
Hai semua! Untuk eps kali ini dan bbrp eps selanjutnya, akan ada tambahan extra part, jadi ini bukan season 2 ya... Kalau mau langsung baca season 2, langsung aja klik profil atau cari dengan judul Wings & Fate.
Happy reading!
.
.
.
(Kejadian ini berlangsung dalam perjalanan ke Faedemy, lebih tepatnya di Hutan Greensia).
Sana terus-terusan menarik lenganku. Wanita itu ingin memperlihatkanku sesuatu, jadi aku menurut dan mengikutinya saja.
Benar saja. Di balik batu besar ini, tampaklah jamur yang berwarna-warni. Ada jamur kecil yang berwarna-warni pula.
"Jangan bilang...ini tanaman Fae?" Aku menebak-nebak. Sana menggeleng-geleng. "Sejak kapan ada tanaman Fae? Ini hanya tanaman unik yang hanya bisa ditemukan di wilayah Fae."
Aku berjongkok dan mengulurkan tangan, hendak menyentuhnya, namun Sana menepis tanganku. "Hati-hati! Ini bisa saja beracun!"
"Ups!" Dengan berat hati, aku terpaksa menarik kembali tanganku. Jamur-jamur ini berukuran lumayan besar, dengan tudungnya yang mengembang dan pola-pola unik di atasnya, sekilas mirip seperti bentuk sayap. "Keren..." bisikku.
"Iya kan?"
Aku tak bisa menyembunyikan kegiranganku saat kami memutuskan untuk berkemah di dekat sini. Tentu saja aku langsung kembali untuk melihat jamur-jamur itu. Aku menyipitkan mata, dan melihat sesuatu yang bergerak dari tanah di bawah jamur. Aku menggunakan jariku untuk menggali.
"Wow!" Seekor cacing tanah. Mungkin. Hewan itu menggeliut, kemudian menaiki jari tanganku. Aku tertawa geli. Aku belum pernah menyentuh hewan yang tubuhnya licin seperti ini. Selama 17 tahun hidupku digunakan hanya untuk membaca buku di dalam rumah. Terkurung di dalam rumah sendiri memang menyedihkan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Cacing itu tiba-tiba terjatuh dari tanganku. Aku menengadah dan melihat Ledion yang sedang memperhatikanku. "Belum pernah lihat cacing Fae?"
"Sepertinya nama semua hewan disini ditambah dengan kata 'Fae' ya?" Tanyaku, padahal aku sudah tahu jawabannya. "Aku cuma..." Aku mendesah. "Aku iri dengan kalian."
Ledion malah ikut berjongkok dan menyentuh cacing itu. Hewan Fae itu malah menggali tanah, menghindari sentuhan Ledion yang kasar.
"Kau menakutinya!"
"Tidak, ia hanya ingin kembali ke tanah," jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Sama saja!"
Ledion menatapku dengan jengkel, kemudian bangkit berdiri dan menepuk-nepuk tangannya yang terkena tanah. Aku terbatuk-batuk karena debu-debu tanah halus sampai memasuki lubang hidungku. "Dasar Ripper!"
"Alena, ayo makan!" Teriakan Sana dari kejauhan membuatku berpaling darinya. Akhirnya aku meninggalkannya, kemudian menghampiri Sana yang tengah menyiapkan makanan untuk kami. Sudah berhari-hari kami memakan bunga dan dedaunan kering, namun aku tak pernah mengeluh. Setidaknya, aku dapat menikmati keindahan alam Hutan Greensia. Ini lebih baik ketimbang dipenjara di rumah sendiri.
Malamnya, kami tidur di atas alas tipis, dan dilindungi oleh atap langit yang berbintang. Sana sudah tertidur pulas, sementara Ledion yang tidur di samping kananku terus menyilangkan tangannya.
"Tak bisa tidur, Ripper?" Aku tersenyum mengejek, mencoba untuk menarik perhatiannya. Usahaku sukses. Ia menoleh kepadaku, masih menatapku dingin. "Jangan bilang lagi kalo ini bukan urusanku," lanjutku lagi. "Untuk seorang Ripper, kau kelewat dingin."
"Untuk seorang Egleans, kau kelewat berani," balasnya, lalu kembali melihat bintang-bintang di langit. Ingin rasanya aku meninju wajah sombongnya. "Kalau gitu, tunggu apa lagi? Bunuh aku saja sekarang."
Jadi inilah alasannya ia tidak memperlakukanku seperti Egleans yang beberapa hari lalu kita temui. Entah siapapun pangeran ini, ia sudah menyelamatkan nyawaku.
"Kau memiliki teman?" Tanyaku penasaran. Ia malah mendengus. "Pertanyaan itu terlalu bersifat pribadi."
"Ya ampun," aku menoleh kepadanya. "Kalau aku menanyakan warna baju dalam favoritmu, barulah kau bisa memprotes!"
"Jangan tanya hal semacam itu!" Wajahnya sudah memerah. Aku puas melihatnya, dan suara tawa terlepas dari mulutku. Aku buru-buru menutup mulutku dan menoleh ke arah Sana. Untungnya Fae itu masih tertidur pulas.
"Aku belum pernah melihatmu berkomunikasi dengannya," kataku. Ia terdiam, tidak memarahiku. Maka aku gunakan kesempatan ini untuk bertanya lebih lanjut. "Kau itu terlalu menutup diri. Cobalah untuk mengajaknya berbicara. Aku jamin kau tidak akan kebosanan. Sana itu asyik orangnya."
Ledion memejamkan matanya. Cahaya dari api unggun memantulkan wajahnya, serta rambutnya yang berwarna putih keperakan. "Kau belum mau tidur, kan?" Tanyaku lagi.
"Kau pikir aku ini terlalu pendiam?" Ia bertanya balik. "Aku ingin menjaga diri darimu. Ingat, meskipun kamu tidak lagi menjadi tahanan Lilies, kau tetap tahanan untukku."
"Ya ya, terserah saja." Aku memutar bola mataku. "Tapi ini tidak ada hubungannya dengan Sana-"
"Privasi," katanya singkat. Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk tidur. Mungkin aku bisa menanyakan hal ini kepada Sana besok.
Tak kusangka Sana malah memberikan jawaban yang kurang lebih sama. "Yahh, cuma suatu hal kecil yang privasi. Kami sebenarnya pernah berteman, namun untuk waktu yang singkat."
"Kapan?" Rasanya itu pertanyaan yang bodoh. Umur Fae bisa beratus-ratus tahun. Memangnya ia akan mengingat seluruh kejadian dalam hidupnya?
"Seingatku saat aku masih sangat muda. Seperti gadis-gadis lainnya, aku sempat terpukau dengan parasnya," kata Sana dalam suara kecil agar Ledion tak dapat mendengarnya. "Namun, semua harapan itu pupus saat aku mengetahui masa lalunya."
"Masa lalunya?"
"Ia pernah menyukai seorang Fae." Aku menatapnya tak percaya. Fae dingin seperti itu bisa menyukai seseorang juga? Siapapun Fae itu, dia pasti orang paling baik sedunia. "Siapa?"
Sana terdiam. "Aku tidak tahu boleh mengumbar privasinya seperti ini."
"Oh." Aku kecewa mendengar jawabannya, namun aku tidak memaksakannya untuk menceritakannya kepadaku. Setiap orang memang memiliki privasinya sendiri.
"Namun, ini kelewat batas. Fae itu benar-benar menyebalkan!" Aku menghentakkan kakiku, sengaja menarik perhatian Ripper itu, namun ia tidak menoleh untuk melihatku. "Kalau saja kalian berpasangan. Wanita bawel dan pria dingin-"
"Alena!" Sana menarik lenganku, kemudian menaruh jarinya di bibir. "Jangan keras-keras!"
"Kenapa?" Aku tidak peduli. Kalau saja Ledion menyukai Sana, pasti ia tidak akan bersikap sedingin itu.
"Memangnya, ia pernah menyukaimu?" Tanyaku lagi. Matanya terbelalak, terkejut mendengar ucapanku. Sana menggeleng-geleng. "Aku tidak tahu. Lagipula, hubungan kami tidak serumit itu."
"Kalau begitu kenapa ia tidak pernah mengajakmu berbicara?"
"Sudahlah, Alena." Sana tersenyum, namun aku bisa melihat nadi di tangannya yang mulai terlihat. Tubuhnya sedang menegang. Mungkin aku memang sudah melewati batas.
"Maaf," bisikku, namun Sana tidak menanggapiku. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan, sampai akhirnya Ledion menunjukkan kepadaku pohon-pohon tinggi dari kejauhan. "Duncart," katanya dengan nada datar seperti biasanya, kemudian melanjutkan langkahnya.
Kami terus membisu. Aku pun tidak lagi memikirkan hubungan Ledion dengan Sana. Mereka pernah berteman, kataku kepada diri sendiri. Kuharap itu adalah relasi yang baik. Namun semua ucapan itu bagaikan bunga yang layu, karena tidak mungkin dua orang yang berteman sekarang tidak lagi saling berkomunikasi.