
Author POV
Seperti yang di janjikan Alex dan tiara untuk kedua anak kembarnya.
Malem ini mereka mengadakan Party ulang tahun untuk kedua anaknya.
"Kaka ayo ikut aku ke salon-aku enggaj mau sendirian--temanin Aku kak"teriak Arlen yang baru saja membuka pintu kamar Kakaknya, Arlen mengintip sedikit kedalam kamar kakaknya.
Senyum arlen terlihat jelas saat melihat kakaknya yang asik membaca buku diatas kasur.
Arlen langsung melangkah masuk tanpa persetujuan kakaknya.
Arsen serius membaca bukunya, walaupun dirinya sudah tau kalau adiknya melangkah mendekatinya.
"Kaka"panggil Arlen lagi membuat Arsen masih tetap diam fokus membaca bukunya.
"Kak Arseeennn"Teriak Arlen langsung menarik jempol kaki Arsen. Arsen menutup bukunya dan menatap adiknya jengah.
"Ajak mom saja Len, Aku enggak mau menginjak Tempat itu"balas Arsen beranjak dari duduknya mendekati Sofa empuk itu.
"Mom barusan pergi sama Daddy"jelas Arlen langsung berbarik di kasur kakaknya.
"Ajak Rere saja"balas Arsen singkat membuat arlen mendegus sebal.
"Kalau rere mau ikut! Enggak mungkin aku ajak kaka"keselnya menatap tajam kearah Arsen, namun tatapan tajam itu berubah menjadi lembut saat Arsen menatapnya, karena tatapan Kakaknya lebih tajam membuatnya sendiri takut. seulas senyum terukir di wajah arlen saat mendengar pertanyaan kakaknya.
"Ngapain harus ke salon segala sih?--Kalau jelek-jelek aja enggak usah alasan ke salon untuk mempercantik diri"Balas Arsen membuat Arlen semakin kesal.
"Yaudah, Jangan salahin Arlen kalau ketemu cowok diluar sana dan langsung Arlen gandeng buat nemanin Arl---"
"Fine aku akan ikut"Arsen menatap tajam kerah Adiknya.
Arlen melompat turun dari kasur, memasang senyum yang paling manis menatap kakaknya.
Arlen mendekati Arsen, Sedangkan Arsen menatap adiknya penuh curiga.
"Jangan coba-coba mengecup Pipi aku lag--"
Cup
Telat--arlen sudah mengecup pipinya dengan cepat.
"Terimakasih--aku punya kakak yang terbaik"Teriak Arlen sudah berlari keluar dari kamar arsen sebelum dirinya mendapatkan omelan dan tatapan tajam dari arsen.
Arsen menggeleng menatap kepergian Adiknya dan menghilang di balik pintu kamarnya.
"Gimana gua bisa biarin lu dekatin Cowok, sedangkan kelakuan agresif lu kayak gini Leeenn--gimana gua bisa percayain lu pacaran--lu belum cukup dewasa buat berpikir--"Gumam Arsen menggeleng kepalanya, mengingat bagaimana sikap adiknya.
Arsen beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati kamar mandi, dirinya harus membesihkan badannya secepat mungkin sebelum adiknya menerobos masuk kembali ke dalam kamarnya, mengeluarkan Suara Toa dengan seribu kata mengomelinya.
Selang 20 menit akhirnya arlen sudah selesai bersiap-siap.
Satu alasan arlen mengajar kakaknya pergi, biar dirinya enggak anggap jomblo terus. Numpung wajah kakaknya sangat tampan, jadi Arlen ingin berbangga memiliki pacar dari anggapan orang untuknya, padaha dia kakaknya.
Arlen menyambar ponselnya yang berada di atas meja riasnya dan langsung keluar dari kamar.
"Kaka ayoooo aku udah siap"teriak Arlen tepat di depan kamar Arsen.
"Aku tunggjin di bawah ya"Teriak arlen lahi melangkah menuruni anak tangga.
Sedangkan arsen didalam baru saja memakai sweater hitam dan celana jeans pendek.
Arsen mengambil kunci mobil dan ponselnya. Setelah itu arsen langsung melangkah keluar dari kamarnya.
Arsen menatap sekeliling dan enggak dapat adiknya. Arsen langsung melangkah menuruni anak tangga. Disana adiknya duduk menunggunya.
"Ayoo"ajak arsen berjalan mendahului adiknya.
Arlen tersenyum sangat lebar melihat punggung kakaknya.
"Enggak sia-sia gua ajak dia heheh"gumamnya terkekeh melihat penampilan kakaknya.
Arsen dikenal memang sangat menjaga Style nya, kemana pun pergi, Arsen selalu terlihat Rapi dengan Gaya coolnya itu.
"Kapan kaka gua berubah, masa gua jadi perawan tua, pergi sama cowok aja dijaga kayak gini ck"batin arlen.
Arlen langsung menyusul Arsen, Arlen melihat kakanya yang sudah naik kedalam mobil.
Arlen sedikit mendegus sebal karena kakaknya enggak mau membawa motor.
"Kenapa enggak naik motor aja! Siapa tau macet dijalan! Mobil kan enggak bisa nyelip kaya motor"ucap Arlen sambil memasang sabuk pengamannya.
"Alasan"balas singkat Arsen membuat Arlen tersenyum karena memang benar ucapan kakanya yang satu ini.
….
20 menit kemudian...
Kini mereka berdua sudah sampai di deoan bangunan elegant, Arlen langsung turun dari mobil.
"Masuk lah--kalau sudah selesai hubungi aku, aku akan ke Cafe biasa dekat sini"jelas Arsen menatap adiknya yang berdiri tepat di samping mobilnya.
"Yaaa--padahal mau pamer di temanin Cogan--tapi yaudahlah Oke"balas arlen tersenyum dan mengangkat jempolnya.
"Masuk sana"usir Arsen, Arlen mengangguk dan melangkah masuk, setelah Arlen sudah masuk kedalam.
Arsen menjalankan mobilnya pergi meninggalkan Arlen.
Drrrrgggg
Drrrggggg
Ponselnya bergetar..
Arsen langsung membuka isi pesan itu dengan satu tangannya, tangan kanannya iya gunakan untuk menyetir.
From My White
"Mommy sudah mengundang semua teman kamu di sekolah, kalau masih kurang dan perlu kamu undang ajak saja mereka, Pesta terbuka Umum Boy, semoga kalian suka dengan pesta yang Mom sama Dad sediakan"
Enggak ada niat untuk membalas pesan dari ibunya, Arsen meletakan kembali ponselnya dan menjalankan mobilnya.
Hanya butuh beberapa menit arsen sudah di depan Caffe. Arsen mencari parkiran untuk mobilnya karena mungkin didalam banyak pengunjuk hingga area parkiran saja hampir penuh saat hari ini.
Arsen menghembus nafas legah saat mendapatkan parkiran mobil kosong, Arsen langsung memarkirana mobilnya.
Setelah selesai Arsen langsung turun dari mobilnya. Masuk kedalam Cafe hanya membawa ponselnya.
Arsen menggapai Gang pintu itu dan mendorongnya ke dalam, Arsen langsung masuk, hampir semua tatapan tertuju padanya.
Arsen dengan santai melangkah menuju meja bar untuk memesan.
Setelah memesan Arsen menatap isi Cafe itu mencari tempat untuk duduk, namun semuanya penuh, hanya satu kursi yang kosong, namun di atas meja itu penuh dengan barang. mau enggak mau arsen melangkah mendekati meja yang memiliki satu kursi kosong itu.
Arsen juga udah terlanjur mesan jadi mau enggak mau dirinya harus duduk menunggu.
Arsen tanpa permisi langsung duduk begitu saja di kursi kosong itu.
Orang yang sedari tadi duduk di meja itu enggak menyadari kalau ada yang duduk kursi depannya.
Orang itu sibuk dengan buku tebalnya, buku pelajaran atau novel entahlah arsen juga enggak peduli, yang terpenting sekarang dirinya dapat tempat duduk.
Sudah tiga menit berlalu namun orang itu masih belum sadar akan keberadaan Arsen, Arsen diam menatap orang di depannya.
Orang itu berpikir keras sambil mengetik sesuatu di leptop yang berada di atas meja itu. Terlihat dari kerutan di keningnya.
Jari-jari lentik itu terus menyentuh keybord hingga menimbulkan bunyi.
"Sesibuk itukah sampai gak sadar ada orang"batin Arsen.
"Permisi dan terimakasih sudah menunggu, ini pesanannya"ucap pelayan yang mengantar pesanan arsen, Kopi susu hangat dan Sneak lain yang di pesan Arsen.
Orang yang duduk di meja itu langsung mendongak menatap pelayan itu dengan bingung.
"Saya enggak mes---"
"Gua yang mesan"Balas seseorang membuat orang itu sadar, pelayan tadi sudah beranjak pergi.
"Lu ngapain duduk disini?"teriak orang itu sadar saat melihat Arsen
"Ini tempat umum"Balas arsen singkat sambil menyedup minuman yang di pesannya tadi.
"Gua tau ini tempat umum, yang gua maksud ngapain lu duduk di meja gua"Kesal Orang itu, Fio. dia adalah fio, hanya dia wanita yang kesal dengan keberadaannya.
Padahal yang lain berharap dirinya duduk bergabung dengan mereka.
"Punya Lu? Ini meja Cafe"balas Arsen masih santai sambil meniup kopinya menatap Fio yang kesal melihatnya.
Fio menatap Arsen tak kalah tajam, Cowok di depannya ini seperti jelangkung yang suka mengganggunya.
"Sial--ni orang waktu diperut ibunya ngidam apa--pengen Gua cekik ya Allah--seadainya ngebunuh orang enggak ada undang-undnagnya, Udah gua bunuh"Batin Fio.
Arsen ikut mengerut keningnya saat melihat Tatapan fio yang ingin menerkamnya sekarang juga.
"Lu.. Lu Selalu mengganggu, apa mau lu sih"kesel fio yang ingin sekali menjambak rambut arsen sekarang juga.
"Gk ada"balas singkat Arsen sambil merhatikan Fio, Senyum tipis itu hanya Arsen rasakan, Fio sama sekali enggak menyadari itu.
"Sabar Fio--sabar--orang sabar di sayang pacar Cogan nanti"Batin Fio terus mengucapkan kalimat yang selalu iya sebut saat kesal.
"Terus lu bilang takdir gitu, tiba-tiba ketemu hahaha omong kosong"fio masih kesel karena mengingat kemarin hukuman yang arsen berikan cukup menguras tenaganya.
Membersihkan toilet yang negitu banyak. Sampai saat ini pun fio masih merasa oegang dikedua bahunya.
"Gua enggak ngomong gitu"balas Arsen memakan snek yg tadi di pesan, semakin menarik mengerjain cewek yang di depannya ini.
"Sial ni orang, Niat banget buat gua cepat tua"batin fio terus mengumpat.
"Kenapa gua senang lihat dia marah-marah"Batin Arsen.
Fio membereskan barangnya, fio memilih untuk keluar dari Caffe ini sebelum wajahnya dipenuhi keriput menghadapi cowok di depannya ini.
Bisa-bisa wajahnya bakalan keriput sebelum masuk masa tua nya.
Fio menghembus nafas berat saat semua barang sudah masuk kedalam tasnya. Niatnya ingin mencari pekerjaan sampingan di media sosial, dengan bantuan wifi gratis di Caffe ini.
Bekum selesai Namun seseorang telah mengganggu ketenangannya saat ini.
Fio beranjak dari duduknya, menyambar Tas dan enggak lupa ponselnya.
Belum melangkah Arsen sudah mencekal tangannya. Fio menatap tangannya yang di cekal Arsen. Tatapan kesal dan ingin berteriak di depan Arsen kini hanya berganti hembusan nafas berat.
"Duduk"ucap Arsen tanpa menatap kearah Fio dan masih mencekal tangan Fio.
Fio menatap jengah kearah arsen, cowok itu seolah memerintahkan dirinya untuk duduk kembali, padahal dirinya lah yang mengganggunya.
"Enggak--gua mau balik"balas Fio berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arsen. Namun arsen sama sekali enggak mau melepaskan tangannya.
"Duduk atau mau gua cium lu disini?"ancam Arsen mendongak menatap dingin kearah Fio.
Fio kaget mendengar itu, namun sama sekali Takut sama ancaman Arsen.
Tapi fio lebih takut di permalukan depan banyak orang dan fio memilih duduk.
Fio duduk dengan wajah di tekuk dan sangat kesal.
"Apa lu liat-liat!"kesal fio menatap tajam ke arah Arsen.
"Lu lucu"komentar Arsen menatap lekat Fio, membuat fio seketika diam dan kedua pipi itu langsung merona.
Tadi wajah fio merah menahan kesel kini berganti dengan rona di pipinya.
Arsen tersenyum tipis melihat rona di kedua pipi Fio saat ini. Entah sudah berapa kali Arsen tersenyum hari ini.
"Enggak mempan sama ucapan bual lu itu"ucap Fio jutek berusaha menutupi perasaan gugupnya.
"Yakin? Lu tersipu gitu sama ucapan gua? Oya--apa mungkin ini pertama kalinya lu dapat pujian dari cogan kayak gua!"ejek arsen masih menatap lekat Fio, fio memutar kedua bola matanya jengah menatap Arsen.
Bagaimana bisa cowok itu memuja dirinya sendiri.
"Yakin, gua enggak bakalan mempan sama kata-kata lu itu KETOS"geram Fio dengan menekan kata ketos di akhir kalimatnya.
"Jujur aja kalau lu suka sama gua, enggak usah gensi gitu, lu merona di depan gua dan mau pergi sekarang karena lu enggak kuat duduk sama gua, orang yang lu suka!"ucap arsen santai menatap Fio, Arsen mengambil cangkir kopi yang baru dipesannya lagi itu. Arsen meminumnya namun tatapan enggak lepas dari wajah fio.
Fio mendengar itu syok dan menatap Arsen enggak percaya, bukan kata-katanya tapi kalimat panjang yang arsen ucapkan dan arti kalimatnya itu.
"Sayangnya lu terlalu PD, Dan gua yakin 1000% gua enggak bakalan suka sama cowok sombong kayak lu--sama sekali gua enggak tertarik"balas penuh keyakinan Fio membuat Arsen tersenyum.
Fio menatap curiga senyum arsen saat ini. Senyum itu bukan senyum tulus melainkan menyembunyikan banyak rencana.
"Gimana kalau kata-kata lu terbalik--ya lu cinta mati sama gua!"balas Arsen menatap Fio dengan senyum sinisnya. Fio langsung tertawa begitu saja. Arsen melihat itu merasa tertantang.
"Dan gua seyakin-yakinnya itu enggak bakalam terjadi--sayang aja gua enggak bakalan mau apalagi cinta mati sama lu!--kayak enggak ada cowok lain aja"kekeh fio yang terus mengejek Arsen, kini senyum arsen terlihat semakin lebar dan sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati Fio, fio yang kaget langsung menjauhi Arsen dengan mundur.
"Gua bakalan buat lu suka sama gua"bisik arsen santai dengan senyumnya. Fio masih terpesona sama senyum arsen saat ini.
"Dia punya lesung pipi yang dalam--lesung di kedua pipinya---sangat sempurna"batin Fio.
Arsen semakin tersenyum melihat tatapan memuja dari fio saat ini.
"Dan gua enggak bakalan ngasih lu peluang untuk itu, jadi berhenti gangguin gua mulai sekarang"balas Fio yakin, menatap tajam dan kesal kearah fio.
"Kalau gua berhasil buat lu cinta mati sama gua!, lu bakalan ngasih gua apa?"tanya Arsen lagi seperti suara bisikan menatap fio, fio diam memikirkan ucapan arsen.
Entahlah hari ini arsen sangat menyukai kekesalan dan membuat ancaman kepada orang di depannya.
"Gua juga yakin lu engga bakalan berhasil karena gua udah punya pacar, jadi berhenti gangguin gua"balas fio membuat Arsen terkekeh, Fio menatap bingung kearah Arsen. Arsen menghentikan tawanya dan langsung mencondong kembali mendekati fio.
"Pacar dalam mimpi--iya"Lanjut Batin fio.
"Gua enggak percaya lu punya pacar! Enggak usah bohong sama gua. Deal! Jangan halangi gua buat lu cinta mati sama gua--hanya butuh waktu singkat buat lu cinta mati sama gua"fio menghembus nafas oanjang dan nenatap Arsen lagi.
"Berhenti gangguin gua--gua enggak suka sama lu udah jelas kan!--perlu gua jelasin lagi!---GUA SAMA SEKALI ENGGAK TERTARIK SAMA LU KETOS--nama lu aja gua enggak niat tau"Balas fio menekan semua setiap katanya. Arsen tersenyum sinis. Fio melihat itu hanya kesal.
Entah kenapa senyum arsen membuatnya ingun mencakar wajah Arsen sekarang juga.
"Secara enggak langsung lu nanyain nama gua--oke gua bakalan kenalan sama Lu--nama Gua Ars----"ucap arsen terpotong karena suara dering ponselnya.
Drrrgggggggg
Drrrgggggggg
Ponsel Arsen bergetar tanda ada panggilan.
"Kaka aku sudah selesai, kenapa lama sekali, aku udah sms tapi gk di bales-bales, aku capeh berdiri, kaka harus tanggung jawab"teriak seseorang di balik telpon arsen menjauhkan ponsenya dari kupingnya.
Fio tersenyum sinis menatap Arsen.
"Ini kesempatannya gua"Batin Fio.
Fio langsung beranjak pelan dari kursi, Fio melangkah pelan mendekati pintu keluar Caffe itu.
Berhasil..
Fio langsung berjalan menuju pintu keluar dengan cepat saat sudah sedikit jauh dengan meja Arsen.
Namun sebelum membuka pintu itu, Seseorang telah membukannya lebih dulu
Cup
Kecupan di pipi kiri fio membuat fio mematung di tempat saat benda basah itu mengwnai pipinya.
"See You next Day Baby"teriak Arsen saat udah melangkah keluar.
Senyum manis itu fio sama sekali enggak sadar karena terlalu tiba-tiba menerima kecupan singkat di pipinya, apalagi sekarang di tempat umum. Banyak mata tertuju padanya, ada yang tersenyum menatap kearahnya ara yang merasa iri.
Fio masih diam di tempatnya. Beberapa menit akhirnya Fio sadar saat melihat Arsen disana melambaikan tangannya, arsen yang sudah di dalam mobil, fio melihat di balik kaca transparan Caffe itu.
"yaaaaakkkk Dasar Cabul"teriak Fio tanpa sadar padahal dirinya masih berada di dalam Caffe itu.
"Shit, sial-sial-sial"umpat Fio saat menyadari dirinya masih di Cafe.
Fio mengambil Tas yang berada di tangannya, menutupi wajah sampingnya dan langsung melangkah cepat keluar dari Caffe itu.
"Br*ngsek Banget tu orang--awas aja--"gumam Fio kesal menatap jalanan di depannya.
Tangan Fio menggenggam erat Tasnya, melampiaskan kemarahannya ke Tas yang sama sekali enggak bersalah.
★★★★★★
Part 6 Finaly🎉🎉😀😀
14'juni'2017
Gimana udh greget belum..
Maaf baru sempat update lagi..
Vote + Coment ya..
(Karena ini semangat author😊)
See You....