masih sibuk Mah, Ashilla mulai besok bakalan netap disini lagi, Ashilla pengen fokus milih Universitas disini saat Lulus nanti"Jelas ashilla tersenyum. Wanita patuh baya itu tersenyum bahagia sambil mengangguk.


"Gimana keadaan David Mah? Ada perkembangan?"Tanya ashilla mengingat itu membuat peradaannya sedikit sakit.


Wanita paruh baya itu langsung terlihat murung.


"Belum ada perkembangan setelah operasi itu, semalem kata dokter kalau dalam setahun David enggak ada perkembangan, mereka akan melepaskan semua alatnya"Wanita itu mengusap setetes air yang sudah jatuh menbasahi kedua pipinya.


Ashilla langsung memeluk wanita itu.


"Mah, mamah harus yakin kalau David bakalan sembuh, enggak ada yang enggak mungkinkan!, David bakalan kumpul lagi sama kita"Ashilla masih memeluk erat tubuh wanita rapuh yang masih berharap untuk kesembuhan putranya yang terbaring lemah di rumah sakit setelah melakukan operasi besar setahun yang lalu.


"Mama juga percaya David bangun, Tapi mama juga takut David ninggalin mama"Ashilla melepaskan pelukannya mengusap air mata Wanita itu dan menggeleng.


"David enggak akan pergi mah, percaya sama Ashilla"Wanita itu kembali tersenyum dan mengangguk.


"Kamu anak yang baik, Darrel beruntung dapatin kamu"Ashilla memaksakan senyumnya dan mengangguk.


"Mah--Ashilla minta sesuatu Boleh?"wanita itu langsung mengangguk.


"Apa sayang?"Ashilla ragu mengungkapkan itu.


"Ashilla pengen setelah lulus. Pernikahan Ashilla sama Darrel apa boleh setelah lulus Aja! Lebih cepat lebih baik kan Mah--Tapi Ashilla bum bicarakan ini sama Ibu sama Ayah--Ashilla baru bilang ke mama"Wanita itu tersenyum mengusap lembut rambut ashilla.


"Sudah bicarakan sama Darrel?"Ashilla langsung menggeleng.


"Apa terjadi sesuatu disana?"Ashilla kaget dan mengangguk.


"Ashilla takut Darrel ninggalin Ashilla Mah"wanita itu mengangguk dan mengusap punggung ashilla.


"Mama bakalan bujuk Darrel, Darrel juga bakalan senang dengar ini, kalian kan saling mencintai"Ashilla kembali tersenyum masem.


Kenyataannya Darrel kini lebih jauh daru dugaannya.


"Makasih banyak Mah, Ashilla sayang sama kalian"Ashilla kembali memeluk wanita yang selaku ibu kandung Darrel.


Agita anggraini, biasa di sapa Agita, yang merupakan ibu kandung Darrel. Perhatian yang lebih diberikan David, Darrel enggak mempermasalahkan itu karena kembarannya memang sakit setelah kecelakaan itu, sampai saat ini kesembuhan David masih perlu di tanyakan.


Kecelakaan itu membuat David harus terus mengikuti kemo hingga saat ini, dan masih banyak hal yang terus menyakitinya.


"Mah, Ashilla tau cara biar David bisa bangun mah"Ucap ashilla tiba-tiba membuat wanita itu kaget sekaligus senang.


"Bagaimana caranya Ashilla?"Tanya Balik agita. Ashilla duduk mendekati Agita sambil tersenyum.


"Mah pernah dengar enggak, David cerita gitu tentang seorang Gadis?"Agita langsung mengingat-ingat. Agita langsung mengangguk.


"Dulu sebelum kecelakaan, David pernah Cerita kalau temannya seoramg gadis yang cantik banget, David juga ngaku kalau dia suka sama Gadis kecil itu--Tapi sampai pertemuan dimana ulang tahun Gadis kecil itu membuat David kecelakaan, Mama enggak suka gadis itu datang--dia yang udah buat david jadi kayak gini"Awal cerita agita sangat bahagia, namun saat mengetahui itu, Agita kembali membenci gadis kecil yang telah merubah hidup putranya.


Ashilla kaget mendnegar itu.


"Ja--di--"Agita mengangguk mengiyakan isi pikiran ashilla. Ashilla menutup mulutnya saat mengetahui satu kenyataan ini.


"Darrel juga tau mah?"Tanya ashilla langsung, Agita menggeleng.


"Darrel enggak tau, David enggak mau bilang ini ke Darrel, Darrel hanya tau David kecelakaan saat pulang sekolah, tapi kenyataannya saat itu david sedang mencari kado untuk temannya itu--tapi nasib sial membuatnya celaka sampai buat kakinya patah hingga saat ini"Ashilla menggekeng dan langsung memeluk agita.


"Udah mah, jangan cerita lagi--Ashilla enggak kuat mah--maafin ashilla nanya ini buat mama sedih lagi"Agita tersenyum dan membalas pelukan ashilla.


Ashilla mengicar caranya berhasil membawa Arlen menemui David, dengan begitu Ashilla sangat yakin kalau david bakalan bangun saat mendnegar suara teman masa kecil yang ia rindukan itu.


"Tapi apa mama enggak mau coba! Siapa tau david bisa bangun mah, David kan sayang banget sama gadis itu"Agita diam memikirkan ucapan Ashilla. Ashilla berharap agita menetujuinya agar Darrel kembali dalam pelukannya.


"Jangan--Mama enggak mau gadis itu datang membawa sial untuk David lagi"Ashilla kembali diam dan melepaskan pelukannya.


"Yaudah mah gak apa-apa"balas Ashilla dan kembali diam.


Drrgghhh


Drrgghhh


"Papanya David udah tlpon, Mamah harus kerumah sakit sekarang"Ucap agita menatap nama tertera di ponselnya.


Ashilla ikut beranjak dari duduknya.


"Ashilla antarin mama ya"Ashilla mengambil tasnya. Agita tersenyum dan mengangguk.


"ASHILLA"teriak seseorang bersamaan pintu utama tebuka lebar. Ashilla langsung tersenyum melihat orang itu.


"Darrel--enggak sopan masuk enggak pakai salam--kapan kamu sampainya? "Agita ikut kaget melihat Darrel disana.


Darrel terkekeh dan melangkah mendekati ibunya.


"Maafin aku Mah, apa kabar?"Darrel langsung memeluk ibunya dan menanyakan kabar ibunya. Darrel menatap sekilas Ashilla disana.


"Baik sayang"Balas Agita membalas pelukan Putranya.


"Ashilla kamu buat aku kaget, kenapa enggak pamitan langsung, hanya sebuah pesan singkat!"Darrel menatap Ashilla disana, Ashilla melangkah mendekati mereka.


Darrel juga melepaskan pelukannya dan melangkah mendekati Ashilla.


Ashilla kaget saat mendapatkan pelukan Darrel. Apa sungguh darrel merindukannya?, atau hanya sebuah Acting karena ibunya masih disini?.


"Kalau gitu Mama pergi dulu, Darrel kamu antarin Ashilla pulang dulu"Darrel melepaskan pelukannya.


"Mama mau kerumah sakit"lanjut agita saat paham dengan tatapan putranya.


"Kita bareng aja Mah, sekalian ashilla pengen jenguk David"Darrel ikut mengangguk dan merangkul Ashilla. Agita melihat itu langsung tersenyum mengangguk.


Agita melangkah duluan keluar dari rumah.


"Kenapa kesini? Bukannya kamu sibuk sama gadis itu"Bisik Ashilla, Darrel menatap sekilas Ashilla dan mengangguk.


"Wajah kamu kenapa?"tanya ashilla menyadari lebam masih melekat di mata kanan Darrel, Darrel langsung menutupinya.


"Enggak ada apa-apa, ayoo"Darrel langsung menarik tangan ashila keluar.


Untuk aja sudah empat hari jadi luka di wajah Darrel sudah memudar.


Sudah sejak tiga hari yang lalu Darrel sampai di tokyo, tapi Darrel meilih untuk diapartemn aja tanpa memberi tahu keluarganya dan juga Ashilla.


Apalagi seseorang yang jauh disana. Darrel sama sekali enggak memberikan kabar untuk gadis itu.


Bukan berbarti Darrel marah sama Gadis itu karena kakaknya yang melukai wajahnya. Melainkan Darrel kesini hanya ingin menata Hatinya yang super berantakan hingga membuatnya takut.


Ya takut menyakiti kedua gadis itu.


"Maafin Gua Ashilla--separuh Hati gua udah di dia"Batin Darrel.


☆☆☆☆


Part 17 Finaly🎉🎉🎉🎉


Semoga kalian suka..


Vote + Coment ya.. 😊😊


See You... 😍