Wings & Dust

Wings & Dust
Badai Salju



Hatiku langsung hanyut begitu mendengar suara Callum yang menyebut namaku. Suaranya memelas dan sangat lembut. Tanpa disadari, aku mengeluarkan air mata, dan langsung menangis.


Callum memelukku, menenangkanku. Ia membisikkan namaku berulang kali di telingaku. Air mata terus mengalir dengan deras. Aku tidak dapat menahannya karena tanpa kusadari, aku merindukan pelukan seseorang. Aku larut dalam perasaanku. Aku balas memeluknya dan menguburkan kepalaku di dalam dadanya. Aroma tubuhnya seperti tanah dan salju, bercampuran dengan wangi mawar yang biasa.


Perlahan-lahan, aku mengingat kejadian yang kualami. Aku telah mengeluarkan sihir Blossom. Aku membunuh Egleans hanya dengan sihir itu, padahal yang bisa membunuh mereka hanyalah Fae Healer dan Ripper. Aku melepaskan dekapan Callum dan menatap wajahnya langsung.


"Egleans. Mereka-"


"Menyerangmu. Aku tahu." Rahangnya menegang. "Kamu harus beristirahat. Kakimu..." Ia tampak ragu-ragu untuk melanjutkan ucapannya. Ia mendesah. "Maafkan aku, Alena. Aku janji akan menjelaskan sihirku kepadamu setelah kamu beristirahat." Ia mengecup keningku, lalu menyelimutiku dengan selimut daun.


Aku mencoba untuk menggerakkan lengan kananku yang semulanya hampir robek. Anehnya, aku tidak merasakan sakit. Aku lalu mengepalkan jari kaki kiriku, dan lagi-lagi rasa sakit tak kunjung datang.


Apa maksudnya? Aku ingin melihat kaki kiriku, namun Callum sedang memperhatikanku. Ia pasti mengira aku menangis karena masih terluka parah, padahal nyatanya aku kebingungan sekarang. Maka setelah aku memakan bunga pemberian Callum, aku jatuh tertidur.


Saat aku terbangun, tubuhku sudah benar-benar pulih. Aku sempat terkejut saat melihat kaki kiriku. Beberapa jariku sudah hilang, dan bekas darah masih menodai kakiku. Meski begitu, aku tidak merasakan sakit.


Sambil menarik lutut ke dada, kami bersandar pada dinding gua, sambil berbagi kehangatan tubuh kami masing-masing. Callum mulai menceritakan semuanya.


"Sihirku sangat luas. Meskipun sihir Royal tidak perlu dilatih, aku tetap harus mempelajari teorinya, agar aku tidak tersesat." Matanya memandang tanah, pikirannya melayang. "Yang kulakukan padamu waktu itu, semacam teleport."


Aku menatapnya dengan kagum. "Teleport? Waktu itu..." Kini aku bisa menggambarkannya dengan jelas. Setiap kali ia menjentikkan jarinya, benda selalu bermunculan. Dan waktu itu di kamarnya di Faedemy, ia bisa langsung muncul di hadapanku. "Jadi selama ini di Faedemy..." Aku tersedak air liurku sendiri saat menyebut nama sekolah itu. "Kamu melakukan itu setiap kali kamu ingin menemuiku."


Ia mengangguk. "Sebenarnya itu tidak sulit. Cukup memindahkan benda yang sudah ada sebelumnya."


Aku terdiam sambil memproses semua ini. "Aku pikir selama ini kamu menciptakan benda yang sebelumnya terbayang dari pikiranmu."


"Wah?" Ia mulai tertawa. "Jadi kalau setiap kali memikirkanmu, kamu akan langsung muncul di hadapanku? Sihirku tidak sehebat itu." Suara tawanya menggema, namun tidak mengalahkan suara angin dari luar gua. Lagi-lagi hawa dingin menghampiriku, tanaman yang menutupi mulut gua tidak mampu melindungi ganasnya angin badai.


"Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri? Dan kenapa suasana di luar menjadi seperti itu?" Tanyaku, masih sambil memperhatikan tanaman yang menutupi pintu masuk gua.


"Satu hari. Dan badai tiba-tiba muncul. Kita tidak bisa keluar. Tidak sekarang," katanya dengan khawatir. "Untungnya tanaman itu menghambat masuknya badai salju."


Rasa panik mulai menjalariku. "Jadi kita terperangkap? Bagaimana dengan makanan? Apakah aku yang menciptakan tanaman itu?" Aku mulai bergetar, tidak percaya atas apa yang kusaksikan.


Ia mengangguk. "Kamu selalu menggumamkan sesuatu, dan setiap langkah yang kuambil, tanaman mulai tumbuh di sekitarku." Ia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan dedaunan kering yang jumlahnya sangat banyak. Senyum mengembang di wajahnya. "Kurasa ini cukup untuk sebulan?"


Aku mengambil tanaman yang digenggamnya. Benarkah aku yang menciptakan ini semua? Aku tidak mengingatnya. Sambil menggigit daun yang anehnya terasa enak, aku bertanya kepadanya, "Apa yang membuat sihirmu melemah?"


Ia juga mengunyah tanaman itu. Setelah beberapa detik, ia akhirnya menjawab, "Aku belum pernah berpindah tempat bersama orang lain. Biasanya kulakukan itu sendiri."


Sudah kuduga. Inilah alasannya ia terus menyembunyikan kekuatannya dariku. Ia sudah mengambil resiko yang sangat besar hanya untuk menyelamatkanku. Aku meremas pergelangan tangannya. "Jangan lakukan hal itu lagi, Callum. Kamu beruntung bisa pulih kembali. Bagaimana kalau kamu terlalu memaksakan dirimu, kemudian jatuh-jatuhnya kamu bisa merenggut nyawamu sendiri?!"


Ia menggaruk-garuk kepalanya, tidak yakin harus membalas apa. "Aku tidak menyesal sudah melakukan itu. Kamu bisa mati juga jika terkena sengatan lebah-lebah itu!"


"Ya, sama saja! Sekarang kita terjebak di tengah-tengah badai." Aku menguburkan kepalaku, dan memeluk kedua lututku. "Beritahu aku Callum, dimana tempat ini. Kamu yang membawa kita kesini."


"Kurasa...kita berada di wilayah perbatasan manusia."


***


Sudah berhari-hari Lexy bersama rombongan Fae ini berangkat ke Amalthea Halley. Ini sudah yang kesekian kalinya mereka dihalangi oleh Egleans, dan yang benar-benar bisa membunuhnya adalah Sana. Sisanya hanya mampu memperlambat dan melukainya.


Fae Healer itu sudah sangat kelelahan. Ia tidak mampu menggerakkan sayapnya. Sungguh ironis melihat Fae penyembuh yang memiliki luka paling banyak.


Lexy sudah membantunya sebisa mungkin. Ia akan membawakan air hangat atau memijatnya.


Mereka sedang memasuki Hutan Greensia mengikuti arus sungai Lakuta tengah malam. Air sudah membeku, dan Lexy takut es akan retak jika ia berdiri sebentar saja diatas batu es tersebut. Cahaya Fire masih menyelimuti mereka, melindungi mereka dari hawa dingin serta badai yang tengah menerjang.


Ia memikirkan Alena. Ia tidak yakin bisa merasa lega karena sang Ratu belum menangkapnya. Alena bisa saja mati kedinginan. Badai salju bisa memperparah kondisinya.


"Callum akan menjaganya. Jangan khawatir," kata Naomi dari belakang. Ia menoleh kepadanya dan tersenyum simpul. "Kuharap juga demikian."


Mereka terus berjalan dengan waspada. Semakin banyak Egleans yang berkeliaran dan berhasil memasuki wilayah Fae. Lexy melihat tangan Val yang sedari tadi menggenggam pedangnya dengan erat. Rasanya ia ingin memukulnya karena pernah menyiksanya dulu. Namun Fae Light ini sudah sangat membantu mereka. Berkat sihirnya yang mampu membelokkan cahaya dan membuat mereka tak terlihat oleh mangsa, Val juga petarung yang hebat. Lexy anehnya merasa aman jika berada di dekatnya.


Ia tidak menyadari Xiela yang terus memperhatikannya. Ia melepaskan pandangan dari Val dan menoleh kepadanya. "Ya?"


"Lexy." Ia mengikuti arah pandangannya, dan mendecakkan lidahnya saat melihat Val di depan sana. "Sebenarnya Val menyesal sudah berbuat kasar waktu itu."


"Menyesal?!" Ia hampir berteriak. Lotus langsung menoleh dan meletakkan jarinya di ujung bibirnya. "Jangan berisik! Nanti ketahuan para Egleans!"


"Maaf," ujar Lexy pelan. Ditengah-tengah sunyinya hutan, ia berbisik kepada Xiela, "Kalau begitu katakan kepadanya, aku masih belum memaafkannya."


Xiela terdiam. "Aku tahu susah untuk memaafkannya. Kalau mau memperbaiki hubungan kalian, kusarankan kamu untuk menghampirinya dan meminta semua penjelasan darinya."


Lexy berhenti melangkahkan kakinya. Ia melihat sekawanan Egleans yang sibuk menggali tanah. Jantungnya berdegup kencang. "Jangan takut," bisik Xiela. "Kita tak terlihat oleh mereka. Tetap tenang."


Mereka terus berjalan melewati kelompok Egleans tersebut. Hal itu tentu tidak berlangsung lama karena mereka sudah mulai mengendus aroma tubuh mereka. Untung saja mereka bergerak cepat, dan akhirnya tubuh Egleans sudah tak tampak dari kejauhan.


Lexy mengingat deretan pepohonan ini. Ia sudah melewati tempat ini berulang kali. Dan di balik pohon besar ini, atap pondok Amalthea Halley yang berwarna-warni akan langsung terlihat.


Val yang memimpin jalan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan untuk berhenti.


Fae lainnya langsung merapat, dan Lexy mengintip dari balik bahu Val. Yang dilihatnya bukanlah desa warna-warni Amalthea Halley yang mencolok. Yang disuguhkan di depannya adalah desa tak berpenghuni. Gelap. Tidak bercahaya. Atap bangunannya rusak parah, dan pepohonan rindang yang semula mengelilingi desa kini tumbang.


"Ini...ini benar Amalthea Halley?" Lotus sampai terkejut. "Gak. Gak mungkin kan?" Celetuk Flora dari belakang.


Lexy menggeleng dengan cepat. "Ini lebih mirip seperti desa yang runtuh."