Wings & Dust

Wings & Dust
Tersesat



Salju turun semakin banyak, dan angin berembus semakin kencang. Kedua telapak kakiku sudah mati rasa, dan aku tidak yakin berapa lama lagi waktu yang tersisa sampai kami mati kedinginan.


Kami sama sekali tidak berbicara. Dilanda oleh rasa kelaparan dan kedinginan, aku memaksa tubuhku untuk terus bergerak, sambil membawa tubuh seorang pangeran yang makin melemah.


Angin bertiup kembali dan aku harus mengedipkan mataku berulang kali karena butiran salju yang memasuki kelopak mataku. Kadang kala, aku berhenti sebentar dan mengecek denyut nadi Callum. Aku ingin berjaga-jaga supaya ia tidak mati.


Aku tidak tahu dimana tempat ini. Pohon-pohon kurus dan tinggi menjulang ke langit-langit malam. Daun-daunnya yang sudah kering menahan salju yang turun dari langit. Yang jelas, ini bukanlah Hutan Greensia.


Kami hanya mengandalkan kehangatan yang terpancar dari tubuh kami masing-masing. Sayap kecilku sudah dilapisi total oleh salju dan benar-benar beku. Bahkan untuk mengepakkannya saja aku sudah tak sanggup.


Kulit Callum terasa semakin panas. Hembusan napasnya juga hangat, dan aku bisa merasakan tenggorokannya yang kadang mengeluarkan suara aneh.


Aku memiliki banyak pertanyaan untuknya. Entah apa yang sudah ia lakukan dengan sihirnya, yang kutahu sekarang kami terdampar di sebuah hutan terbuka. Dan apa yang telah diperbuatnya sudah menguras banyak tenaga dan sihirnya pun kian melemah. Aku tidak begitu mengerti sihir milik seorang Fae Royal. Yang kutahu sihir mereka adalah yang terunik, sihir yang tidak perlu dilatih, dan sudah ada dalam darah mereka sendiri sejak lahir. Fae Royal adalah Fae yang memang sudah terlahir sebagai seorang bangsawan. Mereka mungkin saja Fae dengan sihir tersakti. Maka dari itulah mereka menjadi pemimpin Dunia Fae.


Kelemahan mereka adalah, sihir mereka bersatu dengan tubuh dan nyawa mereka. Jika sihir mereka melemah dan meredup, begitu pula kekuatan fisik mereka. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha untuk fokus dengan apa yang ada di depan mataku sendiri. Aku harus mencari sebuah tempat agar Callum bisa beristirahat.


Hutan terasa sangat sunyi. Tidak ada satupun hewan atau makhluk yang keluar pada malam salju pertama. Semuanya pasti sedang berhibernasi atau bersembunyi, berlindung dari dinginnya angin pada musim salju.


Tiba-tiba, kakiku tersandung oleh sebuah batu yang tak terlihat karena gumpalan salju. Aku terjatuh dan kehilangan pijakan, alhasil ikut menyeret tubuh Callum. Karena momentumku tak bisa dihentikan, aku menggelinding dan terpisah dari Callum. Seluruh kulitku mengenai hamparan salju yang lembut. Wajah serta kedua lenganku terkubur di dalam salju, dan aku mati-matian menggali keluar.


Saat aku sudah keluar, aku mulai panik karena tidak melihat keberadaan Callum. Secepat kilat, aku menggunakan kedua tanganku yang sudah mati rasa dan beku untuk menggali tumpukan salju yang mungkin saja mengubur tubuhnya.


"Callum!" Aku berteriak, memanggil-manggil namanya. Tubuhku sudah sangat menggigil, namun kupaksa terus diriku untuk menggali salju. Angin berembus semakin kencang, kali ini gaun tipisku sudah tidak mampu lagi menahan terpaan angin. Badai salju akan segera datang.


Sial, sial! Pikirku panik. Dimana Callum? Jangan sampai dia mati terkubur.


"Hhnnggg." Aku mematung, berusaha untuk menajamkan pendengaranku. Aku mendengar suara rintihan. Suara itu terdengar sangat dekat, namun aku masih tidak melihat keberadaan Callum.


"Ja...ngan...injak a...ku," kata suara itu lagi. Aku mengangkat salah satu kakiku dan terkesiap saat melihat salju yang baru saja kuinjak seperti sedang bergerak-gerak. Saat aku menyipitkan mataku, barulah aku melihat salah satu jari tangan Callum. Aku langsung menggali salju, sampai akhirnya tubuh Callum terlihat.


Aku mengangkat kedua lengan Callum, namun kakiku tidak dapat digerakkan. Akhirnya aku terpaksa menyeretnya dan menyandarkannya di batang pohon terdekat. Bajunya sudah tersobek, memperlihatkan otot-otot perutnya. Bibirnya biru, dan tubuhnya menggigil. Aku sendiri juga kelelahan karena sudah memapah Callum selama bermenit-menit. Akhirnya aku duduk di sampingnya dan memeluknya erat-erat, menyandarkan kepalaku ke pundaknya yang bidang.


Callum hanya terdiam. Aku lagi-lagi merasa panik ketika akhirnya ia menggerakkan tangannya dan mengelus pelan rambutku. "Hhuuuhh." Aku langsung mendongak dan menatapnya. "Ada apa?" Tanyaku dengan suara lirih.


Ia tersenyum kepadaku dan membuka mulutnya, namun aku tidak dapat mendengar perkataannya. Ia sudah tidak mempunyai energi untuk mengeluarkan suara.


Aku menatap kedua kakiku yang kurus dan kecil. Salah satu kakiku berdarah karena tertusuk oleh batu yang tadi. Bodoh, kataku kepada diri sendiri. Kalau aku tidak tersandung batu, mungkin kami masih bisa berjalan.


"Hheennngg...lena...," Callum lagi-lagi berbicara dengan lemah. "Ii...tu...Uhuk!" Ia terbatuk-batuk, lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Bukan salahmu."


Aku tidak sadar air mata yang sudah menggenangi mataku. Kuhapus air mata itu, lalu berdeham. "Apa maksudmu?" Aku terkejut karena aku tidak mengenali suaraku sendiri. "Kalau bukan gara-gara batu itu, kita-"


Callum mencium keningku. Aku menoleh dan memandangi kedua matanya. Mata biru yang indah, yang sekarang sedang menatap bibirku. Aku bisa merasakan bunyi detak jantung dalam dadanya. "Tidak apa-apa. Ini salahku juga."


Ia mendekatkan wajahnya, dan matanya benar-benar terfokus pada bibirku. Aku menelan ludah, tidak yakin harus berkata apa saat tangan satunya lagi menyentuh pipiku dan menghapus air mataku yang menetes.


"Kamu tahu kita akan mati, kan?" Lanjutku lagi. Aku tidak ingin menepis tangannya yang masih meraup pipiku. Tangannya terasa hangat dan nyaman. Entah kenapa aku ingin sekali mendapat sentuhannya. Aku menginginkannya.


Ia lagi-lagi meletakkan bibirnya pada keningku, lalu berbisik dengan halus. "Tidak apa-apa. Yang penting aku bersamamu."


Aku menatapnya tak percaya. Tubuhku tidak lagi merasa menggigil. Seolah-olah rasa dingin sudah diserap oleh tubuh Callum. Wajahnya sangat pucat dan kelelahan. Aku tiba-tiba teringat dengan gadis yang pernah berdansa dengannya. Dadaku terasa sesak mengingat bagaimana Callum menatap gadis itu. Tatapan sama yang ia berikan padaku sekarang.


"Kita tidak akan mati. Ayo." Aku kembali melingkarkan lengannya pada leherku, tidak berani menatapnya. Aku tidak lagi merasa kedinginan, dan meskipun kakiku terluka, rasa sakitnya tidak kurasakan sama sekali.


Aku terus berjalan dengan pincang. Meskipun angin berembus kencang dan kepalaku mulai berkunang-kunang, aku tetap tidak akan menyerah.


Tubuhku tidak lagi merasakan kedinginan. Aku menoleh dan mendapatkan tatapan Callum ke arahku. Ia melongo dan mengerjapkan matanya berulang kali.


"Ada apa?" Tanyaku kebingungan. Ia menggelengkan kepalanya, lalu menatapku lagi dengan raut wajahnya yang terkejut. Aku tidak mengerti maksudnya saat aku melihat sebuah cahaya yang membutakan mataku.


Aku terkesiap dan melihat cahaya kuning yang memancar dari tubuhku. "Cahaya Light?" Kataku tak percaya. Cahaya seketika menyelimuti tubuh kami, dan Callum tidak lagi menggigil. Aku mengangkat tanganku dan mengalirlah cahaya itu ke tanganku.


Kami saling bertukar pandangan dan ia mengangguk. Ia bisa membaca pikiranku dan mengerti maksudku. Aku menarik napas, lalu menfokuskan cahaya yang masih berpendar di telapak tanganku. Aku melemparkan cahaya itu ke atas langit. Awalnya tidak terjadi apa-apa dan harapanku mulai pupus. Tiba-tiba, cahaya itu kembali menerangi langit malam dan menyebar ke sepenjuru hutan.


Salju tidak lagi turun. Aku menoleh kesana kemari. Aku masih bisa melihat salju dari kejauhan, namun berkat cahaya Light yang melindungi kami, salju tidak turun di sekitar kami.


Aku tersenyum, menyadari inilah kesempatan kami sebelum cahaya memudar. Maka, aku melangkahkan kakiku lebih cepat dan membawa serta Callum. Cahaya di atas kepala kami tetap mengikuti kami, melindungi kami dari badai salju yang akan segera datang.