Wings & Dust

Wings & Dust
Cahaya Biru Langit



Aku berlari mengitari lorong istana, dan akhirnya turun ke lantai bawah dan hendak pergi keluar gerbang istana. Air mataku sudah tak bersisa. Mataku bengkak dan kelelahan. Kepalaku mulai pusing.


Aku hampir terjatuh karena rok gaunku yang menyentuh lantai. Aku menahan diriku untuk tidak berteriak dan langsung mencuri pedang milik penjaga Ripper yang semula sedang berjaga di pintu gerbang.


"Hei, Miss! Apa yang sedang kau lakukan?!" Aku tidak menghiraukannya. Aku meraih pedang yang semula tergantung di sabuk pinggangnya, lalu menggunakannya untuk memotong rok gaunku hingga selutut.


"Ya ampun." Penjaga satunya lagi melongo melihat perilakuku. "Kau terlihat seperti gadis yang baru saja dicampakkan."


Tanpa kusadari, suara tawa keluar dari tenggorokanku. "Mungkin memang benar," gumamku sendiri. Aku lalu mencabuti semua perhiasan yang semula menjepit helaian rambutku. Akhirnya kulit kepalaku tidak terasa gatal lagi.


Aku hendak berjalan melewati para penjaga saat langkahku dihentikan oleh seseorang.


Seorang pelayan yang sangat cantik tiba-tiba muncul di hadapanku. Bola matanya berwarna hitam, memancarkan cahaya dari sinar malam. Rambut coklatnya digerai halus. Parasnya begitu rupawan untuk seorang pelayan.


Aku tidak dapat melihat warna sayapnya. Mungkin ia adalah salah satu Fae Cosmos karena memiliki wajah mungil dan cantik. Awalnya aku berpikir ia salah mengenali orang. Betapa terkejutnya aku saat ia menghampiriku.


"Malam, Miss," sapanya kepadaku. Suaranya terdengar lembut dan manis. Samar-samar, aku dapat mencium aroma manis dan menggiurkan seperti madu dari tubuhnya. "Malam juga." Aku membungkuk sedikit, lalu menggigit bibir bawahku. Aku teringat akan penampilanku yang pasti terlihat memalukan. Rambut berantakan dan gaun yang dipotong. Gadis yang baru saja dicampakkan.


"Boleh ikut aku sebentar?" Tanyanya lagi. Aku menatapnya, tidak yakin harus menjawab apa. Ia tidak menggunakan bahasa formal kepadaku. Ia lalu mengulurkan tangannya.


"Ummm..." Aku ragu-ragu. Mungkin ia mau mengasihaniku karena aku terlihat menyedihkan. Walau begitu, tatapannya yang mengawasi setiap gerak-gerikku tampak mencurigakan.


Aku hendak menolaknya ketika tiba-tiba sebuah suara melengking terdengar dari dalam istana. "Alena! Kamu!" Aku menoleh dan mendapati Lotus. Gaun birunya berkibar-kibar setiap kali ia menghentakkan kakinya. "Berhenti!"


"Memangnya aku terlihat seperti sedang bergerak?" Balasku jengkel. Fae Aqua itu tersenyum mengejek. "Bagaimana perasaanmu tadi?"


"Apa?" Aku tidak yakin kupingku sedang berfungsi dengan baik. "Apa maksudmu?"


Lotus berjalan mendekatiku. Di saat itulah aku melihat bajunya yang sudah basah kuyup. "Ketika kamu praktis mendorongku dengan tanganmu itu, bajuku sudah seperti ini." Ia memutarkan badannya, membuat rok gaunnya mengembang seperti air terjun yang mengilap. Aku langsung merasa iri.


"Jadi, kamu menuduhku sudah menyemburkan air ke bajumu, begitu?" Aku sedang tidak bertenaga untuk berdebat dengan gadis ini. Aku hanya ingin beristirahat.


"Oh?" Ia menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak melihat gelas atau apapun di tanganmu. Aku bisa merasakannya." Ia lalu meraih kedua tanganku yang semula berada di pinggangku. Aku terkejut dan baru ingin menepisnya saat aku menyadari ia tidak sedang menjahiliku. Di saat itulah aku menyadari tanganku sejak awal sudah terasa basah. Aku terlalu larut dalam perasaanku sendiri sampai tidak menyadarinya.


"Sihir Aqua," gumamnya. "Air jernih dan manis. Kamu baru saja mengeluarkan Cahaya Biru Langit."


***


Lexy akhirnya menaikkan wajahnya dan menatap kedua Fae itu. Fae Fire dan Fae Melody. Dua Fae yang pernah menertawakannya saat ia disiksa oleh Val. Tubuhnya tiba-tiba gemetar tak karuan.


Fae Fire yang ternyata bernama Xiela itu masih menatapnya dengan bosan. "Lepaskan dia. Dia bukan sang Ratu."


Pernapasannya mulai tidak stabil. Dari ekor matanya, ia bisa melihat waktu sudah lewat dua menit. Efek Madu Susu sudah menghilang total.


Para penjaga yang semula menahan tangannya langsung melepaskannya begitu saja. Mereka lalu menunduk dan pergi meninggalkannya bersama dua gadis ini. Ia teringat dengan Callum. Mereka pasti teman baiknya sampai-sampai para penjaga juga menuruti mereka.


Fae Melody itu tersenyum kepadanya. "Halo. Ketemu lagi denganmu."


***


Sihir Aqua? Aku mengepalkan tanganku. Kenapa bisa tiba-tiba?


"Aku sempat tidak memercayai rumor bahwa kamu bisa mengeluarkan sinar Melody," lanjutnya lagi. Ia lalu melepaskan tanganku dengan kasar. "Awalnya, si gadis Egleans. Sekarang, gadis tanpa golongan. Siapa kamu sebenarnya?" Tanyanya lagi. Ia merapikan rambut hitamnya yang panjang. "Lagipula, buat apa pelayan rendahan seperti dia menemuimu?"


Aku hampir melupakan si pelayan. Aku memutar tubuhku dan lega karena si pelayan belum menghilang. Mungkin aku bisa memanfaatkannya agar bisa menghindari pertanyaan Lotus.


Tanpa memerdulikan ucapan Lotus, aku mendekati si pelayan. "Aku akan ikut denganmu," kataku dengan yakin.


Si pelayan tersenyum lebar. Tiba-tiba aku bergidik ngeri. Seragam pelayannya melebur dan langsung berubah menjadi suatu gaun kuning yang sangat indah. Ia meregangkan kedua tangannya dan barulah aku melihat warna sayapnya. Warna kuning cerah.


"Apa-apaan ini?!" Teriak Lotus dari belakangku. Dua penjaga Ripper langsung bersiap siaga. Mereka sudah menggenggam pedang mereka, dan hendak menyerang si pelayan yang aneh.


Pelayan itu mengulurkan tangannya lagi. "Ayo, Alena." Aku melongo. Sayap kuningnya mengepak, menciptakan angin yang begitu dahsyat. Aku sampai harus menahan rok pendekku agar tidak beterbangan.


"Ra-ratu!" Teriak salah satu penjaga Ripper. Rupanya mereka mengenali pelayan ini. "Jangan serang dia, dia Ratu Peri Lebah," bisik penjaga itu kepada temannya. Aku tetap menatap pelayan yang di depanku lagi. Ia ternyata bukan seorang Fae. Sayapnya terlihat jauh lebih kecil, dan kepakannya jauh lebih dahsyat.


"Alena!" Suara teriakan seseorang terdengar dari dalam istana. Hatiku langsung tersayat-sayat begitu mengenali pemilik suara ini.


"Alena, dimana kamu?!" Teriak suara itu lagi. Aku menahan isak tangisku. Aku tidak ingin Callum melihat penampilanku yang menyedihkan seperti ini. Aku teringat dengan sihir Val. Mungkin aku juga bisa membelokkan cahaya agar ia tidak bisa melihatku. Namun, sanggupkah aku mengeluarkan sihir Light?


***


Kedua gadis Fae ini tidak berkata apa-apa. Mereka mengiringinya melewati lorong istana. Lexy tidak yakin apa yang membuatnya sampai mengikuti mereka. Ia bisa saja kabur, namun satu-satunya persembunyian adalah sarang sang Ratu.


Mereka berjalan di sampingnya. Mereka sama sekali tidak mengikatku, pikirnya dalam hati. Mereka tidak menahanku ataupun memaksaku. Mereka tidak melakukan apa-apa.


Mereka membawanya ke dalam suatu ruangan. Barulah Lexy merasa ketakutan. Bagaimana jika mereka ingin mengurungnya lagi?


Pintu tiba-tiba dibuka oleh seorang Fae Healer. Fae itu terkesiap, lalu memeluknya. "Alena, kalian sudah kembali!"


Lexy lagi-lagi merasa aneh karena terus-terusan dipanggil oleh nama kakak kembarnya. Ia hanya memberikan tatapan yang dingin. "Siapa kamu?"


Fae Healer itu mengedipkan matanya berulang kali, merasa terkejut dan kebingungan. Ia lalu menoleh ke arah Fae Melody itu. "Naomi, Xiela, jelaskan kepadaku apa yang sedang terjadi?"


Fae Melody yang ternyata bernama Naomi itu menghembuskan napasnya. "Ini gawat. Kami melihat seseorang yang mencurigakan di ruangan dansa."


***


"Alena, cepat singkirkan makhluk itu!" Teriak Lotus kepadaku. Aku pun membuka kepalan tanganku. Namun, aku tidak berniat untuk menyerang Ratu atau siapapun pelayan ini. Aku berniat untuk membuat tubuhku tak terlihat.


Aku mendengar suara langkah kaki Callum yang semakin mendekat. Aku belum siap menghadapinya. Aku memejamkan mataku, lalu mengerang. Aku mengingat wajah Val, lalu bagaimana sinarnya menyelimuti tubuhku. Namun, cahaya Light tidak kunjung datang.


Pelayan di depanku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menggenggam pergelangan tanganku dengan erat. Aku membuka kembali mataku, berusaha untuk melepaskan cengkeramannya yang kuat.


"Lepaskan aku, dasar wanita aneh," semburku kepadanya. Dua penjaga Ripper itu ternyata sibuk menahan tangan Lotus. Rupanya gadis Aqua itu berusaha menyerang sang Ratu.


"Kamu harus ikut denganku." Bola matanya semakin membesar. "Kamu mau sang pangeran melihat penampilanmu yang menyedihkan?" Ia sengaja menekan kalimat terakhirnya itu.


Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku langsung melepaskan sepatu hakku dan menghantam wajahnya. Luka sayatan langsung tampak di pipinya yang semula halus.


Sang Ratu terkejut dan langsung melepaskan tanganku. Aku berlari, berusaha menjauhinya.


"Gadis tak tahu diri!" Teriakannya menggema. Ia menjerit, dan menangis sejadi-jadinya karena aku sudah merusak wajah cantiknya. "Kau harus membayar semua ini!" Ia memutarkan tangannya, dan tiba-tiba saja sebuah tongkat muncul dalam genggamannya.


Ia mengarahkan tongkat itu kepadaku, dan suara dengungan yang sangat mengerikan mulai terdengar. Aku menoleh sebentar ke belakang dan melihat ratusan lebah yang sedang mengejarku.


Aku berteriak, lalu berlari menjauhi istana. Aku tidak akan membahayakan semua orang di istana. Aku harus membawa lebah-lebah ini pergi dari sini.


Aku mulai terbang dan mengangkat tubuhku. Menggunakan sayapku akan jauh lebih cepat. Aku terbang diatas pepohonan rindang, melewati perumahan-perumahan kecil yang tampak seperti semut dari atas langit.


Suara dengungan lebah masih terdengar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya para lebah itu menyengatku. Aku tahu mereka bukan lebah biasa yang bisa ditemukan di wilayah manusia. Mereka mungkin bisa langsung membunuhku dengan satu sengatan.


"Alena!" Aku terpaksa menoleh ke sumber suara. Callum sedang terbang dari kejauhan, berusaha untuk mengikutiku. "Ke sini!" Ia melambaikan tangannya berulang kali.


Aku kembali memusatkan pandangan ke arah lebah-lebah itu. Aku kemudian merentangkan kedua sayapku dan terbang menukik ke bawah, memasuki area pepohonan yang rindang.


Sebagian lebah mulai kebingungan dan terus terbang lurus. Sedangkan yang lainnya berhasil menemukanku diantara pepohonan.


Callum terbang dari arah kananku, sampai akhirnya ia berada di sampingku.


Ia melingkarkan jari-jarinya ke pergelangan tanganku. Dengan sekali lirikan ke arahku, ia berteriak, "Pejamkan matamu!"


Aku memejamkan mataku, menuruti perkataannya. Di balik kelopak mataku yang tertutup, aku bisa melihat terangnya cahaya berwarna keemasan. Cahaya itu menyelimuti kami, dan tiba-tiba segalanya menjadi gelap.


 


Waaa, sebentar lagi kita bakal ngeliat sihir dari seorang Fae Royal 😁