
Author POV
"Arsen--kamu masih enggak mau jujur sama Ibuk? Baiklah kamu akan ibu skors 3 Hari, sesuai peraturan sekolah ini. ini pertama kalinya ibuk lihat kamu berkelahi di sekolah, seharusnya kamu ngasih contoh yang baik untuk yang lain, kamu seorang ketos harus jadi contoh yang baik, bukan adu tonjok kayak tadi. Gimana kalau anak itu masuk kerumah sakit"Arsen hanya diam saat Kepsek ngoceh di depannya.
Arsen sama sekali enggak menanggapi ucapan kepsek di depannya.
"Tapi ibuk enggak akan keluarin kamu dari olimpiade itu, karena nama kamu sudah terdaftar disana. Tugas kamu hanya hilangin biruan di wajah kamu itu sebelum lomba itu mulai--Sudah kamu bisa keluar, ingat tiga hari kamu enggak boleh ke sekolah"Arsen langsung beranjak keluar dari Ruangan itu.
Hanya anggukan, arsen sama sekali enggak mau mengeluarkan suaranya.
"Gimana? Lu benaran di Skors?"Tanya Rio langsung saat mrlihat Arsen yang udah keluar dari Ruang Kepsel.
"Sumpah? Benaran?"Kaget Aldo saat melihat arsen mengangguk mengiyakan ucapan Rio.
"Iyaa--pinjam motor lu--nih mobil gua"Ucap arsen memberikan kunci mobilnya dan meminta kunci motor Rio, Rio langsung memberikan kunci itu dan menerma kunci mobil arsen.
"Gua mau lu berdua antarin adik gua pulang nanti, gua duluan"Arsen langsung melangkah meninggalkan kedua sahabatnya yang masih bengong enggak percaya.
Arsen terus melangkah, tujuannya saat ini hanya ingin ke parkiran. Pergi dari sekolah ini. Pikiran arsen juga kacau untuk saat ini.
"Arsen ini ada buku di kasih bu Armi"Ucap seseorang menahan tangan Arsen sebelum arsen memakai helm.
"Wajah lu kena--"
"Bukan urusan Lu"Sahut arsen singkat dan langsung memakai helmnya.
"Tapi ini gima--"
"Datang ke rumah gua nanti sore--Belajar"Balas Arsen langsung melaju motornya pergi dari halaman sekolah. Membiarkan Gadis itu diam dan melogo melihat motor arsen semakin menjauh.
"Dia berantem? Sama siapa?"gumam Gadis itu. Gadis itu kembali menggeleng menghilangkan perasaan sedikit khawatir itu.
Gadis kembali melangkah masuk kedalam bangunann itu, karena sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.
"Enggak asik besok kalau Arsen benaran enggak masuk"gadis itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara itu.
"Arsen kenapa?"tanyanya langsng dan membuat dua orang itu kaget.
"Fio--lu buat gua kaget"Ucap aldo memegang dadanya karena benaran kaget.
"Gua enggak bakalan ember, Arsen kenapa bisa babak belur?"Tuntut Fio membuat Aldo menghembus nafas panjang.
"Berantem dan Di skors 3 hari"Balas aldo pelan sambil melirik sekelilingnya takut ada yang dengar selain mereka.
Fio langsung melangkah pergi saat mendnegar jawaban itu. Aldo sama rio kembai melogo.
"Heran gua"Gumam mereka berdua melihat punggung fio semakin mejauh.
°♡♡°
"Kalau sakit bilang ya--aku enggak pandai ngobati"Ucap Arlen saat menuangkan sedikit air hangat di handuk kecil. Darrel diam dan tersenyum menatap Arlen.
Darrel memperbaiki duduknya kini menghadap kearah Arlen.
Arlen membuang sedikit air di handuk itu dan membersikan darah kering yang melekat di kulit kering di wajah Darrel.
"Kamu udah lama tinggal di aparteman ini?"Tanya Arlen sambil membersihkan Darah itu.
"Pas pindah kesini"Balas Darrel singkat masih menatap lekat wajah Arlen dari dekat. Arlen hanya mengangguk dan serius membersihkan wajah Darrel.
"Pantas aja David Jatuh cinta sama lu, Cantik"Batin Darrel.
"Kenapa harus pindah, bukannya bentar lagi bakalan UN!"Darrel masih diam menatap lekat wajah Arlen, tangannya tanpa sadar memegang tangan arlen.
"Kangen sama kamu"Balas Darrel santai yang masih menatap lekat wajah arlen yang serius mengibati luka di wajahnya.
Arlen menghentikan aktifitasnya mrmbalas tatapan Darrel.
Darrel yang terbawa suasana, tangan kanan terangkan mengusap lembut pipi arlen, arlen menerima itu detak jantungnya mulai enggak beraturan.
Ditambah Wajah Darrel yang semakin mendekati wajahnya.
Drrrggghh
Drrgghhhh
Arlen kaget dan langsung bernajak saat ponselnya berdering.
My Brother Call
"PULANG SEKARANG ARLEN NATHANIA CASANDRA"arlen menjauhkan kupingnya saat mendengar suara tegas milik kakaknya.
Arlen mendegus nafas panjang saat melihat ponselnya, panggilan sudah terputus.
Berbeda dengan Darrel yang terus mengumpat karena kejadian tadi yang hampir mencium Arlen. Baginya terlalu cepat mencuri ciuman pertama Arlen. Darrel takut Arlen akan memarahinya setelah ini.
Arlen berbalik menatap Darrel masih duduk di Sofa. Ada rasa gugup saat kejadian tadi terlintas kembali di pikirannya. Rona merah itu muncur di kedua pipi cubbynya.
Kalau bukan dering ponselnya, Mungkin kejadian dipikirannya saat ini sudah terjadi.
Arlen menghembus nafas panjang yang terdengar berat itu berulang kali.
"Arlen aku tadi---Maaf"Darrel beranjak dari duduknya, Arlen mendongak menatap Darrel yang melangkah mendekatinya. Belum sempat membalas ucapan Darrel, sesuatu yang hangat menyelimutinya.
Detak jantung arlen semakin takaruang saat menerima pelukan itu.
"Apa yang gua lakuin?"Batin Darrel yang sama sekali enggak bisa manahan gejolak yang terus ingin menyentuh Gadis yang berada di pelukannya ini.
Satu kenyataan yang membuatnya terus mengumpat, gadis dalam pelukannya ini adalah gadis yang di cintai kembarannya.
Darrel merasakan kedua tangan mungil arlen membalas pelukannya.
"Aku harus pulang--kakak aku barusan tl--"
"Aku ngerti"Balas Darrel cepat saat melepaskan pelukannya.
"Pulang lah--makasih udah obati--"Lanjut Darrel tersenyum sambil mengusap lembut rambut Arlen, arlen membalas senyum Darrel dan mengangguk.
"Tapi belum selesai--aku antarin ke dokter ya--"Darrel menggeleng dan melangkah menjauh dari Arlen. Mengambil Tas arlen dan mendekati arlen kembali.
"Aku enggak apa-apa, luka biasa yang bentar lagi bakalan sembuh dengan sendirinya"Balas Darrel, Arlen menggeleng menatap lekat wajah Darrel yang bagian mata kirinya sedikit bengkak hingga menghalangi penglihatannya.
"Jelek ya!"Ucap Darrel saat menyadari Tatapan Arlen. Arlen menggeleng dan mengangkat tangannya menyentuh wajah darre.
Darrel langsung memejamkan matanya saat meradakan usapan lembut itu.
Cup
"Cepat Sembuh"kedua mata Darrel langsung terbuka lebar saat sesuatu menyentuh mata kirinya yang bengkak.
Semburan rona merah di kedua pipi arlen sangat terlihat jelas, saat sadar apa yang telah ia lakukan sekarang. Arlen langsung melangkah menjauh dari Darrel.
Darrel langsung tersenyum melihat arlen salah tingkah sendiri yang sudah menjauh darinya.
Darrel melangkah mengikuti Arlen saat arlen menjauh. Arlen dengan cepat melangkah keluar dari apartemen Darrel.
"Jangan keluar--aku akan marah---dan aku bisa pulang sendiri--byee--cepat sembuh Dav"Teriak Arlen sebekum menutup pintu apartemen Darrel.
Darrel didalam terkekeh namun tetap membuka kembali pintu apartemennya, dan melihat arlen berdiri di depan Lift.
"I Love You"Gumam Darrel tanpa sadar. Disana arlen tersenyum sebelum masuk kedalam lift.
Darrel langsung sadar akan ucapannya, Darrel mengacak frustadi rambutnya karena telah keluar dari batas kewajarannya mendekati gadis itu.
Darrel melangkah mencari ponselnya yang sejak tadi enggak ada di genggamannya.
Darrel membongkar isi tas sekolahnya dan ketemu ponselnya yang merk terkenal itu.
Darrel menghidupkan ponselnya.
Drrggghh
Drrggghh
From Ashilla:
"Ingat selalu janji kamu Rel, jangan tinggalin aku--jaga hati kamu--aku akan kembali ke tokyo untuk melanjutkan sekolah kembali disana"
"S**t!"Umpat Darrel saat saat membaca isi pesan itu.
Darrel melangkah masuk kedalam kamarnya karena tubuhnya membutuhkan air dingin untuk saat ini.
°°♡♡°°
Huuuuuffffh
Fio berulang kali menghembus nafas panjangnya berulang kali sambil menatap bangunan mewah didepannya saat ini.
Fio melangkah mendekati gerbang itu.
"Maaf neng, blm bayar"Fio kaget dan menepuk jidatnya saat melihat tukang ojek di belakangnya. Fio terkekeh malu dan menyerahkan selembar uang untuk ojek itu.
"Makasih bang"Ucap fio, tukang ojek itu mengangguk dan menghilang dari halaman rumah itu.
Fio melangkah kembali mendekati gerbang itu.
"Neng Fio ya?"Fio kaget saat seseorang sudah membuka gerbang itu, fio langsun mengangguk, kedua tangannya masih memeluk buku tebal yang merupakan materi untuk mereka lomba nanti.
"Mari masuk neng, Den Arsen sudah nunggu di dalam"Fio kembali mengangguk dan melangkah masuk.
Berbeda dengan orang yang ada di dalam rumah, pertengkaran masih berlanjut saat seorang cowok menuruni anak tangga mendapati adiknya yang baru datang.
"Masih mau ketemu sama cowok itu?"ucap sinis Cowok itu membuat adiknya kaget, dengan peradaan takut dan sedikit keberanian gadis itu terus melangkah.
"Benaran--david berantem sama kakak"Batin arlen saat melihat wajah kakaknya yang sebagian membiru.
"Wajah kakak kenapa?"arlen berusaha menyembunyikan satu fakta kalau dirinya sudah mengetahui luka di wajah kakaknya itu.
"Enggak usah mengalihkan pembicaraan, lu masih ada hubungan kan sama cowok sialan itu!---sampai kapan lu bohong hah?"Teriak arsen melangkah mendekati adiknya.
Emosinya kini enggak terkontrol lagi.
"ARSEN--jangan teriakin adik kamu kayak gitu--"suara Ibu mereka yang menghentikan pertengkaran mereka.
Arlen langsung melangkah mendekati ibunya dan menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang tubuh ibunya.
"Naik dan ganti baju kamu arlen"Bisik Tiara mengelus lembut punggung tangan Arlen.
"Mom! Jangan biarkan anak itu terus berbohong--Lu keras kepala, lu enggak deng--"
"Arsen pelankan suara kamu--biar mom yang mengurusnya"Arlen masih menunduk. Takut menatap kakaknya.
Karena arlen enggak bisa menyembunyikan wajah bohongnya, kakaknya pasti tau, bohongan sekecil apapun itu.
"Mana ponsel kamu arlen? Kenapa tlpon mom enggak di angkat?"Arlen langsung mencari ponselnya.
"Ketinggalan di mobil"Balas arlen saat mengingat ponselnya.
"Mobil siapa? Pagi tadi kamu enggak bawa!"Arlen melirik kakanya disana yang masih menatap tajam kearahnya.
"Punya rere Mom"
"Yaudah ambil dulu ponsel kamu, dan naik ganti baju kamu"arlen mengangguk dan berlari keluar rumah.
Fio terus melangkah hingga di depan pintu. Fio menghentikan langkahnya saat melihat pintu yang hargabya hampir ratusan juta itu.
Seakan fio enggak berhak menyentuh gang pintu itu.
Crreekk
Fio kaget saat tiba-tiba pintu itu terbuka.
"Ekh--ada tamu---pacarnya kak Arsen?"Fio menatap seorang cewek di depannya ini dengan kaget.
"Dia kan pacarnya arsen? Tapi apa maksudnya barusan!"Batin fio saat melihat cewek di depannya.
"Ayoo masuk---kak arsen ada di dalam--"Ajak arlen masih tersenyum. Fio masih bingung menatap arlen.
"Gua salah alamat kayaknya"Ucap fio ingin berbalik namun arlen dengan cepat menahan fio. semakin membuat arlen terkekeh.
"Gua arlen, kembarannya Arsen"Arlen mengulurkan tangannya membuat fio kembali kaget.
"Jadi lu adiknya arsen yang pernah di ceritain tant--om maaf--gua Fio"Fio langsung membalas uluran tangan arlen dan memperkenalkan dirinya.
Dengan cepat fio menarik tangannya karena harus membompong buku berat itu.
"Yaudah masuk aja--gua mau ke bagasi mobil ngambil barang"Arlen langsung melangkah ke garasi mobil, fio masih menatap arlen hingga masuk ke garasi mobil.
"Ngiler lu--Ayo masuk"Fio kembali di buat kaget saat seseorang sudah mengambil buku di tangannya dan menarik tangannya masuk kedalam rumah.
"Lu bisa pelanin langk---assalamualaikum tante"Fio langsung melepaskan tangan arsen dan memberikan salam untuk tiara yang duduk di sofa.
Tiara beranjak dan tersenyum menatap Fio.
"Walaikum salam nak Fio--mau belajar lagi?"Tanya Tiara, Fio tersenyum dan mengangguk.
"Sudah Tante"Balas fio melirik sekilas Arlen yang baru masuk dari pintu utama. Arlen yang masih menggunakan seragam yang sama sepertinya.
"Ayoo makan bareng Gua, Gua juga belum makan"Arlen melirik kakanya yang menatap tajam kearahnya. Arlen mengabaikan tatapan itu dan mendekati Fio.
Namun sebelum arlen menggapai tangan fio, Arsen lebih dulu menarik tangab Fio.
"Enggak, dia sama gua---dan Kamu arlen--jangan keluar rumah tanpa persetujuan dari aku--dan jelaskan semuanya nanti malem"ucap Arsen langsung menarik lembut tangan fio menaiki tangga.
Fio berbalik senyum canggu dua wanita di lantai satu.
"Apakah momi setuju?"tanya Arlen melangkah duduk di samping ibunya.
"Sangat setuju, momi rasa fio anak yang baik"balas Tiara tersenyum menatap punggung putranya
"Kalau Arlen!"tanya arlen lagi tersenyum menatap ibunya.
"Mom akan pikirkan setelah pacar km kesini menemui mommy sayang"balas Tiara menuju dapur.
"Dan Mulai sekarang Mom akan ikut campur masalah percintaan kamu sayang--Mom hanya enggak mau lihat kamu sedih"Lanjut Batin Tiara.
"Mommy"Teriak Arlen berlari menyusul ibunya.
"Maafkan aku Mom--Dad--Kakak"Batin Arlen.
°♡♡°
Di ruang perpustakaan Arsen...
Fio berulang kali menghembus nafas beratnya sebelum bokingnya menyentuh kursi yang super empuk itu.
"Kita mulai dari awal ya"ucap fio membuka buku kelas 10 MTK yang di bawanya tadi.
Arsen mengangguk namun tatapannya enggak lepas fio.
Mereka pun larut dalam pelajaran mereka. Arsen yang hanya diam-diam mencuri tatapan untuk fio yang serius mengisi soal di sampingnya.
Arsen yang sudah selesai mengejakan soal itu hanya diam melihat Fio yang serius banget berpikir mengisi soal itu.
Bagi arsen soal ini sudah sangat ia hafal jawabannya, karena ini mata pelajaran awal saat dirinya masuk kesekolah ini. Dan mungkin isi buku yang mereka pelajari saat ini sudah terhafal di luar kepala.
"Lu kalau diam gini tiap hari kan cantiknya plus plus "tanya Arsen tiba-tiba
Fio yang mengerjakan soal tiba-tiba berhenti dan menatap tajam kearah arsen di sampingnya.
Disana arsen hanya tersenyum polos tanpa melepaskan tatapannya. Fio mendegus sebal.
"Sayangnya gua enggak ada uang receh"Balas fio membuat arsen terkekeh dan menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
Dengan jahil Arsen menegakan tubuhnya dengan satu tangannya sengaja merangkul Fio.
Fio langsung melepaskan tangan arsen dan pindah tempat duduk.
"Kerjain yang bener"ucap fio berusaha agar tidak terlihat gugup di depan arsen.
Siapa sih yang tidak tertarik sama cowok yang di depannya! semua cewek pasti ingin sekali menjadi pacarnya. Cowok berwajah sempurna itu ingin dimiliki semua orang.
Fio pun berpikir seperti itu, tapi dia tidak mau berandai akan hal itu, hal itu sangat mustahil baginya.
"Gua udah selesai--lu aja yang kelihatan Bodohnya--kelamaan ngerjain soal gamoang gitu aja"Sahut Arsen dengan kalimat pedasnya membuat fio berulang kali mendegus nafas panjang itu kembali.
"Terserah lu"Fio kembali mengisi soal yang hampir selesai.
"Bisa enggak saat ngomong sama gua lu lihat gua"ucap Arsen menatap lekat fio.
Arsen baru menyadari selasa ini Fio menghindari tatapannya.
Fio jadi salah tingkah akan ucapan Arsen itu.
"Gua harus selesaikan ini, gua masih banyak kerjaan setelah ini"balas fio berusaha sibuk dengan tulisan tangannya.
Arsen beranjak dari duduknya, pindah di samping fio dan menahan fio agar enggak beranjak dari duduknya.
Arsen mengambil Pulpen fio dan meletakkannya di atas meja, fio langsung mendongak melihat ke arah Arsen yang kini menatapnya lekat.
Fi menunduk kembali namun Arsen menahan Dagunya.
"Bisa enggak kalau lu patuhi omongan gua! dan bisa enggak lu berhenti hindarin gua--dan buka hati lu nerima keberadaan gua"ucap Arsen lembut namun terdengar dingin di telinga fio.
Fio masih tak berani menatap Arsen, Fio lebih suka melirik sekelilingnya.
"G-gua.."fio terlihat gugup.
"Gua enggak minta apapun dari lu tapi satu hal yg gua harap jangan hindarin gua"sahut Arsen lagi.
Fio semakin gugup saat merasakan usapan lembut di dagunya.
"Kita ha-harus sel-lesaiin So-a..." gugup fio langsung melepaskan tangan Arsen di dagunya.
"Persetan dengan soal, gua sekarang bukan bahas itu Ailen"geram Arsen langsung memegang kedua pipi fio dengan kedua tangannya yang kokoh.
"Apa lu bisa kabulin permintaan gua yg satu itu?"ucap arsen menatap lekat mata fio. Fio otomaris langsung menggeleng.
"Buat apa gua kabulin permitaan orang kayak lu"Balas Fio cepat membuat Arsen terkekeh. Namun fio merasa itu alarm berbahaya.
"Satu permintaan?"Ucap arsen lagi, Fio kembali menggeleng.
"Enggak akan---Lu hanya bermain dekatin gua--gua enggak mau terus ada di dek---"
"Lu takut jatuh cinta sama gua? Lu enggak bisa hindari itu---lu hanya bisa jatuh cinta sama gua"Sahut Arsen cepat dan menjauhkan tubuhnya membuat fio bernafas legah.
Namun nafas legah itu tertahan saat arsen kembali memegang erat kedua bahunya. Fio dapat melihat tatapan penuh emosi itu.
"Aduh kenapa situasinya kaya gini sih"batin Fio panik.
"Enggak akan--Niat lu cuman buat gua sakit kan--gua enggak akan biarin itu"Balas fio memberanikan dirinya untuk membalas tatapan arsen.
"Karena lu terang-terangan nolak gua--gua enggak suka di tolak"dengan kesempatan fio langsung menjauhkan tubuhnya saat Arsrn melepaskan kedua tangannya yang berada di bahunya.
"Awwkh"keluah Fio saat Arsen menarik paksa tangannya dan berakhir Fio duduk sangat dekat dengan arsen saat ini.
Arsen langsung mengangkat kedua kakinya mengunsi tubuh fio yang kini duduk di atas sofa bersamanya.
Arsen memegang erat kedua tangan fio saat fio ingin melepaskannya. Jadi kedua kaki arsen berada di pinggang fio, mengunci tubuh fio.
"Hanya satu cara yang buat lu jadi Milik gua"Ucap arsen tersenyum sinis menatap fio, Arsen sengaja mendekatkan wajahnya, namun fio terus memundurkan kepalanya menghindari.
"L-lu mau ngapain?"tanya fio matanya melotot melihat tingkah Arsen yang di luar dugaannya.
"Lu harus mengandung anak gua"ucap Arsen menatap perut Fio, membuat fio semakin melotot.
"Lepasin gua--"Fio berusaha sekuat tenagan melepaskan kedua tangannya yang di genggam erat oleh Arsen.
Fio tidak bisa lari karena keadaan mereka sekarang duduk dan tanpa sadar kedua kakinya juga di tahan sama kedua kaki Arsen di atas kakinya.
Posisi mereka sekarang arsen di sampingnya dan meletakan kakinya di atas kaki fio yang tadi duduk memanjangkan kakinya.
"Lu gila"teriak fio masih terus ingin melepaskan diri. Namun Arsen hanya tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya.
"Ya gua gila! Karena lu yang buat gua Gila"balas arsen semakin tersenyum saat fio enggak bisa menghindari lagi.
Arsen hanya ingin gadis di pelukannya ini mengakui ketampananya.
"Arsen"Geram Fio saat hidung mancung Arsen menyentuh hidung mungilnya. Arsen dapat merasakan nafas memburu dari fio.
"Gua menang"Batin Arsen.
Fio semakin gugup saat melihat arsen yang hanya tersenyum.
"Iya--i--ya"Gugup fio saat bibir arsen tinggal beberapa centi menyentuh bibirnya.
"Sialan, rubah licik sialan"Batin fio terus mengumpat.
"Iya apa?"Tanya arsen tanpa menjauhkan tubuhnya.
"Cantik"Batin Arsen saat menatap wajah fio dari dekat. Bahkan sangat dekat.
"Jadi pacar lu---Si**"Fio langsung me doring tubuh arsen dengan sisa tenanganya. Arsen langsung menjauh membuat kan fio sedikit udara untuk pernafasannya.
"Tapi jangan ganggu sama kegiatan gua"lanjut fio kini duduk sedikit menjauh dari arsen.
"Good girl"ucap Arsen mengacak lembut Rambut Fio.
"Tapi ada sy---Yaaakkk lu mau ngapain lag---"Kaget Fio saat Araen mendorongnya hingga terpojok di tangan sofa.
"Kiss Me"ucap arsen santai dan masih tersenyum puas karena Fio begitu takut.
"Enggak. Itu gk akan pernah"balas fio tegas dan langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.
"Gua akan mengubah kata lu jadi pernah, atau bahkan sering setiap hari"balas Arsen masih senyum, bahkan senyum kali ini sangat manis jika fio menyadarinya.
Cup
Arsen langsung mengecup tangan Fio yang menutupi bibirnya itu.
Cup
Dengan kesempatan saat fio melepaskan tangannya, Arsen langsung mengecuo singkat Bibir fio, Arsen kangsung beranjak dari duduknya, melangkah menuju rak-rak buku.
Berbeda dengan Fio di buat bengong matanya melotot dan bibirnya masih terbuka karena kaget. Firskissnya sudah di ambil seseorang yang setiap hari membuatnya darah tinggi.
"Sial--gemes banget gua"Batin Arsen yang menguruti dirinya sendiri yang enggak bisa mengontrol ingin menyentuh fio.
"Kedip mata lu"suara arsen menyadarkan fio dalama diamnya sejak tadi.
"Firs kiss gua ****"teriak Fio menatap garang ke arah Arsen berdiri enggak jauh darinya.
Untung saja ruangan kerja Arsen kedap suara. Jadi orang luar enggak dengar suara teriakan fio.
"Lu pacar gua jadi itu milik gua juga"ucap arsen santai dan kembali mengutak-atik buku di hadapannya sambil tersenyum.
Arsen mendengar itu terkekeh.
Mungkin ini akan membuat satu kegiatan yang menyenangkan menurut Arsen.
"Satu lagi, apapun yang menyangkut tentang lu, urusan lu, mulai sekarang bakalan manjadi urusan gua juga"jelas arsen menatap fio yang masih mengumpat dengan kata-kata nya.
Arsen melangkah mendekati Fio, fio menyadari itu langsung berdiri dan melangkah mundur sambil menutup bibirnya. Takut arsen mencuri ciuman keduanya lagi.
Arsen tersenyum melihat tingkah lucu fio.
"Gua hanya ambil ini"ucap Arsen mengambil buku yg tadi di hadapan fio.
Dan melihat buku yg tadi fio pakai.
"Ini masih salah"ucapnya sambil menunjukan buku yg tadi di pakai fio,soal yang di kerjakan fio tadi.
Fio langsung melihat bukunya cepat mastiin soal yang di kerjakan tadi, dan berpikir dia sudah mengerjakan dengan benar mana mungkin salah.
Fio langsung berjongkok di samping arsen yg masih melihat ke arah bukunya..
"Mana yang salah?"tanya fio dengan penasaran. Menatap lekat buku jawaban soal tadi.
Cup
Arsen langsung mencium pipi kiri fio yang dekat dengannya.
"Yg salah lu nolak gua kemarin-kemarin"setelah mencium pipi fio arsen langsung mengucapkan kata itu.
Fio yang tadi jongkok kini langsung duduk di lantai.
"Lu milik gua"bisik arsen langsung beranjak dan kembali duduk di sofa tadi dia duduk.
"Dasar cowok sarap, Lu apain Gua"teriak fio menatap tajam ke Arah Arsen dan melempar barang yg ada di depannya.
Arsen menangkat tempat pensil yang di lempar fio tadi.
Arsen masih tersenyum melihat fio yang kelihatan frustasi.
"Apa efeknya sampe segitu kah ciuman gua? padahal cuman sekilas di bibirnya, bukam l***tan"batin arsen tersenyum geli.
"Gua lembutin gk mau, terpaksa gua gunakan cara kayak gini"lanjut batinnya
♥♥♥♥
Part 16 Finaly🎉🎉🎉🎉
Semoga suka😊
Vote + coment ya😆😆
See You...😍😍😍