Wings & Dust

Wings & Dust
Melalui Hutan Greensia



Sana sudah berdiri di sampingku. Sama sepertiku, di pinggangnya terikat kantung tanaman yang mungkin isinya adalah ramuan dan obat-obatan. Benda-benda wajib yang harus dimiliki seorang Fae Healer.


Mereka masing-masing terbang rendah di sampingku. Kami menyelusuri jalanan Amalthea Halley yang sekarang terasa lebih sepi.


"Jadi, Callum itu seperti apa?" Tanyaku begitu kami sudah berada di luar gerbang perbatasan Amalthea Halley. Ledion menoleh ke arahku, matanya melihatku seolah aku baru saja berdiri di sampingnya. "Kenapa kamu ingin tahu?"


Aku berusaha untuk tidak tersedak. "Maksudmu, aku tidak boleh bertanya seperti apa pangeranmu?"


"Sampai aku benar-benar yakin bahwa kamu bukanlah makhluk Egleans dan bukan mata-mata untuk kerajaan kami," balasnya. Aku hanya menggerutu kesal terhadap sifatnya yang sangat dingin.


Aku bisa mendengar suara tawa kecil dari Sana. "Jangan dimasukkan ke dalam hati," bisiknya pelan kepadaku. "Dia memang dingin dan bertemperamen."


Aku setuju dengan perkataannya. Aku menatap lurus ke jalanan yang sedang kami lalui. Tiba-tiba perutku melilit dan aku menyadari bahwa aku sudah menjadi beban. Seandainya aku bisa terbang seperti mereka, pasti kami akan sampai tujuan lebih cepat.


Aku bisa melihat pepohonan besar dengan daun yang lebat. Kami sudah mulai memasuki Hutan Greensia. Aku mengingat dua deretan pohon besar di kanan-kiriku yang dahan-dahannya membentuk kanopi di atas kepalaku. Rasanya aneh dan asing berjalan di tempat yang sama, kali ini dengan adanya matahari yang menerangi jalan.


Sana ternyata gadis yang nyaman untuk diajak berbicara. Kami terus mengobrol sepanjang waktu. Aku bertanya tentang anak-anak Fae yang kutemui di jalan kemarin. "Oh, anak-anak Cosmos! Mereka sangat menggemaskan!" Katanya dengan girang. "Setiap hari mereka memetik bunga-bunga di dalam Hutan Greensia. Ada yang memperdagangkannya, ada yang menjadikannya untuk koleksi, ada yang menggunakannya untuk menanam bunga itu kembali di halaman rumah." Sana tersenyum sambil memikirkan sesuatu, barangkali memorinya tentang anak-anak tersebut. "Serbuk bunga sangat penting untuk kaum Fae. Selain menjadi bahan makanan, serbuk bunga juga bisa digunakan sebagai pupuk tanaman," lanjutnya lagi. Ia lalu menambahkan, "aku tahu hal ini dari temanku yang seorang Fae Blossom."


Aku memutar otakku. Fae Blossom, Fae yang memiliki bakat untuk merawat tanaman, sekaligus memanfaatkannya. Mereka juga bisa membuat tanaman tumbuh lebih cepat, bisa juga tumbuh memanjang dalam waktu beberapa detik. Aku terpukau saat mengetahui hal macam apa yang mampu dilakukan oleh para Blossom.


Kami terus memasuki hutan. Angin sejuk menerbangkan rambutku. Kadang kami berhenti sebentar untuk beristirahat. Sambil menghirup bau-bau dedaunan dan kayu pohon, aku membuka tutup botol yang kubawa dan memakan serbuk bunga yang terdapat di dalamnya. Sambil menyilangkan kaki dan duduk di sampingku, Sana melanjuti ucapannya. "Bisa kau tebak kan, sahabat para Blossom, yaitu Fae Light. Pernah suatu ketika seorang Light tanpa sengaja menciptakan semacam cahaya yang saking terangnya orang-orang mengira itu perbuatan Fae Fire."


Aku tertawa terbahak-bahak. "Haha! Fae Light itu pasti masih sangat muda."


"Haha, betul sekali."


"Lalu apa yang terjadi kemudian?"


"Yahh, Fae Fire itu marah karena telah difitnah, lalu ia sengaja menjaga jarak dengan Fae Light tersebut."


Aku tersenyum membayangkannya. "Biar kutebak, ia menaruh api di sekeliling tubuh Fae Light itu?"


"Di sekitar tubuhnya?" Lagi-lagi Sana tertawa. "Tidak, tidak! Ia justru menaruh api pada tubuhnya sendiri."


Aku dan Sana tertawa terpingkal-pingkal. Perutku menjadi sakit karena terlalu banyak tertawa, dan tubuhku pun jadi terguling-guling di atas hamparan rumput. Ledion yang daritadi mengunci mulutnya hanya menatap kami sambil menggelengkan kepalanya. Mungkin ia sedang berpura-pura untuk tidak mendengarkan cerita dari Sana.


Kami melanjutkan perjalanan kami. Matahari sudah bersinar sangat terang. Sekarang pasti sudah tengah hari. Aku memaksakan diri untuk memperhatikan jalanan sesekali saat sibuk berbincang dengan Sana. Aku takut batu dan kerikil kecil akan memasuki alas kakiku dan aku tidak mau kakiku terluka kembali. Sana ternyata orang yang ramah dan enteng berbicara. Beda dengan penampilannya yang terlihat polos dan murah hati seperti seorang ibu. Aku sedikit salah menilainya. Meskipun begitu, hatiku merasa lebih tenang karena akhirnya aku bisa melegakan tubuh serta suaraku. Sudah lama sekali aku bisa berjalan dengan santai seperti ini.


Sesekali aku dapat mendengar suara jangkrik dan burung-burung yang sedang berkicau. Atmosfer hutan ini berbeda pada waktu siang hari. Aku melihat sarang burung yang terletak di atas dahan sebuah pohon. Burung itu sedang menduduki telur-telurnya. Merasakan kehadiran kami, burung itu mulai berkicau dan menyanyikan sebuah melodi yang indah. Aku tersenyum mendengarnya. Burung itu memiliki bulu sayap berwarna biru kemerahan. Paruh kecilnya berwarna kuning. Sana menjelaskan kepadaku bahwa sebagian besar hewan Greensia yang berbulu unik adalah Fae. Hewan-hewan Fae juga memiliki bakat, sama seperti kaumku. Namun, mereka tidak bisa mengeluarkan sihir.


Pohon-pohon yang kulewati terlihat lebih besar dari sebelumnya. Kami sudah berada di area yang jarang dimasuki oleh warga desa Amalthea Halley. Sebaliknya, aku dapat merasakan kehadiran hewan-hewan yang bersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak.


Ledion berhenti di sebuah lapangan yang agak terbuka. Ia lalu menyiapkan sebuah jebakan untuk menangkap sesuatu, barangkali hewan buas pemakan Fae. Aku memperhatikan gerakannya dari kejauhan. Ia tidak menggunakan sayapnya sama sekali. Sambil mengandalkan pendengaran dan penglihatannya, Ledion menunggu mangsanya di seberang semak-semak. Aku dan Sana disuruh menunggu di dalam pepohonan yang lebat. Aku tidak sempat bertanya alasannya harus berburu pada siang bolong seperti ini.


Sana terus mengajakku untuk berbicara setiap kali aku menggunakan jari tanganku untuk menghitung kira-kira sudah berapa lama kami menunggu. Konsentrasiku jadi buyar. Aku belum mengenalnya dengan lama, jadi akan terasa tidak sopan jika aku menyuruhnya untuk tutup mulut.


Ledion memberikan tatapan berupa peringatan dari kejauhan. Aku melihatnya dan otomatis menempelkan jariku ke mulut. "Sshhh!! Ada yang datang!" Bisikku kepada Sana dan memotong perkataannya yang sama sekali tidak kudengar.


Kami terdiam dan aku memperhatikan gerakan Ledion. Langkah kakinya tidak terdengar, sedangkan sayap hitamnya dilipat di belakang punggungnya, mungkin agar serbuk sayapnya tidak meninggalkan jejak. Aku merasakan tubuhku yang mulai merinding. Aku jadi teringat saat aku kali pertama bertemu dengannya. Di balik semak-semak, tubuhnya diselimuti oleh daun-daun hijau yang lebat. Aku menyipitkan mataku, mencoba untuk mendeteksi keberadaannya sekarang, namun saat ia mulai bergerak mundur, tubuhnya sudah seratus persen menghilang.


Tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik daun. Seekor hewan dengan tubuh yang berwarna putih menghampiri jebakan. Di tubuhnya terdapat bulu-bulu halus seperti mantel yang membuatnya terlihat anggun dan elok. Tanduknya yang keperakan memantul cahaya matahari. Rusa Greensia putih.


Ledion ingin memburu seekor hewan yang langka. Aku mencoba mencuri pandang darinya, meminta penjelasan mengapa ia mengincar seekor hewan yang langka. "Sesama Fae dilarang untuk menjual organ tubuh sesamanya."


Apakah semua ucapannya itu hanya fiktif belaka? Rusa Greensia putih juga Fae, sama seperti kita. Namun, mereka berbeda spesies.


"Lepaskan dia!" Teriakku dari kejauhan. Aku segera berlari dan menghampiri tubuh rusa malang yang terjebak itu. "Dia juga Fae! Sama seperti kita!" Aku mengambil pedang yang tergantung di sabuk pinggang milik Ledion, lalu hendak mengayunkannya dan memotong tali yang menahan si rusa. Ledion mencengkeram tanganku, lalu memutarkan tubuhku ke arahnya. "Apa-apaan kau ini?! Jangan coba-coba untuk melepaskan dia!"


"Jangan lepaskan dia?!" Amarahku meluap-luap. "Kau baru saja ingin melukai seekor hewan Fae!"


Rusa itu mengeluarkan suara yang sangat nyaring. Samar-samar aku bisa mendengar suara jeritan manusia di balik teriakannya. Ia meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Aku mengeluarkan air mata, tidak berani melihat makhluk tak berdosa itu yang merasa ketakutan.


Anehnya, Sana menghampiri rusa itu dengan tenang. Ia meletakkan kedua tangannya di atas tubuh si rusa. Aku sempat berpikir ia akan menyembuhkan rusa itu dengan sihirnya, ketika aku melihat tubuh si rusa mulai berubah.


Bulu-bulu mantel putih yang semula halus dan tak bernoda, mulai melebur dan menjadi abu. Tubuh putih itu mulai menghitam. Aku bisa mencium bau gosong api. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kuat Ledion, hatiku sakit dan tercabik-cabik. Aku berpikir mereka berbohong, mengatakan akan menemaniku dalam perjalanan, dan tahu-tahu hanya untuk berburu hewan Fae langka.


Tubuh si rusa itu mengecil. Tanduk-tanduk indahnya melebur dalam api. Dalam sekejap, aku melihat tubuh lain yang berada di dalam jejaring.


Tubuh manusia.


***


Lexy sudah berjalan di dalam hutan selama berhari-hari. Persediaan makanannya sudah hampir habis. Ia harus segera mencari lapangan bunga di dalam hutan, atau sarang lebah agar bisa diambil madunya.


Ia membuka peta yang sebelumnya digulung, lalu menggunakan ruas-ruas jarinya untuk mengukur kira-kira berapa jarak yang harus ditempuh lagi. Ia harus menyewa tempat penginapan di sebuah desa bernama Duncart, desa paling dekat yang terletak di perbatasan timur hutan Greensia. Dari gambar peta, ia bisa melihat bahwa desa Duncart akan jauh lebih luas dan lebih besar daripada Amalthea Halley.


Miss Gray pernah mengajarinya cara membaca peta, dan mengukur jarak dari ruas-ruas jari. Ia tidak pernah tertarik mempelajari peta. Ia lebih menyukai pelajaran astronomi, yaitu cara mengetahui arah dari letak-letak bintang di langit. Keindahan malam menurutnya adalah kanvas gelap yang paling terang. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit seolah menunjukkan bahwa selalu ada secercah harapan apapun masalah yang sedang kita lalui.


Arus sungai yang ia temukan dengan Alena ternyata berasal dari sungai Lakuta, sungai yang membatasi wilayah Greensia dengan wilayah luar hutan. Andaikan waktu itu ia mengetahui bahwa arus sungai menunjukkan jalan keluar hutan, mereka berdua pasti selamat dan tidak akan terpisah seperti ini.


Lexy menghela napasnya. Sarang Ratu peri lebah sepertinya berada di dalam kawasan Alther Suavis, kota reruntuhan yang sudah tidak berpenghuni. Kota itu hancur karena ulah manusia saat perang antara manusia dan Fae pecah beratus-ratus tahun yang lalu.


Manusia dan Fae memang tidak mempunyai hubungan yang baik, bahkan sampai sekarang. Wilayah Fae dilindungi oleh kabut tak kasat mata, dibuat dari sihir gabungan serbuk sayap para Fae. Lexy masih belum memahami apa sebabnya hubungan mereka begitu kandas.


Ia menengadah ke atas. Cahaya matahari menyilaukan pandangannya. Ini sudah tengah hari. Tenggorokannya mulai mengering. Ia harus segera mencari sumber air.


Lexy merebahkan diri di dekat suatu pohon yang besar. Ia membuka sepatunya dan membiarkan kakinya menyentuh rumput. Ia lalu menutup matanya dan menghirup udara segar.


Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Selama 17 tahun hidupnya, rumah besar tempatnya bernaung adalah tempat tinggal sekaligus penjara baginya. Orangtuanya selalu melarang dirinya untuk menginjakkan kaki di luar rumah. Katanya, dunia luar sangat berbahaya dan ia bisa saja mati terbunuh oleh hewan-hewan buas pemangsa.


Ia tersenyum kecut. Kini ia sudah tahu orangtuanya berbohong. Ibu dan Ayah yang selalu ia turuti perkataannya. Setelah ia melihat dunia luar untuk pertama kalinya, tepatnya saat mereka memasuki Amalthea Halley waktu itu, jantungnya berdebar-debar. Ia tidak pernah disuguhkan kumpulan warna-warna indah sekaligus. Bunga-bunga dan makhluk Fae seperti dirinya yang beterbangan dan serbuk sayap halus mereka yang menghujani wajahnya. Semuanya tampak sangat cantik dan... damai.


Selama 17 tahun hidupnya, ia tidak pernah menyangka dunia ini masih mempunyai sisi yang baik. Ibunya selalu mabuk-mabukan. Tubuhnya bau karena ia jarang mandi. Rambutnya kusut dan acak-acakan. Sementara Ayahnya selalu pulang malam dan dengan bangga memperlihatkan kantong-kantong berisi emas yang harganya selangit. Lexy tidak tahu darimana asalnya semua emas tersebut.


Saat mereka sedang waras dan memperlihatkan emosinya layaknya manusia, mereka akan membentak dan menyuruh-nyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mereka akan menggunakan rotan untuk memukul punggungnya dan kakaknya, mengucapkan kata-kata sumpah serapah, lalu mengatakan bahwa dirinya tidak berguna.


Saat mereka sedang tidak waras, mereka bisa tiba-tiba memujinya, mengatakan bahwa ia adalah anak yang sangat baik dan spesial. Bahwa Dewa menghadiahkan mereka sepasang anak Fae. Ia tahu ini semua bohong.


Lexy menyandarkan kepalanya di batang pohon. Masih menutup matanya, ia bisa mendengarkan suara kicauan burung yang terdengar harmonis. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya, seolah-olah sedang berbisik. Ia lalu memikirkan Alena, kakak kembarnya yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Sekarang ia masih berada di Amalthea Halley, mungkin sedang disiksa atau sayapnya sudah dipotong. Lexy menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan berpikiran negatif. Ia harus cepat mencari bantuan. Namun, siapakah yang bisa dipercayainya? Ia tak bisa kemana-mana lagi. Ia sudah gagal melindungi kakaknya.


Suara gemerisik daun di dekatnya membuatnya berpaling dari lamunannya. Ia segera meraih batang tongkat kayu terdekat, yang untungnya tajam dan cukup panjang. Masih sambil memerhatikan semak-semak yang ia kira mengeluarkan suara, ia mulai melangkahkan kakinya dengan pelan.


Lexy menggenggam erat tongkat kayu yang berada di tangan kanannya. Jantungnya mulai bekerja lebih cepat. Kira-kira apa yang ada dibalik semak-semak itu?


Ia menggunakan ujung tongkat untuk memisahkan daun-daun lebat yang menutupi pandangannya. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia menghela napas lega. Mungkin cuma angin, pikirnya dalam hati.


Mulutnya tiba-tiba didekap dari belakang. Sebuah kain putih menekan mulutnya. Sambil meronta-ronta, Lexy mencoba melepaskan diri dari tangan besar yang menghalangi pernapasannya. Bau alkohol yang menyengat langsung merasuki otaknya. Ia tiba-tiba merasa sangat letih. Pandangannya menjadi kabur, dan tangannya tidak kuat lagi. Samar-samar ia bisa melihat seseorang sebelum kegelapan menelan dirinya.