Wings & Dust

Wings & Dust
Pelayan Sang Ratu (Extra-4)



(Kejadian ini berlangsung saat Lexy masih bekerja sebagai pelayan pribadi Ratu Peri Lebah).


Lexy terbangun di kamar barunya. Ia dapat melihat sinar matahari yang memasuki jendela dari sudut matanya. Hari sudah siang.


"Sial!" Lexy mengumpat, kemudian buru-buru berganti pakaian dan mempersiapkan diri. Sebagai seorang pelayan di istana Peri Lebah, ia juga wajib mengikuti peraturan yang dikhususkan untuk semua gadis pelayan, salah satunya bangun pagi.


Ia buru-buru menyusuri koridor saat ia berpapasan dengan Bella. Gadis itu lagi-lagi mengenakan gaun yang tak biasanya bagi seorang pelayan. Rok sutranya sampai menjuntai, dan terlihat mengilap di bawah terangnya cahaya lampu.


"Pagi, Lexy," sapanya. Lexy tersenyum dan membungkukkan badan sedikit sebelum kembali berjalan menuju bilik Sang Ratu. Bella mencegatnya.


"Lexy, aku membawa pesan dari Ratu untukmu," katanya seraya memberinya secarik kertas yang berwarna kekuningan. Lexy menatapnya kebingungan. "Untukku? Dari Sang Ratu?"


"Ya," Bella mengangguk. "Apa isinya?" Kenapa Ratu sampai harus menyuruh gadis ini untuk mengantarkan pesan kepadanya?Apakah ada masalah?


"Aku tidak boleh membacanya. Itu surat privasi," balasnya. Ia lalu menoleh ke jam dinding. "Aku harus pergi. Masih ada banyak tugas yang belum kuselesaikan." Dengan begitu, gadis itu berjalan ke arah yang berlawanan.


Kertas yang digenggam Lexy sekarang berbau madu yang menyengat. Bahannya halus, menandakan ini bukan kertas biasa. Kertas ini simpel dan terlipat menjadi dua, di depannya terdapat cap stempel logo matahari, simbol kerajaan Sang Ratu Peri Lebah.


Lexy membukanya dan melihat tulisan yang ditulis dengan tinta hitam. Tulisan Ratu terlihat berantakan dan berkurva, tulisan yang rasanya bukan milik seorang Ratu Sejati. Di dunia manusia, dikatakan kita bisa membaca kepribadian asli seseorang dari bentuk tulisannya. Lexy tidak yakin itu berlaku untuk Ratu yang satu ini. Bagaimanapun, Sang Ratu memiliki hati penolong dan bercitra baik.


Untuk Lexy.


Kalau kamu masuk ke kamarku, bukalah lemari bajuku dan kenakan salah satu gaunku yang menurutmu paling cantik. Rias dan buatlah penampilanmu semenarik mungkin, karena aku ingin membahas mengenai tips kecantikan denganmu.


Salam. Ratumu.


"Huh." Sungguh isi surat yang aneh. "Tips kecantikan?" Gumamnya. Ratu ini benar-benar tergila dengan kecantikannya. Biar bagaimanapun, ia hanyalah seorang pelayan. Mau seberapa aneh permintaan Sang Ratu, ia tetap harus menurutinya. Maka ia menuruti permintaan Sang Ratu dan memasuki kamarnya.


Meskipun ia sudah terbiasa memasuki kamar pribadi Sang Ratu, Lexy tetap terpana dengan ruangan ini. Kalau dipikir-pikir, kamar ini masih jauh lebih luas dibanding ruang tamu rumah lamanya. Yang paling membuatnya kehabisan kata-kata adalah ukiran logo matahari di dinding kamar.


Lemari Sang Ratu. Tentu bukan lemari biasa. Lexy menarik kedua gagang pintu, dan terkesiap saat melihat ini bukanlah lemari kayu biasa di rumah lamanya, melainkan sebuah ruangan kecil yang agak dalam dan bisa memuat ratusan baju serta aksesoris lainnya.


"Ini ruangan," bisiknya kepada diri sendiri. "Aku sedang berada di kamar kecil lainnya," lanjutnya lagi. Ia membiarkan telapak kakinya yang telanjang menginjak karpet bulu abu-abu yang halus. Namun matanya tertuju pada ratusan gaun indah di hadapannya. Sebagian besar berwarna kuning, yang membuatnya berbeda dari yang lain adalah intonasi warna serta model baju tersebut.


"Aku boleh mencoba semua ini?" Tanyanya kepada diri sendiri. Ia membuka surat Ratu lagi, membacanya dengan seksama. Isi surat masih sama dan tidak berubah. Seolah-olah Sang Ratu sedang berkata kepadanya, "Pilih yang mana saja." Setelah itu pasti selalu disusul oleh senyuman manisnya.


Matanya mendarat ke salah satu gaun. Bukan kuning, melainkan putih. Warna biasa yang tidak terlalu norak. Gaun itu memperlihatkan bagian dadanya, sehingga membuatnya terlihat elegan dan seksi secara bersamaan. Lexy melepas gaun itu dari gantungannya, kemudian mengenakannya.


Lexy berjalan menuju kaca yang dipasang dengan jelas di sudut ruangan. Rambut panjangnya yang pirang digerai, menutupi bagian lehernya yang terbuka. Lexy berpikir ingin mengenakan aksesoris, mungkin di bagian kepala atau tangannya ketika pintu ruangan dibuka.


"Lexy." Sang Ratu tersenyum kepadanya. "Ah, Yang Mulia Ratu." Lexy membungkuk, tiba-tiba merasa malu pada diri sendiri. Ini semua milik Sang Ratu. Ingat, Lexy.


"Kau terlihat..." Sang Ratu tidak bisa melepas pandangannya terhadap wajahnya. Lexy tidak berani membalas tatapannya, dan hanya terus membungkuk dan memandangi lantai.


"Kau..." Sang Ratu menggeleng-geleng. Ia tampak menggumamkan sesuatu, namun Lexy tak dapat mendengarnya. Mungkin Sang Ratu menyesal sudah meminjamkan gaunnya. Mungkin ia tak pantas sudah berani menyentuh gaunnya-


"Ikut aku," gumamnya sambil berjalan menuju ranjangnya. Lexy tidak mengatakan apa-apa dan menurut. Sang Ratu tampil cantik seperti biasanya. Rambutnya kini digerai, dan ujung rambutnya berkeriting. Ia tidak mengenakan gaun mahalnya seperti biasa, melainkan satu set setelan yang biasa dikenakan oleh para wanita untuk berburu. Celana panjang ketat dan baju berlengan pendek, memperlihatkan bagian atas lengannya yang putih mulus.


Sang Ratu menyunggingkan senyumannya. "Aku habis berburu. Bagaimana penampilanku?" Katanya seraya memutarkan sedikit kepalanya, bermaksud untuk menunjukkan penampilannya. Namun yang dilihat Lexy hanya batang hidungnya yang kelewat mancung, serta bola matanya yang terlalu besar. Bibirnya terlalu merah, sampai-sampai menyerupai warna darah.


Penampilannya tidak terlihat normal. "Cantik," katanya terpaksa. Ia bukan siapa-siapa, jadi tak berhak menilai penampilan wanita ini. "Menurutmu, aku harus mengenakan warna apa nantinya? Coklat tua seperti batang pohon, atau hitam agar bisa berbaur dengan bayangan?" Sang Ratu selalu bersemangat setiap kali membicarakan soal kecantikannya. Dan Lexy pun harus memberinya jawaban yang memuaskan.


Selama bermenit-menit ia melakukan itu. Keesokan harinya, ia diminta melakukan hal yang sama. Wanita itu pada akhirnya akan membanding-bandingkan kecantikannya dengan Lexy sendiri, meskipun dengan cara halus. Lexy pun harus bersedia mendengar celotehnya yang tidak penting.


Suatu hari, Sang Ratu bertanya kepadanya. Sebuah pertanyaan yang Lexy sendiri tidak yakin dengan jawabannya. "Menurutmu, kenapa aku hanya memiliki pelayan perempuan di istanaku, dan gadis-gadis muda yang cantik, kenapa tidak ada satupun yang berkelamin laki-laki?"


Lexy tidak mengetahui jawabannya. Mungkin agar orang luar melihat betapa indahnya istana miliknya? Lagipula, perempuan cantik itu seperti bunga. Enak dipandang. Mungkin itu jawabannya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan," katanya santai. "Maksudku, mungkin aku tahu apa yang kira-kira kau pikirkan." Sang Ratu menyentuh rambut pirangnya, dan membuat Lexy terperanjat. Untungnya wanita itu hanya menatapnya. Tatapan itu lagi, pikirnya dalam hati. Tatapan tak mengenakan, serta tatapan iri terhadap wajahku.


"Kamu mau tahu kenapa?" Sang Ratu makin mendekatkan wajahnya. Itu membuat Lexy menahan napasnya dan mundur selangkah untuk menjaga jarak. Ia menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan. Ia bisa merasakan senyuman dari wanita itu yang pelan-pelan merayapinya. "Agar aku bisa mengukur standar kecantikanku."


Lexy tidak yakin ia dapat mengerti maksud perkataannya, namun ia hanyalah seorang pelayan. Dan seorang pelayan wajib mengikuti perintah majikannya, kan? Pada akhirnya, saat ia kembali tertidur malam itu, ia tidak lagi memikirkan perkataan Sang Ratu.


"Kamu beruntung, Lexy. Semua orang menyukaimu karena kamu cantik."


.


.


.


Catatan: Agar lebih mudah dipahami pesan yang mau author sampaikan pada episode kali ini, kita diajak untuk menggali sedikit sifat asli Sang Ratu, yakni tergila-gila pada kecantikannya. 😁 Sisanya kalian bisa menyimpulkan sendiri. Byebye dan sampai jumpa di extras berikutnya!! 😄✋