Wings & Dust

Wings & Dust
Kabur dari Rumah (Extra-5)



(Kejadian ini berlangsung sebelum Alena dan Lexy kabur dari rumah).


"Kerja yang becus! Kamu ini sudah berumur 17 tahun! Mau sampai kapan terus melakukan kesalahan?!" Teriak Ibu kepadaku. Aku hanya menunduk, dan dengan tangan gemetaran, aku meraih kepingan botol kaca alkohol yang sebelumnya jatuh ke lantai.


"Cepat! Jangan lama-lama!" Ibu menendang kepalaku yang tertunduk begitu saja. Aku meringis kesakitan. Rasanya air mata akan segera tertumpah dan aku tak kuasa lagi menahannya. Maka aku diam saja dan tetap menuruti perkataan Ibu.


Beberapa menit sebelumnya, aku ditugaskan oleh Ibu untuk mengambil botol alkohol favoritnya di gudang bawah tanah. "Yang mana saja, asal enak." Begitu ucapannya sesaat sebelum aku pergi ke bawah untuk mengambil salah satu botol bertuliskan Kohl. Botol itu berwarna hitam transparan, dan cairan di dalamnya samar-samar berwarna merah.


Sebenarnya aku sudah terbiasa melakukan ini. Membantu Ibu mengambil minuman favoritnya dan mengantarkannya. Kadang pula aku yang harus menuangkannya ke dalam gelas kecil dengan takaran yang pas.


Itulah kesalahanku saat ini. Aku lupa bahwa Ibu hanya meminum 6 gelas Kohl. Ini masih tidak banyak. Ibu pernah meminum puluhan gelas alkohol lainnya. Namun aku tak pernah mengomentarinya. Lebih tepatnya, aku tidak diperbolehkan untuk menceramahinya soal kesehatan ginjal dan lain sebagainya. Biar bagaimanapun, aku anaknya dan tidak patut bersikap demikian.


Pandanganku jadi buram dan aku buru-buru mengedipkan mataku, alhasil air mata sudah terlepas dari sudut mataku. Saat aku hendak meraih kepingan kaca yang terakhir, jari tanganku tertusuk oleh tajamnya kaca.


Sontak aku langsung terkesiap dan meniup jari tanganku. Namun Ibu masih memperhatikanku. Wanita tua itu tidak memberikanku jeda. "Aku harus menunggu berapa menit?! Cepat buang semua sampah ini!"


Terpaksa aku menuruti kehendaknya dan membuangnya di tong sampah. Aku menyeka keringat dan mendesah. Ini masih pagi, Alena. Namun kau sudah buat masalah.


Aku hendak membuka pintu kulkas untuk mencari makanan. Perutku memang selalu minta diisi, entah karena makanan seperti nasi dan daging busuk yang selalu kumuntahkan. Semua makanan yang diberikan oleh kedua orangtuaku memang tidak pas untukku. Kata Miss Gray, aku ini Fae - aku membutuhkan serbuk bunga atau madu sebagai makanan seperti serangga kecil dan kupu-kupu. Kedua orangtuaku masih tidak memahaminya.


"Ow!" Aku baru teringat jari tangan kananku terluka. "Sial," umpatku, kemudian terpaksa menutup pintu kulkas dan berjalan ke arah toilet.


Sesampainya di sana, aku membuka kran air di wastafel dan membiarkan air mengalir membasahi jariku yang terluka.


Aku terdiam saat melihat pantulanku di kaca besar. Kedua mata yang berkantung hitam, serta pipi yang tirus dan tubuh yang kecil. Penampilan yang sudah biasa bagi seorang gadis yang tidak pernah diberi makan dengan benar selama 17 tahun.


Bayangkan. Hanya dengan mengandalkan Miss Gray. Wanita itu memang penyelamatku. Tanpanya, aku dan Lexy - saudari kembarku - tidak akan pernah bertahan hidup sampai sekarang karena bernasib sebagai seorang Fae.


"Fae," bisikku. Aku memiliki telinga lancip, serta warna kulit cerah yang sangat berbeda dengan kedua orangtuaku. Rasanya pantulan di kaca ini mencerminkan seorang gadis asing. Gadis aneh, gadis yang bukan seorang manusia.


Tiba-tiba ada rasa sakit yang luar biasa yang kurasakan pada punggungku. Tanganku menekan erat wastafel, sambil mengerang kesakitan. Aku tak pernah merasakan sakit secara dadakan seperti ini. Rasanya seperti kulitku sedang dirobek, dan sesuatu sedang bergerak, menggeliat-geliut, membuka terus pori-pori kulitku.


"Aaa!" Aku masih berteriak, dan hendak meraih daerah punggungku yang terasa sakit saat perasaan itu menghilang. Tiada lagi rasa sakit yang kurasakan, seolah yang tadi itu cuma halusinasiku.


"Apa-apaan maksudnya?" Bisikku kepada diri sendiri. Untuk mengurangi rasa penasaranku, aku segera menanggalkan kain yang membungkus tubuhku, hingga dadaku yang berukuran kecil terlihat oleh kedua mataku sendiri.


Aku berbalik badan dan menatap pantulan cermin. Punggungku yang berwarna pucat, karena tidak pernah terkena sinar matahari. Benar saja. Ada sebuah bekas kemerahan yang memanjang secara vertikal.


***


Lexy sedang bermain bersama Cashew di dalam kamarku saat aku membuka pintu. Adikku bahkan tidak menyadari kehadiranku di ambang pintu. Ia sibuk menggelitik tubuh Cashew dengan bulu angsa yang entah darimana didapatkannya.


Sambil memegangi punggungku yang encok, aku susah payah berjalan ke ranjangku untuk berbaring. Lexy langsung menyadari gerakanku yang tak biasa.


"Ada apa?"


"Gak tahu," kataku. "Tadi punggungku tiba-tiba terasa..."


"Sakit?" Katanya. Ia kemudian melepaskan Cashew dari dekapannya dan menghampiriku.


"Bagaimana kau tahu?"


"Kenapa? Apakah kamu tahu penyebabnya?" Lexy mungkin saja paham jikalau aku terkena suatu macam penyakit.


"Tidak," ia menggeleng-geleng. "Namun aku juga memiliki tanda yang sama." Ia menaikkan bajunya, memperlihatkan punggungnya yang juga tertoreh oleh garis kemerahan.


"Kira-kira apa penyebabnya?" Bisikku kepadanya. Sekarang kami sudah mematikan lampu dan berbaring di atas ranjang yang besar. Malam ini, Lexy lagi-lagi tidur bersamaku.


"Mungkinkah..."


"Sayap?" Bisikku di tengah-tengah keheningan malam. "Mungkin Miss Gray benar. Kita memanglah Fae."


"Mungkin," balas Lexy kepadaku. "Kita harus segera melaporkan hal ini kepada Miss Gray."


Benar saja. Keesokan paginya, saat kami memulai pelajaran dengan Miss Gray, punggungku lagi-lagi merasa keanehan. Kali ini tidak sesakit kemarin. Kalau kemarin pagi seperti dicabik-cabik, sekarang yang terasa hanya rasa nyeri dan kram biasa.


"Alena?" Tanpa sadar aku telah melamun.


"Ya, Miss?"


"Jawaban nomor 15 apa?" Tanyanya lagi sambil memerhatikanku. Kacamata di hidungnya sampai menurun. "Apakah kamu tidak memerhatikanku?"


"Ummm..." Aku melirik Lexy di sampingku, mencoba untuk mendapat bantuan. Namun adikku hanya cengar cengir, tidak mau menolongku sama sekali.


"Huh, baiklah." Miss Gray melipat tangannya. "Kau akan kuberi tugas yang banyak."


"Apa?! Itu tidak adil!" Aku memprotes. Wanita itu hanya tersenyum. "Bagaimana dengan Lexy?"


"Bagaimana dengan Lexy?" Miss Gray menoleh ke arah adikku. "Bagaimana cara kerja nomor 15, Lexy?"


"Oh, itu mudah." Lexy kemudian sudah menjelaskan hasil kerjaannya. Aku hanya memutar bola mata dan menyandar pada kursi.


Saat Miss Gray kembali mengajar di papan tulis, lagi-lagi punggungku merasakan kram. Aku langsung duduk tegak dan meraba punggungku. Keringat dingin mulai membasahi leher serta wajahku. Aku menoleh ke Lexy, yang ternyata juga sedang melihatku. Wajahnya juga berubah menjadi pucat pasi.


"Kalau kita kalikan ini dengan itu, maka dapat hasilnya seperempat dari pertanyaan." Miss Gray masih sibuk menjelaskan tanpa berbalik badan.


"Alena, kurasa kita harus memberitahunya," bisik Lexy dengan suara pelan. Aku mengangguk, masih merasakan nyeri dan tak nyaman pada punggungku. Kali ini rasa sakitnya hampir sebanding dengan yang kurasakan dua hari yang lalu. Perasaan seperti ada sesuatu yang akan tumbuh dan merobek kulitku hingga terbuka.


Aku mengangkat tangan. "Umm, Miss-"


Aku tak dapat melanjutkan ucapanku karena tubuhku sudah terhempas ke lantai. Pandanganku jadi melemah, dan bayang-bayang kegelapan mulai menjalariku. Aku bisa mendengar samar-samar suara teriakan Miss Gray. Tidak, itu bisa saja suara Lexy, karena aku tak dapat mengenalinya.


.


.


.


Selanjutnya akan ada Extra Part terakhir mengenai aksi pelarian Alena dan Lexy :D