Wings & Dust

Wings & Dust
Desa yang Runtuh



Rasanya sama seperti memasuki kota Alther Suavis. Bedanya, Lexy didampingi oleh tujuh Fae lainnya. Lilies yang tidak banyak berbicara kini menangis tersedu-sedu. "Rumahku...tidak!"


Seperti bunga yang telah layu, atap yang semula warna-warni kini menjadi abu dan hancur. Genangan darah mengotori tanah bersalju. Mayat-mayat Fae bergelimpangan. Dada Lexy langsung terasa sesak saat melihat beberapa anak Fae yang menjadi korbannya.


Serpihan kayu dan puing-puing bangunan menghalangi jalan. Mereka terpaksa menggunakan sayap mereka agar tidak terinjak oleh benda-benda yang mungkin saja berbahaya.


Val merentangkan tangannya, kemudian terciptalah cahaya kuning yang menerangi seisi desa. "Kita harus cepat mencari Mella. Cahayaku tidak bertahan lama." Tanpa basa-basi, semua orang langsung berpisah dan menyebar, mencari Mella diantara reruntuhan bangunan.


Lexy menghampiri salah satu pondok yang pintu depannya sudah rusak karena sebuah pohon telah tumbang. Di dekat pintu itu, ia melihat seorang Fae yang terluka parah. Ia buru-buru menghampirinya, sambil mengangkat serpihan kayu besar yang diduga berasal dari dinding rumah yang telah hancur.


Perut Fae itu bergerak. Ia masih bernapas, pikir Lexy. Ia lalu berteriak memanggil Sana. "Disini! Ada yang masih hidup!"


Flora yang berada di seberangnya juga meneriaki hal yang sama. "Banyak yang masih hidup!"


Sana mengerahkan seluruh upayanya untuk menyembuhkan luka para Fae yang masih hidup. Saat salah satu Fae Ventus membuka matanya, Lexy langsung bertanya, "Apa kau baik-baik saja? Apa yang sudah sang Ratu perbuat?"


Fae Ventus itu sudah mampu bangkit. Ia menatap lekat-lekat Lexy dan teman-temannya. Tatapannya tampak mencurigai mereka, namun akhirnya ia menjawab, "Ia mencari seorang Fae bernama Alena. Dan ketika tak satu pun mengenalinya, ia langsung mengarahkan tongkatnya kepada kami, dan seketika para peri lebah menyerang kami." Tubuhnya bergetar ketakutan. Lexy melepaskan mantelnya dan menyelimuti gadis Ventus itu. Gadis ini terlihat jauh lebih muda dibandingkan dirinya. Usianya mungkin saja sekitar 10 tahun.


"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Xiela disampingnya. Fae itu menggelengkan kepalanya. "Aku gak mengerti...Aku gak memahami perkataan sang Ratu."


Naomi menghampirinya dan tersenyum. "Jangan takut," suaranya terdengar lembut dan merdu di telinga. "Kau bisa memercayai kami."


Fae itu mengangguk dengan ragu. Matanya lalu terbelalak saat melihat sayap Lexy. Lexy langsung berhenti menggerakkan sayapnya, lalu berdeham. "Bukan hal penting. Lanjutkan ucapanmu."


"Kamu...kamu Fae yang ditahan oleh Ripper waktu itu," kata Fae itu terbata-bata. Lexy menggigit bibir bawahnya. "Benar. Aku beserta saudari kembarku."


Fae itu terkesiap. Matanya seketika menatapnya dengan kagum. "Kalau begitu...apakah Alena-"


"Ya. Alena kakaknya," potong Xiela. "Bantulah kami. Kami harus mengetahui apa yang sebenarnya sang Ratu rencanakan."


"Teman-teman." Val tiba-tiba memanggil mereka dari arah belakang. "Kurasa kalian harus melihat ini," kata Val dari dalam sebuah pondok yang atap jeraminya sudah hancur.


Xiela menggotong Fae Ventus itu, lalu mereka bersama-sama menghampiri Val. Suasana di dalam pondok tersebut tidak jauh mengerikan dibanding suasana di luar. Perabotan hancur dan piring-piring kaca berserakan di lantai. Jam bandul terbelah menjadi dua, menyisakan kepingan kaca yang pecah di lantai.


Di tengah ruangan, Lexy bisa melihat sebuah tangan di balik sofa yang menimpa tubuhnya. Jemarinya bergerak sedikit. Tanpa disuruh, Lexy langsung mengangkat sofa itu sekuat tenaga. Ia sangat terkejut saat melihat Mella yang bersimbah darah.


"Mella!" Lexy menggerakkan tubuhnya. "Bangun!" Sana menghampirinya sambil terhuyung-huyung karena kelelahan. "Akan kucoba...un...tuk menyela...matkan di...a," katanya dengan lemas. Ia mengerang sekuat tenaga, dan cahaya putih menyelimuti tubuh Mella.


Setiap detik yang berjalan, semakin timbul rasa khawatir Lexy terhadap kondisi Mella. Cahaya Putih sama sekali tidak menghentikan pendarahan di kepalanya.


"Bagaimana ini?" Bisik Lotus dari belakang. Nada suaranya seperti isakan tangis yang sebentar lagi akan meledak. "Kalau dia sampai gak bangun, nasib kita semua akan-"


"Dia pasti akan terbangun," potong Xiela. Meski dia berkata demikian, Lexy melihat ekspresi khawatir yang tersirat di wajahnya. Kalau Mella sampai mati, mereka tidak akan mendapatkan informasi mengenai sang Ratu, dan kemungkinan besar rencana sang Ratu yang pastinya buruk itu ada kaitannya dengan Egleans yang akhir-akhir ini berkeliaran di wilayah Fae.


"Uhuk, uhuk!" Air menyembur keluar dari mulut Mella. Semua orang langsung menghampirinya. Sana tengah menekan-nekan dadanya agar air terus keluar. "Mustahil," bisik Val. "Air?"


"Tunggu sebentar." Lotus sudah berlutut, lalu setelah ia merentangkan kedua tangannya, air langsung terserap keluar dari tubuh Mella. Mata wanita itu terbelalak, namun pada akhirnya ia bernapas kembali.


"Mella!" Lexy tersenyum lega. Kepala wanita itu sudah dibalut oleh kain putih. Mella menatap satu per satu Fae yang mengelilingi tubuhnya, lalu duduk dan memegang dahinya yang terluka.


"Pelan-pelan, pendarahanmu baru saja berhenti," kata Sana kepadanya. Mella mengangguk, lalu saat pernapasannya sudah kembali stabil, ia berkata kepada Lexy, "Apa yang sedang kamu lakukan disini?!"


"Mella, aku tahu kamu pasti kebingungan," balas Lexy. "Kami membutuhkan bantuanmu. Sang Ratu tengah merencanakan sesuatu yang kami pikir mungkin ada kaitannya dengan Egleans yang akhir-akhir ini menyerang wilayah kita."


Mella menggeleng dengan cepat. "Aku tidak yakin bisa membantu kalian semua-"


"Tapi kau mengenal sang Ratu," kilah Lilies yang sudah mengumpulkan kembali ketegaran hatinya. Ia adalah Fae yang dulunya tinggal di desa ini. Pasti akan sulit untuk menyembuhkan duka di hatinya, pikir Lexy.


Mella hanya terdiam dan menatap lantai yang dingin. "Teman lama...kurasa itu bukan apa-apa."


"Apa maksudmu?" Tanya Val dengan geram. "Kami sudah memakan waktu berhari-hari untuk menemukanmu. Kuharap kami tidak sedang menyia-nyiakan waktu." Ia lalu menyeret gadis Ventus yang sebelumnya ditemukan oleh Lexy. Lexy mengepalkan tangannya, merasakan amarah yang mulai memuncak dalam dirinya karena Val lagi-lagi bersikap kasar terhadap seorang gadis. Ia segera menghadang Val. "Jangan menarik-narik gadis ini seenaknya."


Val menatapnya rendah. "Siapa kamu untuk menghalangiku?"


Rahang Lexy menegang. Pria ini masih saja tidak berubah. Ia hendak mencaci makinya, namun semua orang sedang memperhatikan mereka. Akhirnya Xiela berkata, "Val, lepaskan dia."


Dengan berat hati, Val melepaskan cengkeramannya terhadap pergelangan tangan si gadis Ventus yang ketakutan. "Apakah kau mengenalinya?" Tanya Val kepada Mella. Gadis itu bergetar ketakutan. Tungkainya melemas. Wajahnya memucat.


Mella langsung bangkit berdiri. "Ella! Jangan sakiti anakku!" Teriaknya kepada Val. Wanita itu langsung memeluk gadis kecil itu. Val hanya menggeleng-geleng. "Semua wanita sama saja. Sudah salah sangka duluan."


"Sudah cukup," kata Naomi. "Kumohon, Mella. Kami harus mendapatkan informasi mengenai sang Ratu. Apa saja. Aku janji kami tidak akan menyakiti Ella."


Mella akhirnya mengangguk setuju. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, lalu menunjuk ke sebuah ruangan di seberang. "Kita bisa mengobrol disana. Aku akan menceritakan semua hal yang kuketahui mengenai sang Ratu."