
Suara lebah-lebah itu berdengung di telingaku. Aku tahu kelakuanku gila, jadi aku menyunggingkan bibirku. Aku memfokuskan pandanganku terhadap lebah-lebah kecil itu. Mereka berbentuk aneh. Tanduk kecil namun tajam berada di atas kepala mereka. Aku menutup mata. Seketika, cahaya memancar dari tubuhku. Aku merasakan tubuhku yang menjadi lebih ringan. Tulang-tulangku serasa meremuk, dan kulitku serasa ditarik, namun aku sama sekali tidak merasakan gugup. Aku justru membuka diri secara total terhadap sihir baruku, dan saat aku membuka mataku, aku sudah berada kembali di dalam gua.
Suasana aneh yang sepi dan hening mengusik ketenanganku. Aku tidak lagi mendengarkan suara dengungan sayap para lebah. Aku berbalik badan dan terkejut saat aku tidak lagi melihat Bella yang sebelumnya berbaring di atas tanah. Aku malah mendapati tatapan dari Callum yang juga sama terkejutnya seperti aku.
Aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara karena ia sudah menarikku dalam dekapannya. "Alena, kau kemana saja?" Katanya dengan nada khawatir. Ia mengelus rambutku dan akupun membalas dekapannya. "Aku...apa kamu melihat ada peri lebah barusan?"
Callum melepaskan pelukannya untuk memandangiku. Matanya bergerak-gerak untuk mengamatiku. Setelah yakin aku tidak terluka, Callum menghela napas lega dan menyandarkan keningnya padaku. "Apa maksudmu? Aku baru saja kembali dan tidak melihatmu. Kupikir kamu-"
"Aku baik-baik saja," kataku sambil tersenyum. Aku tahu ia berkata jujur dan tidak melihat keberadaan Bella. Aku tidak mau membuatnya khawatir, jadi aku mengalihkan pembicaraanku. "Bagaimana dengan temuanmu?"
Ia menarik pelan tanganku, mengajakku untuk duduk bersandar pada dinding gua sambil menyelimuti diri dengan selimut daun. Masih sambil memegang tanganku, ia membalas, "Aku melihat kota reruntuhan Alther Suavis di dekat sini. Lalu di bagian selatan adalah wilayah manusia. Sepertinya kita berada di Goa Kora."
Goa Kora termasuk wilayah peri lebah, yang terletak di sisi tenggara wilayah Fae, sekaligus wilayah terdekat dengan perbatasan antara dunia Fae dan manusia. Pantas saja. Ternyata gua yang kami naungi sekarang adalah salah satu dari sekian banyak gua yang terdapat di sekitar sini. "Kalau begitu, apakah Egleans ini melewati Goa Kora untuk memasuki wilayah Fae?"
"Kemungkinan besar begitu," kata Callum. Ia menggenggam erat tanganku, lalu sambil mengelusnya dengan jempolnya, ia berkata, "Kita beruntung ada badai salju. Banyak Egleans yang gugur di sekitar sini. Namun, aku khawatir saat tibanya musim semi, Egleans akan menjadi lebih kuat." Ia menatap tanganku, lalu tersenyum. "Omong-omong, kamu terlihat seperti seorang putri tadi," gumamnya.
"Hah?" Aku memiringkan kepalaku. "Maksudmu, saat aku menggunakan sihir Royal?"
Ia memandangiku, lalu mendekatkan wajahnya. Bahkan tanpa adanya penerangan, sudut wajahnya memantulkan cahaya dari bulan di luar gua. Jantungku kembali berpacu saat bibirnya menyentuh bibirku. Rasa rindu mulai menjalariku. "Kau terlihat seperti calon putri untukku," bisiknya sebelum ia menumpahkan seluruh perasaan rindunya kepadaku.
***
Mereka sudah berjalan selama berhari-hari. Setiap langkah yang diambil oleh Lexy akan membawanya ke Alther Suavis, tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Ia bersama sembilan Fae lainnya sepakat akan berpisah jalan saat mereka yakin keadaannya sudah aman.
Sekarang, banyak mayat Egleans yang tersebar begitu saja di atas hamparan salju. Berkat badai yang kini sudah berlalu, Egleans senantiasa dibasmi dengan mudahnya. Lexy mengangkat tangannya. Ia dapat merasakan angin sepoi yang berhembus. Kabut masih melindungi wilayah Fae, namun tidak sekuat dulu. Monster-monster ini pun juga sudah jauh lebih kuat.
"Jalan lebih cepat." Lexy menoleh ke belakang dan melihat Val yang tengah memberikan tatapan amarah kepada Ella. Gadis malang itu hanya mengangguk dengan tubuh yang bergetaran. Lexy segera menghampiri mereka.
Setelah menenangkan Ella, Lexy mengumpulkan keberaniannya dan berkata, "Tolonglah bersikap lebih baik kepadanya." Val masih tidak membuka mulutnya. Lexy menghembuskan napasnya yang berbekas di udara karena hawa dingin musim salju. "Kau tidak harus selalu menakutinya."
Mereka kini melewati sungai panjang Lakuta yang membeku. Lexy mempererat dekapannya dengan Ella. Gadis kecil itu masih menggigil meskipun cahaya Val dan Xiela sudah menghangatkan mereka.
"Kamu tidak berhak menilaiku," kata Val dingin. Lexy mempercepat langkahnya, berusaha untuk mengarungi jarak dengan Val. "Kenapa tidak?"
Fae Light itu menyengir dan mengarahkan pandangannya ke arahnya. Lexy masih merasa gugup dengan tatapannya yang menyeramkan itu, namun ia tetap memaksakan dirinya. "Jadi yang berhak menilaimu cuma pangeranmu?"
Val lagi-lagi menarik rambutnya ke belakang. Semua orang langsung berbalik badan dan tangan Val sudah ditepis oleh sihir milik Mella. "Fokus."
Merasa sudah dipermalukan, rahang Val mengeras. Ia lalu berjalan meninggalkan Lexy di belakang.
"Uhmm...Anda tidak perlu melakukan hal itu kepadaku," bisik Ella disampingnya. Lexy tersenyum dan membenarkan rambutnya yang beterbangan. "Kenapa tidak? Fae Light itu tidak berhak untuk menjatuhkanmu."
"Tapi dia teman sang pangeran yang paling dipercayai," sahut Ella lagi. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Miss-"
"Ella." Lexy melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu, lalu sudah menggendongnya. Ia belum pernah menggendong seorang anak kecil, dan meski terasa agak berat, Lexy dengan senang hati melakukannya. "Tidak ada seorangpun yang berhak diperlakukan seperti itu. Bukan Fae biasa seperti kita, bukan anak kecil seperti kamu, bukan juga hewan seperti rusa itu." Lexy menunjuk ke arah sebuah hewan berbulu putih. Tanduknya yang mengilap menarik perhatian Ella. Gadis itu mengangguk, dan segera melepaskan diri dari gendongan Lexy. "Aku mau melihat sebentar rusa itu!"
Lexy tersenyum melihat kelakuan Ella. Gadis itu sudah menghampiri hewan Fae itu. Hewan ajaib dan langka. Rusa itu sibuk menjilati batu yang sudah ditutupi oleh salju. Saat menyadari kehadiran Ella, rusa itu tidak menyerangnya. Hewan Fae tentu akan mengenali kaumnya sendiri. Seakan-akan membungkuk untuk memberi hormat, rusa itu membiarkan tanduknya disentuh oleh Ella.
"Ella!" Mella sudah berteriak dari kejauhan. Wanita itu langsung berlari meninggalkan barisan. Lexy tidak mengerti maksud perilakunya saat ia mulai menyadari sesuatu. Tanpa membuang-buang banyak waktu, ia langsung berlari ke arah Ella. "Ella! Jangan sentuh rusa itu!"
Namun, ia sudah telat. Dalam sekejap, tanduk rusa itu melebur dan sebuah cahaya menyelimuti tubuh Ella. Tubuhnya yang semula berwarna putih salju langsung berubah menjadi suatu makhluk yang mengerikan. Suara jeritan memekakkan telinga Lexy. Belum sempat ia membawa pergi Ella dari rusa jelmaan Egleans itu, rombongan Mella sudah diserang oleh pasukan bersayap kuning. Pasukan milik sang Ratu.