
Rapat pertemuan akhirnya selesai. Aku tidak tahu sudah berapa lama, namun otot-otot pinggangku sudah pegal dan aku ingin beristirahat.
Hasil rapat sudah memutuskan bahwa Fae Ripper akan melacak lokasi tempat para Egleans bersarang, lalu aku akan memulai aksiku. Aku akan membuntuti mereka hingga akhirnya sampai ke wilayah manusia. Mereka berharap aku akan menemukan suatu tempat yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Banyak sekali yang harus bisa kutemukan. Kami perlu mengetahui teknik atau cara para manusia menciptakan Egleans. Jika langkah itu berhasil, kemungkinan besar kemenangan akan berada di pihak kita. Kita bisa mengetahui kelemahan mereka. Kita hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
"Kau yakin akan melakukan hal ini?" Ini sudah yang kesekian kalinya Callum melontarkan pertanyaan ini padaku. Aku memutar kedua bola mataku, lalu menatapnya malas. "Jawabanku masih sama."
Callum mengeluarkan suara tawa kecil. Ia lalu mengacak-ngacak rambutku. "Sejak kapan kamu ingin melakukan sesuatu demi kaum Fae?"
"Sejak aku melihat Ketua Fire itu yang selalu beromong kosong," ucapku sambil berjalan ke kamar Callum. "Kamu tahu kan sayapku tidak menghasilkan serbuk. Dengan begitu, aku mungkin bisa melakukan ini tanpa kesalahan sedikitpun."
Callum menahan tanganku, lalu memutarkan tubuhku ke arahnya. Rambutku yang terurai beterbangan dan menampar wajahku. Callum refleks mengangkat tangannya dan menaruh beberapa helaian di belakang telingaku.
Saking terkejutnya, aku jadi menahan napas, tidak berani mengeluarkan suaraku untuk memprotes. Kami saling bertukar pandang selama beberapa detik. Bulu matanya yang panjang seolah-olah sedang menyapu kelopak matanya. Kemudian ia mulai berdeham dan menatap lantai. Aku menolehkan pandanganku ke dinding, tidak yakin jika barusan yang kulihat adalah Callum yang sedang salah tingkah.
"Kalau terjadi apa-apa, aku-" Ia meremas pergelangan tanganku, lalu senyuman nakal mulai kembali di wajahnya. "Aku masih belum mendengarkan nyanyianmu. Akan sia-sia kalau kau sampai mati nantinya."
"Apa?!" Aku menendang lutut kanannya. Ia terkesiap dan langsung memegang lututnya yang kesakitan. "Sudah kubilang, aku tidak pandai bernyanyi!" Seruku.
Di sela-sela tawaan, ia berkata, "Aku suka saat kamu memarahiku." Aku tak dapat memercayai perkataannya. Kupandang dia dengan jelas. Senyuman masih membekas di sana, namun mata birunya lagi-lagi menatapku.
"Aku harus tidur." Seketika aku merasa gugup. Kubuka pintu dan berjalan memasuki kamar Callum sebelum langkahku terhenti.
Aku terkesiap. Ruangan ini terlihat sama sekali berbeda. Ranjang berkanopi yang semula berwarna emas mulai terlihat lebih besar. Dinding-dinding yang bercat emas sudah menghilang, digantikan oleh warna biru langit malam. Aku dapat melihat sesuatu yang menyerupai bintang yang berkelap-kelip, bertaburan pada dinding.
Ruangan ini terkesan lebih...hangat dan nyaman. Rasanya tidurku akan jauh lebih nyenyak karena warna dinding yang alami. Aku tidak menyadari kakiku yang sudah membawaku tepat di hadapan dinding. Aku menyentuh dinding, lalu meraba-raba bintang yang menghiasi warna langit malam.
"Langit malam. Mengingatkanku dengan langit yang kita lihat di balkon kemarin." Callum berbisik di belakangku. Ia menyentuh tanganku, lalu menuntunnya untuk meraba bintang-bintang yang terukir pada dinding. Aku bergidik. Saat ia menyadari tanganku yang gemetaran, ia buru-buru melepaskan tanganku.
"Aku seharusnya mendekorasi ulang kemarin." Ia menduduki ranjangnya yang empuk. Ia cengar cengir saat melihat ekspresi wajahku yang kebingungan. "Jangan salah paham. Aku harus mengganti seprai karena air liurmu yang sudah kemana-mana."
"Aku tidak-"
Ia meletakkan ujung jari pada mulutnya. "Sudah cukup. Aku sudah mengantuk." Ia menjentikkan jarinya, dan seketika pakaiannya sudah berubah menjadi pakaian tidur yang panjang dan hangat. Ia berbaring di atas ranjangnya sambil menggerakkan kedua lengannya dan meregangkan otot-otot perutnya. "Aku mau tidur disini. Kalau kamu keberatan satu ranjang denganku, silahkan tidur di atas kasur itu." Ia menunjuk ke luar balkon, dan aku mengikuti arah tatapannya.
Yang benar saja. Sebuah kasur putih sudah disiapkan di luar balkon. "Apa-apaan ini?! Kenapa aku harus tidur di luar?!"
Ia menoleh kepadaku, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Kupikir pemandangan langit malam akan membuatmu tertidur lebih pulas."
Tanpa sadar, aku mulai tertawa terbahak-bahak. Perutku menjadi sakit, dan aku harus menahannya dengan tanganku. "Aku tidak tahu sejak kapan kamu mengetahui kesukaanku terhadap langit malam, tapi bukan begini caranya." Aku menggosokkan kedua lenganku. "Bisa-bisa aku mati kedinginan."
Ia mengacak-ngacak rambutnya. Ia tampak menggumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri. Kuakui tingkah lakunya itu membuatnya terlihat normal, seperti Fae laki-laki pada umumnya. "Oke kalau begitu." Ia menjentikkan jarinya lagi, dan seketika kasur itu sudah berada di samping ranjangnya.
Aku segera berbaring di atas kasur itu. Meski kasur ini pendek jika dibandingkan dengan ranjangnya, aku sudah sangat bersyukur karena sudah diberi tempat untuk bermalam. Aku menoleh ke samping kanan, ke tempat Callum sedang berbaring. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena ranjangnya yang sangat tinggi, namun aku dapat mendengarkan bunyi napasnya yang teratur dan pelan.
"Sudah tertidur?" Ia berbisik, namun aku dapat mendengar suaranya dengan jelas. Terdengar suara pelan jangkrik yang berasal dari luar balkon. Segalanya terdengar hening, kecuali untuk suara napas kami yang bercampuran.
"Belum," balasku pelan. Aku lalu menarik selimut hangat, berusaha untuk membungkus semua bagian tubuhku. Aku memejamkan mataku. "Memangnya layak kalau aku bermalam di kamar sang pangeran terhormat?"
"Sang pangeran terhormat itu memperbolehkannya. Jadi kurasa, tidak apa-apa."
Suasana kembali hening. Aku tidak yakin ingin tertidur sekarang, jadi kucoba untuk mengajaknya berbicara. Kuharap ia mengampuniku karena berbicara serampangan. "Kenapa kamu mengundangku ke rapat pertemuan yang tadi?"
Aku dapat membayangkan Callum yang sedang menghela napasnya. "Memangnya kenapa? Rapat selalu membosankan. Aku membutuhkan pertunjukkan."
"Pertunjukkan?!" Aku membuka kembali kelopak mataku, lalu menoleh ke atas ranjang. "Memangnya aku pemain sirkus?"
"Pemain sirkus? Apa itu?" Ia membalikkan tubuhnya sehingga bisa memandangiku. Aku bersumpah bisa merasakan tubuhku yang mulai menciut karena tatapannya yang bertumpu padaku.
"Umm, itu..." Aku lagi-lagi mengutip sesuatu yang berasal dari dunia manusia. "Maksudku, aku tidak dapat menyiapkan pertunjukkan untukmu."
"Tapi nyatanya kamu berhasil." Ia meraih salah satu bantal yang berada di belakang kepalanya, lalu memeluknya. "Tidakkah kamu melihat ekspresi Cosmos itu?" Ia menyengir. "Saat kamu mengajukan dirimu, aku bersumpah bisa melihat tangannya yang meremas kain tapak meja dengan kuat. Aku sempat berpikir kain itu bakal tersobek. Aku malas menggantinya."
Aku tersenyum terhadap perkataannya yang lagi-lagi berada diluar topik. "Terima kasih sudah mau membelaku," bisikku pelan.
Callum langsung bangkit dari ranjangnya dan melemparkan bantal yang semula dipeluknya ke arahku.
"Aduh! Kenapa sih?!" Aku melototinya. "Tak bisakah pangeran muda ini berdiam diri dan tidak melakukan hal-hal konyol?" Ia lagi-lagi menertawakanku. "Kamu yang konyol, Alena."
Namaku ketika diucap di bibirnya serasa...berbeda. Aku usir pikiranku yang aneh ini. Jangan berpikiran aneh-aneh, kataku kepada diri sendiri. Jangan mentang-mentang kamu bermalam berdua saja dengan seorang pangeran, kamu mulai kegeeran.
***
Keesokan paginya, ranjang Callum terlihat kosong. Aku sempat berpikir bahwa yang tadi malam itu cuma mimpi, namun saat kuraba ranjangnya, masih terasa sedikit hangat. Mungkin ia sangat sibuk jadi harus berangkat pagi-pagi.
Aku menyusuri lorong, masih dalam keadaan setengah sadar. Hal pertama yang kulakukan adalah membuka pintu kamar tempat Naomi dirawat.
Disana sudah ada Sana yang sedang sibuk merawatnya. Naomi sudah tersadar. Ia sedang duduk bersandar pada ranjangnya. Di tangannya terdapat semangkuk bubur gandum. Fae yang sedang sakit juga harus mengonsumsi sesuatu yang hangat.
"Naomi!" Aku berlari dan memeluknya. "Gimana keadaanmu?"
Ia tersenyum saat melihatku. Wajah imutnya masih terlihat cantik, meskipun sedikit pucat dan keringat masih bercucuran. "Sudah lumayan, berkat temanmu ini." Ia mengangguk tanda terima kasih kepada Sana.
"Ah." Aku menatap Fae Healer itu. Aku belum melihatnya sejak ia tak sadarkan diri di lantai Faedemy sehingga Val harus menggendongnya. Sana terlihat segar dan wajahnya sudah kembali bersinar.
"Aku tidak tahu kamu mengenal gadis manis ini." Sana tertawa kecil. "Naomi adalah gadis terbaik yang pernah kutemui di Faedemy."
Naomi melambaikan tangannya, merasa malu sudah dipuji. "Sudah, sudah! Hahaha, aku memang suka bersosialisasi."
Mereka lanjut bercakap-cakap dengan enteng. Mereka kelihatan seperti teman lama yang sudah saling kenal.
"Alena, aku terkejut melihat sayapmu," ucap Sana tiba-tiba. Aku langsung tersadar akan bobot sayapku saat ia berkata demikian. "Sesaat sebelum aku terjatuh pingsan, aku bisa merasakan angin dari kepakan sayapmu."
Pipiku merona karena malu. "Terima kasih."
"Sejak kapan?" Tanya Naomi penasaran. Ia langsung menoleh ke belakang punggungku. "Bisakah kau menunjukkannya kepada kami?"
Aku tahu maksud perkataan Naomi. Anehnya, kali ini aku merasa tenang dan pede. Aku menggerakkan sedikit sayapku, lalu seketika, tubuhku sudah melayang di udara.
Suara tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. "Hebat! Hebat!" Mereka menyorakkiku. "Aku bangga padamu, Alena!"
Aku tertawa gembira. "Ini terjadi saat aku pergi ke Faedemy." Aku lalu menatap Naomi dan Sana secara bergantian dan membuang napas lelah. "Ini bukan apa-apa. Aku masih belum mengetahui bakatku."
"Jangan khawatir." Suara Xiela terdengar dari arah pintu. Aku menoleh kepadanya. Tubuhnya yang tinggi dan langsing disandarkan pada dinding. "Selain Cahaya Hangat, Cahaya Abu-abu, kini sihir Fire. Sihir apa lagi yang mampu kau ciptakan?"
Naomi terkesiap. "Fire?! Apa maksudnya?!" Sana juga tampak terkejut. "Alena, jelaskan apa maksudnya."
Aku lalu duduk dan menceritakan segalanya kepada mereka. Aku mampu membengkokkan gagang pintu besi dengan api yang tiba-tiba muncul dari tanganku.
"Bagaimana caranya?" Gumam Naomi. "Aku tidak tahu Fae golongan apa yang mampu berbuat demikian."
"Aku sudah menghafal di luar kepala isi Buku Faepedia, namun tak pernah menemukan Fae yang mampu menciptakan bermacam-macam sihir," kata Sana. "Apa menurut kalian, kita harus mencari informasi di Fae Hall?"
"Fae Hall?" Celetuk Xiela. "Tempat itu berdekatan dengan Kerajaan Bougenville. Kalau Alena sampai kelepasan kendali dan malah menghancurkan gedung itu dengan sihirnya-"
"Tentu saja tidak!" Aku bangkit berdiri. "Aku hanya pernah mengeluarkan sihir dari suatu golongan sebanyak satu kali. Aku belum pernah mencobanya lagi," kataku untuk membela diri.
"Wah, itu malah semakin menguatkan pernyataanku."
"Oh ya?"
"Artinya kau belum bisa mengontrol sihirmu dengan baik. Sihirmu masih mentah."
Xiela ada benarnya juga. Entah sihir apa yang tiba-tiba merajuk dari dalam diriku, aku belum memecahkan teka-tekinya.
"Lagipula, mengenai tugasmu sebagai mata-mata..." lanjut Xiela. Naomi langsung tersedak saat ia hendak menelan buburnya. Sana langsung menepuk-nepuk punggungnya. "Beri tahu aku bahwa rapat itu dihadiri oleh Lilies dan Bora."
"Bora?" Aku mengangkat sebelah alisku. "Oh, Ketua Fire," gumamku kepada diri sendiri.
"Kenapa kamu ingin menjadi mata-mata?" Tanya Naomi lagi. "Kamu belum menguasai sihirmu. Kamu masih jauh di bawah rata-rata. Ini sangat membahayakan! Ini-" Ia tersenyum miring. "Kalian pasti bercanda."
"Hasil rapat sudah diputuskan. Dan aku akan memulai aksiku tepat sesudah Fae Ripper mendapatkan kabar dari para Egleans," kataku dengan tenang. Lalu, aku menyibakkan sedikit rambutku yang panjang. "Di saat itu, aku harus bersiap."
Naomi hendak memprotes lagi, namun kuangkat tanganku. "Kumohon. Ini mungkin keputusan terbaik yang pernah Lilies sampaikan."
"Terbaik?!" Sembur Sana. "Bertahun-tahun aku menjadi pelayannya di Amalthea Halley. Dan bertahun-tahun pula keputusannya selalu berakhir buruk. Wanita itu benar-benar tidak tahu malu! Untungnya aku sudah berhenti kerja dari sana."
"Ya, beruntung sekali." Aku menoleh ke sumber suara. Suara yang pernah kudengar berminggu-minggu yang lalu. Suara yang langsung melengking setiap kali ia membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Lilies sedang berdiri di ambang pintu. Rambut pirangnya dikepang satu, mengingatkanku dengan pertemuan pertama kami. Gaunnya berwarna kuning cerah, mirip seperti warna sinar matahari. Matanya hanya terfokus kepadaku. "Senang sekali bisa melihat wajah yang sudah lama kurindukan." Ia tersenyum licik. "Bagaimana kabarmu, Alena?"