
Saat kami memasuki gedung Faedemy, beberapa orang mulai menghampiri kami. Lalu dalam waktu singkat, Callum sudah dikerumuni oleh para gadis seperti biasanya. Xiela dan Naomi tidak tampak terkejut dan masih larut dalam percakapan mereka. Sedangkan Fae Light itu malah tertawa gembira. Rupanya ia juga senang mendapat perhatian dari banyak orang, meskipun perhatian itu tidak tertuju padanya.
Aku segera membawa diriku keluar dari kerumunan orang-orang, sampai akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku menoleh ke belakang dan melihat pangeran itu yang sibuk meladeni penggemarnya. Ia masih bisa tersenyum, bahkan saat seorang gadis menarik lengannya.
Aku menggelengkan kepalaku. Karena ia adalah pangeran termuda, orang jadi kurang menghormatinya. Aku tidak bisa membayangkan jika harus hidup seperti itu. Aku yang pernah terkurung di dalam rumahku sendiri, masih belum terbiasa jika harus menghadapi puluhan orang yang akan selalu mengerumuniku saat aku mulai bernapas.
Aku dapat merasakan bobot kedua sayapku yang terlipat dengan rapi di punggung. Sayap yang jarang sekali kugunakan. Kini, aku bukan lagi si gadis Egleans, makhluk hasil ciptaan manusia yang bisa menjelma. Aku bisa mengeluarkan sihir Melody, meskipun awalnya aku tidak berniat untuk melakukan hal itu. Namun, sayapku masih tidak berubah menjadi ungu. Aku belum bisa dikatakan sebagai seorang Fae Melody, sekalipun Cahaya Hangat sempat terpancar dari tubuhku. Mungkin aku harus lebih banyak membaca tentang sihir Melody. Pasti ada yang salah dengan ucapan Xiela. Mungkin Egleans mampu mengeluarkan sihir Fae. Aku harus mencari tahu tentang ini.
Aku belum sempat berpikir lebih lanjut ketika tiba-tiba tubuhku tersiram oleh air dingin. Aku tidak sempat mengeringkan wajahku yang basah saat seseorang menarikku dengan cepat ke dalam kamarku, lalu mengunci pintu.
"Kamu!" Aku menoleh dan melihat teman sekamarku yang ternyata bernama Lotus itu. Di sampingnya, ada dua Fae Aqua lainnya. Yang seorang sedang membuka telapak tangannya. Cahaya sebiru langit memancar dari sana. Yang satu lagi sibuk menertawakan sesuatu sambil menutup mulutnya.
"Kenapa kamu bisa berjalan bersamanya?!" Hardiknya. Rambut hitam panjangnya berkibar-kibar saat ia mendekatiku.
"Siapa yang kau maksud?" Aku langsung tahu jawabannya setelah pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"Siapa?! Dasar gadis gak tahu diri!" Ia membuka telapak tangannya, dan air dingin lagi-lagi membasahi bajuku. "Jangan pernah dekati Callum! Atau aku akan mengikat kakimu pada sebuah batu, dan menenggelamkanmu di sungai Lakuta!"
Air mulai masuk ke dalam lubang hidungku. Aku memukul dadaku berulang kali, memuntahkan air dari mulut serta hidungku. Aku kesulitan bernapas. Tubuhku mulai menggigil.
"Mengerti?!" Lotus menarik rambutku, dan menaikkan daguku agar ia bisa menatap mataku. "Dan jangan coba-coba untuk mencuri sayap emasnya yang berharga, dasar makhluk kotor." Ia meludah ke wajahku.
Amarah mulai meluap dari dalam diriku. Namun, kutahan diriku untuk meninju wajah kecilnya. "Aku tidak melakukan apa-apa," bisikku, berusaha untuk membela diriku.
Pupil matanya membesar. Aku melihat rahangnya yang menegang, kemudian senyum licik tergambar di wajahnya. "Begitu, ya?"
Aku melirik dua temannya yang sekarang juga menghampiriku. "Pegang dia."
Mereka mulai menahan kedua lenganku dengan erat. Aku meronta-ronta, mencoba melepaskan diriku dari cengkeraman tangan mereka. "Kau sudah gila, ya?! Lepaskan aku!"
Lotus hanya tertawa. "Oh? Atau apa? Kamu mau memakan sayapku?"
Aku melototinya. "Akan kumakan meski rasanya bakalan tidak enak."
Hidungku lagi-lagi tersumbat karena air. Gadis ini benar-benar menyebalkan. Ia menarik rahang bawahku, lalu air dari tangannya tumpah, memaksakanku untuk meminum air yang rasanya pahit itu.
Tenggorokanku terisi penuh, mungkin oleh air yang kotor. Aku mencoba menggapai leherku, melakukan apa saja agar air keluar dari tenggorokanku. Namun, air terus-terusan mengisi tenggorokan serta paru-paruku.
Aku tidak dapat bernapas. Inikah rasanya saat tenggelam dalam air? Air seperti mengalir melalui tenggorokanku. Aku tersedak, dan air sampai mengenai baju gadis itu. Kepalaku mulai pusing. Aku kekurangan oksigen. Jantungku berdetak sangat cepat. Perutku melilit-lilit, seperti ingin muntah.
Aku mulai memejamkan mataku. Kepalaku yang berkunang-kunang memperparah keadaanku. Saat aku merasa seperti hampir pingsan, Lotus segera menyerap kembali air yang semula menyiksaku. Ia melakukan ini berkali-kali, menyiksaku sampai ia terlihat senang.
"Kumohon." Aku memaksa diriku untuk bersuara saat air tidak lagi mengalir dalam diriku. "Lepaskan aku," ucapku lagi dengan lirih.
Lotus merapatkan telapak tangannya, dan memandangiku dengan bola matanya yang berwarna hitam. "Kenapa kau tidak menggunakan kekuatanmu atau apa lah itu? Seperti contohnya menjelma menjadi anjing atau nyamuk." Kedua temannya langsung tertawa terbahak-bahak. Ia menggulungkan seikal rambutku dengan jarinya. "Atau mungkin, menjelma menjadi sesosok gadis cantik seperti teman Healer-mu itu untuk merayu Callum?"
Amarahku meledak begitu gadis itu menjelek-jelekkan Sana. Bagaikan gunung api yang meletus, lava api itu menyembur keluar. Aku berteriak, tidak dapat lagi menahan amarahku yang sedari tadi kutahan. Aku berdiri secepat kilat dan menendang kedua temannya itu sampai terjatuh. Lotus terkesiap dan hendak menyerangku dengan sihirnya lagi saat aku mencengkeram lehernya.
"Ungkit-ungkit lagi soal temanku," kataku sambil mencekiknya, "Maka akan kupastikan kamu terbakar hangus sampai menjadi abu." Gadis itu berusaha melepaskan cengkeramanku. Aku tidak pernah merasakan amarah sebesar ini. Aku tahu aku belum sempat memperbaiki hubunganku dengan teman Healerku, namun tetap saja.
Wajah gadis itu mulai memerah karena kehilangan oksigen. "Tolong..." Pintanya lirih. Aku menatap matanya lekat-lekat. Aku bisa melakukan hal yang lebih menakutkan dibanding ini. Aku bisa membuatnya tersedak dengan air hasil ciptaannya sendiri, atau aku bisa menghantamnya dengan-
Aku terkesiap. Tanganku tiba-tiba terbengkok ke arah yang tidak normal. Ruas-ruas jariku serasa terpelintir, dan terdengar bunyi sesuatu yang patah. Aku mengerang kesakitan dan melepaskan cengkeramanku. Lotus terbatuk-batuk dan berusaha mengembalikan napasnya.
Aku menoleh dan melihat gadis berambut pirang itu. Dari tangan Sana, muncullah seberkas cahaya putih yang menyinari ruangan. Ia lalu buru-buru berlari menghampiriku dan cahaya itu lenyap. Aku merasakan jari-jariku yang terposisi seperti sedia kala.
Aku hendak protes kepada temanku karena sudah membengkokkan tanganku saat ia berlari ke arah Lotus. "Apa kau baik-baik saja?" Cahaya putih tercipta lagi dari tangannya, dan segera menyelimuti tubuh Lotus. Sedetik kemudian, gadis itu sudah bisa bernapas dan bangkit dari lantai. Ia menoleh kepadaku dan menatapku dengan sinis. Rambut panjangnya sudah teracak-acak, dan wajahnya pucat pasi. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera meninggalkan ruangan bersama kedua temannya yang berjalan sambil bergemetaran.
"Apa-apaan yang tadi?!" Sana menatapku tak percaya. "Kau hampir saja membunuhnya!"
"Setelah ia mencoba membunuhku?" Suara tawa keluar dari mulutku. "Mungkin aku menyiksanya kurang lama."
"Tak bisa dipercaya." Sana menggelengkan kepalanya. "Kau lebih berbakat menjadi Fae Ripper daripada kelihatannya."
Tanpa kusadari, aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. Perutku lagi-lagi merasa sakit, dan air mata bahagia bercucuran dari mataku. Aku tidak tahu sebabnya; mungkin aku bahagia karena sudah melihat Lotus yang sempat tak berdaya, atau bahagia atas kehadiran temanku ini.
Suasana mulai berubah menjadi hening saat tawaku mereda. Aku menatap temanku itu. Rambutnya yang pirang lagi-lagi diikat seperti seorang ibu. Wajahnya yang bersinar masih terlihat seperti biasanya. Ia mengenakan seragam resmi seorang guru yang berwarna putih. Pinggiran sayapnya yang mengilap terdapat serbuk putih halus akibat kepakannya yang singkat tadi.
"Kau kelihatan lelah." Sana menghampiriku dan menyelimutiku dengan cahaya putihnya. Seketika aku merasa baikan, dan tubuhku sudah tidak menggigil. "Lain kali, habisi dia sebelum aku menemukanmu." Sana berkedip kepadaku.
"Aku berencana melakukan itu sebelum kau mengacaukan segalanya."
"Aku seorang Fae Healer, Alena. Aku tidak bisa menyaksikan seseorang disakiti." Ia menghembuskan napas, lalu menyelipkan helai-helai rambutnya di belakang kupingnya. "Kau tidak pernah lagi menyapaku sejak hari itu," bisiknya dengan suara kecil.
Dadaku terasa sesak karena perasaan bersalah yang mulai menghantuiku lagi. "Maaf," jawabku lirih. Aku meremas rok yang sedang kukenakan. "Aku tidak tahu harus memulai dari mana."
"Semuanya?" Aku menaikkan sebelah alisku. "Maksudmu kenapa aku sampai bertengkar dengan Lotus?"
"Jadi kamu mengetahui namanya?" Pekiknya kegirangan. "Itu artinya kamu sudah lebih terbuka dengan orang lain!" Ia menepuk pundakku.
"Emmm, terima...terima kasih?" Aku segera duduk di atas ranjangku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Banyak hal yang sudah kualami akhir-akhir ini. Aku tidak yakin harus memperkenalkan Xiela dan Naomi, teman sang pangeran yang sudah menolongku saat monster Taoure itu muncul. Bisa-bisa aku ditertawakan sampai mulutnya berbusa.
Maka, kuceritakan semuanya tentang Cahaya Hangat. "Cahaya itu muncul saat aku bernyanyi dengan para burung di Hutan Greensia."
Sana melipat kakinya, siap untuk mendengarkan lebih lanjut. "Aku tahu tentang Kelas Melody, Alena. Lebih tepatnya, berita bahwa kamu sudah mengikuti Kelas Melody tersebar di Faedemy."
"Apakah Ledion yang menyebarkan berita itu?"
"Umm, aku tidak tahu pasti. Bisa saja beberapa anak dari Kelas Melody yang menyebarkan berita itu. Namun setelah kupikir-pikir, sepertinya mereka tidak ada rencana untuk mengumbar informasi bahwa mereka satu kelas dengan seorang E-Egleans," jelasnya terbata-bata. Ia menatapku dengan perasaan bersalah. "Harusnya aku mengerti perasaanmu. Diterpa oleh rumor terus menerus."
Aku menyentuh tangannya yang terasa dingin. "Sana, kamu tahu kan aku bukan seorang Egleans." Aku menurunkan bahuku. "Menurutmu apakah seorang Egleans mampu menciptakan cahaya seperti itu?"
Ia masih tidak ingin menatapku. Bulu matanya yang lentik menyapu matanya. "Tidak. Kamu bukan Egleans. Namun, tidak bisa digolongkan juga sebagai Fae Melody. Kamu...lain." Ia menggeleng kepalanya, lalu akhirnya mulai menatapku. "Sayapmu, Alena. Kamu adalah sesuatu yang sangat istimewa."
Kuanggap itu sebagai pujian.
***
Tangannya akhirnya dapat menyentuh permukaan tanah yang kasar. Bebatuan hampir saja menusuk telapak kakinya yang telanjang, namun Lexy tetap berjalan ke celah gua itu.
Tubuhnya menggigil. Ia mengusap-ngusap kedua lengannya dengan telapak tangannya. Baju simpelnya sudah basah kuyup. Ia sudah berenang susah payah. Danau itu ternyata lumayan dalam juga. Meski begitu, airnya tidak keruh dan sangat bening.
Ia bisa melihat seberkas cahaya yang muncul dibalik celah gua itu. Celah yang terbentuk diantara bebatuan itu lumayan besar, sampai ia bisa memasukinya tanpa harus memaksakan tubuhnya.
Di balik celah itu ada sebuah pelataran yang sangat indah. Stalaktit yang berwarna keemasan menggantung di langit-langit gua. Sedangkan stalakmit yang tumbuh dari dasar gua memantulkan cahaya yang amat terang.
Wilayah ini sangat luas. Dibandingkan dengan air terjun mini yang mengilap, bagian gua ini bisa dibilang sangat mewah. Lexy terkesiap saat ia menyentuh salah satu stalaktit yang menggantung dan ujungnya hampir menyentuh tanah. Warna emas ini tidak lain adalah Chrysos.
Cahaya yang amat terang itu berasal dari langit-langit gua yang dilubangi, sehingga cahaya matahari dapat memasuki gua. Lexy bisa melihat langit kebiruan dari dalam gua. Ternyata ia sudah berjalan memasuki gua berjam-jam yang lalu, sampai langit oranye yang menandakan waktu petang telah tergantikan oleh langit biru yang menyilaukan.
"Lebih tepatnya selama berhari-hari engkau seharusnya sudah sampai di tempat ini." Lexy menoleh dan mendapati wanita Ventus itu yang sedang duduk di atas sebuah batu besar.
"Miss Mella? Sejak kapan kamu ada disini?" Ia segera menghampiri Fae itu. Rambut coklat ikalnya yang biasa digerai sudah diikat dengan rapi. Ia tidak mengenakan baju celemeknya saat ia tengah menawarkan madu kepadanya tempo hari. Wajahnya yang kusam dan letih sudah benar-benar berubah drastis. Kini, wanita itu terlihat seperti seorang gadis muda yang manis.
"Kau tentu berpikir aku tidak akan mencarimu setelah kau menghilang dan tak kunjung kembali ke Amalthea Halley?" Ia mengepakkan sayapnya dan menuruni undakan batu itu. Kedua lengannya dilipat di depan dadanya. "Gini-gini, aku masih bisa meluangkan waktuku untuk membawamu kembali."
"Aku mengalami sedikit...masalah," ungkap Lexy ragu-ragu. "Namun pada akhirnya, aku sampai juga disini." Ia merentangkan kedua tangannya, dan mengangkat bahunya.
"Untung saja kau menggunakan serbuk sayap Ventus. Darimana kau mendapatkannya, nak?" Mella menyipitkan matanya, dan bergerak maju perlahan-lahan. "Jangan bilang kau mencurinya dari sayapku."
Lexy mulai panik. Ia segera mengangkat tangannya. "Oh, tidak, tentu saja! Aku mendapatkannya dari seseorang."
Mella hanya terdiam, masih memperhatikannya. Kentara sekali ia menginginkan penjelasan yang lebih darinya.
"Akan kuceritakan semuanya padamu. Aku berjanji," lanjutnya lagi. "Sekarang, kita hanya harus bertemu sang Ratu dan kembali ke desamu, kan?"
Mella akhirnya mengangguk. "Aku akan mengantarmu keluar melalui lubang itu. Setelah itu kau dapat bertemu dengannya."
"Aku? Bagaimana denganmu?"
"Aku akan menunggu disini. Inilah misi pertamamu sebagai bawahanku, nak. Jangan mengecewakanku." Miss Mella mengayunkan sebelah tangannya. Lexy hendak memprotes, namun tiba-tiba tubuhnya terangkat dan ia menjadi sangat ringan.
"Ingat apa yang harus kau lakukan. Dan semoga beruntung." Itulah kalimat yang didengar oleh Lexy sesaat sebelum ia terbang keluar dari gua ini.
Awalnya ia mengira sarang sang Ratu terletak di tempat terbuka, namun ia salah besar. Sihir dari Mella terus mengangkat tubuhnya. Ia membumbung semakin naik ke angkasa, hingga akhirnya ia dapat menyentuh awan. Ia melirik sedikit ke bawah dan dapat melihat dari kejauhan pepohonan yang sangat kecil.
Saat kakinya sudah mendarat pada salah satu awan yang lembut, ia menoleh ke sana kemari. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang Ratu.
Ia baru akan panik dan khawatir bahwa Miss Mella sudah menjebaknya saat awan itu tiba-tiba berpindah tempat. Secepat kilat, ia sudah berpegangan pada awan itu. Awan itu terus bergerak ke kanan-kiri, melewati awan-awan lainnya yang sedang terhempas oleh angin. Rambut panjangnya yang berwarna pirang berkibar-kibar dan menampar wajahnya berulang kali. Dari kejauhan, ia dapat melihat sebuah bangunan megah berwarna kuning keemasan yang dikelilingi oleh pepohonan lebat sebelum awan yang dikendarainya itu menghilang dan ia terjatuh dari angkasa.
Lexy berteriak, merasakan angin yang menusuk permukaan kulitnya sebelum ia mendarat di sebuah pohon dan pada akhirnya jatuh berguling-guling di tanah. Rambutnya dipenuhi oleh dedaunan dan batang kayu kecil.
Setelah ia merapikan rambutnya, ia dapat melihat dengan jelas bangunan ini.
Bentuknya berheksagonal dan bersarang madu. Warna kuning keemasannya tampak menyilaukan. Sebuah gerbang besar yang tampaknya dilumuri oleh madu menjulang di hadapannya.
Ini adalah istana sang Ratu Lebah.