Wings & Dust

Wings & Dust
Kelas Melody



"Aku berhasil terbang!" Aku berteriak, sengaja berbohong agar Ledion dapat menaruh perhatiannya padaku. Namun, aku gagal. Pikiran pria itu sudah jelas-jelas sedang melayang. Aku lagi-lagi berada di atas pilar, bedanya kali ini aku tidak diperhatikan. Wajah pelatihku itu sedang murung, suasana hatinya sedang buruk.


Aku menyerah, lalu mengambil ancang-ancang dan melompati pilar, menghampiri Ledion yang sedang berdiri mematung di bawah sana. Aku mengabaikan rasa pegal pada tubuhku.


"Hei!" Aku melambaikan tanganku tepat di depan wajahnya. Sontak, ia terkejut dan langsung memasang kembali raut wajahnya yang serius. Ia memandangku dengan tatapannya yang sedingin es. Setelah berdeham, ia membalas, "Ada apa?"


"Ada apa?" Aku berkacak pinggang. "Harusnya aku yang bertanya itu padamu. Kau bahkan tidak bereaksi saat sayapku berhasil menerbangkanku."


"Kau sudah bisa terbang?" Ia menatapku tak percaya. Aku harus menyembunyikan senyum yang mulai muncul di wajahku. Pria ini mudah sekali dibohongi. "Jadi, apa pekerjaanmu sebagai Kapten sangat berat?" Aku sengaja mengubah topik. Mungkin sebagian kecil diriku ingin dia menebak-nebak kemampuanku menggunakan sayapku.


"Bukan urusanmu." Lagi-lagi, jawaban yang sama sekali tidak memuaskan. "Selama tiga hari ke depan, akan kuberikanmu hari libur. Akan kusampaikan ini pada Miss Farloe," lanjutnya lagi. Ia lalu terbang meninggalkanku.


Aku menutup mulutku, berusaha untuk menahan diriku sendiri agar tidak tertawa. Namun, usahaku nihil. Suara tawaku terlepas dari tenggorokanku, lalu memantul dinding-dinding ruangan, menciptakan gema yang keras di telingaku.


"Wah, kalau suara tawamu indah seperti ini, mungkin kau adalah calon Fae Melody." Aku langsung menutup mulutku, lalu menoleh ke arah pintu. Aku tidak menyadari seorang gadis bersayap ungu yang menunggu di depan pintu. Rambut hitamnya berkibar-kibar akibat angin yang masuk melalui jendela ruangan yang sedang terbuka. Ia sangat mungil dan terlihat imut. Kedua bola matanya besar, sekilas ia mirip dengan boneka.


"Oh, aku gak tahu ada orang lain disini," balasku kaku. Aku segera menghampirinya, langkah kakiku sudah pelan. Aku takut akan membuatnya bergerak mundur atau melakukan apa pun agar bisa menghindariku. Namun, Fae Melody itu tidak bergerak. Ia tidak takut kepada si gadis Egleans. Ia malah tersenyum dan menyapaku. "Aku Naomi. Kamu?"


Aku belum pernah mengobrol langsung dengan Fae lainnya yang seusia denganku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku lalu teringat dengan Lexy, adik kembarku yang sudah lama terpisah dariku. Dadaku langsung sesak. Jika Lexy ada di sini, ia pasti sudah tahu apa yang harus dikatakan.


Aku menatap gadis imut itu. Jika ia tidak mengetahui namaku, besar kemungkinannya ia belum tahu rumor yang beredar.


"Alena Sherman." Si gadis Egleans, lanjutku dalam hati. Ia tersenyum. "Mau ikut aku sebentar?" Belum sempat mendengar balasan dariku, ia sudah berjalan menyusuri lorong. Mau tak mau, aku membuntutinya.


Ternyata ia membawaku ke Kelas Melody. Aku bisa melihat para siswa yang sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah. Suara mereka sangat merdu. Masing-masing Fae menyanyikan bagian mereka, dan terciptalah suatu melodi yang harmonis. Suara mereka yang dipadukan sangat lembut dan seketika aku bisa merasakan ketenangan yang menyelimutiku.


Mereka berhenti menyanyi saat melihatku. Aku tahu mereka tidak akan berteriak, karena sebagian besar Fae Melody memiliki sifat yang kalem dan tenang. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun saat aku praktis berada di dekat mereka.


"Ada apa ini?" Fae wanita yang sebelumnya memimpin paduan suara itu langsung menghampiri kami. "Naomi, siapakah ini? Apakah dia murid baru untuk Kelas Melody?"


"Ah," imbuh Naomi dengan tenang. "Alena Sherman. Calon Fae Melody."


Terdengar suara protes dari sekelompok Fae Melody itu. Mereka jelas-jelas tidak menyukai ide tersebut. Ada yang menggeleng kepalanya, ada juga yang melototkan matanya kepadaku.


Salah satu Fae Melody bertanya. "Bukannya sayapnya cacat? Belum ada tanda-tanda bahwa dia adalah seorang Fae Melody." Aku bisa mendengar beberapa diantaranya setuju dengan perkataannya. Dalam hati, aku pun setuju dengannya.


"Setiap Fae mempunyai haknya masing-masing untuk mengikuti tiap golongan kelas. Bukankah kita juga demikian? Jauh sebelum kita mendapatkan warna pada sayap kita, kita mencari dan mengembangkan bakat kita dengan susah payah," balas Naomi dengan percaya diri. Aku bisa melihat beberapa diantara mereka yang mulai menciut. Perkataan Naomi barusan berhasil menambah kepercayaan diriku.


"Tapi gadis itu belum bisa terbang! Bagaimana caranya untuk mempelajari sihir kami?!" Teriak seorang gadis berambut putih keperakan. Raut wajahnya seakan-akan ingin menantangku. "Sebelum ia lulus dari Kelas Awal, jangan ijinkan gadis itu untuk berlatih bersama kami."


Volume suara mereka mulai meningkat. Banyak sekali yang setuju bahwa aku tidak sudi mengikuti Kelas Melody. Ada pula yang mengunci mulut mereka, mungkin takut aku akan menerkam mereka jika berani menjatuhkanku.


"Diam!" Pelatih itu mengangkat tangan kanannya yang dikepal. Bagaikan sihir, ruangan menjadi hening. Yang terdengar sekarang hanyalah suara tetesan air di balik jendela.


"Beri aku kesempatan." Semua mata memandangku. Aku tidak percaya bahwa aku barusan mengatakan hal itu. "Aku ingin membuktikan diriku sendiri bahwa aku bukan Egleans, makhluk tak suci ciptaan manusia," lanjutku lagi dengan mantap. Naomi sampai menoleh ke arahku. Meskipun julukan 'Si Gadis Egleans' masih menggema dalam pikiranku, aku tetap ingin melakukan hal ini. Aku ingin mencari tahu, siapa aku sebenarnya.


Para Fae itu tidak bereaksi. Mereka tidak mengeluarkan pendapat mereka. Aku pikir ini adalah kesempatanku, jadi aku terus maju. "Jika kemampuanku tidak meningkat dalam kurun waktu seminggu, aku akan mengundurkan diri dari kelas ini."


Gadis Fae yang tadi sempat menantangku, mendengus dan membalas perkataanku. "Bagaimana caranya kami tahu bahwa kau tidak akan membahayakan kami dan mencoba untuk merobek sayap kami?"


Naomi hendak menyangkalnya, namun aku mengambil satu langkah dan membuka mulutku. "Jika aku sampai melakukan itu, aku akan mengundurkan diri dari Faedemy."


Aku bisa mendengar sebagian yang mendesah, merasa lega atas pernyataanku itu. Sang pelatih langsung menghampiriku. "Baiklah. Mulai sekarang, kau adalah salah satu murid di Kelas Melody. Selamat datang, Alena."


Selamat datang. Beberapa Fae menyambutku. Rasanya seperti melihat bunglon yang berkamuflase. Ekspresi sinis sebelumnya langsung tergantikan oleh senyuman dan kata sambutan. Aku tidak terlalu memerdulikannya. Aku hanya membungkuk dan tersenyum seadanya. Tak lama pelatih itu membubarkan mereka. Ia menyuruhku untuk mengikutinya.


"Semoga sukses," kata Naomi sesudah ia menepuk pelan pundakku. "Aku akan menunggumu di luar." Lalu, ia mengepakkan sayap ungunya dan pergi meninggalkan ruangan.


Pelatih itu bernama Miss Solla. Ia memberikanku seragam resmi Melody; jubah berwarna ungu tua yang dilengkapi dengan pola sayap capung - lambang sekolah ini.


Aku mematahkan senar biola yang sedang ku mainkan. Aku hanya pernah memegang benda itu sekali. Miss Gray sempat memainkannya untukku karena aku rewel dan terus menangis. Miss Solla hanya menggelengkan kepalanya.


Berjam-jam aku mencoba memainkan segala macam alat musik; piano, seruling bambu, tamborin, dan akhirnya alat musik tradisional para Fae yaitu Bonzaka. Alat musik itu terbuat dari bahan batu yang sudah lapuk dan ditempa oleh serbuk sayap Fae Melody sehingga menghasilkan suara indah sekaligus keras. Aku hanya perlu memukulnya dengan tongkat.


Ketika akhirnya aku menyelesaikan tes pertamaku, aku keluar ruangan dan mendapati Naomi yang sedang sibuk berbincang dengan seorang gadis berambut merah. Fae Fire, pikirku dalam hati. Aku harus memfokuskan pandanganku karena rambut pendeknya sekilas membuatnya terlihat seperti seorang laki-laki.


Aku menghampiri mereka, sambil melambaikan tanganku. Mereka menghentikan percakapan mereka dan menatapku. Awalnya, mereka menatapku sinis, namun dalam sekejap mata, ekspresi Naomi sudah berubah. Ia menggaet lengannya dengan lenganku.


"Oh, Alena! Perkenalkan, ini temanku. Xiela," katanya seraya memperkenalkan gadis yang berada di hadapanku ini. "Dan Xiela, ini Alena. Calon Fae Melody."


Aku hendak menyalami tangannya, ketika lagi-lagi aku tersadar gesturku yang pastinya terlihat aneh dan konyol. Selang beberapa detik, kami hanya saling bertukar pandang. Tanganku mulai gemetaran. Aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya. Fae Fire ini mempunyai tubuh yang tinggi, seperti seorang model saja. Penampilannya sangat keren dan itu membuatku merinding.


Untungnya suasana canggung ini dipecahkan oleh suara milik Naomi. "Ayo, kita pergi ke Taman Bunga Poppy!" Ia lalu mendorong tubuhku dan menarikku ke luar gerbang sekolah. Aku mengikutinya, tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Taman Bunga Poppy terletak di area halaman sekolah yang luas. Sebagian besar bunganya berwarna merah. Kami langsung berteduh di bawah pohon besar yang rindang. Sinar terik matahari hampir membutakan mataku. Aku bisa mencium aroma bunga dari sini, berkat penciumanku yang tajam.


"Jadi, Alena, bagaimana ujian pertamamu?" Tanya Naomi kepadaku. Aku menggeleng lemah. "Buruk, tentu saja."


Suasana langsung berubah menjadi hening. Aku memaksakan diriku untuk terus berbicara. "Sebenarnya, aku tidak tahu kenapa kamu merekomendasiku untuk mengikuti Kelas Melody," kataku lagi. Naomi tersenyum. Itu membuat wajahnya jauh lebih imut. Poni rambutnya beterbangan. Ia benar-benar terlihat seperti boneka. "Kamu punya potensi. Aku cuma... aku bisa menebaknya saja."


"Menebaknya? Dari mana?" Aku mengangkat sebelah alisku. "Aku bahkan belum lulus Kelas Awal. Aku tidak yakin bisa mengikuti kelasmu."


"Oh, bersemangatlah! Dan jangan terlalu rendah diri! Lama kelamaan kamu juga terbiasa," balasnya tenang. "Dan jangan pedulikan mereka. Mereka hanya iri kepadamu," lanjutnya lagi.


Aku menatap ke sekeliling. Sesuai dugaanku, Fae yang juga sedang mengunjungi taman ini langsung melempar pandangan ke arahku. Mereka masih tidak menyukaiku, meskipun aku tidak pernah memakan sayap mereka. Sekelompok Fae Blossom buru-buru terbang meninggalkan taman.


"Sudahkah kamu bertemu Callum?" Tanya Naomi tiba-tiba. Aku agak terkejut mendengar ucapannya. Ia langsung menyebut nama sang pangeran, alih-alih menyebut gelarnya terlebih dahulu. "Sudah," jawabku singkat.


Xiela yang sedari tadi membisu, langsung angkat bicara begitu mendengar nama sang pangeran. Suaranya terdengar rendah dan sama sekali tidak feminin. "Ngomong-ngomong soal Callum, ia ingin menemuimu setelah ini."


Aku berusaha menahan diri untuk tidak memasang ekspresi terkejut. Lagi-lagi, sang pangeran tidak dapat diprediksi. "Buat apa?"


"Tidak tahu. Sang pangeran yang mulia ini memang selalu merepotkan," lanjut Xiela lagi dengan nada mengejek. Ia lalu bangkit berdiri. "Turuti saja kemauan Callum," katanya sebelum ia terbang meninggalkan kami.


Aku langsung memahami bahwa dua gadis Fae ini pasti teman dekat sang pangeran, sampai bisa membawa pesan darinya. Naomi hanya mengangkat bahu, lalu mengajakku masuk kembali ke gedung sekolah.


***


Alther Suavis. Kota hantu dengan suasana yang mencekam. Setelah menempuh jarak bermil-mil yang rasanya seperti selamanya, Lexy akhirnya menapakkan kaki disini. Persis seperti yang dikatakan dalam buku pelajarannya mengenai kota reruntuhan ini. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Fae lain. Tidak ada satupun yang berani berkemah disini. Datang ke sini sama saja dengan menguji nyali.


Lexy melangkahkah kakinya, terus berjalan memasuki kota hantu ini. Perutnya sudah keroncongan. Persediaan makanannya sudah menipis, dan ia harus segera menyelesaikan misinya agar bisa memutar arah dan mengemis makanan di Duncart.


Sarang Ratu peri lebah terletak di atas suatu dahan pohon. Biasanya, para manusia yang sempat singgah disini akan mencoba untuk memanjat pohon itu. Pohon Oak. Pohon dengan batangnya yang sangat besar, sehingga menyulitkan siapa saja untuk memanjat dan mencapai kediaman sang Ratu.


Lexy hanya perlu menunjukkan sebuah batang nama, lalu ia akan meraih kedua telapak tangannya dan mengambil madu sang Ratu.


Ia mengeluarkan suara tawa yang kecil. Misi yang sudah lama dilupakan ini, tiba-tiba dijalani lagi olehnya. Miss Mella pasti akan menepuk pundaknya, lalu menyampaikan betapa bersyukurnya ia sudah menyuruh seorang gadis miskin untuk membantunya mengambil madu premium.


Lexy melewati gedung-gedung tak berpenghuni. Meskipun matahari masih menunjukkan wajahnya, kota ini tetap terlihat menakutkan. Ia mempercepat langkahnya, sekalian untuk menghemat waktu.


Ia akhirnya bisa melihat Pohon Oak itu. Batangnya yang berwarna keemasan membuat dirinya terasa kecil. Ia tidak pernah melihat dedaunan berwarna kuning keemasan yang tumbuh menghiasi batang itu. Ini pasti bukan pohon biasa, pikirnya. Ia mencurigai Fae Blossom yang sudah merombak penampilan pohon ini secara total.


Lexy merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah botol berisikan serbuk berwarna abu. Serbuk sayap Fae Ventus. Ia membuka tutup botol itu. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia mulai menaburkan bubuk itu di atas kepalanya, dan melempar botol yang sudah kosong itu.


Lexy memejamkan matanya. Ia bisa merasakan tubuhnya yang mulai berbaur dengan angin. Saat ia membuka mata dan mulai menggerakkan kedua lengannya bak sepasang sayap, ia bisa melihat kakinya yang sudah melayang di udara.