
(Kejadian ini berlangsung di Faedemy).
"Pangeranku, kasur Anda empuk sekali," kata seorang gadis Fae kepada Callum. Pangeran itu tertawa, masih membelai rambut halus gadis itu.
Sebenarnya pagi ini ia harus berlatih pedang dengan Val. Namun tiba-tiba Fae Aqua yang tak dikenalnya ini memasuki kamarnya. Lagi.
Dan Callum masih tidak mengingat namanya.
Di gedung Faedemy ini, ia bebas melakukan apa saja. Hal yang paling senang dilakukannya adalah berlatih pedang di taman belakang yang luas. Kemudian melihat-lihat bunga-bunga yang cantik bersama teman-temannya seperti Xiela dan Naomi. Namun, kedua temannya itu masih sibuk mengikuti kelas tiap siangnya.
Dan sekarang ia harus menemani gadis kecil ini.
"Callum," Fae itu sengaja mengedipkan matanya, memamerkan bulu matanya yang lentik. Ingin rasanya ia melepaskan tangan nakal gadis ini yang seenaknya menyentuhnya, namun ia tidak melakukannya. Sudah lama sekali sejak ia ditemani oleh seseorang di atas ranjang. Bukan untuk hal itu, melainkan untuk sekedar disentuh dan dibelai. Ayah dan Ibunya tidak pernah melakukan hal itu kepadanya.
Callum mengusir pikirannya jauh-jauh. Buat apa ia memikirkan Raja dan Ratu yang tentunya memiliki pekerjaan yang lebih penting? Mereka tidak punya waktu untuk mengurus anaknya sendiri.
Lagipula ia tidak peduli. Yang penting sekarang ia ditemani oleh seseorang, suka tidak suka.
"Callum?" Lamunannya buyar dan ia menyadari tangan kecil gadis itu yang sedang meraba dadanya yang berotot. Callum memaksakan sebuah senyuman manis dan menahan pergelangan tangannya. "Maaf, cantik, tapi aku harus mandi. Mungkin kapan-kapan saja."
Gadis itu dengan mudahnya tertipu dan tersipu. Ia dengan sengaja menaruh helaian rambut hitamnya ke belakang telinganya, dan kembali memberikan senyuman. Ia harus menahan tawa melihat tingkah laku gadis itu yang sudah salah paham.
Akhirnya ia bisa bernapas lega saat Fae Aqua itu meninggalkan ruangannya. "Jangan lupa kunjungi aku lagi, ya! Aku Lotus!" Teriaknya sambil melempar kecupan kepadanya. Callum melambaikan tangannya, kemudian bersiap-siap untuk mandi.
Latihannya bersama Val berjalan mulus seperti biasanya. Dan seperti biasanya, orang-orang akan mengerumuninya. Sorakan dan teriakan sampai memenuhi gendang telinganya, namun Callum tetap fokus dengan latihannya.
Srriinngg!! Suara keras bunyi pedang yang saling bertemu masih tidak mengalahkan suara jeritan gadis-gadis. Val hendak menyerangnya lagi saat ia menyadari celah dan kelemahan Fae Light itu. Ia tidak pernah menjaga sisi kirinya, dan terus menyerang dirinya dari sisi kanan.
Maka Callum mengambil kesempatan itu dan berhasil menumbangkan Fae itu. Semua orang kembali bersorak, dan Callum dengan bangganya memamerkan barisan giginya yang putih. Karena kepanasan, ia melepaskan baju tipisnya dan sengaja melemparnya ke arah gadis-gadis yang langsung menangkap bajunya yang bau keringat.
"Harus ya melakukan itu?" Kata Val kepadanya setelah ia membalas uluran tangannya dan bangkit berdiri. Tiba-tiba saja temannya ini menyerangnya lagi dengan pedangnya. Sontak Callum mundur dan mendecakkan lidahnya. "Oh, begitu?" Callum menyeringai. "Babak berikutnya."
Akhirnya mereka menghabiskan waktu bermenit-menit, sambil berjemur di bawah teriknya sinar matahari. Dadanya sudah sangat berkeringat, namun ia tetap berlanjut ke babak berikutnya sampai ia berhasil menjatuhkan tubuh Val ke atas tanah.
Val menatapnya dengan kesal, dan sengaja melempar pedangnya jauh-jauh. Ia menyingkirkan rambut pirangnya yang menusuk matanya. Sebetulnya temannya ini tak kalah tampan darinya, namun berkat keindahan sayap emas miliknya seorang, tidak ada siapapun yang akan menolaknya.
Callum tertawa bangga dan melambai-lambai ke arah penonton. Sesekali ia akan melempar kecupan dan berkedip ke arah gadis-gadis yang menutup mulut mereka karena sudah tak tahan dengan parasnya yang tentunya sangat rupawan.
Matanya kemudian melihat gadis itu. Rambut pirangnya beterbangan, dan mulut kecilnya melongo. Sebetulnya ia hendak menyapanya. Ia adalah gadis yang dirumorkan sebagai Egleans. Namun, gadis itu sudah berbalik badan dan menghilang ditelan keramaian. Senyumannya sirna dan tanpa disadarinya, kakinya sudah bergerak ke arah penonton. Ia mengepakkan sayapnya untuk melihat lebih jelas diantara kerumunan, namun ia tetap tidak menemukan gadis itu.
"Callum! Lihat aku! Aku!" Para gadis berteriak dari bawah. Mungkin mereka telah salah paham karena mengira dirinya sedang menatap ke arah mereka, padahal sebetulnya ia hanya ingin mencari gadis itu seorang.
Sore itu, ia bahkan tidak menemukan gadis itu di ruang makan. Ia ingin menanyakannya macam-macam. Ia ingin melihat sendiri sayap kecilnya yang katanya tidak berwarna. Sungguh hal yang unik untuk seorang Fae. Atau Egleans, batinnya.
"Sedang merenungkan apa?" Xiela dan Naomi sudah menghampirinya, dan duduk disampingnya. Makanan kali ini adalah biji buah yang biasa dimakan oleh burung Fae. Callum tidak yakin apakah ini layak dimakan olehnya.
"Bukan apa-apa," katanya simpel. Ia segera melahap biji itu. Ternyata rasanya enak jika dibandingkan dengan bentuknya yang sudah seperti kotoran burung. "Omong-omong, kalian sudah mengenal gadis itu?"
"Belum," kata Xiela dan Naomi bersamaan. Tiba-tiba, gadis Aqua itu kembali menghampirinya. "Callum! Aku mau makan bersamamu!"
"Maaf, umm, cantik." Sial, aku lupa lagi namanya. "Tapi, kursinya sudah penuh."
Mata Fae itu beralih ke Naomi dan Xiela. Tersirat tatapan cemburu di wajahnya. "Oke kalau begitu," katanya dengan kecewa, kemudian berbalik badan dan duduk di bangku lainnya.
"Wah, kamu semakin terkenal saja tiap harinya," kata Naomi dengan nada mengejek. Gadis Melody itu tersenyum. "Kenapa? Mau bertemu dengan kembaran Lexy?"
Callum mengangkat kedua bahunya. "Aku sudah mencarinya, dan masih tidak menemukan keberadaannya."
"Dia bersembunyi agar tidak terus-terusan dijahili," kata Xiela pelan. Callum langsung berhenti memakan biji kotoran itu. "Dijahili?"
"Kamu tidak tahu? Gadis itu sudah menderita disini karena rumor jelek itu," kata Naomi sambil mengunyah makanannya. "Kasihan sekali. Padahal dia cantik."
Callum tahu-tahu sudah meremas tapak meja makan. "Dia di kamar nomor berapa?"
"Kau ingin menidurinya?!" Naomi setengah berteriak. Callum langsung melototinya, dan menyuruhnya untuk memelankan suaranya. "Kau pikir harga diriku semurah apa?!"
"Semurah biji kotoran ini," gumam Xiela, meskipun Callum dapat mendengarnya. "Tiap hari dikelilingi oleh gadis cantik. Wajar saja itu hal pertama yang terlintas di otak kita saat kamu menanyai nomor kamar seorang gadis."
"Bukan itu maksudku." Callum buru-buru menghabiskan makanan sampah ini, kemudian bangkit berdiri. Mata gadis-gadis masih saja mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan. Ia tiba-tiba merasa tak nyaman dan mual. "Aku ingin tidur."
"Oke!" Teriak Naomi saat ia sudah melangkah pergi. "Kalau kau bertemu dengannya, jangan macam-macam dengannya!"
"Berisik!" Teriak Callum, lalu melangkah keluar ruang makan.
Jam bandul raksasa berdentang, menandakan waktu sudah hampir tengah malam. Callum baru saja keluar dari kamar mandi publik, dan berhasil memuntahkan sebagian besar makanan tadi.
Ia langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat Fae Aqua itu yang sedang bersama temannya. Ia sedang bersama seorang gadis dengan sayap kuning. Fae Light.
Mereka tertawa cekikikan, sambil mengintip di balik dinding. Callum mengikuti arah tatapan mereka dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia akhirnya menemukan gadis itu.
"Kau yakin ingin mengerjai Alena?" Bisik Fae Light itu. "Tapi kalau kulakukan itu, ia bisa masuk ke kamar sang pangeran."
"Justru itu yang kumau! Lagipula Callum tidak akan tertarik pada gadis aneh itu! Alena pasti terkena masalah!"
Alena, pikirnya. Ternyata namanya Alena. Senyumannya mengembang. "Alena." Tanpa disadarinya, ia telah mengucapkan namanya keras-keras. Sontak kedua gadis di depannya itu berbalik badan dan menoleh.
"Ca-Callum-"
"Pergi. Tinggalkan dia," katanya dengan serius. Dengan tubuh gemetar, akhirnya mereka pergi dan tidak lagi menggunakan sihir mereka.
Callum melangkahkan kakinya dengan perlahan, tidak yakin kenapa ia harus mendekatinya diam-diam. Mungkin sebagian dirinya tidak ingin gadis ini pergi. Gadis ini berjalan dengan lambat, dengan kepala yang tertunduk. Ia bahkan tidak menyadarinya saat ia berdiri tepat di belakangnya.
Ia tersenyum. Akhirnya ia sudah menemukannya. "Itu kamarku," bisiknya di telinganya.