
Keesokan harinya, saat aku hendak memasuki Kelas Melody, suasana kelas langsung berubah menjadi hening. Semua orang menatapku penuh kagum. Aku terkejut karena tidak mendapatkan satupun tatapan sinis atau kengerian. Aku langsung curiga bahwa Naomi sudah menceritakan tentang sihir Melody yang dapat kuciptakan.
"Alena, benarkah itu?" Salah satu Fae laki-laki yang berambut coklat mulai menghampiriku. "Benarkah kamu bisa mengeluarkan Cahaya Hangat?"
Aku mengangguk pelan. Aku memang pernah mengeluarkan Cahaya itu, namun jika aku harus menunjukkannya kepada mereka, aku meragukan kemampuanku. Cahaya itu hanya datang saat aku memikirkan Naomi. Tidak lebih.
"Kalau begitu, dia bukan Egleans!" Gadis dengan rambut putih keperakan yang kemarin sempat menantangku langsung melemparkan senyuman ke arahku. "Dia tidak berbahaya!"
Seluruh murid mulai bersorak. Mereka menepuk tangan dan terbang mengelilingiku. Ada yang sampai mengangkat tubuhku saking girangnya. "Fae Melody! Fae Melody!" Mereka mulai memanggilku dengan segala macam julukan.
Saat mereka akhirnya cukup puas menyorakiku, mereka langsung melepaskanku begitu saja. Aku jatuh terjungkal ke lantai. Sambil mendesis, aku berpikir bahwa ini normal di antara kaum Fae. Atau mungkin mereka tidak mengetahui sayapku yang belum bisa berfungsi.
"Ah, sayapnya!" Salah satu Fae menarik jubah yang sedang kukenakan dengan kasar. Saat sayap kecilku sudah terlihat dengan jelas, mereka menarik napas karena terkejut. Sayap kecil yang terlihat rapuh ini masih belum memiliki warna.
"Ta-tapi, katanya dia sudah bisa mengeluarkan cahaya..."
"Ahhh, emangnya bisa seperti ini ya?"
"Jadi dia bukan Fae Melody?"
"Dia masih Egleans!"
Semua orang mulai berdebat siapakah aku sebenarnya. Aku hanya menarik kembali jubah tebalku, lalu bangkit berdiri. Aku pun tidak memiliki jawaban yang pasti.
"Ada apa ini?" Miss Solla terbang menghampiri kami. Para murid masih sibuk berdebat dan tidak menyadari keberadaan sang pelatih. "Harap tenang!" Perintahnya dengan suara keras. Ia lalu mengangkat tangannya, dan seketika ruangan kembali hening.
"Miss Solla!" Gadis berambut putih keperakan itu mengangkat bicara. "Gadis itu bukanlah seorang Fae Melody! Dia tidak memiliki sayap ungu!"
"Dan dia pembohong! Kita tidak bisa mempercayai ucapan Naomi mengenai Cahaya Hangat yang dapat diciptakan olehnya!" Lanjut seorang lagi. "Kami mau melihatnya dengan mata kepala kami sendiri!"
Serentak, semua orang mengangguk. Aku mengembuskan napasku. Ini akan sulit, pikirku dengan gugup. Aku belum pernah mencoba mengeluarkan Cahaya Hangat lagi. Aku tidak tahu hal dasar pertama yang harus dilakukan saat ingin memanggil Cahaya.
Miss Solla terdiam, lalu menatapku dengan mata berharap. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil, lalu mulai membuka kedua telapak tanganku.
Aku memejamkan mata, lalu mengatur napasku agar tubuhku bisa rileks. Aku memikirkan Naomi. Xiela. Sana. Teman-temanku yang sudah membantuku di saat kesulitan. Teman-temanku yang mampu menyembuhkan luka di hatiku.
Aku teringat dengan Lexy, saudari kembarku. Kapan terakhir kali aku melihat wajahnya, saat ia sudah melompati kaca jendela dan berhasil kabur. Aku tidak tahu keberadaannya, namun kuharap kehidupannya akan jauh lebih baik. Kuharap ia sudah tinggal di wilayah manusia, wilayah dimana seorangpun tidak memerdulikan warna sayap kami. Dunia dimana makhluk seperti kita juga dapat hidup bahagia.
Air mata mulai membasahi pipiku. Aku tidak tahu rasanya akan sesakit ini saat memikirkan Lexy. Aku benar-benar rindu padanya. Ia pantas memiliki kehidupan yang bahagia.
Aku mengepalkan tanganku. Cukup sudah penderitaan ini. Aku juga harus berusaha menemukannya kembali. Aku akan mencari bakatku sendiri, dan semoga dengan kemampuan sihirku nantinya, aku dapat menjadi lebih kuat.
Tidak ada lagi Alena yang rapuh.
Aku dapat merasakan tubuhku yang mulai menghangat. Di balik kelopak mataku yang tertutup, aku masih bisa melihat cahaya terang. Semua orang terkesiap, dan aku samar-samar dapat mendengarkan suara tepuk tangan. Cahaya ini terasa berbeda. Cahaya Hangat memiliki aura hangat karena suara melodi yang kunyanyikan. Namun, cahaya yang satu ini mampu kuciptakan tanpa nyanyian melodi.
Aku merasakan tubuhku yang terangkat. Rasa panik mulai menjalariku. Apakah mereka lagi-lagi menyorakiku dan mengangkat tubuhku? Aku membuka sedikit mataku, dan melihat pemandangan yang aneh.
Aku sedang melayang di udara. Dan cahaya yang kuhasilkan ini bukanlah salah satu cahaya Melody, karena warnanya bukan ungu.
Ini adalah cahaya milik seorang Fae Ventus.
***
Mereka langsung terbang menghampiriku. Sesuai dugaanku, pertanyaan bertubi-tubi mulai diarahkan kepadaku.
"Benar kan? Dia bukan seorang Fae Melody!" Gadis berambut putih itu lagi-lagi berkomentar. "I-ini, ini sesuatu yang aneh dan tidak biasa!"
Gadis itu menekan kedua pundakku, dan menatap mataku lekat-lekat. "Katakanlah, Alena! Dari mana kamu mempelajari sihir milik Fae Ventus?"
Aku menelan ludah lalu menggelengkan kepalaku. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana Cahaya Ventus dapat memancar dari dalam diriku. "Aku tidak tahu. Kupikir cahaya hangat itu akan kembali, tapi ternyata..."
"Kita harus segera menemui Mister Denmark. Pelatih Fae Ventus," Miss Solla segera menuntunku ke arah pintu. Ketika kami sudah berada di luar ruangan, ia melanjutkan ucapannya. "Alena, tolong katakan kamu tidak berencana untuk mengeluarkan sihir milik golongan Fae lainnya."
Hah? Aku segera menoleh kepadanya. "Sihir milik Fae lainnya? Jangan berpikir macam-macam! Aku tidak bermaksud untuk mengeluarkan cahaya tadi! Itu sebuah kesalahan!"
"Kesalahan macam apa sampai cahaya murni Ventus menyelimuti tubuhmu dan membuatmu terbang?" Ia menggelengkan kepalanya. "Aku tahu sayapmu masih rapuh dan tidak bisa digunakan."
Kami sekarang berjalan melewati lorong kelas. Aku dapat melihat pintu besar yang berpola capung. Kelas Awal. Kami melewati kelas itu dan segera menaiki sebuah tangga, dan akhirnya aku bisa melihat beberapa pintu yang terkunci. Salah satunya pasti Kelas Ventus.
Miss Solla mengetuk salah satu pintu dengan warna border abu-abu mengilap. Bagian tengah pintu tersebut juga terdapat pola sayap capung.
"Tunggu disini. Aku akan mencarinya di Kelas Akhir," kata Miss Solla sebelum pergi meninggalkanku seorang diri.
Aku bersandar pada pintu ruangan, lalu menundukkan kepalaku. Aku menghela napas lelah. Pasti Mister Denmark atau siapapun dapat menjelaskan asal usul cahaya Ventus itu. Pasti ada penjelasan ilmiah terkait Fae yang mampu menciptakan lebih dari satu golongan sihir. Mungkin manusia memang sudah berhasil menciptakan Egleans jenis lain yang lebih kuat, sampai bisa memanipulasi sihir murni milik Fae.
Aku tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikanku saat aku mendongak dan mendapati Callum yang tengah tersenyum kepadaku.
"Ingin menemui Mister Denmark?" Tanyanya sambil menyentuh gagang pintu. Ia lalu menariknya dan terbukalah pintu itu. "Kau tidak harus menunggunya seorang diri disini. Pintu ini ternyata terbuka."
"Apa yang kau lakukan disini?" Aku bertanya tanpa menunjukkan rasa hormat sedikitpun. Ia menoleh kepadaku, dan sehelai rambutnya hampir mengenai mata birunya. Ia menaikkan bahunya. "Aku bosan, jadi ingin menemuimu."
Aku mengeluarkan suara tawa kecil. "Atau jangan-jangan para gadis sudah mulai bosan menarik-narik lenganmu sampai putus?"
Ia lagi-lagi tertawa. "Tolong jangan ingatkan aku tentang mereka. Mereka hanya kagum terhadap wajah tampanku."
Aku memutar kedua bola mataku, lalu melipat lenganku ke dada. "Memangnya kamu tidak pernah mengikuti kelas, ummm... Kelas Royal?"
"Kelas Royal? Kelas apa itu?" Ia menggaruk-garuk kepalanya. "Aku hanya mengunjungi Faedemy karena bosan. Selebihnya, aku mengerjakan tugasku sebagai seorang pangeran di istana pribadiku."
Rasa ingin tahu terbesit di benakku. Benar juga, Fae Royals adalah Fae bangsawan. Yang memiliki sayap emas hanyalah Raja dan Ratu Fae, serta putra-putri mereka dan seluruh keturunannya. Bahkan, kelas itu bisa dibilang sedang tidak beroperasi karena tidak ada murid yang dapat dididik. Sang pelatih tak lain adalah seorang Fae Royal juga. Seingatku dari buku tebal yang diberikan oleh Sana, pelatihnya merupakan kakek dari sang Raja, yang umurnya sudah melebihi umur Ledion. Aku tidak berani menebak berapa usianya.
Callum menarik lenganku dan menuntunku. Kami berdua sudah memasuki Kelas Ventus ketika tiba-tiba langkahnya terhenti. Aku hampir menabrak punggungnya.
"Aduh! Kenapa sih?" Aku mengintip di balik punggungnya, lalu jantungku mulai bekerja lebih cepat. Aku melihat kaca besar yang sudah pecah. Pecahan kaca tersebar di lantai kayu. Angin bertiup dari luar gedung, dan membuat kertas-kertas yang semula tersusun rapi di atas sebuah meja beterbangan.
Kami langsung menghampiri kaca besar yang sudah pecah. Sepertinya kaca ini dihancurkan dari luar. Serpihan kaca hampir menusuk kakiku. Untungnya Callum segera menarik lenganku.
"Hati-hati. Kurasa ada sesuatu yang salah." Ia mulai mengangkat salah satu kepingan kaca. Terdapat noda darah yang berlumuran pada ujung kaca. Aku mengedarkan pandangan dan melihat sesuatu pada dinding. Aku berjalan mendekatinya, dan melihat cakaran besar yang tertoreh disana.
"Ini..." Aku meraba cakaran yang membekas pada dinding. Cakaran besar ini tentu bukan ulah seorang Fae. Aku bergidik ngeri. Bekas cakaran ini sangat dalam, sampai satu ruas jariku mampu menembus dinding.
"Cal-"
Aku tidak sempat melanjutkan perkataanku saat Callum sudah berlari ke arahku dan menjatuhkanku. Aku terjerembap, dan dapat merasakan tubuh Callum yang melindungiku. Wajahku sampai tertekan pada lantai yang keras.
Suara gedebuk yang keras sampai menggetarkan lantai. Aku dapat mendengar suara teriakan lainnya di luar kelas. Tak lama, sebuah bayangan yang dapat kulihat di dinding mulai membesar, membesar, dan akhirnya berhenti di hadapan kami.
Bayangan itu mulai membuka kedua sayapnya, dan suara raungan yang mengerikan hampir merusak telingaku.
Tak lama, aku dapat mendengar pintu kelas kami yang terbuka, dan suara pedang sudah memenuhi seisi ruangan. Aku tidak dapat melihat seluruh kejadian karena tubuh Callum yang menghalangi pandanganku. Beberapa Fae yang kuduga adalah Ripper sibuk menyerang makhluk itu. Suara raungannya terpadu dengan suara keras metal dan teriakan yang lagi-lagi berasal dari lorong kelas.
"Kita harus segera pergi dari sini!" Callum tahu-tahu sudah menarik tubuhku, lalu kedua tangannya dilingkarkan pada pinggangku.
"Apa yang sedang kau-"
Ia mengepakkan sayapnya, lalu terbang keluar dari lubang yang tercipta akibat pecahan kaca itu.
Aku bisa merasakan tubuhku yang terangkat. Dalam sekejap mata, aku sudah terbang bersama sang pangeran di udara. Aku berteriak ketakutan. Namun, suaraku dikalahkan oleh kericuhan seisi gedung. Aku dapat melihat dari jendela bahwa para Fae Ripper sedang sibuk melawan berbagai macam monster dengan bentuk rupa yang aneh. Ada yang tubuhnya sangat besar dan berbulu, namun sayapnya sangat kecil dan terlihat tidak normal. Ada lagi yang menyerupai kucing, namun gigi-gigi taringnya terdapat cairan menjijikan yang langsung membuatku mual.
Callum membawaku keluar gedung Faedemy. Masih sambil mengepakkan sayap emasnya, ia mendekap tubuhku semakin erat. "Pegangan! Ini akan terasa sedikit menakutkan!"
Ucapannya benar. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Angin yang bertiup sangat kencang sampai masuk ke tenggorokanku yang kering. Callum berbelok arah secepat kilat. Kadang ia memiringkan tubuhnya, dan dengan lincah terbang menjauhi monster-monster yang sempat mengejar kami. Aku refleks memeluknya, sambil menutup mataku. Tubuhku gemetaran dalam dekapannya.
Aku tidak tahu sudah berapa lama kami terus-terusan menjauhi monster aneh itu. Akhirnya, aku dapat merasakan kepakan sayap Callum yang mulai melambat, dan tiba-tiba kakiku sudah menyentuh tanah.
"Sudah...sa...sampai," Callum melepaskanku, sambil mencoba mengatur napasnya. Ia mengusap keringat yang terdapat pada wajah serta lehernya. Aku membuka mata dan menyadari aku sedang berada di lantai paling atas sebuah bangunan.
Callum buru-buru menarikku ke sebuah pintu berkaca di hadapanku, lalu kami memasuki sebuah ruangan. Aku terkesiap. Sebuah ranjang berwarna emas dan berkanopi terlihat di depanku. Dinding-dindingnya bercat emas, dan sebuah patung berkepala lembu tergantung di atas perapian. Sofa-sofa terdapat di sudut ruangan.
Ini adalah sebuah kamar. Aku tidak dapat melepaskan pandanganku pada sebuah lemari yang terukir pola mahkota. Itu adalah simbol keluarga kerajaan Bougenville.
"Tunggu aku disini." Callum segera menarik seluruh gorden jendela, lalu mendorong sebuah meja ke depan pintu kaca itu. Tak lama, ruangan ini menjadi lebih gelap karena gorden yang menghalangi cahaya matahari. "Egleans. Mereka berhasil memasuki gedung Faedemy," lanjutnya lagi. Ia lalu memejamkan matanya, dan menggeleng pelan. "Sudah kuduga. Ledion-"
Ia tidak melanjutkan ucapannya. Aku harus berkedip berkali-kali karena sudah melihat Callum yang kepanikan. Fae itu segera membuka lemari yang sebelumnya kulihat, lalu mengeluarkan sebuah pedang. Gagangnya dihiasi oleh pola ukiran berwarna emas. Lagi-lagi, simbol mahkota.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera berlari keluar ruangan, meninggalkanku seorang diri di dalam kamarnya.
Aku segera berjalan mengitari sofa yang terdapat di tengah ruangan, lalu menghampiri salah satu jendela. Aku mengintip di balik tirai yang semula menutupi pandanganku. Langit biru terlihat menyeramkan. Puluhan Egleans terbang mengitarinya. Beberapa Fae sibuk terbang menyelamatkan diri mereka. Ada yang tertangkap, dan aku menjerit saat Egleans itu mulai mengigit sayap Fae itu, dan merobeknya.
Kepalaku terasa berkunang-kunang. Aku menjatuhkan diri ke lantai. Aku menarik kedua lututku ke dada, dan menyembunyikan kepalaku di antaranya. Tubuhku bergemetar, dan memori mengenai Egleans yang merobek sayap Fae menghantuiku.