
Setelah berhari-hari melewati hutan Greensia, akhirnya aku bisa melihat atap bangunan desa Duncart dari kejauhan. Berbeda dengan bentuk bangunan Amalthea Halley, warga Duncart membuat rumah di atas pohon. Aku bisa melihat beberapa Fae bersayap hijau yang sibuk terbang kesana kemari untuk menaburkan bubuk berwarna hijau kemilau di tanah. Setelah kami memasuki wilayah Duncart, mereka dengan senang hati menyambut kami.
Ternyata Fae Blossom lah yang menumbuhkan pohon-pohon besar dan berakar panjang hingga muncul di atas permukaan tanah. Tujuannya agar mereka bisa terhindar dari bahaya hewan-hewan buas yang berkeliaran di dalam hutan Greensia. Aku mengingat atap warna-warni Amalthea Halley. Mungkin mereka sengaja menggunakan warna-warna tersebut untuk mengusir hewan buas.
Salah satu Fae Blossom yang sedang berada di atas dahan pohon segera menghampiri kami. "Halo! Ada apa kalian kemari?" Fae Blossom itu mengenakan gaun hijau. Lengannya dikelilingi oleh semacam akar tanaman berdaun, dan bunga-bunga bermekaran di sana. Penampilan yang aneh, pikirku dalam hati.
Fae Blossom itu langsung mengenali Ledion, dan ia segera membungkuk. Ia lalu memperkenalkan dirinya sebagai Flora. "Kami harus melaporkan sesuatu kepada Miss Rellie. Kami akan bermalam untuk sehari," jelas Ledion.
Flora lalu mengantar kami ke sebuah pohon besar. Terdapat sebuah pintu kayu yang terletak sangat jauh di atas dahan pohon tersebut. Ketiga Fae di sampingku hendak mengepakkan sayap mereka dan meninggalkanku ketika aku akhirnya mengeluarkan suara.
"Jadi, aku harus menunggu disini dan menonton Fae Blossom memekarkan bunga?" Aku sengaja meningkatkan volume suaraku agar Fae lain bisa mendengar perkataanku.
Ledion langsung menoleh kepadaku dan memberikan tatapan yang menjengkelkan. "Seorang Egleans tidak boleh memasuki kediaman sang kepala desa." Aku mendengus dengan kesal. "Sudah kukatakan berkali-kali, aku bukan Egleans!"
Ledion hanya menyeringai. "Sebuah kalimat yang diucapkan semua Egleans sesaat setelah mereka tertangkap." Ia lalu terbang meninggalkanku sendirian di bawah pohon. Sana tampak ragu-ragu. Ia lalu menghampiriku sebentar dan mengusap punggungku. "Tidak apa-apa. Kami tidak akan lama, kok," ucapnya untuk menenangkanku. Aku hanya memaksakan senyumanku. Memangnya aku terlihat ketakutan untuk ditinggal sendirian?
Walapun begitu, aku sadar inilah kesempatan yang kutunggu-tunggu. Akhirnya, aku ditinggal sendirian, tanpa ada yang menjagaku, tanpa ada yang menahanku-
"Kau harus tunggu disini sampai mereka selesai bercakap dengan Miss Rellie." Sebuah suara dari belakang mengagetkanku. Aku buru-buru membalikkan tubuh, lalu menutup mulutku agar tidak berteriak. Salah seorang Fae Blossom yang tadi kulihat sedang sibuk memberikan pupuk pada tanaman, tiba-tiba berada di belakangku. "Aku akan menjagamu," lanjutnya lagi. Aku menggigit bibirku. Menjagamu? Sepertinya lebih cocok dibilang mengawasimu.
***
Aku mengelilingi Duncart bersama Fae itu. Semua orang pasti awalnya mengira bahwa tempat ini adalah wilayah para Fae Blossom, karena memang hampir semua Fae yang kutemui bersayap hijau. Aku melihat cara kerja mereka. Salah seorang Fae dengan mudahnya melambaikan tangannya, lalu muncullah sebuah cahaya kehijauan yang langsung menyelimuti tanaman-tanaman di sekelilingnya.
Sihir, pikirku kagum. Ada juga yang menaburkan serbuk kehijauan, lalu biji yang semula berada di atas tanah, mulai bertumbuh dan berkembang menjadi tunas.
Bukan hanya menjadi tunas, pikirku lagi. Dalam sekejap mata, tunas itu langsung berubah menjadi tanaman yang sudah terlihat tinggi. Bunga dengan bentuk aneh langsung tumbuh bermekaran.
Menakjubkan, aku berkata dalam hati. Bakat yang dimiliki oleh Fae Blossom sangat indah. Bayangkan, bisa bekerja setiap hari dengan cara memekarkan bunga.
Aku tidak sadar waktu yang terlewat saat mereka sudah keluar dari rumah pohon itu. Aku segera menghampiri Sana (karena Ledion pasti tidak akan menjawab pertanyaanku).
"Jadi, apa saja yang kalian bicarakan dengan sang kepala desa?"
"Kami memperingatinya soal makhluk Egleans temuan kami yang menjelma menjadi salah satu hewan Fae waktu itu," jawabnya. "Akan sangat berbahaya jika makhluk Egleans lainnya menemukan tempat ini."
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Menjadikan pohon besar sebagai tempat tinggal sudah merupakan pilihan terbaik. Jika semua Egleans berwujud rupa kurang lebih seperti si rusa, aku yakin mereka akan baik-baik saja.
Kami bermalam di salah satu pohon. Para Fae Blossom membantuku dengan cara menumbuhkan semacam anak tangga yang melingkar pada batang tebal pohon. Dengan begitu, aku bisa memasuki ruangan tanpa harus memanjat pohon.
Keesokan harinya, kami tinggal menyebrangi arus sungai Lakuta, lalu setelah berjalan kaki kurang lebih 5 menit, aku melihat jalan setapak Pos Cay. Jalanan itu terlihat sangat jauh dan panjang, apalagi dengan pohon-pohon yang tumbuh di sekitar. Aku mulai mempersiapkan diri. Setelah kami menemukan ujung jalan ini, gerbang Amarilis akan langsung terlihat.
Aku bisa merasakan jantungku berdebar-debar di dalam dadaku. Sebentar lagi perjalanan kami akan berakhir. Aku akan menjadi seorang murid Faedemy. Reaksi macam apa yang akan kudapatkan saat Fae seusiaku mengetahui bahwa sayapku tidak normal? Akankah mereka menertawakanku karena aku tidak bisa terbang? Atau akankah mereka bersikap dingin seperti Ledion karena mengira aku ini Egleans?
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau memulai hari-hariku di Faedemy seperti ini. Bukankah ini impianku yang sudah menjadi kenyataan? Pada akhirnya, aku dapat bertemu dan berkenalan dengan Fae lain. Bukan ini yang kuinginkan, kataku pada diriku sendiri. Sepertinya akan jauh lebih baik jika aku berteman dengan manusia, pikirku keliru.
***
Gelap. Semuanya terasa gelap. Ia berusaha meraih sesuatu, namun yang dapat ia rasakan hanyalah lantai kayu yang kasar dan dingin. Kedua tangannya terikat di belakang punggungnya. Matanya tidak bisa melihat apa-apa.
Tiba-tiba terdengarlah suara gesekan pintu. Lexy bisa mendengar suara langkah kaki sekelompok orang. Salah satunya menghampirinya. "Oh? Sudah bangun rupanya?" Suara berat milik seorang laki-laki. Ia dapat merasakan tangan orang itu yang menyentuh pipinya. Ia langsung bergidik dan menolehkan wajahnya. Sentuhan orang itu terasa asing dan menakutkan.
Orang itu malah tertawa terbahak-bahak. Ia bisa mendengar suara lain dari seberang ruangan. "Val, jika cewek itu sampai muntah, kau yang harus bertanggung jawab." Suara lelaki itu terdengar lebih kalem.
"Oh ya?" Lelaki di hadapannya yang bernama Val itu menampar wajahnya. Pipinya langsung terasa sakit akibat tamparannya. Ia menggigit lidahnya. Ia bisa merasakan bulu-bulu pada lengannya yang mulai naik. Ia berusaha mengerjapkan matanya berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Karena takut dan kebingungan, ia meludah ke lantai.
Lexy meringis kesakitan. Tubuhnya mulai bergetar. Ia tidak mau merasakan semua ini. Ia tidak ingat kenapa ia bisa sampai berada di ruangan ini. Ia lalu menyadari kain yang menutupi kedua matanya. Pantas saja ia tidak dapat melihat apa-apa.
Lelaki di seberang ruangan itu menghampirinya. Ia bisa merasakan tangannya yang mulai meraba kain yang menutupi matanya. Dalam sekejap mata, kain itu sudah dilepas. Lexy mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya terang dari ruangan tersebut. Awalnya pandangannya masih terasa kabur dan buram, namun saat matanya sudah terfokus, ia dapat melihat dengan jelas.
Tempat ini terkesan antik sekaligus mewah. Terdapat sofa panjang berwarna merah yang mengelilingi tempat perapian. Sebuah karpet tergulung di hadapannya. Jam bandul yang besar terletak di samping ruangan.
Ia bisa melihat dua gadis Fae yang sedang memerhatikannya dari sofa yang mereka duduki. Yang satu menatapnya dengan rasa bosan. Rambut pendek merahnya sangat menarik perhatian. Ia bisa melihat warna sayapnya-merah. Seorang Fae Fire. Sedangkan gadis lainnya yang sibuk menertawakan dirinya adalah seorang Fae Melody. Suara tawanya terdengar seperti alunan tuts piano.
"Sudah puas melihat-lihat?" Lexy langsung tersadar bahwa lelaki di hadapannya itu sibuk memerhatikannya. Ia lalu memberanikan diri untuk menatap lelaki itu. Rambutnya yang berwarna gelap hampir menutupi matanya yang berwarna biru. Parasnya rupawan. Tubuhnya terlihat ramping, namun lengannya berotot. Dan sayapnya-
Lexy terkesiap. Ia adalah seorang Fae Royal. Sementara lelaki satunya lagi yang bernama Val adalah seorang Fae-
Lexy tidak sempat mengamati Fae itu saat ia menghembuskan sesuatu ke arah wajahnya. Ia buru-buru memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak menghirup benda itu. Namun ia terlambat. Benda yang ia duga adalah semacam serbuk sudah memasuki lubang hidungnya. Kepalanya mulai terasa berat. Matanya seolah-olah diinjak-injak dan dipaksa untuk ditutup. Tubuhnya segera melemah dan kegelapan kembali menghantuinya.
***
Setelah melewati menit-menit yang serasa mencekam, tepatnya saat matahari berada tepat di atas kepalaku, kami melalui gerbang raksasa dan tembok panjang Amarilis. Dua Fae yang sejak tadi tidak mengucapkan sepatah katapun mulai meregangkan sayap-sayap mereka, lalu terbang melayang di atas udara. Kami melewati pos penjaga yang terletak di depan pintu masuk gerbang, lalu setelah Ledion bercakap-cakap dengan mereka, kami akhirnya diperbolehkan untuk memasuki wilayah kediaman sang pangeran.
Hal pertama yang kujumpai adalah segelintir bangunan mewah dan tinggi. Jika aku harus menilai suasana disini, kuberi nilai minus. Fae yang sibuk terbang dan berlalu lalang jauh lebih banyak dan ramai dibandingkan Amalthea Halley dan Duncart. Penampilan dan cara terbang mereka pun sangat berbeda. Mereka terlihat seolah-olah mereka lah yang paling berkuasa. Baju dan sayap mereka dihiasi oleh serbuk mengilap dan itu membuat mataku sakit sampai-sampai aku harus mengarahkan pandanganku ke tanah yang sedang kupijaki.
Belum sampai semenit, aku sudah diberi tatapan aneh dari para Fae yang sedang duduk berdiam diri. Mereka pasti tersadar saat mengamatiku karena aku tidak menggunakan sayapku. Aku sudah menyembunyikan sayapku di belakang jubahku agar tidak menarik perhatian. Ke mana pun aku memandang, aku melihat Fae berpenampilan mencolok. Aku tertawa dalam hati saat aku menyadari tidak ada Fae Cosmos yang berkeliaran. Mungkin mereka takut akan muntah jika melihat penampilan Fae lainnya yang seperti makhluk senter.
Aku harus menambah kecepatan karena rupanya teman seperjalananku sudah berada jauh di depanku. Kami segera melewati rumah-rumah raksasa itu, lalu memasuki wilayah yang sama sekali berbeda. Wilayah itu dibatasi dengan arus sungai lebar dengan air yang sangat jernih. Sebuah jembatan melintang di atasnya. Aku bisa melihat beberapa Fae Aqua yang sibuk memainkan air. Sepertinya wilayah yang akan kumasuki akan jauh lebih tenang dan normal.
Sesampainya di seberang, aku seakan telah memasuki dunia lain. Tidak ada lagi bangunan besar yang rasanya bisa roboh kapan saja lalu menimpa tubuhku. Yang ada hanyalah lapangan rumput yang teramat luas dan tidak ada ujungnya.
Aku bisa melihat air mancur yang berada di tengah alun-alun, lalu hamparan bunga-bunga daffodil dan bunga kapas yang kelopaknya beterbangan. Sinar matahari menyinari rumput-rumput hijau yang bergelombang karena angin sejuk yang diciptakan oleh Fae Ventus. Meskipun mereka berada di seberang sana, sibuk membantu Fae Blossom memekarkan bunga, aku bisa merasakan angin sepoi yang tercipta dari tangan-tangan gemulai itu.
Kami menyelusuri sederetan pohon anggun. Tepat di balik pepohonan, aku bisa melihat ujung atap dari istana Amarilis - kediaman sang pangeran. Aku menelan ludah. Aku hanya melihat sedikit bagian atas istana dari kejauhan, namun Sana sudah menarik tanganku, memaksaku untuk berbelok ke arah kiri.
Sebuah jalan berkerikil-kerikil menerobos pepohonan. Kami tidak akan mengikuti jalan yang tadi untuk memasuki wilayah istana Amarilis, namun ke sebuah jalan yang kuduga menuju ke gedung Faedemy.
Dugaanku benar. Meskipun aku bisa menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk memandangi dan menikmati pemandangan indah wilayah ini, aku tetap harus berjalan mendekati gedung Faedemy. Tak lama, sebuah pelataran lebar menyambut kami. Aku melihat taman hijau segar dan sebuah patung emas yang mulutnya menyemburkan air mancur. Di samping itu, sebuah bangunan megah menjulang tinggi. Teras-terasnya disesaki oleh para Fae yang kira-kira seusiaku. Lantai-lantai marmer sengaja dinaikkan untuk memisahkan wilayah bangunan dengan rerumputan.
Aku menyentuh salah satu pilar yang menahan bangunan. Pola-pola ukiran berbentuk sayap capung tersebar dimana-mana. Aku terkesiap saat menyadari ukiran-ukiran ini terbuat dari bahan yang sama dengan Chrysos-serbuk sayap Fae yang ditempa.
Gerbang pintu masuk yang juga berornamen Chrysos sudah terbuka. Mataku terbelalak saat melihat isi dari gedung Faedemy. Murid-murid Fae sibuk beterbangan, serbuk sayap mereka mengotori lantai, menciptakan kesan warna warni pada lantai gedung. Ada yang sedang terburu-buru sampai menabrak murid lainnya. Buku yang dipeluknya sampai berjatuhan.
Kami menaiki salah satu tangga spiral yang terletak di tengah ruangan yang megah ini. Karpet bulu menghiasi anak tangga. Awalnya aku mengira akan langsung diantar ke ruangan pribadiku, barangkali untuk menyiapkan buku-buku pelajaran untuk kelas yang kira-kira harus kulalui.
Aku salah. Setelah Sana memberikanku kantong miliknya yang sebelumnya terikat di pinggangnya, ia berjanji akan segera menemuiku. Ia lalu terbang ke salah satu lorong dan meninggalkanku sendirian bersama Ledion. "Karena sayapmu masih lemah," katanya dalam suara parau, "kau akan langsung ditempatkan di Kelas Awal."
"Kelas Awal?" Tanyaku saat ia hendak mengantarkanku ke Kelas Awal. Tanpa melihatku sedikitpun, ia baru menjawab pertanyaanku saat kami sudah tiba di depan sebuah pintu besar berukiran pola-pola yang rumit.
"Kelas Awal. Kau akan dilatih menerbangkan sayap transparanmu," balasnya dengan nada mengejek. "Nah, semoga betah." Tanpa basa-basi, ia praktis mendorong tubuhku ke dalam ruangan tersebut. Ketika aku memalingkan pandangan ke arahnya, berusaha untuk meminta lebih banyak penjelasan, senyum lega terpampang dengan jelas di wajahnya. Kelihatan sekali ia ingin menyingkirkanku secepat itu.
"Miss Alena," sapa sebuah suara kasar. Aku menoleh ke sana kemari tapi tidak melihat siapa-siapa. Ruangan ini tergolong sempit jika aku harus berlatih menggunakan sayapku. Selagi aku menyesuaikan mataku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku melihat tiang-tiang tinggi yang menjulang. Ruangan ini tidak lebar, melainkan sangat luas dan panjang karena saat aku mendongak ke atas, jantungku rasanya sudah terlepas dan mendarat di bagian perutku.
Sebuah bayangan hitam sedang menungguku di atas salah satu pilar. Jaraknya kira-kira sepuluh kali lipat dengan tinggi normal seorang Fae. Bayangan itu lagi-lagi mengeluarkan suara. "Nah, mari kita lihat kemampuanmu."