Wings & Dust

Wings & Dust
Pintu Emosi



Jantungku berdetak dengan cepat. Semak-semak di dekatku terus bergoyang. Salju yang menempel di dedaunan kering sampai terjatuh ke tanah. Aku tidak mempunyai senjata apapun, jadi akan sangat berbahaya jika yang kulihat adalah Egleans.


Setelah mengumpulkan keberanian, aku menggunakan kedua tanganku untuk melihat apa yang menyebabkan semak-semak bergoyang. Seekor anjing kecil. Seluruh permukaan bulunya ditutupi oleh salju. Tubuh kecilnya bergetar kedinginan, dan aku langsung mengangkatnya dan memeluknya. "Cashew!"


Anjing itu masih hidup, namun kondisinya sangat kritis. Aku buru-buru berlari kembali ke gua, lalu menyalakan api unggun. Aku menyelimuti tubuh Cashew dengan selimut daun, lalu membaringkannya dekat dengan api unggun.


Anjing itu merintih kesakitan. Aku baru tersadar salah satu kakinya terluka parah karena terpelintir oleh batang kayu kecil.


"Tahan sebentar," bisikku kepadanya. Aku menyentuh batang kayu itu, lalu setelah membuang napas, aku segera menariknya dengan cepat. Dalam sekejap mata, kayu itu sudah terlepas dari kakinya.


Darah mulai bercucuran dari kaki anjing malang itu. Aku tidak memiliki apa-apa untuk mengobatinya, jadi aku mengambil salah satu tanaman kering, lalu mengunyahnya dan menempelkannya pada lukanya. Aku hanya berharap ini dapat menghentikan pendarahannya.


Kini Cashew sudah tertidur dalam pelukanku. Bagaimana caranya ia bisa sampai disini? Terakhir kali aku melihat Cashew adalah saat sebelum aku memasuki pondok Lilies. Ledion membawanya dan tidak mengizinkan aku atau Lexy sekalipun untuk menyentuhnya.


Kini, aku bersandar pada dinding gua. Cashew masih tertidur pulas di pangkuanku, dan aku tidak mau mengganggunya. Aku membuka telapak tanganku. Saat terperangkap di dalam gua selama berhari-hari, aku terus memikirkan darimana asal cahaya yang selalu muncul saat aku berada dalam bahaya. Aku memejamkan mataku dan mencoba untuk mengingat kembali.


Aku mengeluarkan sihir Melody saat aku ingin menyelamatkan Naomi. Kali kedua aku mengeluarkan sihir adalah saat aku ingin membuktikan kepada semua orang bahwa aku bukanlah gadis Egleans. Aku mengeluarkan sihir Ventus setelah memikirkan Lexy waktu itu. Mungkinkah saat aku merasakan emosi yang berbeda, sihir yang muncul pun berbeda?


Aku mencoba mengingat-ngingat kembali. Saat aku dikurung oleh Xiela, aku berhasil membakar gagang pintu. Lalu saat Val mengungkit-ngungkit soal Lexy, aku juga mengeluarkan api. Mungkin sihir Fire baru muncul saat aku merasa marah.


Mungkinkah sihir Melody muncul saat aku merasa khawatir? Lalu Ventus saat aku rindu, sihir Aqua saat aku merasa...cemburu? Apa sih, pikirku dalam hati. Aku tidak yakin tebakanku benar, tapi mungkin itu adalah alasan yang paling masuk akal.


Lalu ada sihir Light. Cahaya kuning yang kukeluarkan saat aku bertekad untuk melawan ganasnya hawa dingin, dan tidak ingin menyerah. Terakhir adalah sihir Blossom. Sihir yang muncul saat Egleans menyerangku. Aku tidak yakin emosi apa yang kumunculkan saat itu. Untuk sementara ini, mungkin rasa takut adalah emosi yang paling tepat untuk melengkapi dugaan sementaraku.


Aku menggunakan jariku untuk menghitung. Dari antara sepuluh macam bakat, aku sudah pernah mengeluarkan semuanya, kecuali sihir Royal, kemampuan membunuh seorang Ripper, dan juga kemampuan menyembuh Healer. Tak lupa keterampilan Cosmos.


Aku merasa lelah. Aku melirik ke luar gua, berharap untuk mendapati Callum. Namun, aku tidak melihat siapa-siapa. Akhirnya aku berbaring di atas tanah, masih sambil memeluk tubuh kecil Cashew. Anjing itu membuatku jadi lebih tenang. Aku memejamkan mataku, berharap bahwa waktu akan cepat berjalan dan Callum bisa kembali kepadaku.


***


Aku terbangun dan mengintip ke luar gua. Matahari sudah hampir terbenam, namun yang kulihat bukanlah Callum. Seorang gadis yang dilumuri darah sedang menghampiriku. Ia berjalan sambil terhuyung-huyung. Aku terkesiap saat melihat sayapnya yang hampir robek. Sayap kecil dan berwarna kuning cerah. Artinya...


Tubuhnya terluka, dan darah mengotori salju. Ia hanya memandangiku dengan kedua bola mata hitamnya, kemudian berbisik, "Tolong aku, Lexy."


***


Seorang manusia. Sang Ratu berubah menjadi seorang manusia. "Bisa jadi waktu itu ia sedang menyamar menjadi seorang gadis," kata Val. Ia lalu pergi meninggalkan ruangan untuk memeriksa keadaan di luar pondok. Mella mendesah. "Aku tidak tahu dengan pasti."


Ruangan menjadi terdiam. Yang terdengar hanyalah suara napas Ella yang berat saat ia tertidur. Tak lama, Lexy membuka suara. "Kalau wanita itu adalah seorang manusia, wajar saja ia bersekongkol dengan para manusia dan membantu mereka menyelundupkan Egleans."


Xiela mengangguk. "Ya. Namun, buat apa dia repot-repot mencari Alena?"


Naomi berkata, "Mungkin dia tertarik pada sayap Alena, sama seperti ia tertarik pada sayap Lexy?"


"Kurasa bukan seperti itu," balas Lexy sambil menggelengkan kepalanya. "Akulah yang mendatangi sang Ratu. Waktu itu aku hanya menerima perintah dari Mella." Lexy lalu menatap wanita itu lekat-lekat. Tidak ada rasa penyesalan yang tergambar pada wajahnya. Mella hanya menaikkan wajahnya. "Pikirkanlah, nak. Kenapa aku tidak mau menemui sang Ratu, dan malah menyuruhmu?"


Sana memotong pembicaraannya. "Mella...jangan bilang kamu bukan teman lamanya, melainkan musuh lamanya?"


Mella menoleh kepadanya. "Ya. Aku telah membongkar rahasia kelam sang Ratu. Untungnya aku tidak dibunuh. Ia malah melakukan suatu kesepakatan denganku. Tujuannya agar aku bisa bebas dan tidak lagi menjadi pelayannya untuk selamanya."


"Dan apa yang harus kau lakukan sebagai gantinya?" Tanya Lexy. Mella menutup matanya karena sudah kelelahan. Ia lalu menjawab, "Aku harus mengirim setidaknya satu Fae untuk dijadikan pelayannya setiap tahunnya."


"Kau gila?!" Naomi berdiri, dan kursi yang semula didudukinya jadi terpental ke belakang. "Kau sudah mengorbankan Lexy!"


"Kurasa tidak," potong Lexy. Ia menatap Mella lekat-lekat. "Hari itu, hari saat aku mengajukan diri untuk mencari Madu Susu untukmu, apakah kau yang merencanakan itu semua?" Lexy teringat dengan suara angin yang berbisik kepadanya. "Semoga sukses." Ternyata dia tidak sedang berhalusinasi. Mella sudah tahu apa yang akan dihadapi Lexy. Wanita itu sudah memercayainya sejak awal.


Mella tersenyum. "Kamu cantik. Ratu pasti akan menyukaimu. Dan berkat kamu, kita jadi memiliki ini." Ia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah botol kaca yang familiar. Isinya adalah sebuah cairan kental berwarna kuning. Botol yang didapatkan Lexy sebagai imbalannya waktu itu.


"Madu Susu," bisik Lilies dan Lotus secara bersamaan. "Mella...kamu sungguh jenius."