
"Jadi, kita sudah memiliki sebotol Madu Susu," kata Val saat ia kembali untuk mengecek keadaan mereka. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita bisa menggunakannya untuk mengubah penampilan kita," kata Lilies. Wajahnya sudah terlihat gembira. "Mungkin aku bisa mempercantik diri dengan madu itu."
"Lilies, itu bukan mainan," balas Lotus geram. "Madu itu terbatas. Kita harus menggunakannya secara hati-hati."
Xiela mengangguk. "Lagipula, kita tidak tahu cara menggunakannya. Jangan sampai berakibat fatal," sarannya. Lexy sudah pernah meminum madu pemberian sang Ratu. Namun ia tidak merasakan adanya efek samping. Meski begitu, ia tahu teman-temannya tidak bisa mengambil resiko.
Lexy teringat dengan Bella, temannya yang juga menjadi pelayan sang Ratu. Mungkin Bella mengetahui cara kerja madu itu. Gadis itu juga ikut membantu meracik ramuan tersebut. "Aku akan pergi ke Alther Suavis dan menanyakan hal ini kepada salah satu pelayan sang Ratu," kata Lexy mengajukan diri. Naomi langsung melarangnya. "Apa?! Kau tahu ini berbahaya! Sang Ratu tengah memburu Alena. Kau adalah saudari kembarnya, nyawamu juga terancam." Ia menggeleng-geleng. "Kita masih belum mengetahui rencana Ratu sebenarnya."
"Tapi, inilah satu-satunya jalan keluar," kata Lexy membantah. "Seseorang harus masuk ke wilayah peri lebah dan mencari jawabannya."
"Aku takut perkataan Lexy ada benarnya," kata Mella dengan tenang. "Aku hanya bisa membantu kalian sampai di sini. Kita akan berpencar. Sebagian dari kita akan melanjutkan pencarian Alena dan Callum. Sebaiknya Sana, Xiela, Naomi, dan Val menemani gadis ini ke Alther Suavis."
Tidak ada yang menyangkal perkataannya. Mungkin semua mulai menyadari bahwa ini satu-satunya jalan keluar. Val menyilangkan tangannya. "Maaf, tapi aku tidak pernah menerima perintah dari orang lain kecuali pangeran Callum," katanya dengan nada sinis.
Mella menaikkan sebelah alisnya. "Kamu adalah laki-laki muda. Usiamu bahkan belum genap 200 tahun." Ia lalu membenarkan rambutnya yang beterbangan karena angin. "Kita harus melindungi Alena dan sang pangeran. Kamu setuju dengan itu, kan?"
Kali ini Val kehabisan kata-kata. Ia menggerutu kesal, sambil menggumamkan sesuatu. Tanpa sepatah kata lagi, Val mulai memimpin jalan. Badai salju masih menghambat perjalanan mereka, namun tidak ada satupun diantara mereka yang mengeluh. Kini, mereka harus menyelesaikan suatu misteri, yaitu madu ajaib yang mungkin adalah senjata utama sang Ratu.
***
Gadis peri lebah ini masih sangat muda. Ia mengaku dirinya sudah berhasil kabur dari sang Ratu. Nama gadis itu adalah Bella. Sekarang, ia terbaring di atas alas milik Callum. Aku sudah membalut sayapnya yang terluka dengan kain seadanya, lalu menghangatkan tubuhnya dengan api unggun.
"Jadi, kamu bukan Lexy?" Tanya Bella saat aku sudah selesai membantunya makan. Jarang sekali peri lebah memakan dedaunan kering, namun ini masih lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali. Aku mengangguk. Gadis itu masih menatapku penuh curiga. Ia lalu membuka kepalan tangannya, dan meniupkan sesuatu langsung ke wajahku.
Aku terbatuk-batuk karena serbuk yang memasuki lubang hidungku. "Hei! Uhuk! Apa maksudnya ini?! Uhuk!"
Bella menghela napas lega. "Ternyata kamu bukan dia. Syukurlah," gumamnya. Aku tidak mengerti maksud ucapannya, jadi Bella buru-buru menjelaskan semuanya kepadaku. Ia menjelaskan sesuatu tentang Madu Susu, sebuah ramuan yang dapat mengubah wajah seseorang. "Aku pikir kamu Ratu yang menyamar, jadi aku harus menggunakan serbuk itu."
Aku menopangkan daguku ke lutut. Bagus, Alena, pikirku dalam hati. Sekarang kamu malah bertemu dengan peri lebah yang bahkan mengenal Lexy.
Sekarang matahari sudah menghilang, digantikan oleh cahaya remang bulan yang menerangi langit malam. Setiap napas yang kubuang, semakin khawatirnya aku dengan keadaan Callum. Seharusnya ia tidak memakan banyak waktu kalau harus menyelidiki asal usul Egleans yang tiba-tiba muncul di depan gua.
"Lexy?" Ia menarik selimut daun untuk menghangatkan dirinya. "Dia Fae yang datang ke sarang kami untuk meminta Madu Susu. Biasanya sang Ratu tidak pernah memberikannya secara sembarangan. Hanya karena Fae itu mengenal Mella, Ratu tidak berpikir dua kali dan langsung memberikannya madu itu."
"Apakah Lexy...baik-baik saja?" Bisikku sambil menatap bayang-bayang kegelapan gua. Sudah lama sekali sejak aku mengetahui kabar tentang adikku, dan aku merasa lega saat Bella menceritakan semua pertemuannya dengan Lexy. "Aku tidak yakin dia baik-baik saja sekarang."
Aku menoleh kepadanya. "Maksudmu?! Apakah Ratu menyakitinya?! Kupikir Ratu menyukainya!"
"Bukan begitu," balas Bella. "Terakhir kali aku melihatnya malam sebelum pesta topeng Amarilis. Ratu memberikan sebuah misi kepadanya. Misi itu bersangkutan dengan Madu Susu. Lexy tidak pernah membuka suara soal misi itu. Yang kutahu hanyalah...ia berhasil kabur dari sang Ratu."
"Lalu?"
"Selain memburumu, Ratu juga menyuruh para prajuritnya untuk memburu Lexy. Kuharap ia masih belum tertangkap, karena saat aku masih berada di dalam istana, aku tidak melihat keberadaannya."
"Sebenarnya apa misi yang diberikan oleh sang Ratu?" Bisikku lagi. Misi apa yang perlu dijalani oleh Lexy yang ada kaitannya dengan Madu Susu?
"Aku kurang yakin. Aku hanya diperintahkan oleh sang Ratu untuk tidak mendekati Lexy saat pesta sedang berlangsung. Aku juga tidak boleh terlihat mencurigainya. Dari sudut pandangku, sepertinya ia tidak berhasil menjalani misinya. Itu juga menjelaskan kenapa Ratu terlihat sangat marah malam itu."
Aku memeluk Cashew semakin erat. Kali ini, Ratu juga sibuk mencari Lexy. Pasti berat sekali untuk memburu dua Fae sekaligus, pikirku dalam hati. Aku hanya berharap Lexy menggunakan kepandaiannya dalam bersembunyi agar Ratu tidak dapat menemukannya.
"Omong-omong, kenapa kamu kabur dari Ratumu? Apakah kamu mengetahui rencana jahatnya?" Tanyaku kepadanya. Ia menggeleng-geleng. "Aku tidak mengetahui persis rencananya. Semuanya sedang kacau. Fae Ripper tiba-tiba menyerbu istana kami. Mereka sempat melawan prajurit Ratu. Pertarungan itu sangat mengerikan." Tubuh Bella bergetar. "Aku kabur dari mereka. Aku tidak tahu siapa yang harus kupercayai; Fae seperti kalian atau Ratuku yang sudah kupercayai sejak dulu." Bella lalu memalingkan kepalanya ke arah berlawanan, menghindari tatapan dariku. "Maaf, Alena. Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan."
Aku tidak mengerti maksud ucapannya sampai aku melihat apa yang sedang kuinjak. Lebah yang entah datang dari arah mana sudah mengepungku. Aku berteriak dan berlari menjauhi lebah-lebah itu. Aku tidak boleh tersengat. "Bella! Jangan lakukan ini padaku!" Percuma saja. Gadis itu malah pura-pura tertidur. Aku sampai berlari keluar gua, melewati mayat-mayat Egleans yang sekarang sudah mengeras.
Andaikan aku bisa melakukan sihir. Aku mengepakkan sayapku yang sudah lama tidak kugunakan, dan sama seperti waktu itu, aku terbang menjauhi lebah-lebah ini.
Namun, kemana aku harus pergi? Berkat sihir Callum, aku selamat dan tiba disini. Sekarang, tanpa dilengkapi oleh senjata apapun, aku hanya mengandalkan sayapku.
Aku harus tetap fokus. Kalau emosi adalah hal yang selama ini menciptakan sihirku, berarti sihir Royal juga dapat kuciptakan. Aku hanya harus mengeluarkan emosi yang tepat.
Tidak, aku menggelengkan kepalaku. Ini lebih dari sekedar emosi. Aku teringat pernah terjebak dalam mimpiku saat aku tak sadarkan diri. Kepingan memori mulai menyatu dalam otakku. Saat aku meraih cahaya itu, ia malah memudar. Sebaliknya saat aku merelakannya dan membuka diri sepenuhnya, cahaya itu malah mendatangiku.
Benar, ini bukan sekedar emosi, pikirku lagi. Suara dengungan lebah di belakang tidak membuatku panik. Aku justru menjadi lebih tenang. Lebih percaya diri. Aku yakin dengan diriku sendiri. Maka aku berbalik arah, dan menghadap langsung lebah-lebah itu.