Wings & Dust

Wings & Dust
Kelas Tahanan



Kamar sang pangeran bukanlah kamar biasa. Bilik toiletnya pun berkali-kali lipat lebih luas dibanding kamarku sendiri. Ranjangnya berkanopi, dan mungkin ukurannya bisa memuat beberapa Fae. Ada tempat perapian kecil, serta sofa dan karpet halus yang cocok untuk orang-orang yang ingin meminum teh sambil berbincang-bincang. Ini adalah kamar impian semua orang.


Sang pangeran dengan tenangnya duduk bersandar di sofa. Rambut hitamnya memantulkan cahaya dari perapian. Tangannya sedang memegang sebuah buku tebal. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini, prajurit atau pengawal yang mungkin bertugas untuk melindungi sang pangeran dari si gadis Egleans. Aku jadi penasaran akankah Fae Ripper mendobrak pintu kamar jika aku menyerangnya.


Tanpa menoleh untuk melihat kearahku, ia menyapaku."Silahkan duduk, Alena," ajaknya.


Aku menghampiri sofa yang terletak di samping kirinya. Dengan gugup, aku membungkuk, lalu sambil menghindari tatapan matanya, aku duduk di sofa. Kira-kira apa yang ingin disampaikan oleh seorang pangeran?


Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia menjentakkan jarinya yang panjang, lalu seketika sebuah teko yang mendidih dan cangkir-cangkir kecil muncul di atas meja. Ia segera menuangkan air ke dalam cangkir, barangkali teh bunga.


Sambil tersenyum dan menatapku, ia berkata, "Jangan diam saja, silahkan diminum tehnya." Ia lalu menyingkirkan buku yang sedari tadi berada dalam pangkuannya, dan melipat sebelah kakinya ke atas sofa. Gayanya terlihat seperti kebanyakan Fae muda, bedanya ia memiliki sayap emas yang menandakan dirinya adalah seorang bangsawan. Ia meletakkan lengan kirinya di atas sofa, sambil sesekali menggerakkannya dengan santai.


Entah kenapa aku tidak ingin meminum teh itu.


"Tidak ada racun di dalamnya," katanya seraya melirikku di balik cangkir teh yang sedang diminumnya. Mata birunya seolah-olah memancarkan cahaya yang lembut. "Kau kelihatan tegang."


Aku menelengkan kepalaku. Tentu saja! Siapa yang tidak tegang jika harus dipanggil ke ruangan sang pangeran?!


Ia tiba-tiba tertawa. Aku tidak tahu jika kelakukannya itu disengaja, namun sepertinya ia lupa bahwa ia tengah meminum air teh dan belum menelannya. Ia langsung terbatuk-batuk dan memukul-mukul dadanya. Air teh tersembur dari mulutnya.


"Pelan-pelan," gumamku. Aku mau tak mau meraih teko yang berada di meja, lalu menuangkannya untukku sendiri. Aku gak ingin membuang-buang waktu hanya untuk mendengarnya menertawakanku. "Jadi, kenapa sang pangeran ingin menemuiku?"


Ketika ia sudah tidak lagi menyemburkan air dan menstabilkan pernapasannya, ia membuang napas. "Itu nanti saja. Sekarang mari kita bersantai dan duduk mengobrol."


"Sedang butuh teman?" Ejekku, lalu melipat tanganku. "Dengar, yang mulia yang berbaik hati. Aku masih ada Kelas Awal, belum lagi Kelas Melody yang harus kujalani. Jika Anda ingin membutuhkan seorang teman, kusarankan agar-"


"Kau mengikuti Kelas Melody?!" Potongnya setengah berteriak. Ia menegakkan tubuhnya, setelah itu menatap mataku lekat-lekat. "Untuk sekedar terbang aja kau masih belum mampu. Belum lagi rumor yang pastinya akan membuatmu kesusahan. Dan oh," Dia menggelengkan kepalanya, "Kapten Ripper itu sedang banyak pikiran. Ia pasti akan mengomelimu karena sudah terlalu banyak membolos."


Semua ucapan dia bagaikan batu yang menghantam wajahku. Semua fakta menyakitkan yang dilontarkan langsung di hadapanku. Batu itu berhasil menimpuk wajahku, dan luka yang dihasilkan tidak akan menghilang. Luka itu akan berbekas untuk selamanya. Aku meremas kain sofa dengan kencang, berusaha untuk menyalurkan emosiku.


"Tapi jangan khawatir," lanjutnya lagi. "Karena aku akan membantumu untuk mendapatkan bakatmu."


"Bagaimana caranya?"


"Oh, mudah sekali. Tinggal mengikuti kelas tambahan dan melarutkan dirimu dalam buku-buku tebal yang pastinya akan meledakkan otakmu. Menjadi murid yang ambisius dan selalu ingin tahu. Niscaya kepintaranmu akan meningkat."


Rasanya aku ingin merobek sayapnya dan menunjukkannya bahwa aku adalah si gadis Egleans, makhluk yang siap menerkam Fae kapan saja. Aku mungkin saja sudah siap menerkamnya sekarang. Aku mengumpat dalam hati. Nasehatnya sama sekali tidak berguna untukku.


"Ayolah, jangan memasang wajah yang seperti itu," candanya. "Dan jangan mempertanyakan kebaikan yang sedang kutawarkan. Kau hanya perlu membayarnya dengan satu kecupan di pipi," katanya sambil menggodaku.


Wajahku memanas. Ia pasti bisa melihat dengan jelas pipiku yang merona. "Biasanya gadis-gadis akan memperebutkan kesempatan ini."


"Sudah cukup," kilahku. "Aku bisa meningkatkan keterampilanku sendiri tanpa bantuanmu. Kurasa sampai disini pertemuan kita." Aku bangkit berdiri, membungkukkan kepala sedikit, lalu melangkahkan kakiku menuju pintu. Namun saat aku hendak meraih gagang pintu, ia tiba-tiba muncul di hadapanku. Kepalaku sampai menabrak dadanya yang bidang.


"Apa-apaan?!"


"Datanglah ke pesta ulang tahunku," pintanya. "Minggu ini."


Aku mengerutkan alisku. "Oke," jawabku singkat. Namun ia tetap menahanku. "Kalau kau sampai tidak hadir," imbuhnya, "akan kupaksa kau untuk berburu Egleans dengan Ledion."


Aku menatap wajahnya yang mulai berubah menjadi serius. Dia tidak perlu sampai mengancamku segala. Aku memang tidak keberatan untuk hadir pada acara seperti itu. Seumur hidupku, aku tidak pernah mengikuti pesta yang dihadiri oleh ribuan orang. Bayanganku satu-satunya tentang pesta ialah suatu tempat yang luas dan berwarna-warni meriah, dimana masing-masing orang memegang segelas cairan yang dapat memabukkan mereka. Ibuku sering sekali menghadiri pesta, dan ia selalu pulang dalam keadaan mabuk-mabukkan, kadang ditemani oleh pria-pria tua berjanggut yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Yang membuatku untuk berpikir sejenak ialah perkataannya soal Ledion. Aku tahu Kapten itu sedang banyak pikiran, namun ia tidak pernah menceritakan kepadaku hal apa yang sampai membuatnya stres. Berburu Egleans, tebakku dalam hati. Mungkinkah hal itu dapat menyusahkannya?


"Ledion." Nama itu keluar dari mulutku sebelum aku menyadarinya. "Apa ada sesuatu yang sedang terjadi padanya?"


"Ledion?!" Semburnya. Ia menyengir. "Yaahh, menjadi seorang Kapten memang selalu menyusahkan. Kenapa kau bertanya?"


"Oh, bukan apa-apa," aku buru-buru menjawab, sambil menggelengkan kepalaku. "Aku harus segera pergi. Kelasku sebentar lagi dimulai," tukasku sebelum melangkah keluar ruangan. Aku melihat reaksinya sekilas. Ia tampak mencurigaiku.


***


Hari-hariku terasa lebih berat semenjak aku mengikuti Kelas Melody. Ledion semakin banyak memberiku waktu istirahat ataupun hari libur. Meski begitu, Kelas Melody ternyata berkali-kali lipat lebih memusingkan. Aku pun lebih menghabiskan waktu menyendiri daripada mencoba untuk bergaul dengan Fae Melody lainnya. Saat mereka tengah mempelajari sihir dan teknik untuk memanipulasi musuh menggunakan suara indah mereka, aku dipaksa untuk membaca buku tentang teori Melody, serta meningkatkan kemampuan bernyanyiku.


Suaraku sampai serak dan perutku sampai kembung karena meminum terlalu banyak air. Naomi sudah memberikanku teh hangat untuk menyegarkan tenggorokanku. Ia terus menenangkanku, menjelaskan bahwa suaraku pasti akan membaik.


Aku belum menemui dan berbicara lagi dengan Sana sejak suasana hatiku memburuk waktu itu. Saat aku berpapasan dengannya di lorong, aku langsung menghindari tatapannya. Sebenarnya rasa kesalku sudah memudar, namun rasa canggung dan harga diri lah yang membatasi komunikasi kami.


Dan Fae Ripper itu. Ia menyerahkanku kepada Miss Farloe begitu saja. Aku sudah mencoba segala hal. Membujuknya sampai ia mau menceritakan beban pekerjaannya. Tapi Fae dingin itu tidak akan merubah pikirannya. Ia membuatku semakin malas belajar. Kemampuan sayapku tidak akan meningkat jika pelatihku saja sudah tidak memerdulikanku.


"Oke, cukup sudah," kataku dengan geram. "Aku sudah muak dengan sikapmu," lanjutku lagi. Urat kesabaranku sudah putus dan aku sama sekali tidak peduli jika Ledion memenggal kepalaku karena sudah bersikap tidak sopan.


"Muak? Miss Alena," balasnya dengan murka. "Katakanlah, apa alasanmu sampai membenci pelajaran ini?"


"Aku tidak membenci pelajaran ini. Aku membenci pelatihnya," aku mengaku terang-terangan. "Kalau kau masih tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku, aku akan mengundurkan diri dari Kelas Awal."


"Kamu tidak bisa bersikap seenaknya seperti itu," balasnya lagi sambil melototiku. "Tentu bisa. Aku bisa melakukan apapun kehendakku." Aku melangkah mendekatinya, lalu mulai mengepakkan sayapku dengan kencang. Sayapku menciptakan angin yang langsung menghantam wajahnya.


"Apa-apaan ini?!" Ledion langsung meraih pedangnya, dan mengarahkannya padaku. Aku hanya tersenyum puas. "Jangan coba-coba menyerangku."


"Oh ya?" Tantangku. Aku berjalan mundur, lalu memijakkan kakiku pada sebuah tanjakan. Lalu, dengan sekuat tenaga, aku mengepakkan sayapku dan menerjangnya. Ledion langsung mengarahkan pedangnya padaku. Anehnya, aku tidak takut. Aku tahu apa yang sedang kulakukan. Jika aku ingin meraih sesuatu, aku akan memperjuangkannya sampai aku berhasil mendapatnya. Tidak peduli konsekuensinya.


Aku berkali-kali menghindari serangan dari Ledion. Aku bergerak ke sana kemari, berusaha untuk memancingnya. "Katakanlah, Ledion!" Teriakku saat ia hendak menghunuskan pedangnya kepadaku. "Keluarkanlah semuanya!"


"Hentikan ini semua, gadis kecil!" Raungnya dengan geram. "Jangan coba-coba mempermainkanku!"


Aku meraih gagang tongkat yang biasa digunakan untuk berlatih bela diri. Lalu, aku menangkas serangannya semampuku. Adrenalinku terasa meningkat. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku tidak pernah merasakan tantangan untuk mengalahkan seseorang seperti saat ini. Aku tidak pernah menyangka kemampuan bertarung sang Ripper tidak setinggi ekspektasiku.


Aku menunduk dengan sangat cepat. Ujung pedangnya hampir saja mengenai leherku. Aku memukul kakinya dengan tongkat. Meskipun ia tidak tumbang, namun seranganku berhasil mengalihkan perhatiannya barang sedikit. Aku menggunakan kesempatan itu. "Gunakan kesempatanmu saat musuh teralihkan." Kata-kata Miss Gray kembali muncul dalam pikiranku. Aku ingat pernah mengulangi kalimat ini, saat Ledion menjadikanku tawanannya. Meskipun tubuhku pegal dan luka sayatan mulai muncul pada kedua lenganku, rasa semangatku mulai membara-bara.


Aku menggunakan ujung tongkat dan menikam kuat-kuat perutnya. Ia langsung menyentuh ujung tongkatku, dan menariknya agar terlepas dari perutnya. Itu membuatku kehilangan kendali dan akhirnya tongkat itu patah.


"Kau harus kuhukum!" Bentaknya saat ujung pedangnya sudah menahan leherku. "Tidak ada lagi waktu istirahat untukmu, Miss Alena. Kau akan ditahan!" Serunya dengan suara lantang dan menggelegar. "Dan jangan harap untuk pernah mengikuti Kelas Melody lagi."


Aku terkesiap. Aku tidak tahu dari mana ia bisa mengetahui hal itu. Aku selalu mengikuti Kelas itu secara diam-diam.


Merasa puas melihat reaksi yang tergambar di wajahku, Ledion menyeringai. Itu membuatku teringat dengan seringai pertamanya saat ia mengekang tanganku. "Kamu pikir aku tidak tahu kamu mengikuti Kelas Melody diam-diam? Berkat kamu lah, teman Melodymu sekarang juga ditahan."


Aku terbelalak, lalu menjatuhkan tongkat kayu dalam genggamanku yang sudah patah. Nafasku mulai tidak teratur. "Naomi," bisikku lirih.


Mengabaikan tatapannya yang menyeramkan, aku langsung berlari menggunakan kedua kakiku. Tidak. Aku pasti salah dengar. Naomi adalah murid kesayangan Miss Solla. Ia tidak akan ditahan karena ia telah membuatku menjadi murid Kelas Melody. Semua ini salah paham.


Aku berlari, melewati lorong serta tatapan sinis yang sudah menjadi santapanku tiap harinya. Aku sempat menabrak tubuh Val, namun teriakan ancamannya tidak membuatku menoleh kepadanya. Sambil terus berlari, aku melewati Sana yang lagi-lagi menatapku dengan sedih. Aku juga melewati pangeran Callum yang seperti biasanya sedang menyajikan tontonan spektakuler untuk gadis-gadis Fae, sembari sesekali menggoda mereka. Matanya tiba-tiba mendarat ke arahku, namun aku tidak memerdulikannya.


Aku tidak memerdulikan nasibku nantinya jika harus ditempatkan di Kelas Tahanan. Aku mengkhawatirkan Naomi. Kelas Tahanan memaksa muridnya untuk tinggal di gubuk reyot yang terletak di tengah Hutan Greensia. Gubuk itu rentan terhadap serangan para Egleans.