
Aku tidak tahu harus menebak siapa yang kira-kira akan mengkhianati kaumnya sendiri. Meski begitu, aku juga tidak terlalu setuju dengan rencana awal para Ketua Golongan. Mereka tampak terlalu terburu-buru dan tidak pernah sekalipun memikirkan resikonya. Bagaimana jika semakin banyak korban yang akan berjatuhan karena pencarian Egleans yang berbahaya ini?
"Alena, mungkin kamu bisa mencoba untuk mengeluarkan cahaya. Apa saja boleh," kata wanita itu. "Ini sangat penting. Nasib Fae berada di ambang kehancuran."
Aku memejamkan mataku sebentar, mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk yang tiba-tiba melandaku. Ini pasti efek minuman segar yang sudah kuminum barusan. "Baiklah. Aku akan berusaha."
Aku bangkit dari kursi, lalu merentangkan kedua tanganku. Masih sambil memejamkan mata, aku menarik napas pelan-pelan. Kali ini, aku ingin mencoba untuk mengeluarkan sihir api. Aku mencoba membayangkan bentuk api yang sedang berkobar, rok gaun Xiela yang berwarna merah, serta rasa hangat yang memancar dari api.
Aku menggertakkan gigiku, lalu mengepalkan kedua tanganku. Akhirnya, aku menyerah dan membuka kembali mataku.
Xiela langsung angkat bicara saat melihatku menggeleng lemas. "Ia belum berhasil mengeluarkan sihir sendiri."
Aku kembali menduduki kursi. Suasana menjadi hening. Kami sibuk berpikir keras, bagaimana caranya agar aku dapat mengeluarkan sihir.
Xiela mulai bercerita. "Saat aku mendapatkan warna sayapku, usiaku sekitar tujuh tahun." Ia menatap dinding, namun pikirannya melayang ke masa lalunya.
"Waktu itu Mister Kardi, Pelatih Fire, menyuruhku untuk membakar seisi Hutan Greensia."
Aku terbelalak. "Gak mungkin! Pasti bercanda!"
"Itu benar," timpal Naomi. "Itu salah satu tugas pelatihan Kelas Fire. Api nanti dipadamkan oleh para Aqua. Bahkan kadang, memadamkan api juga termasuk ke dalam tugas pelatihan Kelas Aqua."
Aku menatap mereka tak percaya. Elemen yang sama sekali berbeda, namun saling melengkapi. Aku kagum dengan hal itu.
"Waktu itu aku terus-terusan gagal, dan hanya mampu membakar satu batang pohon saja. Akhirnya, Mister Kardi membuat lingkaran api dan membakar tubuhku."
Aku mengedipkan mataku berkali-kali karena mendengar ucapannya. Xiela mengangkat sedikit roknya, dan memperlihatkan betis kirinya yang memiliki luka bakar panjang. Pantas saja ia suka memakai celana panjang layaknya anak laki-laki. Ternyata itu untuk menutupi luka bakarnya.
"Itu membuat amarahku terpancing. Akhirnya, di saat itu juga, aku berhasil mengeluarkan cahaya berwarna merah alias Sihir Fire untuk yang pertama kalinya."
"Wow." Aku menepuk tanganku, ingin menunjukkan betapa bangganya diriku ini. "Lalu, bagaimana sayapmu yang semula tak berwarna tiba-tiba menjadi merah?"
"Oh! Oh! Itu adalah hal terindah yang pernah terjadi untuk setiap Fae!" Celetuk Naomi kegirangan. "Awalnya ujung sayap kita akan terasa dingin dan menggelitik, lalu perlahan-lahan sayap kita akan memancarkan warna sesuai dengan bakat kita."
Aku merasa kagum terhadap cara kerja sihir di Dunia Fae. Aku membayangkan bagaimana seandainya aku mendapatkan warna sayapku. Sensasi dingin yang akan menjalari kedua sayap kecilku.
"Jadi..." imbuh wanita itu, "ada yang punya kertas? Aku harus mengambil beberapa catatan."
"Sudah kupersiapkan." Naomi merogoh saku gaunnya, lalu mengeluarkan selembaran kertas daun serta botol tinta. Ia lalu mencabuti salah satu bulu sayap pada rok gaunku.
"Kamu memang putriku," puji wanita itu sambil berkedip. "Kamu selalu tahu apa yang kubutuhkan."
Naomi hanya cengar-cengir sementara wanita itu mulai menuliskan sesuatu. "Naomi...untuk sihir Melody. Lalu Xiela untuk sihir Fire," gumam wanita itu sambil menuliskan catatannya.
"Apakah Anda sedang menuliskan nama Fae yang akan melatihku?" Tanyaku sambil mengintip tulisannya yang seperti cakar ayam. Aku menggigit bibir bawahku agar tidak tertawa atau melakukan hal konyol.
"Begitulah," gumamnya lagi. Selang beberapa detik, akhirnya ia selesai menulis. "Nah. Ini dia para Fae yang menurutku dapat menjaga rahasia kita mengenai rencana ini, sekaligus mereka yang paling berbakat."
Aku menggumamkan terima kasih dan merebut lembaran daun itu. Aku langsung terkesiap saat membaca sebuah nama. "Callum? Fae Ro-A...anda benar-benar yakin?"
"Hmm?"
"Aku juga harus mempelajari sihir milik seorang Fae Royal?!" Aku hampir berteriak. Tidak mungkin. Fae Royal adalah Fae berdarah murni bangsawan sejak mereka lahir.
"Fae Royal...mereka tidak dilatih kan? Sayap mereka memang sudah berwarna emas sejak lahir?" Lanjutku lagi, sambil mengulangi perkataan yang kupikirkan barusan. Xiela dan Naomi mengangguk secara bersamaan.
Naomi bangkit berdiri dan memukul meja dengan kedua tangannya. "Ini akan seru! Lihat saja! Kamu akan berlatih bersama kami! Wah, aku suka suka suka!"
Yang lain merasa setuju dengan Naomi. Mereka tampak jauh lebih bahagia dan percaya diri bahwa rencana mereka agar aku bisa mendapatkan warna pada sayapku akan berhasil.
Tubuhku melemas. Aku melirik kertas itu lagi. Aku membaca dalam hati nama-nama Fae yang tidak kusukai. Ledion, sebagai pelatih Ripper. Lilies, sebagai pelatih Cosmos. Dan...oh. Aku memegang dahiku yang berdenyut-denyut. Kenapa harus Lotus?! Kenapa jadi begini?!
***
Pangeran ini semakin mengada-ngada. Di saat sebelumnya ia akan menaruh kedua lengannya di pinggangnya, di saat berikutnya, ia akan menaruh bibirnya di pipinya.
Lexy sudah berkali-kali mencoba agar tidak menginjak atau menendang kaki pria ini. Kali ini, ia telah sukses menarik perhatian Callum. Bukan hanya perhatian sang pangeran, pikirnya. Namun, perhatian seisi ruangan.
Mereka terus berdansa di tengah aula. Lexy serasa sudah membelah lautan ombak Fae. Setiap kali ia melangkah untuk menari atau memutarkan badannya, para Fae langsung mundur dan memberinya ruang agar lebih leluasa berdansa dengan Callum.
Untungnya, sang Ratu sudah melatihnya dengan baik. Ia tahu bagaimana caranya berdansa. Ia tahu cara menari tarian tradisional kerajaan Bougenville. Dengan ini, setidaknya ia tidak akan memalukan diri sendiri jika tariannya tampak seperti katak terbang.
Pangeran itu melingkarkan tangan kirinya ke pinggang. Lalu, dengan tangan satunya lagi, ia memegang tangan Lexy. Mereka terus menari tanpa henti. Lexy tidak yakin jika pangeran ini mengenalinya karena wajahnya seharusnya terlihat seperti sang Ratu.
Mungkin pangeran ini juga terpikat pada wajah sang Ratu. Lexy harus mengakui bahwa wajah sang Ratu jauh lebih cantik dibanding wajahnya sendiri. Ia kadang heran apa yang membuat sang Ratu sampai terus-terusan memuji wajahnya.
"Hhh...kamu," bisiknya lirih di telinganya. Pangeran itu sampai mengeluarkan bunyi cegukan karena sudah sangat mabuk. "Kapan kamu...mengganti ba...jumu...?" Callum mulai meraba-raba rok gaunnya yang berwarna kuning cerah.
Lexy tidak yakin apa maksud dari perkataannya, namun demi pertunjukkan, ia tersenyum dan meraup pipi Callum dengan kedua tangannya. "Menarilah denganku," bisiknya.
Mata pria itu terbelalak. Lexy dapat melihat warna pipinya yang mulai merona. Sang pangeran menggunakan topeng hitam yang dihiasi oleh butiran permata emas di pinggirannya.
Callum membuka sedikit mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba saja ia terhuyung-huyung. Musik yang dimainkan oleh Fae Melody sangat pelan. Lexy dapat melihat pasangan lain yang mulai menari juga.
Callum hampir saja melepaskan tangannya pada pinggang Lexy. Ia segera mendekap sang pangeran, lalu berusaha untuk menatapnya lekat-lekat. Ia sudah benar-benar mabuk, pikirnya dalam hati.
Sang pangeran menggelengkan kepalanya berulang kali, berusaha untuk menjernihkan pandangannya. Dari sudut matanya, Lexy bisa melihat seorang gadis berpakaian seragam pelayan. Ia lalu memutarkan tubuh Callum agar ia bisa melihat lebih jelas siapa pelayan itu.
Lexy menahan napasnya saat menyadari pelayan itu tak lain adalah sang Ratu yang menyamar. Ia bersumpah bisa merasakan senyuman puas sang Ratu yang tertuju ke arahnya. Tatapannya seolah-olah hendak mengatakan, "Bagus, anakku. Buatlah sang pangeran terpikat padamu."
"...mmm..lena," gumam sang pangeran. Lexy segera memusatkan pandangannya kembali ke wajah Callum. Pria itu menatapnya lekat-lekat lalu tersenyum kepadanya. Lexy membalas senyumannya. "Ada apa, pangeranku? Maukah Anda menari denganku....lebih lama lagi?"
Callum langsung memeluknya erat-erat. Bibirnya hampir mengenai hidung Lexy. Ia berusaha untuk menenangkan diri agar tidak menampar sang pangeran. "Selalu..." Gumamnya. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Dari sudut matanya, Lexy tidak lagi melihat si pelayan. Ia lagi-lagi melihat pandangan gadis-gadis yang iri kepadanya. Ia menaikkan sudut bibirnya. Bagus, pikirnya puas. Lihatlah ke arahku.
Kali ini giliran Callum yang meraup pipinya, memaksa untuk melihat matanya langsung. Masih dengan wajah mabuk, jari-jari Callum mendarat di belakang kepalanya. Lalu dengan cekatan, ia mulai melepaskan tali topengnya.
Jantung Lexy mulai berdebar-debar. Perasaan tidak enak yang sedari tadi ditanggungnya mulai menjalarinya. Bagaimana jika efek dari Madu Susu berkurang dan wajahnya mulai kembali seperti semula?
Topeng keemasan miliknya sudah benar-benar dilepas. Callum melempar topeng itu ke lantai, dan tiba-tiba saja menyatukan bibir mereka.
Semua orang langsung terkesiap, termasuk juga dirinya. Ia dapat merasakan angin yang meniup wajahnya tanpa topeng. Amarahnya semakin terasa, dan ia tidak dapat berbuat apa-apa selagi bibir sang pangeran menyentuh bibirnya.
Callum mempererat dekapannya, dan terus-terusan menciumnya. Napas mereka bercampuran, dan aroma dari tubuhnya yang seperti wangi mawar mulai memenuhi penciuman Lexy. Callum mengelus-ngelus punggungnya, lalu tangan satunya lagi mendarat ke bagian pinggulnya.
Lexy menghembuskan napas gugup. Bibir Callum terasa lembut dan basah. Callum berbisik ke mulutnya, "Kau milikku, Alena."