
Aku melihat lima pasang mata yang menatap langsung ke arahku. Bagaikan harimau yang sudah melihat mangsanya yang utuh, mereka langsung mengeluarkan suara jeritan yang aneh dan sangat melengking. Aku dapat melihat gigi taring mereka yang timbul dari mulut mereka. Tubuh mereka kurus kering, dan tulang rusuk mereka terlihat. Tubuh mereka langsung berubah menjadi monster berkaki empat. Mereka tidak mengenakan luaran untuk menutup tubuh mereka, bahkan untuk melindungi mereka dari hawa dingin yang menusuk kulit.
Tidak, tidak. Mereka Egleans. Hawa dingin tidak akan berpengaruh. Aku tahu aku harus berlari, namun saking terkejutnya, aku tak dapat menggerakkan kakiku. Lari, Alena. Aku berkata kepada diri sendiri. Pergi dari sini. Lari secepat mungkin.
Tiga diantaranya langsung menerjangku. Aku berteriak, lalu terjatuh ke belakang, pinggulku mengenai salju yang dingin. Secepat mungkin, aku menggunakan kedua tanganku dan menyeret tubuhku sendiri. Kedua kakiku masih bergetar dan aku belum sadar sepenuhnya.
Cakar mereka yang panjang mengenai lengan kananku. Aku menggigit bibir bawahku, dan pada akhirnya aku berdiri dan berlari menjauhi mereka.
Mereka jauh lebih cepat. Aku belum menggunakan sayapku sejak aku terbangun di tengah hutan, dan lagipula sayapku sudah kaku karena salju.
Kakiku terasa kram dan darah terus mengalir dari lenganku. Aku tidak mengenakan alas kaki saat menginjak tekstur salju yang lembut. Kupikir aku akan baik-baik saja, karena Fae memiliki kekebalan tubuh yang lebih tinggi daripada manusia. Aku ingat setiap musim dingin, aku tak perlu mengenakan mantel hangat seperti Ayah dan Ibu karena aku tidak terlalu merasa kedinginan.
Kali ini, rasanya lain saat berada di tempat terbuka dengan hawa angin yang terus-terusan menusuk kulit lenganku. Kakiku susah untuk digerakkan, dan pohon-pohon kurus sama sekali tidak membantuku. Aku menoleh ke belakang dan melihat para Egleans yang masih mengejarku. Untung saja mereka tidak memiliki sayap.
Aku harus memanjat pohon, pikirku kepada diri sendiri. Aku tidak bisa berlari seperti ini.
Tanpa berhenti sebentar, aku segera meraih sebatang pohon dan memanjatnya. Aku belum pernah memanjat pohon sebelumnya, karena aku belum pernah keluar dari rumahku sekalipun. Aku tidak tahu teknik memanjat pohon, tapi inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri.
Jantungku terus berpacu saat tanganku membawaku semakin tinggi ke atas pohon. Mereka sudah sampai di bawah pohon, dan sekarang berusaha meraihku. Salah satu kakiku digigit oleh taring mereka yang sangat tajam. Aku berteriak sekencang mungkin. Aku belum pernah merasakan sakit yang luar biasa seperti ini. Cengkeramanku terhadap batang pohon semakin kuat, dan aku menutup mataku. Tubuhku rasanya seperti ditarik ke bawah, dan lengan kananku yang terluka menghambat pergerakanku untuk terus memanjat. Aku tidak dapat merasakan kaki kiriku yang semula digigit. Aku tidak berani menoleh dan melihat ke bawah kondisi kakiku yang pastinya sudah sangat parah.
Di saat itulah aku mendengar suara Callum dalam pikiranku. "Alena!" Aku mendengarnya. Aku yakin itu. Aku membuka mata, dan terus memanjat tanpa menyerah. Aku tidak peduli kaki kiriku yang sudah terkoyak habis, serta rasa sakit luar biasa pada lengan kananku yang robek. Air mata bercucuran, namun aku terus memanjat. Aku berteriak lagi saat terdengar bunyi koyakan dari bawah.
Aku terisak. Aku akan mati. Aku tahu itu. Dengan terpaksa, aku menoleh ke bawah. Mataku terbelalak saat menyadari suara koyakan tersebut bukanlah kaki kiriku yang sudah putus, melainkan salah satu Egleans yang tubuhnya terpotong-potong oleh tanaman yang menjalarinya. Aku terkesiap saat menyadari tetesan darah dari kaki kiriku ternyata menumbuhkan tanaman yang langsung menahan dan melilit lima makhluk ganas itu.
"Alena!" Aku mendengarnya lagi. Anehnya, kali ini suaranya bukan berasal dari isi pikiranku. "Alena!" Aku menoleh ke sumber suara dan melihat Callum dari kejauhan. Aku tidak sempat memikirkan bagaimana ia bisa menemukanku saat cengkeraman tanganku terlepas dari batang pohon, dan aku terjatuh langsung ke atas mayat Egleans yang bergelimpangan.
***
Aku tidak merasakan apa-apa. Rasanya hampa. Aku berada di sebuah tempat yang sangat gelap dan tidak berujung. Aku tidak dapat mengeluarkan suaraku, dan aku tidak mendengar apa-apa. Rasanya seluruh indraku terkunci dan satu-satunya yang masih berproses adalah pikiranku sendiri yang melayang.
Aku tidak ingat apa-apa. Aku tidak mengetahui namaku sendiri. Aku tidak tahu aku ini apa. Yang kutahu hanyalah diriku ini. Diriku tanpa perasaan ataupun emosi. Sebuah tubuh dengan pikiran yang hidup, namun tidak dapat merasakan apa-apa.
Aku seperti mayat hidup yang kerjaannya hanya terus mengulangi pertanyaan yang sama. Siapa aku? Dimana aku?
Terlintas di benakku satu pertanyaan lagi. Apakah aku ini hidup?
***
***
Dimana ini? Aku lagi-lagi tidak dapat merasakan apa-apa. Semuanya gelap. Aku mencoba untuk bergerak, namun aku tidak bisa mengontrol tubuhku sendiri.
Sebuah cahaya yang amat terang tiba-tiba menyala dari kejauhan. Aku berusaha untuk menggapainya, namun untuk bergerak saja aku tidak mampu. Rasanya hampa dan, mungkin aku sudah mati-
"Alena." Ujar sebuah suara yang amat lembut. Suara yang anehnya menenangkan hatiku. "Alena, kau harus bangun."
Aku tidak mengerti maksud ucapannya. Nama itu terasa asing sekaligus familiar. Aku tidak dapat mengingat apa-apa. Seharusnya aku sudah menangis dan meratapi nasibku, namun aku hanya berdiam diri, tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku sendiri.
Emosi. Apa itu emosi? Apakah itu hanya terjadi begitu saja? Bagaimana cara merasakan emosi?
Aku terus menggapai cahaya itu, namun setiap kali aku yakin sudah mendekati cahaya terang itu, rasanya ia makin meredup dan seakan-akan menjauhiku.
"Alena, aku membutuhkanmu." Suara itu lagi. Suara berat yang menggema dalam pikiranku. Percuma. Aku terkurung di dalam sini. Aku terkurung di dalam kegelapan. Hampa mungkin adalah panggilan untukku.
"Maafkan aku, Alena."
Alena. Si gadis Egleans. Si gadis tanpa golongan. Si gadis-
Suara serak mulai keluar dari tenggorokanku, disusul oleh rasa sakit luar biasa yang menyiksaku. Kalau tadinya aku merasa hampa, sekarang aku merasa utuh dan mampu merasakan sekujur tubuhku yang tercabik-cabik.
Sinar itu kembali menerangiku. Kali ini, ia yang menghampiriku. Aku mengulurkan tangan, masih melekatkan pandangan ke sinar itu. Saat tubuhku sudah benar-benar diselimuti oleh sinar hangat itu, barulah aku tenggelam dan terhanyut.
***
Hal pertama yang kudapatkan saat aku terbangun adalah kedua tangan hangat Callum yang memegangi tangan kananku. Kepalanya tertunduk, dan aku mendengar isakan tangis darinya. Aku menolehkan pandangan ke arah berlawanan, dan melihat mulut gua yang sekarang dihalangi oleh tanaman yang tumbuh merambat. Angin meniup sangat kencang dari luar gua sampai-sampai aku bisa mendengarnya dari dalam.
Aku mengeluarkan suara serak dan Callum langsung mengangkat kepalanya. Matanya merah dan sembap. Air mata membasahi pipinya yang merona. Penampilannya terlihat kusut, dan ia langsung tersenyum saat melihatku. Ia menyapu helaian rambut yang sebelumnya menempel pada wajahku, dan memegang tanganku semakin erat. "Alena."