
Orang-orang menyebutnya Toaure, Monster Pendengar yang mampu mengubah siapa saja menjadi batu jika sampai mendengar suara jeritannya. Monster ini mempunyai bentuk fisik yang aneh. Tubuhnya menyerupai singa, namun kepalanya berbentuk burung. Gigi-gigi taring sampai muncul dari paruhnya. Makhluk itu berlari ke arah Xiela, lalu mulai membuka paruhnya yang besar.
Suara jeritan itu memekakkan telingaku. Suaranya terdengar sangat nyaring dan keras, dan aku refleks menutup telingaku menggunakan telapak tanganku. Aku ingin berlari menjauhi tempat ini, namun kedua kakiku tiba-tiba tidak bisa digerak. Perasaan aneh mulai menjalari sekujur tubuhku. Bagaikan boneka wayang yang bergerak karena tali, aku tidak dapat mengontrol tubuhku sendiri. Tanganku tidak mampu menghalangi jeritan Toaure, dan kepalaku rasanya mau pecah.
Aku bisa melihat Xiela yang sibuk memancing makhluk itu agar bisa menjauhi tempat ini. Meskipun ia terbang mengitari pohon dan menjauhi serangan-serangan makhluk itu, aku tahu ia bukan saingannya.
Dengan kukunya yang sangat tajam, makhluk itu mencakar ke sana kemari. Batang pohon yang semula halus, mulai memiliki bekas cakarannya. Makhluk itu melompat setinggi mungkin, bermaksud untuk menangkap Xiela. Gadis itu terus melemparkan bola-bola api. Aku bisa melihat sayap merahnya yang menyala-nyala.
Cahaya merah mulai membutakan mataku, menyelimuti makhluk ganas itu. Xiela sampai mengeluarkan sihirnya untuk melukai sang Toaure, bermaksud untuk membakar tubuhnya. Makhluk itu tetap mengeluarkan suara yang amat menyeramkan. Suaranya memadukan raungan singa dan tangis burung yang melengking.
Makhluk itu meronta-ronta, tubuh besarnya sudah terbakar dengan sihir Xiela. Teriakannya semakin menjadi-jadi. Aku sampai berguling-guling di antara semak-semak, mencoba untuk mengusir suara teriakan sang Toaure. Kini bagian bawah tubuhku dari pinggang sudah benar-benar kaku. Aku harus segera keluar dari tempat persembunyianku. Aku berusaha menyeret tubuhku menggunakan sikut lenganku. Tanah yang kasar dan berbatu sama sekali tidak menguntungkan bagiku. Apalagi saat aku tetap harus menutup kedua telingaku.
Suara lemparan bola-bola api masih terdengar. Tubuh makhluk yang terbakar itu bagaikan lentera besar yang menerangi hutan yang gelap pada malam hari. Kepulan asap mulai mengotori langit-langit malam yang indah. Asap itu juga mulai mengganggu pernapasanku.
Tiba-tiba, dari sudut mataku, aku bisa melihat bola-bola api yang terlempar asal-asalan. Lalu, terdengar suara benturan dengan tanah. Aku menoleh, dan mendapati Xiela yang sudah kelelahan, kini terbaring dengan lemas di atas tanah. Ia baru saja terjatuh ke atas tanah yang keras. Sekarang aku tahu penyebabnya. Sihir makhluk itu mulai memiliki efek padanya. Dari kejauhan, aku melihat sayapnya sudah terlihat sangat kaku dan keras, seperti kepingan kaca yang siap dipecahkan dan retak kapan saja.
Xiela tidak menyerah. Gadis itu terus melempar bola-bola api ke arah makhluk yang terbakar yang kini sedang berlari menerjangnya. Aku berteriak, berusaha semampuku untuk menarik perhatian si Toaure. Tidak bisa begini, kataku dalam hati. Xiela bisa mati terinjak.
Gadis itu menoleh ke arahku, lalu terbelalak ketika melihat aku yang masih berada di tempat persembunyian. "Apa yang kau lakukan?! Enyahlah dari sini!"
Tidak, aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak akan meninggalkan temanku begitu saja. Aku tidak peduli bahwa ia sengaja melakukan ini semua agar bisa menyelamatkanku. Bukan ini caranya, batinku. Kita harus bekerja sama.
"Pohon itu!" Aku menunjuk ke sebuah pohon besar yang terletak di dekatnya. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu langsung mengerti ucapanku. Ia segera mengangkat kedua tangannya dengan susah payah, lalu sebuah cahaya merah lagi-lagi keluar dan menyelimuti pohon besar itu.
Cahaya itu jauh lebih terang dibandingkan sebelumnya. Cahaya itu tidak hanya menerangi pohon itu, namun menyambarnya. Bagaikan kilat petir, cahaya api langsung menyambar pohon itu. Batangnya terbelah menjadi dua, dan akhirnya tumbang dan terjatuh tepat di atas kepala Toaure.
Makhluk itu menjerit kesakitan. Bumi serasa bergetar. Dipicu oleh suaranya yang menyeramkan, aku bisa mendengar kepakan sayap burung-burung dari kejauhan. Aku menengadah ke atas dan melihat sekawanan burung-burung berbayang hitam yang terbang mengitari di atas kami. Aku tidak mengerti maksudnya.
Aku terkesiap. Kini kedua tanganku tidak bisa digerakkan. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai wajahku juga berubah menjadi batu.
Xiela meringis kesakitan. Ia lalu terbatuk-batuk. Asap dari api sudah mulai menghambat pernapasannya. Lebih menyeramkan lagi, makhluk itu tetap tidak mati. Ia hanya terbakar, tidak lebih. Ia lalu berlari ke arah sungai Lakuta untuk meredakan api yang membakar tubuhnya. Aku tahu ini kesempatan kami.
"Sekarang! Kita harus pergi sekarang!" Teriakku sekencang-kencangnya untuk mengalahkan suara jeritan Toaure dan suara kepakan burung di atas langit. "Kita tidak mampu mengalahkannya seorang diri!"
Xiela menoleh kepadaku, kemudian menyeret tubuhnya sendiri. Aku tahu ia tidak bisa menggunakan sayapnya. Aku pun tidak dapat menggerakkan kakiku. Sama seperti Xiela, aku mulai melakukan apa saja untuk membawa tubuhku pergi jauh-jauh dari sini.
Aku menggunakan daguku untuk menyeret tubuhku sendiri. Ini memang gila, namun aku tidak mau mati dengan cara seperti ini. Rahang bawahku sudah terasa sakit, namun kupaksa terus diriku.
Xiela sudah berada di sampingku. Kakinya juga mulai terkena imbasnya, namun ia mati-matian mengangkat tubuhku. Aku bisa melihat wajahnya yang mulai memiliki luka bakar. Seluruh tubuhnya terlihat lecet. Wajahnya pucat pasi, dan pupil matanya yang sedang memandangku terlihat lebih besar karena kelelahan.
"Gunakan sihirmu!" Teriak Xiela tepat di telingaku. Aku memandangnya tak percaya. "Kau gila?! Aku tidak memiliki sihir!"
"Lalu apa maksudnya sihir Melody yang kau gunakan tadi?! Kita tak akan bernasib seperti ini kalau bukan gara-gara nyanyianmu!"
"Aku tidak bisa menggunakan sihir Melody!"
"Kau bisa!" Balasnya sambil berteriak. "Manfaatkan burung-burung itu!" Ia menunjuk ke atas langit. Aku mengikuti arah pandangannya. Dia sudah gila! Pikirku sambil ternganga. "Aku tidak bisa ka-kalau harus memanggil mereka!"
Suara balasan Xiela terpotong ketika tanah lagi-lagi bergetar. Kami berdua menoleh ke belakang secara bersamaan. "Sial," gerutunya. "Mati saja kita."
Tubuhku gemetaran. Makhluk itu sepertinya sudah terbebas dari kobaran api yang melalapnya. Aku kembali menatap ke atas langit-langit. Burung-burung hitam masih terbang mengitari kami. Sambil sesekali merentangkan sayap mereka, burung itu terbang kian mendekat ke arah kami.
Aku membuka mulutku. Rasa kaku yang mulai menjalar ke leherku menghambat keluarnya suaraku, dan aku terbatuk-batuk. "Cepatlah!" Teriak gadis di sampingku.
Suara jeritan Toaure mulai terdengar. Kali ini, untuk membuka rahangku saja sudah terasa sangat sulit. Aku tetap mengeluarkan suara. Dengan segala kemampuanku, aku mulai bersiul.
Tiba-tiba, sebuah siulan lainnya terdengar dari kejauhan. Siulan yang familiar di telingaku. Aku bisa merasakan burung-burung yang mulai terbang berlawanan arah, menuju ke sumber suara tersebut.
Gadis itu datang ke arah kami. Burung gagak hitam sudah terbang mengelilinginya. Naomi mengayunkan tangannya, dan seketika gelembung besar yang berwarna ungu melindungi kami. Berkat itulah, aku tidak dapat mendengar sedikitpun suara dari luar gelembung.
Perlahan-lahan, leherku sudah bisa digerakkan. Aku mencoba menekuk jari-jariku, dan rasa lega menghantamku. Kedua tanganku sudah bisa digerakkan.
Mulut Naomi bergerak. Aku tidak dapat membaca gerakan bibirnya. Yang dapat kupahami hanyalah burung-burung yang mulai menerjang ke arah Toaure. Bagaikan bayang-bayang hitam yang bergerak sangat cepat, burung-burung lain dari sepenjuru arah mulai berdatangan. Mereka semua berkumpul di tubuh makhluk itu, saking banyaknya sampai menghalangi pandanganku. Aku tidak dapat melihat makhluk itu yang sudah dihinggapi oleh burung gagak. Burung-burung itu sibuk mematuk-matuk. Sayap hitam mereka seakan-akan menampar monster itu.
Tak lama, monster itu tumbang. Tanah bergetar hebat. Aku menyipitkan mataku, dan bisa melihat paruh burung-burung tersebut yang berdarah.
"Kamu!" Xiela memeluknya dengan erat. Naomi awalnya terkejut, namun sebuah senyuman mulai mengembang di wajahnya. "Bagaimana caranya kamu keluar dari Kelas Tahanan itu?"
Sambil melepas dekapannya, Naomi menjawab dengan singkat, "Berkat si monster Toaure. Monster itu mengalihkan perhatian seisi hutan, jadi aku dapat meloloskan diri dari para penjaga, dan terhindar dari para Egleans."
Naomi meremas lengan temannya erat. Xiela lalu menoleh ke arahku. Tersirat tatapan penuh amarah disana. Ia menghampiriku, sambil menghentakkan kakinya. "Dasar gadis tak berguna!"
Aku memundurkan sedikit langkahku. Sambil menelan ludah, aku membungkukkan kepalaku dan hanya memandangi tanah.
"Hentikan, Xiela!" Teriak Naomi yang berada di belakangnya. "Ini bukan salahnya!"
"Dia tidak menggunakan sihirnya di saat kita paling membutuhkannya!"
"Aku tidak bisa memakainya begitu saja!" Balasku tak mau kalah.
"Oh ya? Kau tampak bersenang-senang saat bernyanyi bersama sekawanan burung itu."
Hatiku terasa sakit. Dadaku sesak. Aku ingin melontarkan beberapa kalimat yang mungkin bisa dijadikan alasan untuk membuktikan ucapanku. Namun, mulutku tidak terbuka.
"Sudahlah," Naomi menghampiri kami. "Aku sangat berterima kasih kalian berdua sudah mencoba untuk menyusulku ke Hutan Greensia."
Xiela berdeham. "Aku tidak melakukan itu untukmu."
"Oh ya?" Naomi tertawa cekikikan. "Lalu, buat apa kamu memasuki hutan ini malam-malam?"
"Berburu," jawabnya singkat. Namun, aku bisa melihat kekhawatiran yang terlintas di matanya. Aku tahu ia berbohong dari nada bicaranya.
"Makhluk itu..." kataku setengah ragu-ragu. Naomi memotong perkataanku. "Burung gagak tadi juga hewan Fae. Berbakat dalam hal mematuk. Bisa membunuh dan mencabik-cabik tubuh."
Ah. Aku mengangguk tanda mengerti. Pantas saja monster itu terbunuh dengan mudahnya. Mereka bukan burung biasa yang banyak ditemukan di wilayah manusia. Aku memandang mayat monster yang sudah berdarah-darah tercabik itu. Beberapa burung gagak masih sibuk menyantap dagingnya. Aku bergidik ngeri, lalu memalingkan pandanganku.
Dengan kaki yang sudah bisa berjalan dan sayap Xiela yang sudah kembali normal, kami sudah bisa bergerak. Naomi sudah berhasil kabur dari Kelas Tahanan. Tinggal menunggu waktu saja sampai para penjaga menemukan kami.
"Jadi, sekarang kalian berdua adalah incaran para penjaga," kata Xiela saat kami tengah melanjuti perjalanan. Mereka terbang di belakangku. Aku menatap langit malam. Bintang-bintang yang gemerlapan seolah menjadi saksi mata kejadian mengerikan yang menimpa kami tadi. Meski hutan sudah kembali sunyi, masih ada rasa tak nyaman di dalam hatiku. Kini, aku sudah bertemu Naomi. Untunglah ia selamat, pikirku lega. Dia bahkan yang menyelamatkan kami. Seharusnya aku tidak begitu menghawatirkannya.
"Alena." Aku begitu larut dalam lamunanku sampai aku tidak menyadari dua gadis yang sedang menunggu respons dariku. "Ya?"
"Perihal sihirmu..." Kata Xiela memulai. "Bisakah kau menceritakan bagaimana persis kejadiannya?"
"Dan bagaimana nyanyianmu dapat memikat Toaure?" Tanya Naomi penasaran.
Aku menghela napas, kemudian menceritakan semuanya. Bagaimana aku mulai bersiul saat mendengar kicauan burung, lalu cahaya ungu yang tiba-tiba muncul dari dalam diriku. Dan terakhir, mata yang mengawasiku dari balik semak-semak.
Mereka tampak hening. Aku melirik dan melihat mulut Naomi yang beberapa kali terbuka dan hendak mengatakan sesuatu, namun ia urungkan niatnya. Selang beberapa saat, ia berbicara lagi. "Menurutku, tidak pernah ada Fae yang mampu mengeluarkan sihir sebelum mereka bisa terbang."
Xiela mengiyakan perkataan Naomi. "Benar. Kalau berdasarkan deskripsimu, kemungkinan besar itu memanglah cahaya Melody. Cahaya hangat yang muncul saat kau bernyanyi. Aku tidak begitu memahami sihir Melody, tapi kalau dari sudut pandangku sebagai seorang Fae Fire, itu tidak lain adalah sihir Melody."
"Itu adalah sihir Melody. Aku seratus persen yakin," sahut Naomi. Ia lalu mulai bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Seketika, sebuah cahaya yang lembut memancar, mengelilingi kami, seolah-olah melindungi kami dari dinginnya angin malam. Anehnya, aku merasa familiar dengan cahaya ini.
"Cahaya Hangat. Cahaya yang muncul saat kau mulai bernyanyi dengan emosi yang tenang, damai, dan hangat," jelas Naomi. "Cahaya ini hanya bisa muncul saat pikiran seseorang sedang terkoneksi dengan sesuatu. Misalnya aku dengan kalian."
Aku mengangguk. Mungkin aku dapat mengeluarkan jenis cahaya ini saat aku mulai berkomunikasi dengan burung-burung itu sebelumnya.
"Jadi, apa artinya ini?" Bisikku kepada diri sendiri. Apa artinya jika aku memang sudah bisa mengeluarkan Cahaya Hangat ini?
Naomi berdeham. "Itu artinya, kau adalah seorang Fae Melody."
Aku menatap kedua temanku lekat-lekat. Benarkah? Semudah itukah aku mengetahui bakatku? Apakah ini artinya, aku bukan seorang Egleans?
"Umm, aku tidak begitu yakin," kata Xiela. "Seorang Fae Melody yang tidak mempunyai sayap berwarna ungu? Mungkinkah hal itu dapat terjadi?"
"Mungkinkah seorang Egleans dapat memancarkan Cahaya Hangat?" Tanyaku tiba-tiba. Mereka langsung berhenti mengepakkan sayap mereka. Xiela sampai mendarat di sampingku, lalu meremas sedikit bahu kiriku. "Tidak."