Wings & Dust

Wings & Dust
Nyanyian yang Terkutuk



Aku berlari sekencang-kencangnya menuruni tangga aula utama, kemudian kakiku sudah membawa diriku keluar pintu gerbang Faedemy. Aku bisa melihat sekumpulan Fae Aqua di pinggir kolam ikan. Teman sekamarku tengah mengejar anak laki-laki yang kemarin sedang tersenyum kepadanya.


Aku pernah berlari seperti ini. Tak peduli siapa yang melirikku, tak peduli dimana kakiku berpijak; batu kerikil tajam yang bersembunyi di antara tanah, atau genangan air. Pikiranku hanya terfokus pada satu hal-Naomi yang sedang terjebak di Kelas Tahanan. Dan semua ini salahku.


Aku bisa mendengar teriakan Miss Solla dari kejauhan. Aku sudah melanggar peraturan sekolah. Aku terus berpacu; kakiku sampai tersandung karena sebuah batu yang tersembunyi diantara rerumputan. Aku tiba di jalan besar menuju istana Amarilis. Aku masih mengingat kali pertama aku menapakkan kaki disini. Aku sampai terpukau dengan pemandangannya. Namun saking terburu-burunya, aku sampai tidak menghiraukan kelopak bunga yang berjatuhan dari pohon karena musim gugur mulai datang.


"Kamu! Berhenti!" Suara teriakan terdengar dari belakang, disusul oleh suara kepakan sayap berpuluhan Fae. Mereka sampai mengejarku.


Aku melewati gedung besar yang mewah, lalu akhirnya tiba kembali di jalan Pos Cay. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan sinarnya yang kejinggaan. Aku tidak memikirkan resiko bahaya di Hutan Greensia petang hari seperti ini. Toh, aku sudah menghabiskan waktu hampir seminggu melewatinya.


Kakiku sudah melewati batasnya. Namun, aku tetap tidak berhenti berlari, bahkan saat pohon-pohon besar dan tinggi terlihat dari kejauhan. Desa Duncart. Haruskah aku meminta bantuan dari para Fae di Duncart?


Aku pasti sudah gila. Menggunakan kedua kakiku yang kecil ini untuk menyusul temanku yang belum tentu dalam bahaya. Meski begitu, besar kemungkinannya Egleans akan menghampiri gubuk reyot itu dan menyerang Naomi langsung. Aku tidak akan membiarkannya.


Matahari sudah tenggelam. Aku sudah berada di tengah-tengah pepohonan. Kakiku sudah pegal, maka kupaksa untuk berhenti sebentar, lalu menoleh ke belakang. Aku sudah menghilang dari pandangan Fae yang mengejarku.


Aman, kataku dalam hati. Aku lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bodoh, aku mengumpat dalam hati. Aku tidak tahu dimana gubuk itu berada. Aku juga tidak bisa kembali ke Faedemy. Toh, aku juga akan ditempatkan di Kelas Tahanan. Mungkin, aku bisa beralasan bahwa saking semangatnya, aku sudah berlari ke Kelas Tahanan sebelum waktunya.


Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal. Sambil berjalan dengan pelan, aku coba mengikuti arus sungai Lakuta. Ini adalah petunjuk jalanku satu-satunya. Arus ini adalah jalan pintas. Aku juga bisa terhindar dari bahaya.


Aku mencelupkan kedua kakiku yang berlumpur dan terluka ke dalam arus sungai yang dangkal. Kakiku terasa mendingan.


Suara burung hantu mulai terdengar. Hutan sudah berubah menjadi sunyi senyap. Suara jangkrik yang menyebar di antara dahan pohon mengisi pikiranku. Aku menyipitkan mataku, mencoba untuk melihat lebih jelas. Aku merasa takut. Aku belum pernah memasuki hutan sendirian.


Tubuhku menggigil. Angin menusuk kulit. Aku menggosok lengan dengan telapak tanganku, sambil mengucapkan doa kepada Dewa Pengampun secara komat-kamit. Lindungilah Naomi. Terangkan jalan untukku. Semoga aku bisa menemukan gubuk itu.


Aku tidak boleh pasrah. Aku memikirkan wajah ceria Naomi. Teman pertamaku di Faedemy. Satu-satunya Fae yang mau berteman denganku, bahkan setelah rumor itu. Ia tidak pernah menunjukkan rasa takutnya terhadap si gadis Egleans. Ia malah memberikanku kesempatan untuk menjadi murid di Kelas Melody.


Ia banyak membantuku. Mengajariku bermain alat musik, merawat tenggorokanku, bahkan menemani keseharianku, saat aku sibuk memikirkan Sana. Aku memejamkan mataku. Kali ini giliranku untuk membantunya.


Suara burung berkicau.


Aku membuka mataku, lalu menoleh ke sumber suara. Tidak ada burung yang bertengger di atas dahan pohon. Aku menggelengkan kepalaku. Aku pasti salah dengar. Burung tidak pernah berkicau pada malam hari.


Aku lagi-lagi mendengarnya. Kali ini, suara itu terdengar semakin jelas. Aku melangkah lebih cepat, berusaha untuk mencari sumber suara itu. Jika ada burung, itu artinya ada sumber air. Sebentar lagi, aku akan mencapai titik terdalam sungai Lakuta.


Aku teringat dengan siulan indah Naomi. Siulan yang menyerupai siulan burung. Siulan yang bisa membuat burung saling bersahutan. Siulan yang dapat menarik para burung, yang dapat mengantarku langsung ke sarang burung.


Aku membuka mulutku, lalu dengan suara lirih, mulai bersiul. Aku memimik siulan Naomi yang biasa kudengar. Lembut, lalu nyaring. Aku menelan ludah, lalu dengan suara parau, bersiul semakin keras.


Awalnya aku tidak dapat mendengar lagi suara burung itu, namun saat suara serakku sudah tergantikan dengan suara yang lebih halus, burung itu mulai berkicau kembali. Kali ini, aku mendengarnya dari arah kiriku.


Arus sungai yang berada di dekatku mulai membesar, lalu di balik pepohonan, terdengarlah suara deras air mengalir.


Aku terus bersiul. Suaraku sempat melengking, namun kupaksa terus. Aku tahu kemampuan bernyanyiku masih di bawah rata-rata, namun ini lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali. Kesempatan adalah kesempatan.


Dari kejauhan, di atas dahan pohon, bertenggerlah sekelompok burung dengan bulu yang berwarna-warni. Burung-burung itu mengeluarkan kicauan yang paling indah dan nyaring. Suara itu memikatku, menuntun langkah kakiku, hingga akhirnya aku melihat dengan jelas wujud rupa burung itu.


Suara siulan mereka mengalahkan siulanku. Secara bergiliran, kami menyiul satu sama lain. Entah bagaimana caranya, aku dapat mengerti arti kicauan burung itu. Aku samar-samar dapat berkomunikasi dengannya. Mereka seolah-olah berkata, "Inilah jalan yang harus kau tempuh."


Aku menyentuh batang pohon. Dengan tanganku yang satu lagi, aku meraih ranting pohon tempat para burung itu bertengger. Tiba-tiba, secara ajaib, sebuah cahaya berwarna ungu menerangi ranting itu. Cahaya itu menyelimuti pohon itu. Burung-burung itu tidak merasa ketakutan. Mereka tidak terbang menjauhi cahaya ini.


Aku terkesiap. Cahaya ungu tiba-tiba memudar. Sambil melepaskan tanganku dari ranting itu, aku menatap telapak tanganku yang semula dingin dan berbeku. Berkat cahaya lembut tadi, tanganku mulai terasa hangat.


Aku mengeluarkan nyanyian lagi. Kali ini, bukan siulan Naomi yang biasa. Namun, sebuah lagu. Lagu murni yang berasal dari pikiranku, yang entah bagaimana terhubung dengan para burung ini. Suara nyanyianku menyebar ke segala penjuru hutan, membuat hutan yang semula terkesan sunyi, menjadi hangat dan bermelodi. Perasaanku menjadi tenang dan damai.


Sebuah cahaya ungu tiba-tiba memantul lagi. Kali ini, aku tahu sumber cahaya itu. Cahaya hangat dan damai itu berasal dari dalam diriku sendiri.


***


Pohon Oak raksasa. Tidak ada yang pernah menyebutnya sebagai pohon raksasa. Mungkin belum pernah ada yang mencapai bagian paling atas dari pohon ini.


Lexy akhirnya menginjak tanah kembali. Lebih tepatnya, di atas dahan pohon yang saking tebalnya mampu menahan berat tubuhnya.


Serbuk Fae Ventus itu diberikan oleh si Fae Royal yang aneh. Ia masih tidak mengerti apa motifnya; baik atau buruk. Ia dan komplotannya jelas-jelas sudah menangkap dan mengurungnya di ruangan itu. Namun, yang membantunya keluar juga orang yang sama.


Lexy tidak mau memikirkan Fae itu sekarang. Ia masih ada misi yang harus dijalani. Setelah ia mendapatkan madu premium dan kembali ke Amalthea Halley, ia akan pura-pura membantu Miss Mella dan mengumpulkan orang-orang yang terpercaya. Setelah itu, ia akan membebaskan Alena dari pondok Lilies.


Jantungnya berdegup kencang. Sudah lama sekali sejak ia bertemu saudarinya. Bak pinang yang dibelah dua, mereka adalah sepasang kembar identik yang sangat mirip. Alena memiliki kulit wajah yang lebih mulus dan terlihat manis. Serta bibir mungil yang lembut. Ia selalu iri terhadap kakaknya yang cantik itu.


Ia meluruskan pandangannya. Semua ini demi Alena, ucapnya dalam hati. Ia rela memasuki sarang Ratu peri lebah yang belum tentu aman. Semua ini demi Alena.


***


Semua ini terjadi karena Naomi. Cahaya ungu yang barusan menyelimutiku serasa bagaikan mimpi. Aku tidak yakin jika itu adalah sihir Fae Melody. Membayangkannya saja sudah menakutkan bagiku. Apakah aku benar-benar sudah menjadi Fae Melody? Bagaimana kira-kira reaksi yang akan kudapat dari orang-orang?


Ah, benar juga. Aku memutar kepalaku, lalu memandangi sayapku. Sayap kecil yang terlihat rapuh dan mudah patah. Sayap ini masih tidak berwarna. Tidak ada tanda-tanda warna ungu yang mulai menghiasi sayapku. Bahkan tidak sebercak pun.


Aku mulai meragukan cahaya ungu tadi. Mungkinkah burung-burung tadi mengeluarkan cahaya itu? Namun, hewan Fae tidak bisa menggunakan sihir. Lagipula, cahaya itu jelas-jelas berasal dari dalam tubuhku. Aku tidak mungkin salah lihat.


Aku meninggalkan burung-burung itu yang sepertinya sibuk menatapku, lalu melanjutkan perjalananku. Untungnya terdapat beberapa bunga di pinggir sungai. Meskipun rasanya kurang enak, ini masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.


Aku mulai kelelahan. Meskipun aku sudah menemukan titik terdalam sungai Lakuta dan kemungkinan besar sudah mendekati lokasi gubuk, rasa takut lagi-lagi menghantuiku.


Mataku mulai terasa berat ketika aku melihatnya. Dua pasang mata di balik kegelapan. Mengawasiku diam-diam.


Aku menghentikan langkahku, masih memandangi kedua pasang mata berwarna hijau di balik semak-semak. Keringat mulai membasahi tubuhku. Aku menelan ludah. Nyanyianku tadi pasti sudah mengumumkan keberadaanku secara terang-terangan.


Aku mulai bergerak mundur, ketika tiba-tiba mata itu lenyap, ditelan oleh kegelapan semak-semak. Dan, pepohonan di sekitarku mulai bergoyang.


Aku berlari, tidak tahu dengan persis makhluk apa yang tadi kulihat. Kalau itu Egleans, artinya aku sudah mendekati Kelas Tahanan. Sebagian diriku yang konyol ini sudah menantikan kesempatan ini.


Aku bersembunyi di balik pepohonan. Sambil mengatur napasku, aku mengintip dari celah pohon. Tidak ada tanda-tanda keberadaan makhluk itu. Namun, aku tidak boleh lengah. Bisa saja makhluk itu sedang mencoba untuk memancingku keluar.


Terciptalah keheningan untuk beberapa saat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mau mengambil resiko untuk keluar dari tempat persembunyianku.


Sebuah tangan menarikku dari semak-semak. Aku ingin berteriak, namun tangan satunya lagi mendekap mulutku. "Jangan berisik," bisiknya. Rasa panik mengambil alih pikiranku. Aku mengenal suara ini. Suara rendah milik seorang perempuan. Xiela.


"Bukan berarti aku tidak mengapresiasi nyanyian merdumu. Namun, berkat itulah, kau sudah memancing sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari Egleans," lanjutnya lagi dengan suara kecil. Ketika aku tidak merespons, ia pelan-pelan melepaskan dekapannya.


"Apa itu?" Bisikku. Makhluk yang lebih berbahaya dari Egleans? Apakah salah satu makhluk buas pemangsa Fae?


Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia menarikku semakin dalam ke semak belukar. "Tunggu disini," perintahnya sebelum ia mulai mengepakkan sayapnya. "Aku akan memancingnya menggunakan apiku. Saat kau mulai mendengar suara jeritannya, tutup telingamu. Jangan sampai kau mendengarnya," katanya dengan nada serius. "Kecuali kau ingin berubah menjadi batu."


Aku mungkin sudah mulai berubah menjadi batu saat mendengar penjelasannya. Aku mematung. Makhluk macam apa yang mampu menyihir seseorang menggunakan suaranya?


Aku tak sempat berpikir lebih lanjut saat Xiela mulai menyelipkan dua bola bunga kapas ke lubang telinganya, dan melangkah keluar, jauh dari tempat persembunyian kami.


Ia sengaja mengepakkan sayapnya dengan kencang untuk menarik perhatian. Bola-bola api yang bersinar terang sudah muncul pada kedua telapak tangannya. Di saat itulah aku melihat makhluk mengerikan itu.