Wings & Dust

Wings & Dust
Welcome to Faedemy



Seorang Fae Ripper wanita. Dia pelatihku untuk beberapa hari ke depan, atau mungkin bisa untuk selamanya karena aku sudah sangat payah. Persis seperti dugaanku, dia mengapresiasi usahaku dengan makian.


"Kepakkan sayapmu!"


"Lakukan yang benar!"


"Dasar gadis bodoh!"


"Kau masih bocah, ya?!"


"Sayapmu hanya sebagai pajangan ya?!"


Dan aku sudah melewati hari pertamaku dengan cobaan yang begitu berat. Sudah berkali-kali aku mencoba untuk mengepakkan sayapku. Sayapku masih saja tidak bergerak dan tidak mau menurutiku. Aku terjatuh berkali-kali dari ketinggian hampir 18 meter. Meskipun sudah memakai pengaman, aku masih merasakan rasa pegal dan ngilu pada otot-ototku saat aku akhirnya berjalan dengan susah payah menuju kamar yang sudah disiapkan. Aku menyeret tubuhku sendiri, dan dengan mata berat dan rasa kantuk yang tiba-tiba melandaku, aku berhasil memasuki ruang kamarku.


Kamarku terlihat simpel. Meski tidak sebesar kamar Lilies, kamar ini sudah cukup untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku tidak menyadari keberadaan orang lain saat aku praktis merebahkan diri di atas ranjangnya.


"Aaww! Sayapku!" Suara melengking itu segera menyadarkan lamunanku. Aku langsung mengerjapkan mataku, berusaha mengusir rasa kantuk pada mataku. "Maaf!" ujarku kepada seorang gadis cantik berambut hitam lebat. Dia adalah seorang Fae Aqua. Aku sudah menyentuh sayap biru indahnya.


Aku tidak salah kamar, kan? Aku buru-buru mengecek nomor kamar yang sedang kumasuki. Perasaan lega merayapiku saat aku menatap plang yang bertuliskan nomor '60'.


"Ternyata benar," lanjut gadis itu. "Aku sekamar dengan Egleans." Gadis itu tiba-tiba bergetar ketakutan, lalu menjauhiku. "Tolong jangan memakan sayap indahku," pintanya sambil terisak.


"Apa? Bukan begitu," aku mencoba menjelaskannya bahwa aku bukanlah seorang Egleans, namun gadis itu masih menghindariku. "Tidak! Jangan dekati aku!"


Akhirnya aku menyerah. Lalu aku berbaring di ranjangku yang terletak dekat dengan pintu. Selimut putih berbahan wool yang tebal langsung menghangatkan tubuhku. Aku masih bisa mendengar suara isakan tangis gadis itu, namun aku mengusir perasaan bersalah yang mulai merambatiku. Apa sih sebenarnya yang kuharapkan?


***


Keesokan harinya saat aku mulai memasuki aula tempat makan yang luas, aku lagi-lagi mendapat reaksi yang sama. Sekumpulan Fae Fire yang semula bercakap dengan riang di dekatku, mulai berteriak dan menjauhiku saat mereka melihat sayapku.


"Dia Egleans yang dirumorkan!"


"Lihat sayap di punggungnya!"


"Waah, sayapnya kecil sekali!"


Salah satu Fae Fire mulai melemparkan bola-bola api ke arahku. Aku menjatuhkan makananku, lalu menggunakan nampan yang sedang kugenggam untuk menghalangi serangan darinya. "Hati-hati! Kalau dia marah, tamatlah riwayat kita!"


Aku pun sedikit bersyukur atas perkataan Fae itu, karena setelah itu tidak ada lagi bola-bola api yang terlempar ke arahku.


Akhirnya aku disuruh makan seorang diri di sudut ruangan. Sebagian besar Fae menatapku dengan was-was. Ada yang pura-pura tidak memerdulikan kehadiranku, namun aku bisa melihat ujung telinga mereka yang berkedut. Mereka diam-diam sedang mengawasiku.


Aku tidak suka ditatap dengan cara seperti itu. Akhirnya aku membalas mereka dengan senyum menyeringai. Ada yang kembali berteriak histeris, mungkin takut aku akan melompat ke tengah ruangan dan merobek sayap mereka. Akhirnya mata-mata itu tidak lagi melihat ke arahku.


Aku juga mendapati banyak tatapan sinis saat berjalan di sekitar lorong tengah hari. Mereka terus-terusan memandangi sayapku. Aku berjalan lebih cepat, berusaha untuk tidak memerdulikan tatapan itu. Rasanya seperti tampil di atas panggung lalu tersandung dan terjatuh. Bedanya, saat aku berada di belakang panggung, tatapan itu masih menghantuiku.


Aku memutuskan untuk selalu mengenakan jubah luaranku untuk mengurangi kericuhan. Ini masih minggu pertama. Aku sebisa mungkin sudah mengurangi kehadiranku setiap kali kami makan bersama, ataupun saat lorong masih terasa ramai.


Aku kembali berlatih dengan Fae Ripper itu. Ia menyuruhku memanggilnya Miss Farloe. Berbeda dengan Ledion, wanita ini ternyata jauh lebih kasar. Kami sedang berdiri di atas pilar. Aku berusaha untuk menyeimbangkan diri di atas pilar agar tidak terjatuh.


"Pertama, rentangkan lebar-lebar sayapmu," perintahnya. Aku langsung melakukan persis seperti perintahnya. Langkah awal memang mudah. Bayi Fae yang baru lahir pun sudah bisa merentangkan sayap dengan sendirinya.


"Jangan melamun!" Bentaknya. Aku langsung membungkuk, malu karena sudah merasa bangga padahal keterampilanku masih jauh di bawah rata-rata. "Tarik napas dalam-dalam. Coba untuk merasakan setiap inci sayapmu. Cobalah berkenalan dengannya."


Aku memejamkan mataku, lalu menarik napas sedalam-dalamnya. Dari ketinggian seperti ini, aku bisa merasakan angin sejuk yang menggelitik pada sayap kecilku. Berkenalan, berkenalan, berkenalan, aku terus mengulangi kata itu dalam hati.


"Aku mau melihat kepakan sayapmu. Sekarang," katanya lagi. Aku mulai menggerakkan sayapku, lalu mengayunkannya ke depan dan ke belakang. Kepakan sayapku pasti kurang kuat, karena Miss Farloe tiba-tiba berteriak tepat di telingaku. "Masih kurang! Kepakkan lagi! Lebih kencang!"


Untung saja aku tidak terjatuh karena teriakannya yang mengejutkan. Aku lalu mengepakkan sayapku lagi, kali ini lebih kencang. Aku bisa merasakan angin yang tercipta karena kepakan tersebut. "Lagi!" Teriaknya berkali-kali. "Lebih kencang! Buatlah angin dahsyat dari kepakanmu!"


Aku mengepalkan tanganku. Aku bisa merasakan rambut panjangku yang beterbangan. Punggungku mulai terasa pegal.


"Bagus! Tunggu aba-abaku. Lalu terbanglah!" Perintahnya lagi. Rasa puas mulai melanda dalam diriku. Aku terus-terusan mengepakkan sayapku, tidak peduli dengan kecepatannya yang kian kencang.


"Bersedia," Miss Farloe mulai memberikan aba-aba.


"Siap," Katanya lagi. Aku mulai tidak sabar untuk mendengar aba-aba yang berikutnya. Namun, kata-kata "Ya!" tidak kunjung kudengar.


Kumohon, cepatlah! Sayapku mulai terasa lelah. Aku takut aku tidak akan bisa menggerakkan sayapku lagi saat aku mulai melepaskan diri dan terbang.


Miss Farloe meneriakkan sesuatu. Aku belum sempat mendengar akhir kalimat yang diucapkan saat aku sudah melompat dari pilar. Aku mengepakkan sayapku sekuat tenaga, namun rasa pegal dan linu yang luar biasa menjalar di sekitar punggungku. Aku jatuh terjerembap ke lantai yang keras. Sayapku sudah mencapai batas kemampuannya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk lompat begitu saja?!" Miss Farloe sudah mendarat di dekatku. Ia menyentuh daguku dan mengangkatnya agar aku bisa menatap langsung matanya yang bernyala-nyala bagaikan api. "Tunggu aba-abaku! Jangan main asal lompat!"


"Tapi, bukankah Miss sudah-"


"Aku belum mengatakan Ya! Seharusnya kau bisa mengerti tanda aba-aba dariku." Miss Farloe menggelengkan kepalanya. "Aku sudah menaruh ekspektasi yang lebih tinggi dari ini. Kau sudah mengecewakanku."


Jantungku seperti ditusuk oleh duri yang amat tajam. Dadaku terasa sesak. Air mataku mulai mengaburi pandanganku. Tapi aku tidak mau menangis. Tidak sekarang.


Aku kembali ke ruanganku dengan berat hati. Ini masih belum apa-apa tapi aku sudah mengecewakan seseorang. Ketika aku membuka pintu kamarku, aku tidak melihat Fae Aqua itu.


"Gimana hari-harimu?" Sana menarik lenganku dan menyeretku ke atas ranjang, lalu memaksakanku untuk menceritakan semuanya. Aku lupa temanku ini sangat menyukai cerita.


Aku tidak ingin berbohong, namun aku belum bisa menceritakan semuanya. Aku hanya tersenyum dan menjawab, "melelahkan."


Sana menepuk-nepuk pundakku. Aku sudah terbiasa dengan gestur yang menenangkanku ini. "Teman Aquamu itu menyebalkan! Ia terus berteriak dan mengusirku. Katanya aku ini jelmaan darimu."


Aku tertawa lepas. Rasanya baru kali ini aku bisa menaikkan ujung bibirku. "Dia pasti mengira aku sangat sakti, sampai bisa menjelma menjadi Fae lain yang jauh lebih cantik," balasku. Sana ikut tertawa denganku. Ia mendorong pelan lenganku, merasa diriku konyol.


Aku menghabiskan malamku bersama temanku. Meski baru 3 hari, aku sudah merindukannya. Kantong yang ia berikan padaku tempo hari ternyata berisikan buku-buku tebal dan botol dengan serbuk putih.


"Serbuk sayapku," katanya saat aku bertanya kepadanya. "Jika aku tidak sempat menyembuhkanmu saat kau terluka, taburkan serbuk itu. Niscaya lukamu akan menutup kembali."


Aku merasa terharu lalu memeluknya, mengucapkan terima kasih. Senang rasanya masih ada yang memerdulikanku.


***


Tidak ada yang memerdulikannya. Setiap kali dirinya siuman, mereka meniup bubuk itu ke wajahnya. Lexy sudah tahu bubuk itu bisa menidurkannya. Itu adalah bubuk yang sama yang digunakan saat mereka mendekap hidungnya.


Kepalanya terasa berat setiap kali ia tersadar. Perutnya sudah berbunyi. Tenggorokannya sudah sangat kering. Ia tidak tahu sudah berapa lama orang-orang Fae ini memerangkapnya di ruangan ini. Ia juga heran kenapa ia masih bisa hidup, padahal sudah lama semenjak ia mengisi perutnya.


Dan Fae yang bernama Val itu-dia adalah orang yang paling ia benci. Ia selalu mempermainkannya, menjambak-jambak rambutnya hingga rontok, ataupun merobek kain bajunya untuk mengejek sayapnya.


"Katakan, apa yang sedang kau lakukan di Hutan Greensia?" Tanya lelaki yang bernama Val itu. Dia adalah seorang Fae Light. Sayap kuningnya tanpa sengaja menyentuh lengannya. Lexy sampai harus bergerak mundur untuk menghindari napasnya yang berbau.


Plaakk! Lagi-lagi, ia ditampar. Lexy tetap membisu. Kedua bibirnya terkatup. "Katakan atau kulempar kau ke kandang Egleans!" Teriaknya. Air liurnya sampai menyembur ke wajahnya.


Ia mulai terisak. Ia sendiri tidak yakin kenapa ia tidak mau menjawab pertanyaan sesimpel itu. Mungkin ia takut orang-orang ini akan memburu Alena. Ia tidak mau mengambil resiko.


"Jawab aku!" Val membenturkan kepalanya ke dinding berulang kali. Kemudian ia mulai menyiku dahinya dengan lututnya yang keras.


Segalanya berubah menjadi gelap. Lexy tidak yakin jika ini adalah efek dari bubuk mematikan itu, atau semata-mata karena tubuhnya yang membutuhkan istirahat.


***


Aku lagi-lagi gagal menerbangkan sayapku. Setelah mendapat asupan gizi dari Miss Farloe berupa ocehan dan makian kasar, aku mempersiapkan diri untuk makan siang di aula makan.


Sepertinya mereka masih belum terbiasa dengan kehadiranku ini. Kadang, Fae Ventus dengan sengaja akan menumpahkan makanan yang sedang kubawa. Kadang, Fae Light membutakan mataku sesaat menggunakan cahaya yang sangat terang. Aku berkali-kali terjatuh dan menimpa kursi-kursi di sekelilingku.


"Hei, jalan yang benar!" Fae Aqua yang sekamar denganku rupanya sedang sibuk memainkan air di dalam gelasnya. Ketika aku menatapnya, tubuhnya langsung bergetar hebat. Aku bisa melihat tenggorokannya yang bergerak. Ia menelan ludahnya dengan gugup.


"Maksudku, hati-hati kalau jalan," katanya lagi dengan pelan. Ia lalu memasang senyum palsu dan menciptakan air untuk membersihkan bajuku yang kotor terkena makanan.


Aku terus-terusan menutup mulutku. Aku tahu semua kebaikan itu hanya sekedar agar aku tidak menyerang mereka. Mereka masih mengira aku ini Egleans. Aku menusuk kue berbentuk bunga di hadapanku, lalu memakannya. Sambil menghiraukan tatapan mereka seperti biasa, aku buru-buru menghabiskan makan siangku dan kembali ke kamarku.


Aku sedang berjalan mengelilingi gedung sekolah ini. Miss Farloe membubarkanku lebih awal karena aku berhasil melayang di udara lebih dari dua detik. Aku adalah satu-satunya murid yang ditempatkan di Kelas Awal. Kelas Awal biasanya menampung bayi-bayi Fae yang cacat, atau Fae yang mungkin tumbuh lebih lambat dari Fae normal lainnya.


Aku adalah salah satunya. Lebih tepatnya, kemampuanku jauh lebih parah jika dibandingkan dengan bayi Fae. Aku menggelengkan kepalaku. Saat ini aku sedang berada di taman depan gedung. Sekelompok Fae Aqua sedang sibuk membentuk gelembung-gelembung air di kolam. Ada yang membuat bentuk bintang. Ada pula yang berhasil membuat gambar istana mini yang terlihat memukau.


Aku bisa melihat teman sekamarku. Ia sedang tersenyum riang kepada salah seorang lelaki yang terlihat rupawan. Rambut pirangnya beterbangan, membuat siapa saja jatuh hati pada pandangan pertama.


Rasa iri melandaku. Aku tidak pernah mempunyai teman pria. Laki-laki yang kukenal semuanya tidak menyukaiku. Para Fae itu menyadari kehadiranku. Sontak mereka terkejut dan alhasil gelembung-gelembung yang melayang di udara pecah dan membasahi baju mereka.


"Aaa!! Gelembungku!" Teman sekamarku terlihat kesal. Ia lalu menghampiriku, sambil menghentakkan kakinya. "Apa urusanmu sampai harus berada di sini?!"


Aku ingin menepuk tanganku karena gadis itu sekarang sudah berani memarahiku. "Oh, cuma jalan-jalan."


Wajah gadis itu mulai memerah. Ia mengepalkan tangannya, lalu menggertakkan giginya. "Aku tidak mau melihatmu saat aku sedang sibuk berlatih! Sudah cukup aku harus memandangi wajahmu setiap kali aku ingin tertidur!" Ia mulai membuka tangannya, dan aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Air-air yang semula berada di dalam kolam ikan menjadi kacau balau. Bagaikan ombak, air itu menerjang ke arahku. Aku bisa melihat ikan-ikan kecil yang ikut terseret air. Tubuhku langsung dihantam oleh ombak itu. Air memasuki lubang hidungku. Aku berteriak, sesekali mengayunkan kedua lenganku. Namun air kolam itu seolah berhasil membuat tubuhku melayang. Sedetik kemudian, tubuhku terhempas ke belakang, menabrak dinding luar gedung yang kasar dengan segala macam ukirannya.


Aku terbatuk-batuk. Air keluar dari lubang hidung serta mulutku. Aku memukul dadaku sendiri, sambil mencoba untuk mengembalikan nafasku. Aku bisa mendengar suara orang-orang yang menertawakanku.


"Sang Egleans tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri!" Teriak laki-laki berambut pirang yang tadi. Suara tawaan mereka makin keras. Aku sampai harus menutup kedua telingaku yang berdengung. Air telah masuk ke lubang telingaku juga.


Aku berusaha untuk bangkit berdiri. Namun kakiku yang gemetaran tidak kuat menahan tubuhku. Aku terjatuh lagi. "Lemah!" Teriak salah satu Fae Aqua.


Tak lama kemudian, mereka mulai meneriakiku lemah. Suara keras mereka otomatis mengundang murid lain yang juga sibuk berlatih. Mereka semua berkumpul untuk menyaksikan kejadian yang menimpaku ini.


Dengan kesal, aku menyandarkan tubuhku sendiri ke dinding, lalu buru-buru melangkah ke luar sebelum keributan ini semakin meluas dan mengundang lebih banyak penonton.


Aku terus ditertawai dan dicemooh saat melewati lorong kamarku. Salah satu Fae Aqua sengaja menggunakan sihirnya untuk mengeringkan bajuku. Tapi, ia melakukannya secara berlebihan. Bajuku yang semula halus, mulai melipat-lipat dan mengecil. Kain yang kukenakan mulai memberikan tekanan yang sangat kuat pada tubuhku. Alhasil, aku tidak bisa bernapas. Rasanya aku ingin merobek bajuku yang secara ajaib mulai mengecil.


Aku segera berlari memasuki kamarku, lalu membanting pintu keras-keras. Sihirnya memudar dan aku bisa kembali bernapas.


Aku menjatuhkan diri di depan pintu. Aku menarik lututku ke dada, lalu memeluknya menggunakan kedua lenganku.


Aku sengaja menenggelamkan wajahku ke dalam dekapan kedua lenganku sendiri. Tubuhku terasa menggigil. Rambutku basah. Aku tidak mampu menahan emosiku, lalu menangis terisak-isak. Aku tidak mampu menjalani kehidupanku seperti ini lagi. Sepertinya menyerahkan diri ke kedua orangtuaku akan jauh lebih mudah. Aku merindukan Lexy, merindukan gonggongan Cashew. Dadaku terasa sesak. Aku tidak mengetahui keberadaan mereka. Bisa jadi mereka mati terbunuh di tangan Fae yang kejam. Itu lebih baik ketimbang disiksa seperti ini selama-lamanya.