Wings & Dust

Wings & Dust
Egleans



Aku melihat tubuh manusia kering dan bertulang di dalam jejaringan. Ia tidak memiliki rambut pada kepalanya, dan tubuhnya tidak memiliki bentuk yang normal. Kedua bola matanya terlihat jauh lebih besar dibanding manusia normal lainnya. Tulang pipi serta tulang rusuknya sampai terlihat. Manusia itu berteriak sangat nyaring, tubuhnya menggelepar seperti ikan di daratan. Warna kulitnya mulai menghitam.


Sana berhenti memainkan sihirnya, lalu mundur selangkah. "Egleans, persis seperti yang aku pikirkan," bisiknya dengan suara parau.


Aku hanya berdiri mematung, tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak lagi melihat rusa Greensia putih elok di sana, melainkan seorang manusia yang sudah berubah menjadi semacam monster yang tak dikenali.


Ledion meraih pedang dari sabuk pinggangnya, lalu menghampiri manusia yang masih berteriak ketakutan itu. Ia mengangkat pedangnya di atas tubuh manusia itu, lalu menikamnya tepat di bagian jantungnya.


Manusia mengerikan itu terbelalak. Ia mengeluarkan suara napas yang berat, dan detik berikutnya, nyawanya sudah melayang. Darahnya mulai menetes ke atas tanah, dan mengotori pedang Ledion. Aku melihat lebih dekat dan ternyata warnanya hitam pekat dan kental. Perutku langsung merasa mual.


"Egleans," Ledion menggelengkan kepalanya. Ia juga terlihat mual dan jijik. Mayat manusia itu terlihat begitu mengerikan. "Kau lihat kan, Alena? Egleans yang menyamar menjadi rusa Greensia putih," lanjutnya lagi dengan suara datar. "Egleans sangat tertarik dengan serbuk ini." Ia meraih sisa serbuk emas yang tersebar di tanah, lalu mengumpulkannya di dalam telapak tangannya.


"Se-serbuk apa itu?" Tanyaku dengan suara terbata-bata. Tubuhku masih merinding dan aku tidak yakin bisa mengumpulkan suaraku. Masih sambil memandang serbuk itu, Ledion membalas, "Serbuk emas. Serbuk sayap Fae Royals, anggota kerajaan Bougenville. Serbuk ini termasuk langka karena hanya keluarga kerajaan lah yang memiliki sayap emas."


Aku menatap serbuk yang berada di tangannya. Serbuk langka yang hanya tercipta dari kepakan sayap Fae Royals. Sana menghampiri tubuhku yang masih berdiri kaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka mengetahui bahwa rusa Greensia putih itu ternyata adalah salah satu Egleans.


"Aku pikir Egleans diciptakan oleh manusia, bukan terbentuk dari manusia," kataku. Ledion menghunuskan pedangnya ke arah tali-tali rumit yang terlilit di sekitar jaring. "Beberapa macam Egleans dulunya adalah manusia, yang tanpa sengaja memakan serbuk sayap Fae," jelasnya. "Dan satu-satunya cara bagi mereka untuk bertahan hidup adalah dengan mengonsumsi serbuk dari sayap Fae, meskipun resikonya menjadi pecandu dan tubuh mereka akan terlihat semakin kelam. Jika terlewat beberapa hari saja, mereka akan melemah dan pada akhirnya mati." Mayat manusia kering itu sudah dilepaskan dari jaring. Sana lalu membungkus mayat yang mulai mengeluarkan bau busuk itu dengan sebuah kain.


"Kenapa mereka bisa sampai memakan serbuk sayap Fae?" Tanyaku saat Ledion mulai menggali tanah dengan sekop yang entah muncul dari mana. "Entahlah," jawabnya dengan ragu-ragu. "Sebagian hanya untuk memuaskan rasa penasaran dengan mencicipinya. Sebagian iri dengan kaum kami yang mempunyai fisik lebih unggul."


Kaum kami. Aku menelan ludahku. Rupanya Ledion masih belum menganggap diriku Fae. Aku berdeham, mencoba untuk mengusir rasa tidak nyaman itu. Ledion lanjut menggali tanah itu, kira-kira setengah menit lamanya. Kami bertiga hanya membisu. Rasa syokku masih belum sepenuhnya menghilang. Aku tak bisa mengusir memoriku saat rusa itu mulai menjelma menjadi seorang manusia kering. Lalu matanya yang terbelalak, dan akhirnya darah hitam yang menyembur dari dadanya.


Ketika kami sudah berhasil mengubur manusia itu dan menutup kembali tanahnya, hari sudah petang. Kami melanjutkan perjalanan kami. Kali ini, Sana tidak banyak berbicara. Mungkin ia tahu aku ingin menyendiri, atau ia semata-mata sudah menyadari kesalahannya. Aku tidak menggubrisnya. Tanpa disadari, mataku sudah lelah dan kejadian hari ini sudah cukup menguras tenaga dan semangatku.


Pohon-pohon yang kami lalui terlihat semakin lebat. Aku sampai harus menggunakan kedua tanganku untuk menepis daun semak-semak dan membuka jalan karena mereka tumbuh menjalar ke samping, menghalangi pandanganku terhadap jalan yang sedang kulalui.


Saat membaca peta yang dibawa oleh Ledion, aku mengira kami akan sampai ke desa Duncart kurang lebih 5 atau 6 hari ke depan. Disana, kami akan menyewa tempat penginapan, lalu melanjutkan perjalanan kami menyeberangi arus sungai Lakuta, dan akhirnya sampai ke jalan Pos Cay, jalan yang orang-orang gunakan untuk mencapai Amarilis. Aku sudah bermandikan keringat. Aku belum terbiasa berjalan kaki sampai bermil-mil jaraknya. Rasanya mendebarkan sekaligus menyenangkan.


Tiba-tiba aku teringat dengan Lexy. Kuharap dia sudah berlari sejauh mungkin dari orang-orang yang menginginkan sayap bening kami. Mungkin ia menyamar dan memasuki wilayah manusia, lalu mencari Miss Gray. Meskipun aku kurang yakin Miss Gray akan menyambutnya dengan baik dan tidak akan melaporkan hal ini kepada orangtua kami, dia adalah harapanku satu-satunya. Untuk sementara ini, dia adalah orang yang paling kupercayai yang bisa melindungi Lexy.


Suara gemerisik dedaunan sudah berkali-kali membuatku tumbuh waspada. Entah karena aku sudah terbiasa waspada saat melakukan aksi pelarian dari orangtua kami, atau karena aku lagi-lagi mengingat si rusa Greensia. Aku mengepalkan tanganku. Aku lagi-lagi salah menilai orang. Aku juga salah menilai si rusa yang ternyata adalah jelmaan Egleans. Sampai kapan aku bisa memperbaiki kesalahanku dan pandai dalam menilai suatu hal?


"Kita sudah mulai memasuki bagian terdalam hutan." Suara pelan Ledion mengembalikan pikiranku ke saat ini. "Hati-hati dan waspadalah. Biasanya banyak rombongan manusia yang suka memburu hewan-hewan Fae di sekitar sini."


Aku mengangguk. Sana meraih dan memegang tangan kiriku. Aku menoleh kepadanya, merasa bersyukur karena ia sudah berusaha menenangkanku, meski aku masih memiliki sedikit rasa kesal karena ia tidak pernah memberitahukanku rencana mereka untuk menangkap Egleans sebelumnya.


Kami memelankan suara langkah kaki kami. Secara otomatis, aku menahan napasku, berusaha meminimalkan suara yang mungkin akan terdengar oleh manusia. Aku lalu tersadar bahwa itu adalah pikiran yang bodoh. Pendengaran manusia tidak setajam Fae.


Aku menatap kedua Fae yang sekarang berada di samping kiri-kananku. Aku baru menyadari mereka tidak menggunakan sayap mereka karena serbuk yang dihasilkan akan meninggalkan jejak dan mengumumkan keberadaan kami secara terang-terangan.


Untuk sejenak, Ledion menghentikan langkahnya. Aku harus berpikir dua kali sebelum aku menajamkan pendengaranku dan mendengarkan suara dari arah kiri. Aku bisa mendengar samar-samar suara percakapan dua orang. Bukan, melainkan tiga atau empat orang.


Kami bersembunyi di balik semak-semak. Saat lenganku bersentuhan dengan lengan Ledion, aku sempat terperanjat. Terlintas di pikiranku bahwa ia akan langsung memenggal kepalaku karena sudah menyentuhnya, namun ia tampaknya tidak menyadari hal itu. Dalam hati aku merasa lega. Aku tertawa dalam hati. Bagaimana ceritanya sampai aku bisa menghabiskan waktuku dengan kedua Fae ini? Seorang Fae Healer dan Fae Ripper. Dua Fae yang memiliki bakat yang sangat bertolak belakang. Pantas saja aku jarang melihat mereka berinteraksi, bahkan untuk sekedar ngobrol santai. Atau mungkin pada dasarnya Ledion tidak suka bersosialiasi.


Ada juga yang menggenggam katapel dan segala macamnya. Pisau lempar kecil tergantung pada sabuk pinggang mereka. Si gadis kecil berambut merah sedang tertawa. Tangan kanannya dilengkapi oleh tali yang menyerupai tubuh ular. Ia mengenakan sarung tangan kulit.


Aku mengerutkan dahiku. Empat manusia yang tengah berburu menjelang malam hari. Buat apa kita bersembunyi dari mereka? Bukankah tiga Fae akan jauh lebih kuat jika harus melawan empat orang manusia? Salah. Dua Fae. Kamu tidak dihitung, Alena, pikirku. Aku tidak mempunyai pengalaman memburu ataupun bertahan hidup sendirian di tengah hutan. Mungkin aku jauh lebih lemah dibanding para manusia itu.


Mereka tidak menyadari keberadaan kami. Mereka hanya terus berjalan sambil berbicara santai, sesekali terdengar suara tawaan si gadis. Ketika mereka mulai menghilang dari pandangan, aku berbisik, "Kenapa bersembunyi?" Ledion mengangkat sebelah alisnya. "Jika mereka mengetahui keberadaan Fae disini, mereka pasti akan berusaha untuk membunuh kita. Jadi, sebisa mungkin, jangan lukai manusia," jawabnya. Kami mulai keluar dari tempat persembunyian kami.


"Kupikir sebelumnya aku melihatmu menancapkan pedang pada jantung seorang manusia yang terjebak dalam jebakan jaring," balasku tak mau kalah.


"Itu berbeda. Yang sebelumnya itu Egleans, bukan manusia."


"Egleans yang tadinya adalah manusia."


"Manusia macam apa yang bisa merubah bentuk fisiknya dan menjelma menjadi seekor rusa Greensia?"


Aku terdiam, tidak yakin harus membalas apa. Aku merasa dipermalukan, jadi aku mengunci mulutku sampai kami berhenti di depan sebuah gua yang sangat gelap. Ledion berkata kita akan beristirahat malam ini disini, jauh dari jangkauan manusia dan mungkin Egleans yang berkeliaran di hutan. Aku menggelengkan kepalaku. Sulit rasanya untuk memahami bahwa mereka sebelumnya berhasil menangkap Egleans dengan mudah. Sedangkan aku disana berperan sebagai gadis bodoh, yang kerjaannya hanya menghakimi orang lain dan melongo di saat mereka mengerjakan tugas mereka.


Sana mengeluarkan sebuah benda yang saat disentuh oleh sihir putihnya, cahaya mulai muncul dari benda itu. "Penerangan", katanya. "Sekaligus sebagai penghangat."


Aku merebahkan diri di atas tanah yang keras dan dingin. Gua ini terdengar sangat sunyi, kecuali untuk suara tetesan air dari dalam gua dan suara hembusan napas kami. Ucapan Sana benar. Benda itu cukup menghangatkan tubuhku dan membuatku terasa lebih nyaman karena pada saat aku menutup mataku lalu terbangun, cahaya matahari sudah nampak dari luar gua.


***


Sudah berhari-hari kami melanjutkan perjalanan kami. Keuntungan saat berjalan melalui hutan-hutan yang lebat ini adalah, kami bisa dengan mudah menyesuaikan tubuh kami dan bersembunyi di antara dedaunan. Kadang kala kami menjumpai sekelompok manusia pemburu yang lagi-lagi membawa panah busur dan pisau lempar. Aku tahu semua itu tidak ada gunanya saat mereka harus berhadapan dengan Ripper yang sekarang sedang berjalan di depanku. Semenjak kami menemukan para pemburu di tengah hutan, Ledion ingin memimpin jalan di depan kami. Mungkin agar ia bisa lebih fokus merasakan keberadaan manusia.


Aku tidak menemukan keberadaan rusa Greensia putih asli. Aku mengingat masa laluku, saat Miss Gray masih menjadi guruku. Tempat tinggal dan habitat mereka adalah pegunungan Arietes, yang terletak jauh di Utara. Semenjak perang antara Fae dan manusia yang terjadi ratusan tahun yang lalu pecah, sebagian dari mereka berakhir di sini. Aku tidak begitu menghafal sejarah para Fae ratusan tahun yang lalu. Yang masih kuingat dengan jelas adalah, bahwa manusia hampir menguasai wilayah pegunungan Arietes, menjadikan tempat itu sebagai salah satu basis pertahanan mereka. Jumlah rusa-rusa putih itu semakin berkurang, dan untungnya para Fae masih sempat menyelamatkan beberapa dari mereka, dan dipindahkan ke sini, hutan Greensia. Sejak saat itulah rusa itu dinamakan sebagai Rusa Greensia putih.


Angin sepoi-sepoi lagi-lagi merambati wajahku. Aku menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, merasakan ketenangan mengalir dari dalam diriku. Sana angkat bicara. "Tahukah kamu bahwa kabut melindungi wilayah para Fae?" Aku menoleh kepadanya. "Kabut itu sebenarnya diciptakan setelah perang berakhir, untuk melindungi kami dari Egleans atau makhluk-makhluk yang berbahaya bagi kaum Fae."


Sekarang, kabut itu pasti sudah menipis. Sana menghela napasnya. "Entah bagaimana caranya, manusia mengetahui kabut tak kasat mata ini. Beratus-ratus tahun mereka melakukan berbagai macam eksperimen untuk meluluhlantakkan kabut pelindung wilayah kami. Seperti yang kita alami beberapa hari yang lalu, Egleans sudah mulai menginjakkan kaki disini."


Aku mulai mengerti maksud ucapannya. Ternyata mereka sengaja memasang jebakan, tujuannya untuk menghabiskan dan mengurangi jumlah Egleans yang berhasil menerobos wilayah Fae. Penilaianku terhadap kaum Fae mulai membaik. Mereka tidak sekejam dan sejahat yang kukira.


Aku memandang Fae bersayap hitam yang sibuk membuka jalan di depan kami. Mungkinkah waktu itu ia juga tengah berburu Egleans? Lalu, mengapa ia tidak langsung membunuhku dan Lexy?


"Aku pernah mendengar Lilies menyebutnya sebagai Kapten," ujarku kepada Sana. "Apakah ia semacam ketua untuk para Ripper?"


"Oh, kurang tepat!" Jawabnya. "Lebih tepatnya, dulu ia adalah pengawal pribadi pangeran Callum. Sekarang ia menjabat sebagai Kapten untuk Fae Ripper," lanjutnya lagi dengan yakin.


"Jadi dia pernah melayani sang pangeran?" Aku agak terkejut mendengar balasannya, lalu buru-buru mengecilkan suaraku agar Ledion tidak dapat mendengarnya. "Jadi sekarang, dia bukan lagi pengawalnya?" Sana hanya mengangguk. Kenapa? Aku ingin melontarkan kata itu, namun rasanya sebuah suara dalam hatiku berbisik, seolah-olah membujukku bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk menggali informasi pribadi milik Ledion. Nanti, Alena, ujarku dalam hati. Suatu hari nanti, kamu pasti akan mengetahui segalanya.