
Setelah bermenit-menit bermandikan keringat karena ruangan kecil ini tidak berjendela, akhirnya kami berempat kembali ke ruangan dansa.
Ketua Melody itu pamit, lalu kembali berkumpul bersama Fae lainnya. Saat aku kembali ke tengah-tengah ruangan, suasana menjadi sangat aneh.
Di depan sana, aku bisa melihat banyak pasangan yang sedang menari. Namun, perhatian mereka tidak tertuju pada pasangan mereka masing-masing. Perhatian mereka tertuju pada Callum dan seorang gadis bergaun kuning yang sangat cantik.
Mereka tampak serasi, dan Callum sedang memeluknya sangat erat sambil menciumnya. Hatiku tiba-tiba terasa sakit. Dadaku serasa dicabik-cabik oleh sesuatu, yang bahkan lebih sakit dari cakaran Egleans waktu itu. Callum terlihat sangat mabuk, dilihat dari tubuhnya yang tidak seimbang. Rambut hitamnya sudah teracak, mungkin karena sudah dimainkan oleh gadis itu. Topeng hitam keemasan miliknya sudah terlepas; kini memperlihatkan kedua mata birunya yang sedang memandang gadis itu seperti ia adalah segalanya untuknya.
Aku tidak dapat menahan rasa sakit luar biasa yang kurasakan pada hatiku. Tubuhku tiba-tiba melemas, dan aku harus segera memuntahkan sesuatu. Rasa patah hatiku bahkan mengalahkan rasa penasaranku. Siapa kira-kira gadis cantik itu yang sukses membuat sang pangeran jatuh hati?
Aku memutuskan untuk melihatnya lebih jelas. Aku menggunakan kedua tanganku untuk membuka jalan. Aku tidak peduli jika orang-orang di sekitarku mulai protes dan memarahiku. Lotus yang awalnya sibuk berdansa dengan laki-laki lain sampai meneriakiku. "Hei, hati-hati kalau jalan!" Aku tidak memerdulikannya. Pikiranku terus tertuju pada punggung gadis itu. Punggung yang anehnya tampak familiar, sekaligus asing bagiku.
Warna rambutnya terlihat sedikit...aneh. Awalnya kupikir aku melihat rambut pirang; warna rambut yang sama persis denganku. Namun, saat aku mengedipkan mataku, rambutnya tiba-tiba berwarna coklat.
Dan tiba-tiba saja tampak sepasang sayap berwarna kuning cerah; sayap yang belum pernah kulihat sebelumnya. Warna yang unik untuk seorang Fae.
Callum bahkan tidak menyadari keberadaanku yang sekarang berjarak beberapa langkah saja. Aku ingin berteriak, ingin mencabik-cabik wajah tampannya, namun, apa yang harus kukatakan? Aku tidak menyadari perasaanku sendiri hingga saat ini. Aku tidak menyadari jantungku yang selalu berdebar-debar setiap kali ia tertidur di sampingku. Setiap malam, aku tidak ingin tidur lebih awal karena takut tidak akan menemukannya lagi saat aku terbangun nantinya.
Air mata mulai membasahi pipiku. Aku tidak pantas berpikiran seperti itu. Mungkin aku hanyalah salah satu gadis yang tergila-gila oleh wajah tampannya. Mungkin aku tidak lebih baik dari gadis-gadis yang selalu mengerumuni Callum.
Pandanganku mulai buram. Aku tidak dapat lagi mendengarkan alunan musik pelan yang dimainkan oleh Fae Melody; tidak dapat lagi merasakan tatapan sinis yang terlempar ke arahku. Tidak lagi merasakan amarah atau emosi apa-apa. Aku menggerakkan tubuhku yang sedari tadi mematung, lalu setelah menatapnya untuk yang terakhir kalinya, aku membalikkan badanku, ingin pergi sejauh mungkin dari sini.
Ia sudah mendapatkan dambaan hatinya. Ia sudah bahagia. Lantas, mengapa aku tidak sudi dan bersyukur atas kebahagiaannya?
***
Dunia serasa bergoyang saat Lexy mendengar nama yang diucapkan oleh Callum. Alena.
Nama saudari kembarnya yang telah lama dilihatnya sejak kepergiannya dari Amalthea Halley. Mungkinkah Callum salah paham dan mengira gadis yang sedang berdansa dengannya itu Alena? Lexy menggelengkan kepalanya. Itu tidak mungkin. Wajah ini sekarang adalah wajah sang Ratu.
Lexy mencoba untuk berpikiran positif. Mungkin karena pangeran ini sudah sangat mabuk, penglihatannya jadi memburuk. Ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.
Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berada disini, di dalam dekapan sang pangeran. Sang Ratu tidak pernah mengatakan berapa lama persisnya ia harus menarik perhatian orang-orang menggunakan wajah barunya. Sang Ratu bahkan tak segan-segan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pangeran termuda ini hanya terpikat padanya.
Mata Callum tiba-tiba terbelalak. Lexy tidak yakin apa yang baru saja dilihatnya. Ia ingin menoleh ke belakang dan melihat apa yang sampai menarik perhatiannya, namun itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba Callum melepaskan dekapannya dan mendorongnya.
Lexy terkesiap. Karena rok gaunnya sangat panjang, ia menginjak roknya sendiri dan akhirnya jatuh ke lantai. Ia dapat mendengarkan suara tawaan orang-orang di sekitarnya, terutama para gadis fanatik yang hanya menginginkan kesempatan bersama sang pangeran.
Callum menghampirinya. Namun, bukannya mengulurkan tangan dan meminta maaf karena sudah membuatnya jatuh, ia malah semakin mempermalukannya. "Siapa kamu?!"
Lexy menatap wajah pria itu. Rasanya baru sekarang kesadaran dan kewarasannya kembali. "Aku...Anda mengajakku untuk berdansa tadinya," ucapnya memelas, mencoba untuk menarik simpati darinya. Aku tidak boleh gagal. Aku harus terus merayunya.
"Kamu?!" Callum menginjak rok kuningnya dengan sepatu mahalnya. "Aku tidak pernah...Aarrghh!" Ia menarik-narik rambutnya sendiri. Lexy bisa melihat kekesalan dengan jelas di wajah Callum.
Ia menggertakkan giginya, masih belum tersadar bahwa pandangan semua orang tertuju pada mereka. Seorang Fae Light yang tidak lain adalah Val langsung menghampiri mereka. "Ada apa, Callum? Kenapa kamu terlihat begitu kesal?"
Lexy meremas roknya, lalu menunduk ke lantai. Ia tidak ingin melihat Val. Bukan ini tujuan ia kemari.
"Dia...!" Callum menunjuk ke dirinya. "Singkirkan dia! Lakukan apapun! Aku-"
Tanpa melanjutkan ucapannya lagi, Callum segera berlari ke arah kiri, meninggalkannya seorang diri yang masih terkapar di lantai.
Apa yang baru saja dilihat oleh Callum? Apa yang sampai membuatnya tersadar bahwa yang dilihat di hadapannya itu bukan Alena?
Semua orang yang hadir mengeluarkan suara kecewa. Sebagian besar gadis-gadis yang hadir malah menyalahkan dirinya. "Gadis ini! Apa sih maunya?!" Ia dapat melihat seorang Fae Aqua berambut hitam lebat yang berkacak pinggang. Rok pada gaun birunya bagaikan air terjun. "Dasar, penghancur suasana!" Teriak yang lainnya.
Lexy segera bangkit dari lantai. Apa yang telah ia lakukan? Apa yang membuatnya terhanyut pada suasana sampai ia tidak menyadari kesalahannya? Kini, semua orang dapat melihat dengan jelas siapa wanita yang berdansa dengan Callum. Sang Ratu Peri Lebah yang sudah dicampakkan oleh sang pangeran.
Ini gawat, pikirnya dalam hati. Sang Ratu pasti akan membunuhnya. Ia sudah mengacaukan rencana sang Ratu. Ia sudah menghancurkan derajat serta harga dirinya.
"Mau kemana kamu?!" Tiba-tiba saja pengawal Ripper menahan kedua tangannya. Lexy sudah sangat terkejut sampai tidak menyadari tatapan Val yang menatap langsung wajahnya. Lexy segera menunduk, sebisa mungkin ingin menyembunyikan wajah sang Ratu yang sedang dikenakannya. Atau mungkin ia tidak ingin melihat tatapan Fae itu. Fae yang sudah menyiksanya selama berhari-hari.
"Bawa sang Ratu kembali ke Alther Suavis." Lexy dapat mendengar perintah dari Val kepada para pengawal. Dua Ripper yang menahannya hanya menunduk tanda hormat, lalu segera membawanya keluar ruangan.
Dengan gaun yang tersobek dan rambut yang acak-acakan, Lexy dibawa keluar dari ruangan dansa. Ia melirik jam bandul besar yang berdiri di samping pintu ruangan. Pukul 12 malam pas.
Lexy bisa merasakan wajahnya yang mulai berkedut-kedut. Seperti cubitan seseorang, wajahnya mulai tertarik dan sensasi aneh mulai muncul lagi; perasaan yang sama sesudah ia meminum Madu Susu. Akar rambutnya pun serasa menggelitik pada kepalanya. Ia juga dapat merasakan dadanya yang tumbuh membesar.
Gawat, pikirnya panik. Efek ramuan mulai memudar.
Lexy mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin menunjukkan penampilan barunya disini. Terlalu cepat. Ini terlalu cepat.
"Pelan-pelan, Yang Mulia Ratu." Kata pengawal yang menahan tangan kirinya. "Jangan terlalu terburu-buru."
Lexy mencoba menahan kepanikan yang mulai muncul dari dalam dirinya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mulai memperbaiki postur tubuh dan cara jalannya.
Dimana Ratu? Pikirnya panik. Ia harus segera menemui sang Ratu, lalu menjelaskan segala hal kepadanya. Ia sudah tidak lagi memegang kendali atas perhatian semua orang. Entah apa rencana sang Ratu di dalam istana ini, Lexy tahu ia harus mengeluarkan sang Ratu dari istana secepat mungkin.
"Wou, berhenti sebentar." Kata sebuah suara. Dari sudut matanya, ia bisa melihat gaun Fae itu meskipun kepalanya tertunduk. Rok gaunnya berwarna merah, yang artinya ia adalah-
"Xiela benar." Ucap Fae lainnya lagi yang berdiri di sampingnya. Rok gaunnya berwarna ungu. Fae itu menggunakan sebuah tongkat untuk menopang tubuhnya sendiri. "Lepaskan dia. Dia milik kami."
***
Seumur hidupnya, Callum tidak pernah merasakan kepedihan hati yang luar biasa hanya karena seorang gadis. Sudah berkali-kali ia meniduri banyak gadis ataupun wanita, sudah sangat kenal dengan bentuk tubuh mereka; pinggul yang ramping, dan bagaimana mereka menjadi mainannya setiap malam. Tentu saja tak satupun yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk waktu yang lama.
Semuanya sama saja, pikirnya dalam hati. Mereka hanya terpaku pada penampilan serta wajahnya yang rupawan. Callum tidak pernah kesulitan mendapat perhatian dari para gadis. Cukup dengan senyuman, mereka sudah rela melakukan apa saja dan menuruti perkataannya.
Ia terus memikirkan Alena saat ia berdansa dengannya. Ia tidak pernah melihat seseorang yang begitu cantik dan...berbeda. Saat gadis kecil itu menuruni tangga besar, perhatian semua orang langsung tertuju padanya, termasuk dirinya. Gaun pelangi yang dikenakannya sangat pas dan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang menggoda. Hatinya langsung berdebar-debar untuk setiap langkah yang diambil olehnya. Rasanya ia ingin memeluknya dan menciumnya. Ia ingin segera mengakhiri pesta ultahnya ini dan berduaan saja dengannya.
Sekarang, ia melihat gadis itu lagi. Mata sembapnya yang menatapnya dengan sedih, lalu punggungnya yang membelakangi dirinya. Otaknya tiba-tiba menjadi jernih. Ia ingat bagaimana gaun pelanginya berkibar-kibar saat ia berlari menjauhinya. Ia lalu teringat dengan gadis yang sedang berada dalam dekapannya. Siapapun gadis cantik ini, ia sudah salah paham dan mengira ia mengajaknya untuk berdansa.
Perasaan bersalah dan malu melandanya, disusul oleh amarah luar biasa saat ia memandangi gadis yang terkapar di lantai. Karena tak tahan, ia menginjak-nginjak rok kuning itu. Ia tidak memerdulikan tatapan para gadis yang mulai menganggap dirinya gila.
Ia memang sudah gila. Ia tahu hal itu. Seharusnya ia tidak meminum minuman yang disuguhkan oleh seorang pelayan yang tiba-tiba saja menghampirinya sebelumnya.
Ia tidak ingin mengingat apa-apa lagi. Ia tidak ingat bagaimana tenggorokannya sudah memaksanya untuk berteriak dan membentak gadis itu. Setelah Val menghampirinya, ia langsung berlari meninggalkan ruangan dansa.
Ia harus mencari Alena. Gadis yang selama ini muncul di mimpinya. Alena yang selalu menghantui pikirannya, bahkan di saat ia bertugas dalam pencarian Egleans. Yang terlintas di pikirannya selalu Alena, gadis cantik yang selalu berada di sisinya, bahkan di saat ia hampir putus asa malam itu.
Ia ingat semuanya. Malam itu, saat langit menunjukkan bintang-bintangnya yang gemerlapan, gadis itu satu-satunya orang yang menghampirinya dan berhasil menenangkannya. Padahal ia sudah sangat putus asa karena gedung Faedemy waktu itu sudah terbakar tak bersisa.
Dimana kamu, Alena? Ia terus berlari di lorong istananya yang luas. Lorong yang selama ini sudah familiar. Ia ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Ia tidak ingin kehilangan dirinya.
Maafkan aku, Alena. Kembalilah padaku.