You Are Mine (First Story)

You Are Mine (First Story)
S2 Twins Eps - 10b



Author POV


"Ai"fio yang sedari tadi berjalan menunduk kini mendongak menatap kearah seseorang yang berdiri beberapa meter darinya.


Fio tersenyum dan melangkah mendekati Lala. Sahabatnya. Disana lala tersenyum menyambut kedatangan fio.


"Lu baru nyampe?"tanya fio, pertanyaan konyol yang keluar dari bibir Fio saat ini. Disana fio bisa melihat Lala terkekeh.


"Iya baru nyampe, lu juga kan?"balas lala yang sudah menggandeng tangan fio masuk kedalam kelasnya.


Fio ikut begitu aja sampai mereka duduk di bangku.


"Kakak gua baru datang dari Paris, Ntar pulang bareng gua ya"Fio tersenyum dan menggeleng, Fio meletakan tasnya di atas meja.


"Maaf La, Nanti gua kerja setelah pulang sekolah, dan selesai kerja gua ada ngisi Acara di Caffe kayak biasanya"Lala menatap kecewa ke arah fio, fio mengacak lembut rambut lala dan terkekeh.


"Next time La--besok gua cuman manggung aja jadi bisa mampir kerumah lu"lanjut Fio membuat kedua mata lala berbinar bahagia dan mengangguk.


"Gua mau kenalin lu sama kakak gua, nyokap sama bokap gua masik di paris jadi kakak gua bakalan sebulan disini"fio kembali mengangguk.


"Next time aja--ko guru belum datang ya?"gumam fio menatap teman-temannya yang lain.


"Lu berdua enggak tau--bhs inggris kosong, gurunya enggak datang"Sahut seseorang di depan mereka. Fio sama Lala mengangguk dan duduk diam.


"Are you Oke?"Fio tersenyum dan mengangguk, walaupun baru mengenal Lala, Fio sudah menceritakan semua kisahnya ke Lala, jadi lala mengetahui semuanya. Termasuk bullyan itu.


"Kak Vina masih gangguin lu?"bisik Lala takut ada yang dengar.


"Udah enggak ko, ya gua cuman buat jarak aja sama ketos itu, karena Tu cewek suka sama ketos jadi dia ngebully gua cuman karena ketos"Lala mrngangguk dan terlihat kesal.


"Gimana kalau ketos benaran suka sama Lu fio?"Fio terkekeh membuat lala bingung.


"Kenapa?"tanya Lala langsung, Fio menggeleng dan menepuk bahu Lala.


"Enggak mungkin La--yang ada di cuman mau tebar pesona ke semua cewek termasuk gua"lala kembali menggeleng menatap fio.


"Ya mungkin aja kan, buktinya dia terus gangguin lu Ai--kalau bukan suka apa?"Balas lala membuat Fio mengubah duduknya berhadapan sama Lala.


"Barusan dia jemput gua--tapi gua enggak mau jadi gua naik BUS--dia juga ikut naik Bus"lala langsung tersenyum tapi berbeda dengan fio yang seperti terbeban saat menceritakan itu.


"Dan lu tau dia bilang ke gua--dia bakalan buat gua cinta mati sama dia--setelah itu dia bakalan ninggalin gua--jadi gua disini sama sekali enggak berharap sama dia--sama sekali gua enggak suka sama dia--karena di hati gua masih ada seseorang yang gua sayang sampai sekarang"Lala mengangguk dan langsung memeluk fio.


Hanya karena cowok itu sahabatnya mendapatkan bullyan yang enggak kemanusiaan dari seniornya.


"Fio ketos nyariin lu"lala melepaskan pelukannya dan menatap kearah pintu kelas.


"Gua mau ngomong sama lu"suara itu terdengar sangat dan menuntutnya untuk harus ikut.


"gua enggak mau"balas fio menatap lala yang di sampingnya.


Lala menggenggam tangan fio yang dingin, saat Orang itu melangkah mendekatinya.


"Maafin Gua Ai--gua sama sekali enggak bisa bantuin lu"bisik Lala pelan, Fio tersenyum dan menggeleng.


"Bukan salah lu"Balas fio dan mereka saling tersenyum.


Fio merasakan tangannya ditarik oleh orang itu, hingga membuat genggaman Lala lepas. Fio hanya pasrah mengikuti orang itu.


Lala sedih menata punggung fio keluar dari kelas.


"Gua mau lu sama kakak Gua Ai--gua bahagia kalau lu mau sama kakak gua"Batin Lala.


Lala nekat menjodohkan sahabatnya dengan kakaknya yang sudah kerja, lala hanya ingin ada seseorang yang membantu sahabatnya saat seperti ini.


Orang itu terus menariknya menaiki anak tangga hingga keatas sekolah.


Fio dengan pelan langsung melepaskan tangan orang itu.


"Gua enggak suka lu jauhin gua"ucap orang itu membuat Fio diam dan sama sekali rnggak mau membalas ucapan orang itu.


Semua badannya terasa sangat capeh dengan semua keadaan yang berada di dalam lingkungan sekolah ini.


Ditambah seseorang yang terus menganggunya, membuatnya enggak nyaman berada di sekolah ini.


"Siapa?  lagian gua enggak kenal sama lu, enggak usah gangguin gua, lu hanya gua anggap sekedar ketua osis disekolah ini, berhenti anggap gua ada, berhenti buat hidup gua silam, kehidupan gua udah buat gua capeh di tambah lu yang terus gangguin gua"balas fio dengan nada pelan bahkan seperti orang yang terlihat putus asa.


Orang itu kaget dan menarik tangan fio lagi agar fio berhadapn dengannya. Orang itu semakin kaget untuk pertama kalinya melihat fio menangis. Air mata yang deras membasahi kedua pipi mulus itu. Araen, arsen kaget melihat air mata fio saat ini.


"Tapi gua ingin lebih dari anggapan lu ke gua sebagai ketos"Fio diam, Fio benar-benar capeh menghadapi orang di depannya ini. Udah bermacam umpatan dan kata pedas untuk cowok itu tapi tetap aja Arsen selalu mengangguknya tanpa mengubir semua ucapannya.


"Maksud lu apa? Lu mau buat gua menderita datang ke sekolah ini? Lu udah berhasil semenjak pertama kali gua masuk kesekolah ini"balas fio mengusap air matanya.


Arsen masih melihat wajah fio tanpa ekspresi membalas ucapannya, fio yang kesal dan penuh banyak ekspresi itu kini hilang.


Fio melotot kaget merasakan kehangatan di tubuhnya, arsen memeluknya. Fio masih mencerna semua kejadian ini.


Beberapa menit lalu cowok itu meneriakin dengan kalimat yang menyakitkan dan kini memeluknya.


"Maafin gua pagi tadi--gua enggak bermaksud ngomong itu--itu cuman reflek karena gua emosi"Fio masih diam mendengar ucapan arsen dan pelukan tiba-tiba ini.


"Gua ada kelas, minggir"fio langsung mendorong arsen agar melepaskan pelukannya. Sekali dorong pelukan arsen langsung lepas.


"Lu ribet banget, gua sama sekali enggak paham sama sikap lu Ailen"langkah fio berhenti saat arsen memanggilnya dengan nama itu.


"Gua enggak butuh lu pahami sikap gua---Lu yg bikin ribet disini, gua udah bilang jangan gangguin gua, kalau lu enggak gangguin gua semuanya selesai, gua enggak kenal lu---dan lu juga enggak kenal sama gua"balas fio sebelum melangkah turun.


"Siapa bilang gua gk kenal sama lu"arsen mengejar Fio. Yang sudah berada di tengah tangga. Fio menatap di bawa tangga cukup banyak siswa. Fio berbalik menaiki kembali sebelum ada yang tau dirinya sedang bersama ketos.


Fio bersandar di pintu saat pintu itu sudah tertutup. Arsen disana hanya tersenyum penuh makna saat melihat fio yang begitu takut.


"Lu Fiorenza Aileen Aretha, lu tinggal berdua sama ibu lu, ayah lu meninggal 2 tahun yang lalu, lu sekolah disini ambil jurusan IPA 1, setelah pulang sekolah lu Nyanyi di setiap Cafe dan kerja"jelas Arsen membuat fio kaget namun berusaha menyimpan ekpresi terkejutnya.


"Lu stalker hah?"balas fio membuat arsen tersenyum mendekati fio.


"Enggak, gua hanya cuman dengar dari orang"balas arsen masih tersenyum.


"Yang jelas gua gk kenal sama lu, please berhenti gangguin gua--ada yang harus gua jaga hati seseorang--jadi menjauhlah dari gua"senyum jahil arsen hilang begitu saja saat mendengar balas fio. Emosinya kini melunjak mendengar itu.


"Awkh"keluh fio saat arsen menarik tangannya dengan kasar, bahkan sangat kasar hingga membuat pergelangan tangannya sakit.


"Siapa dia Ailen?"Fio berusaha melepaskan genggaman arsen yang erat di pergelangan tangannya. Tatapan tajam arsen, fio sangat jelas melihat mata gelap yang penuh emosi itu.


"Lepasin dulu"Dengan sekali hentakan akhirnya genggaman arsen lepas dari tangannya.


"Dia yang sekarang jadi pacar gua"Balas fio sinis menatap balik tatapan tajam arsen..


"Enggak ada yang boleh ngisi hati lu selain gua--lu milik gua Ailen--lu hanya punya gua"Arsen kembali menahan tangan fio. Fio melepaskan kembali tangan Arsen.


"Gua bukan barang yang seenak jidat lu klaem milik lu--hati gua benaran udah milik orang lain kalau lu penasaran ingin tau"fio langsung berbalik dan menuruni anak tangga.


Arsen langsung menyusul fio dan berteriak.


"Lu nolak gua, gua bakalan buat lu lupa sama orang itu"itulah teriakan arsen, siswa yang berada di lantai bawa itu langsung menatap kearah mereka.


Fio enggak mau berbalik, fio terus menuruni anak tangga melewati mereka yang berbisik tentangnya.


Fio enggak tau setelah ini keadaan dan masalah apalagi yang fio dapatkan.


"Gila dia nolak ketos kita"


"Astaga buat gua aja"


"Cik sok jual mahal tu cewek"


"Palingan make pelet"


"Bentar lagi pasti mau tu cewek"


Masih banyak lagi bisikan dari anak-anak lain.


"Apa yang dia lakuin lagi ke lu? "tanya lala saat melihat fio di ambang pintu kelas. Lala beranjak dan langsung memeluk fio saat melihat sembab di wajah fio.


"Dia mau gua kenal dia dekat"balas fio jujur, Lala hanya menggeleng enggak bisa menebak sikap ketosnya yang satu itu.


"Jadi dia benaran suka sama lu?"heboh lala, fio menggeleng dan membekap mulut lala yang barusan teriak.


"Mana ada suka, orang suka enggak maksa gitu la"balas fio mengeluarkan ponselnya.


"Tapi menurut gua dia suka sama lu Ai"Fio diam menatap ponselnya. Lala ikut menatap ponsel Fio.


"Dia yang udah rebut hati lu?"tanya lala melihat walpaper fio, diaman fio dan seorang cowok memakai seragam biru putih saling tersenyum.


Fio mengangguk dan mengunci ponselnya kembali.


"Mtk ka kan ya"Lala mengangguk.


"Masih free Ai, hari ini kita free--pada rapat gurunya"Jelas lala.


"Kantin yuk"ajak fio yang sudah beranjak dari duduknya.


Fio sama lalapun mencari tempat dan meja yang kosong.


"Gua yang mesan ya--lu kayak biasanya apa ganti menu?"tanya Lala saat masuk kedalam kantin.


"Kayak biasanya aja, gua duduk disana ya"balas fio menunjuk meja kosong disana, Lala mengangguk dan pergi memesan.


Fio melangkah mendekati meja itu, namun banyak bisikan tentang dirinya.


"Eh cewek itu yg gua bilang tadi"


"Di yg nolak ketos"


"Syukur deh kalau nolak"


"Yap benar, mereka enggak cocok juga"


Fio menghembus nafas panjang saat mendengar itu.


Fio memilih untuk sibuk sama ponselnya dan menunggu lala datang membawa makananya


"Makanan datang"ucap lala duduk di depan fio meletakan nampan isi makanan di atas meja.


Fio melepaskan ponselnya dan langsung makan.


"Udah enggak usah dengarin kata mereka, di bawa santai ajalah"lala berusaha menghiburnya, fio tersenyum dan mengangguk.


Tatapan fio berhenti saat melihat seseorang yang duduk enggak jauh dari mejanya.


"Loh--itu bukannya cewek yang berapa hari ini dekat sama ketos ya"batin fio.


Ya cewek yang biasanya jalan sama ketos hanya dia, entahlah mungkin mereka pacaran atau gimana. pikir fio.


Tapi sekarang dia duduk sama cowok yang beda. Bukan urusannya lagi.


"Lu kenal sama dia?"tanya lala saat sadar tatapan fio ke cewek yang duduk enggaj jauh dari mereka.


"Enggak ko"balas Fio menggeleng dan kembali fokus makan.


"Tapi lu lihatin mereka terus"balas lala tersenyum geli, fio ketangkap basah tapi enggak mau ngaku.


Tiba-tiba seseorang menghentikan aktifitas Fio, fio menoleh kesamping karena merasaan seseorang yang duduk disampingnya. Dan benar ada orang di sampingnya.


"Ngapain lu disini?"galak fio. Orang itu hanya terkekeh.


"Please! Kenapa dia kayak batu--menganggap semua omongan gua kayak angin--kayak enggak terjadi apa-apa sebelumnya"batin fio.


"Inikan kantin"balas orang santai


Dan kedua sahabatnya mengambil kursi duduk bergabung.


Fio menatap jengah kearah mereka. Fio melihat lala yang ikut enggak nyaman keberadaan mereka.


"La gua lupa kalau gua harus kembaliin buku ke perpus"ucap fio membuat lala mengangguk dan ikit beranjak.


"Duduk"ucap Arsen yang sudah mencekal tangan Fio. Menarik paksa hingga membuat Fio duduk kembali.


Fio menatap lala disana yang takut karena di samping kiri-kanan itu ada kedua sahabat Arsen.


"Lepasin gua--apa lu tuli tadi--sama sekali enggak tau malu"Ucap pedas Fio hanya membuat Arsen santai dan menikmati minuman milik fio yang masih penuh.


"Dan lu berdua, menjauh dari sahabat gua"Aldo sama rio langsung kaget mendengar suara tegas fio itu. Aldo sama Rio otomatis menjauh sedikit duduk mereka.


"Lu cantik"puji Aldo mendapatkan hadiah tatapan tajam dari arsen, namun aldo mengambaikan tatapan arsen dan kembali menatap Lala.


"Lu keturunan China?"Lala langsung mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya.


"Pantes mata lu cipit-cipit gitu, kulit ku juga mulus banget"mendapatkan pujian itu membuat rona di kedua pipi lala mencul.


Pletak


Rio langsung memukul belakangkepala Aldo.


Fio melihat itu kembali menghembus nafas panjang.


"Oya cewek lu selingkuh, sono"ucap fio sambil nunjuk arah bangku yang cewek duduk sama cowok.


Arsen langsung ikut melihat arah tunjyk fio dan emosi.


Dengan kesempatan Fio langsung narik lala keluar dari kantin.


"Saat kenaikan kelas aku langsung pinda sama orang tua aku di singapure, dan waktu itu mendadak banget jadi aku enggak sempat pamit sama kamu"jelas David membuat arlen diam dan David merasa sikap arlen sedikit berbeda hari ini, enggak sama kayak semalem.


"Pantas aja, besok pas masuk sekolah kamu enggak ada, nanya ke yang lain mereka pada enggak tau kamu dimana"balas Arlen sambil mengaduk minumanannya, tanpa ekspresi saat arlen menjawab itu.


"Are You Oke? Kamu beda arlen--enggak kayak semalem"Akhirnya david menanyakan hal itu yang sedari tadi mengganjal di hatinya.


Arlen langsung menarik tangannya yang di genggam David. David melihat itu ikut kaget dan menatap arlen.


"Ada apa? Kamu ada masalah?"tanya David lembut kembali menarik tangan arlen lembut, namun arlen kembali menarik tangannya lagi.


David kaget melihat arlen mengusap air matanya, itu artinya arlen menangis dalam diam. Pantas saja sedari tadi Arlen menunduk menutupi wajahnya dengan poninya itu.


"Ada apa?"tanya david lagi kini menyingkirkan ana rambut yang menutupi wajah arlen, arlen semakin menunduk.


"Aku mau putus Dav, Maaf"David kaget dan ingin mennmanyakan banyak hal ke arlen. Mereka baru semalem jadian dan arlen memutuskan hubungan mereka.


"Apa dia tau gua?"batin David.


"Nyokap sama bokap gua enggak setuju Dav--termasuk kakak gua--maafin gua"David menghembus nafas beratnya.


"Kamu enggak mau berjuang sama aku--bujuk mereka untuk merestui hubungan kita?--aku berani ketemu sama mereka arlen"entah kaliamat dari mana yang keluar begitu saja dari bibir David. Hingga membuat david ikut kaget sendiri.


"Apa yang gua lakuin?"batin David.


"Maafin aku, aku enggak bisa ngebantah keluarga aku, maafin aku"Arlen langsung beranjak meninggalkan David.


David yang ingin menyusul Arlen namun seseorang menahannya.


"Siapa lu berani dekatin adik gua hah?"suara dari belakang dan langsung mendorong David, david menerima sasaran dadakan itu langsung mundur.


Arlen kaget akan hal itu saat mendengar suara teriakan kakaknya.


'Oh jadi itu kembarannya ketos! Pantes aja gua rasa enggak asing lihat wajah tu cewek'


'Mereka mirip--benaran kembar mereka'


'Gua dengar sih gitu kalau ketos kita punya kembaran cewek, dan ternyata dia--cantik banget'


'Kembarannya ketos'


"Kakak Stop "teriak arlen menarik arsen menjauh dan melepaskan tangan arsen yang berada kerak kemeja david.


David memperbaiki kemeja seragamnya dan menatap kesal kearah Arsen.


"Sorry gua gk maksud---gua cuman menyapa teman lama--dan pacar gua"balas david semakin membuat arsen emosi, bagi arsen cowok di depannya ini terlalu membanggakan diri memperkenlkan dirinya sebagai pacar adiknya.


Kedua tangan arsen terkpal ingin sekali menonjok cowok di depannya ini, namun arsen enggak bisa karena dirinya ketos disini, arsen enggak mau membuat nama nya menjadi jelek.


Arsen melepaskan tangan adiknya dan mendekati David, Arlen mengira Kakanya akan melakukan sesuatu, namun enggak, arsen hanya mendekati David.


"Cerdas dikit dekatin adik gua--bukan mengaku sebagai teman masa kecilnya--cara lu buat gua jijik---gua muak lihat muka sialan lu ini"Bisik Arsen membuat David kaget menatap arsen yang tersenyum sinis menatapnya.


"Dia tau gua--sial"Batin david.


Arsen langsung menarik tangan Adiknya pergi keluar dari kantin.


"Udah kak lepas--Aku enggak ada hubungan lagi sama dia"Arsen menghentikan langkahnya menatap adiknya yang sudah terisak.


Arsen langsung memeluk adiknya.


"Itu lebih baik Arlen--Maaf-- kaka hanya ingin menjaga kamu"gumam arsen pelan memeluk erat adiknya.


Arlen terisak pelan dan membalas oelukan adiknya.


"Tapi arlen benaran sayang sama dia"batin arlen.


Mengorbankan sesuatu demi keluarganya, apakah arlen akan kuat!, arlen sama sekali enggak tau apa yang ia lakukan setelah ini.


Teman masa kecilnya datang bukannya membawa kebahagiaan melainkan rasa sakit yang timbul dalam hatinya.


"Kakak hanya takut kamu lebih sakit setelah tau dia--seenggaknya kamu sakit sekarang dari pada kamu berlama-lama sama dia dan aku enggak mau kamu suka benaran sama dia--kamu akan sakit--aku enggak mau lihat lu cengen cuman karena dia"batin arsen.


Aldo sama rio hanya tersenyum melihat twins yang saling berpelukan itu.


"Gua aja takut dekatin arlen karena Kembarannya itu galaknya minta ampun deh, emak-emak di pasarpun gua lebih takut arsen--gila"gumam Aldo membuat Rio terkekeh dan memukul kepala aldo pelan.


"Cowok brengsek kayak lu mana mau arsen ngasih adiknya ke lu"Balas Rio membuat aldo memgangguk.


"Senggaknya gua udah punya gebetan sekarang"Rio menatap curiga keAldo yang senyum-senyum.


"Jangam bilang cewek China tadi?"aldo mengangguk antusias.


"Lu enggak lihat sohibnya yang galak tadi"senyum aldo langsung hilang mendnegar itu.


"Sial lu--gua lagi ngebayangin gandeng tangan tu china malah lu ngomong gitu--buyar hayalan gua"Rio langsung menertawakan Aldo.


♥♥♥♥♥♥♥♥


Part 10 Finaly🎉🎉🎉🎉🎉


Semoga suka😊😊


Yg make Instagram


Follow IG aku yuukk


👉Itsme_d.a_


Vote + Coment ya....😆😆


See You...